Bab 23. Mendekam Dalam Bui
"Selamat malam. Apa benar ini dengan kediaman Saudara Brian?" ucap dari pemilik suara bariton itu tegas, yang membuat nyali Brian ciut di buatnya seakan dia telah melakukan sebuah kesalahan.
"I-iya... Saya sendiri Pak," ungkapnya kemudian.
"Baiklah, Saudara kami minta untuk ikut bersama kami tanpa perlawanan untuk memberikan keterangan terkait percobaan penculikan Saudari Mona dan Saudari Naysila." Ucap pria itu tegas.
"Tapi bukan saya pelakunya, Pak! Bahkan saya tidak kenal dengan yang namanya Naysila itu," imbuh Brian berusaha membela dirinya.
"Sebaiknya anda jelaskan di kantor, karena pelaku penculikan menyebut nama Saudara. Kami harap anda tidak melawan, dan secara sukarela ikut dengan kami sekarang!" ujar pria yang ternyata adalah Polisi tersebut.
Akhirnya Brian pun mengikuti kedua polisi itu, meski dia merasa tidak bersalah atas kasus itu dan dia hanya merasa penasaran ingin tahu siapa pelaku yang telah merencanakan penculikan Mona.
Beberapa waktu berlalu, tibalah mobil patroli Polisi yang menjemput Brian di kantor polisi pusat tempat Jerry dan kawanannya berada.
Setelah menjelaskan detail kejadian itu kepada Pak polisi, kemudian Brian dinyatakan tidak bersalah karena dia juga mendapat teror dan juga dimintai uang tebusan oleh pelaku yang tidak lain adalah Jerry. Lalu Pak polisi mempertemukan Brian dengan Jerry.
"Oh, jadi ini rencanamu bangs*t. Kau inginkan uangku, dengan menculik Mona? Hah!" ujar Brian mencengkeram kerah baju Jerry, sedangkan Pak polisi memegangi keduanya agar tidak saling baku hantam.
"Apa tidak cukup uangku yang selama ini kau nikmati bersama kekasihmu, yang terus saja merayuku!" tukas Brian merasa emosi, geram akan kelakuan sepasang kekasih itu.
Sementara Jerry hanya terdiam dan menunduk karena dia gagal menyeret Brian dalam masalah ini, karena semua petunjuk mengarah padanya. Sekarang tinggal menunggu waktu, kesaksian dan tuntutan korban yang kemudian akan menjeratnya ke dalam Bui.
"Brian! Tolong aku. Aku nggak mau dipenjara!" tutur Mariska terisak, memohon kepada pria yang selama ini ia hasut.
"Tutup mulutmu yang berbisa itu, Mariska. Membusuklah kalian berdua dipenjara!" imbuh Brian mengacungkan jari tengahnya ke arah Jerry dan juga Mariska, lalu pergi meninggalkan kantor polisi.
Pak polisi pun kemudian memasukkan kembali Jerry dan Mariska kembali kedalam jeruji besi, dengan tempat yang terpisah.
Mariska terus saja menangis, menyesali segala perbuatannya serta menuruti apa kata kekasihnya yang kemudian menggiringnya kedalam masalah. Nasi telah menjadi bubur, sudah jatuh ketimpa tangga juga. Mungkin itu ungkapan yang cocok untuk menggambarkan keadaan Mariska saat ini, sudah tak dapat uang lalu hukuman yang sudah di depan mata.
Tak lama....
"Hoek! Hoek! Hoek!" Beberapa kali Mariska mual dan hampir muntah.
"Bu! Bu Polwan, boleh saya ke toilet? Saya mual, Bu!" serunya menahan rasa mual itu dengan wajahnya yang pucat.
Beberapa saat kemudian Bu Polwan pun mengantarkan Mariska menuju toilet, namun....
**
Sementara itu di kediaman Pak Andi, ayah Mona. Dikamar, Mona yang tengah berusaha memejamkan matanya. Sedangkan Ahmad yang masih belum terbiasa tidur disofa yang ada di kamar Mona, hanya miring ke kiri dan ke kanan terlihat sangat tidak nyaman. Kemudian Mona berdiri dari tempatnya, lalu mendatangi Ahmad.
"Mas, kamu tidur di ranjang saja. Jangan disini, nanti badan kamu sakit semua!" tukas Mona pada sang suami, Ahmad hanya diam dan memperhatikan Mona.
"Jangan diam saja Mas. Ayo!" ucap Mona menarik tangan Ahmad untuk mengikutinya menuju ranjang.
"Kamu tidur di sisi kanan, dan aku di kiri. Tenang Mas, kita dibatasi guling sebagai pemisah. Dan jangan merasa tidak nyaman, aku tidak mau kamu tidur di sofa yang nanti akan membuatmu sakit jika terlalu lama disana!" tutur Mona yang membuat Ahmad heran dengan kelakuannya.
Padahal biasanya Mona selalu marah-marah pada dirinya, juga selalu memintanya memanggil wanita itu dengan sebutan Nona meski mereka telah menikah. Dan kini Mona memanggilnya dengan sebutan Mas yang membuatnya merasa keheranan.
Meski begitu akhirnya mereka berdua pun mulai memejamkan mata, setelah berbaring ditempatnya masing-masing.
Tak terasa, pagi pun menjelang. Seperti biasa Mona dan Ahmad melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, tapi kali ini ada yang berbeda. Ahmad dan Mona melaksanakan Shalat subuh berjamaah, Ahmad menjadi imam dan Mona sebagai makmumnya. Setelah selesai, Mona pun mencium tangan sang suami dengan takzim.
Kemudian mereka pun kembali ke aktifitasnya masing-masing, Ahmad pergi ke ruang kerja sedangkan Mona pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Dalam beberapa menit, Mona sudah selesai menyiapkan sarapan. Suami serta Ayahnya pun sudah duduk di ruang makan, mereka makan dalam keheningan.
"Mona, semalam Ayah belum sempat bertanya padamu. Apa kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Pak Andi memulai obrolan.
"Mona tidak apa-apa Ayah!" jawab Mona kemudian.
"Tenang saja Ayah, akan saya pastikan mereka mendekam di penjara. Ini sebentar lagi kami akan ke kantor polisi untuk memberikan keterangan," imbuh Ahmad.
"Ya sudah, kalian hati-hati ya. Ahmad, tolong jaga Mona."
"Sudah tugas saya, Ayah. Kami berangkat dulu ya!" ujar Ahmad yang kemudian berdiri lalu mencium tangan Ayah mertuanya, Mona pun turut mencium tangan Ayahnya lalu mengikuti Ahmad dari belakang.
Mereka berdua pun segera masuk ke mobil, lalu mobil Ahmad pun mulai melaju menuju kantor polisi.
**
Sementara itu di kantor polisi, di situ sudah ada Naysila dan Hasan. Mereka berdua datang bersama karena sama-sama dimintai keterangan, secara bergantian Naysila dan Hasan memberikan kesaksian dan keterangan terkait percobaan penculikan yang melibatkan Naysila. Saat itu Naysila yang terlebih dahulu memberikan kesaksian, lalu....
Tak berselang lama, mobil yang di kendarai Ahmad dan Mona tiba di kantor polisi. Mereka pun bergegas masuk, saat itu bersamaan dengan Naysila yang akan memberikan kesaksian.
Naysila dan Mona pun saling bertatapan, keduanya terdiam. Hal itu juga membuat Ahmad merasa bingung, perasannya bergejolak melihat dua wanita yang ada di hadapannya.
Ada Mona, sang istri kontrak yang akhir-akhir ini membuat darahnya berdesir. Di sisi lain ada Naysila, cinta masa lalunya semasa kuliah yang kini jadi calon istri Ridwan tetapi juga masih membuat hatinya bergetar. Mereka bertiga pun diam terpaku, hingga ....
"Bu Naysila, bisa anda berikan lagi keterangan detail kasus percobaan penculikan yang menimpa anda!" ucap suara bariton itu.
Akhirnya Naysila pun duduk dan kembali menceritakan kejadian yang menimpanya, setelah selesai dia pun berdiri dari tempatnya lalu duduk di kursi belakang di samping Hasan.
Lalu tiba giliran Mona dan Ahmad memberikan kesaksian, setelah cukup lama akhirnya mereka selesai dengan urusannya. Lalu Ahmad pun menghampiri Hasan dan Naysila, meski dirinya didera kebimbangan serta merasa kikuk berada diantara Mona dan Naysila.
"Selamat pagi, Hasan dan Naysila!" ucap Ahmad sembari tersenyum menyapa keduanya.
"Selamat pagi!" jawab Hasan dan Naysila hampir bersamaan.
Hal itu membuat sang istri merasa tidak nyaman, dan ingin segera pergi dari tempat itu. Mona tahu bagaimana Ahmad di masa lalu jika berhadapan dengan wanita dihadapannya tersebut.
"Oh iya Ahmad, siapa wanita cantik yang bersamamu ini?" tanya Naysila, yang membuat pipi Mona memerah.
"Apa kamu tidak ingat dia, Nay?" tanya Ahmad, yang di balas gelengan kepala Naysila.
"Dia Monalisa Permana, istriku!" tutur Ahmad, yang membuat Mona merasa lega dan bahagia karena di akui sebagai istri oleh Ahmad.
Mona tidak menyangka jika Ahmad akan mengenalkan dirinya sebagai istri, padahal dia sendiri yang tidak menginginkan pernikahan ini dengan pria itu pada awalnya.
"Subhanallah... Ini Mona? Kamu cantik sekali dengan gamis ini, aku sampai pangling!" ucap Naysila tulus sembari memegang kedua telapak tangan Mona dengan sebuah senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Terima kasih!" jawab Mona malu-malu.
"Baiklah, karena urusan kita disini sudah selesai. Ayo kita pulang," ujar Hasan.
"Mari!" imbuh Ahmad.
Kemudian mereka pun segera berjalan keluar dari kantor polisi, bersamaan dengan itu dari jauh terlihat seseorang yang sangat tidak ingin Mona dan Ahmad temui berjalan mendekat ke arah mereka.
"KAMU?!" sergah Ahmad geram.
Terima kasih sudah membaca kak, tunggu bab selanjutnya ya....