Bab 22. Percobaan Penculikan Yang Kedua
"Aaaakkhhh! PERGI KAMU! LEPASKAN AKU!" teriak Mona.
Mendengar kegaduhan itu, Ahmad segera berlari secepat yang dia bisa menuju ke arah ruang tamu. Di sana terlihat Mona sedang diseret dua orang bertopeng dan berpakaian serba hitam, Ahmad yang melihatnya tak tinggal diam.
Segera dia menarik baju salah satu orang asing itu dari belakang, lalu dengan sigap dia melayangkan bogem mentah ke pria itu hingga tersungkur. Sementara Mona masih dibawa oleh pria yang satu lagi, melewati halaman rumah untuk menuju mobil yang terparkir di depan pagar rumah megah itu. Sementara Mona hanya bisa meronta dan berteriak minta dilepaskan, dia hanya bisa menangis mengingat tubuhnya yang rapuh karena dia juga sedang berbadan dua.
Ahmad segera menyusul mereka, sampai ....
Bruuuukkk Seseorang memukul tengkuk Ahmad dari belakang, yang ternyata itu adalah pria yang tadi ditonjok oleh Ahmad.
"MAAAS!" teriak Mona histeris, melihat sang suami yang tubuhnya mulai limbung dan lalu terjatuh ke tanah.
"Tidak, Mas Ahmad!" Mona kembali berteriak, yang kali ini sambil menangis meneteskan air mata karena melihat sang suami terkulai tak berdaya.
Sementara kedua orang misterius itu langsung menyeret Mona ke Mobilnya, saat akan memasukkan Mona ke mobil. Lalu tiba-tiba....
Sebuah bogem mentah kembali diterima si penculik itu, setelah dia ditarik ke belakang oleh seseorang yang berpakaian rapi.
Kemudian terjadilah perkelahian di antara mereka berdua, sementara Mona masih di pegang erat oleh penculik yang satu lagi.
Perkelahian itu akhirnya berakhir kala polisi yang tiba-tiba datang ke tempat itu, dan dua orang misterius itu pun lalu diringkus pihak kepolisian beserta dua orang lagi komplotan yang berada didalam mobil yang akan membawa Mona.
Mona pun segera berlari menuju suaminya, dia mengangkat kepala Ahmad dan meletakkannya ke pangkuannya dan berusaha menyadarkannya sembari memanggil nama Ahmad dan juga terus meneteskan air mata. Tak berapa lama, Ahmad pun tersadar dan langsung memeluk erat istrinya. Mereka pun berpelukan dengan erat satu sama lain, hingga seseorang mendekat kearah mereka.
"Mas, Mbak. Kalian baik-baik saja?" tanya Pria berbaju koko yang tadi membantu Mona dan Ahmad.
Pria itu pun mengulurkan tangannya untuk membantu Ahmad berdiri, dan Ahmad pun menyambutnya lalu kemudian berdiri dari posisinya setelah melepaskan pelukannya ke Mona.
"Terima kasih, dengan Mas siapa kalau boleh tahu?" ucap Ahmad bertanya seraya menjabat pria yang menolong istrinya itu.
"Saya Hasan!" tukas si pria. Yang ternyata adalah Hasan, adik dari Ridwan.
"Sepertinya kita pernah bertemu, tapi dimana ya?" ujar Ahmad berusaha mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan pria itu.
"Dulu kita bertemu di kantin kampus, saya anak bungsu Ibu pemilik kantin." Jwab pria itu menjelaskan siapa dirinya agar Ahmad mengingatnya.
"Oh... Kamu adiknya si Ridwan?" ucap Ahmad mengangguk-angguk sembari memegang tengkuknya yang masih terasa sakit.
"Masih sakit, Mas?" tanya Mona khawatir dengan keadaan suaminya.
"Sedikit. Kamu tidak apa-apa?" tanya Ahmad mengamati tubuh istrinya untuk mengetahui apa ada yang terluka atau tidak.
"Aku tak apa, Mas!" jawab Mona dengan mata sembab.
"Oh iya, Mas, Mbak. Penculiknya sudah berhasil diringkus polisi!" ucap Hasan.
"Mana penculik itu?" tanya Ahmad geram yang teringat kembali dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
"Di sana, Mas. Mari!" ajak Hasan menuju mobil polisi yang terparkir tak jauh dari mereka berdiri saat ini.
Mereka bertiga pun menuju ke mobil polisi, untuk melihat siapa saja pelaku penculikan Mona. Dan mereka merasa penasaran kenapa orang-orang jahat itu ingin menculik Mona.
"Terima kasih atas informasinya, Mas. Berkat anda kami dapat menangkap para penculik ini. Juga dalang di balik penculikan kemarin yang sudah termasuk dalam DPO!" ucap Pak polisi menjabat tangan Hasan karena dia sudah memberikan informasi terkait komplotan penculik yang sempat menculik Naysila.
"Sama-sama, Pak. Terima kasih atas kerjasamanya!" timpal Hasan.
Dan polisi pun segera membuka penutup wajah para pelaku penculikan itu, dua diantara empat pelaku sangat dikenal oleh Mona dan juga Ahmad.
"Mariska! Jerry! Kalian?!" pekik Mona terkejut. Dia tidak pernah menyangka jika orang yang menjadi dalang penculikannya itu adalah mantan sahabatnya bersama pacarnya.
"Oh! Jadi kalian dalang di balik semua ini?" ujar Ahmad geram, lalu mencengkeram kerah baju Jerry dengan perasaan emosi.
"Apa Brian yang menyuruhmu, bangs*t!" hardik Ahmad melotot.
"Kalau iya! Kamu mau apa hah!" tantang Jerry balik melotot.
Mereka hampir terlibat baku hantam jika saja polisi tidak melerai mereka, dan Hasan pun turut membantu agar Ahmad tidak sampai terkena masalah karena main hakim sendiri sebab memukuli sang penculik.
"Sudah cukup, Pak Ahmad. Jangan main hakim sendiri, kami akan membawa para pelaku dan akan segera kami proses secara hukum!" Tegas Pak Polisi, yang kemudian memasukkan kembali Jerry ke mobil patroli dengan tangan yang sudah dipasang borgol.
"Bapak dan Ibu sekalian, besok kami tunggu kedatangannya ke kantor pusat untuk menyelesaikan laporan dan kami butuh kesaksian untuk memproses kasus ini." Titah Pak Polisi menjelaskan.
"Baik Pak, kami akan hadir." Ucap Ahmad mengangguk.
"Iya. Saya juga akan datang, Pak." Imbuh Hasan kemudian.
"Baik, kalau begitu saya permisi. Pak, Bu."
Iya, Pak. Terima kasih." Ucap Ahmad dan Mona hampir bersamaan.
Pak Polisi pun masuk ke Mobilnya, lalu mobil itu pun melaju menjauh dari pandangan mata.
Setelah mobil berlalu pergi, Hasan pun pergi pamit untuk pulang. Setelah sebelumnya Ahmad dan Mona mengucapkan terima kasih.
Kemudian Mona mengajak Ahmad untuk masuk ke rumah, lalu Mona segera bergegas menuju dapur untuk mengambil es batu untuk mengompres luka suaminya.
"Mona... Apa kamu baik-baik saja?" ucap Ahmad memulai percakapan.
"Aku tak apa Mas."
"Mona, maafkan sikapku padamu kemarin."
"Tidak apa Mas," ucap Mona masih dengan kegiatannya.
"Apa kamu cemburu?"
"Cemburu? Pada siapa?" ujar Mona menunduk.
"Tatap mataku Mona," tutur Ahmad sembari mengangkat dagu sang istri.
"Salahkah aku jika cemburu saat suamiku menyebut nama wanita lain di depanku Mas?" ucap Mona lirih.
"Apakah kamu lupa akan perjanjian pernikahan, yang kamu minta untuk aku tanda tangani pada malam pernikahan kita Mona? Aku hanya melakukan apa yang kamu minta, kamu tak ingin kita dekat layaknya suami istri normal. Makanya aku menjaga jarak dari kamu, meski aku ...." Ahmad pun menggantung kata-katanya.
"Aku ... Apa? Mas?" tanya Mona.
"Oh iya, masalah kemarin yang aku menyebut nama Naysila lalu bergegas pergi. Itu karena, penculik yang harusnya menculik kamu malah menculik Naysila." Terang Ahmad menjelaskan.
"Benarkah?"
"Iya, dia salah mengira jika Naysila itu adalah kamu."
Sejenak kemudian mereka hanya terdiam duduk di sofa, lalu dari arah luar terdengar suara pintu di buka.
Ceklek
Ternyata itu adalah Pak Andi, yang baru pulang. Dia masuk ke ruang tamu, lalu melihat Mona dan Ahmad.
"Ahmad, kamu kenapa? Kok terluka begini. Dan Mona, kenapa matamu sembab? Apa yang terjadi?" ujar Pak Andi setengah panik melihat Anak dan Menantunya, lalu dia ikut duduk di sofa.
"Tadi ada sedikit insiden, beberapa orang berusaha menculik Mona!" tukas Ahmad.
"APA?! Menculik Mona? Tapi kalian tidak apa-apa kan?" ucap Pak Andi khawatir.
"Kami tidak apa-apa Ayah!" jawab Mona.
"Lalu sekarang, bagaimana dengan pelakunya?" tanya Pak Andi lagi.
"Para pelaku sudah dibawa oleh pihak berwajib Ayah, dalang dari penculikan Mona adalah Jerry dan Mariska atau kemungkinan Brian juga ikut terlibat." Terang Ahmad.
"Apa?! Brian? Bukannya dia keluar negeri?" tanya Pak Andi bingung.
"Tidak Ayah, dia tidak benar-benar keluar negeri. Aku beberapa kali bertemu dengannya!" tegas Ahmad.
"Dia juga pernah ke rumah!" ucap Mona parau dengan mata yang sedikit berembun.
Ayah dan suaminya langsung memandang Mona dengan tatapan menyelidik, namun Mona segera berdiri dari tempatnya.
"Aku lelah Ayah, aku mau istirahat sekarang."
Mona pun langsung berlalu pergi, meninggalkan Suami serta Ayahnya diruang tamu dengan pikiran mereka yang penuh tanya.
**
Sementara itu di apartemen, Brian tengah bersantai di balkon ditemani secangkir kopi favoritnya. Tak berapa lama, terdengar bunyi gaduh dari luar apartemen.
Brian yang penasaran pun bergegas menuju pintu, yang tak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintunya dengan kasar.
Brian begitu terkejut sesaat setelah membuka pintu, ternyata yang datang ....