Bab 24. Mariska hamil

Penulis regular20
20 October 2025

Bab 24. Mariska hamil

"Mona!" ucap Brian yang baru saja datang dan ingin memegang tangan Mona.

Tapi dengan cepat ditepis oleh Ahmad, lalu dia memasang badan di depan Mona. Yang membuat Brian merasa kesal di buatnya.

"Hei, sopir. Kamu kenapa sih. Aku mau ngomong sama Mona, jangan menghalangi!" tukas Brian dengan nada kesal.

"Apa masalahmu? Yang mau kamu ajak bicara itu istriku, jadi terserah aku mau mengijinkan atau tidak!" ujar Ahmad mendorong tubuh Brian, sementara Mona terus memegang lengan baju suaminya dengan raut wajah ketakutan.

Di sisi lain Naysila yang melihat kejadian itu merasakan sakit pada ulu hatinya, entah kenapa dadanya terasa bergemuruh melihat Ahmad bersama dengan Mona. Ada rasa sakit dan juga sesak di sana, rasa sakit itu ada sejak Ahmad memperkenalkan Mona sebagai istrinya.

"Lebih baik kamu lanjutkan urusanmu, dan jangan pernah kamu ganggu istriku lagi. PAHAM?!" ucap Ahmad tegas dengan tatapan mata tajam.

"Hah, istri? Tapi dia hamil anakku, Bro. Bukan anakmu!" tukas Brian tersenyum meremehkan, merasa menang sebab telah mendapatkan Mona sejak awal.

"Tutup mulutmu Brian, atau...!"

"Atau apa? Hah! Mau mukul, nih!" ujar Brian sambil menepuk pipi di depan wajah Ahmad.

"Tunggu saja, nanti kamu akan menyesal sudah berurusan denganku!" ujar Ahmad yang lalu menggandeng tangan Mona dan keluar dari kantor polisi, diikuti oleh Hasan dan juga Naysila.

"Hey, Sopir. Kamu mau kemana! Aku belum selesai!" teriak Brian yang mencoba untuk menghentikan langkah kaki Ahmad.

"Saudara Brian! Saudari Mariska sudah menunggu anda, mari!" ucap Pak Polisi yang membuat Brian mengurungkan niatnya untuk mengejar Ahmad dan Mona.

Lalu Brian mengikuti Pak Polisi tadi ke ruang periksa kesehatan khusus untuk tahanan, di situ sudah ada Mariska yang sedang berbaring lemah.

Brian pun mendekat ke arah Mariska, yang kemudian Bu Polwan dan Pak Polisi memberikan waktu untuk mereka berdua untuk berbicara.

"Brian, kamu sudah datang." Mariska tersenyum kala Brian mendekat ke arahnya.

"Ya!" jawab Brian dingin, dia tidak suka berlama-lama dengan gadis di hadapannya itu.

"Brian, aku sekarang sedang hamil anak kamu," tukas Mariska menggapai tangan Brian, meski segera ditepis oleh pria itu.

"Tahu darimana kalau itu anakku, bukankah kamu melakukannya dengan banyak laki-laki." Sahut Brian menimpali perkataan Mariska.

"Aku cuma melakukannya sama kamu, Brian. Aku mohon tolong bebaskan aku dari penjara ini. Aku gak mau di penjara!" ujar Mariska yang mulai terisak, berharap pria di hadapannya akan iba dan kemudian menjaminnya agar bebas.

"Kamu kira aku bod*h. Aku sering melihatmu melakukannya dengan Jerry di manapun. Kalian pikir aku gak tahu, kalau kalian pacaran. Dan lagi, aku juga sering melihatmu jalan dengan om-om kaya juga. Jadi apa masih yakin, jika itu anakku?" tutur Brian mengangkat sebelah bibirnya.

Selama ini Brian sudah mengetahui segalanya, dan dia hanya menjadikan Mariska sebagai pelampiasan saja jika dia merasa bosan.

"Tapi...!"

"Sudah cukup, Mariska. Sekarang tuai lah apa yang sudah kamu tanam. Aku pergi," ujar Brian pergi meninggalkan Mariska yang terus berteriak memanggil Brian.

"BRIAN?!" teriak Mariska histeris, dan menangis dengan meraung-raung. Kemudian ada dua polwan yang menenangkannya, sedangkan Brian pergi meninggalkan kantor polisi.

* Sementara itu Ahmad yang dalam perjalanan pulang dari kantor polisi, yang tadinya telah berpisah mobil dengan Hasan dan juga Naysila. Sekarang tengah memperhatikan sang istri, yang terlihat tegang dan tak tenang.

Sesaat tangan Ahmad terulur meraih tangan Mona untuk menenangkan, akan tetapi urung karena ingat dengan isi perjanjian yang telah dia tanda tangani.

"Mona!" panggil Ahmad, namun Mona masih terdiam dengan tangan saling bertautan saling meremas.

"Mona!" ucap Ahmad setelah dia menghentikan mobilnya di tepi jalan, dia melepas seat belt nya lalu memegang tangan Mona yang terasa sangat dingin.

"Iya. Ada apa, Mas?" jawab Mona balik bertanya sembari melihat ke arah suaminya.

"Kamu kenapa? Setelah kamu ketemu Brian tadi, kamu terlihat ketakutan!" ujar Ahmad bertanya dengan rasa penasaran yang ia rasakan.

"Mas... Aku!" ucap Mona menggantung kata-katanya. Dia merasa takut untuk menceritakan apa yang telah diperbuat oleh Brian padanya ketika dia sudah berhijrah.

"Katakan, Mona. Kamu membuatku cemas!" imbuh Ahmad lagi, berusaha mencari tahu apa yang telah terjadi pada istrinya tersebut.

"Emm... Sebenarnya. Beberapa hari yang lalu Brian pernah datang ke rumah, Mas!" ungkap Mona menundukkan kepalanya sebab tidak sanggup menatap mata suaminya.

"Lalu?" tanya Ahmad lagi.

"Dia mencoba melecehkan aku, Mas!" tutur Mona dengan mata berkaca-kaca.

"APA?! Dasar lelaki tidak bermoral," ujar Ahmad geram dengan tangan mengepal lalu memukul stir mobil.

"Maaf, aku baru cerita ke kamu sekarang, Mas!" tutur Mona lesu, kemudian Ahmad melepas seat belt Mona lalu menarik tangannya dan memeluk tubuh istrinya dengan posisi duduk.

"Maafkan aku yang tidak memperhatikan kamu, maafkan aku yang tidak bisa melindungi mu!" tukas Ahmad tulus dengan perasaan bersalah, sedangkan Mona menangis dalam pelukan sang suami.

"Tapi kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ahmad kemudian.

"Iya, aku tak apa, Mas. Untung saat itu Jenny dan Lala datang tepat waktu, dan Lala langsung menghajar Brian saat itu." Terang Mona lagi.

Tak berselang lama, Ahmad teringat sesuatu yang lalu melepaskan pelukannya kepada Mona. Dia merasa tidak melakukan hal yang benar dengan memeluk istrinya tersebut.

"Em, maaf. Aku kelepasan, harusnya aku gak boleh menyentuhmu!" ujar Ahmad, yang membuat relung hati Mona terasa perih.

"Iya," jawab Mona datar. Sesaat tadi dia merasa senang karena Ahmad memeluknya, dan sedikit merasa sedih karena sang suami melepaskan pelukannya.

"Lain kali jika dia datang, kamu harus secepatnya menghubungiku!" tukas Ahmad menambahkan.

"Iya, Mas. Aku mengerti," jawab Mona menimpali.

Kemudian Ahmad pun kembali melajukan mobilnya, untuk menuju kantor. Karena mendengar cerita sang istri, Ahmad tak ingin meninggalkan Mona sendirian di rumah, jadi dia membawa Mona ke kantor.

Tak berselang lama di kantor, Adi tengah menunggu di depan ruangan Ahmad. Saat melihat Ahmad datang bersama Mona, Adi pun tersenyum ke arah sahabatnya itu.

"Tumben, Di. Kamu pagi-pagi udah di sini!" tukas Ahmad ketik melihat sahabatnya yang sudah datang mendahului dirinya.

"Pagi, Mas Adi!" sapa Mona.

"Aku ada info penting untukmu!" jawab Adi kepada Ahmad sembari melirik Mona.

"Pagi juga, Mbak Mona!" jawab Adi tersenyum ke arah Mona.

"Jadi, kamu sudah dapat semua informasinya?" tanya Ahmad.

"Sudah, dan kamu pasti akan sangat terkejut mendengar info yang aku dapatkan ini!" tukas Adi.

"Ayo, kita bicara di dalam!" ujar Ahmad membuka pintu ruangannya, sementara Mona bingung dengan obrolan mereka berdua.

"Mona, kamu bisa menunggu di kantin. Takutnya nanti kamu bosan, kalau nungguin aku kerja!" ucap Ahmad kepada Mona.

"Tak bisakah aku menunggu kamu di dalam? Aku merasa lelah, Mas!" tutur Mona.

"Baiklah, jika itu mau kamu. Masuklah! Aku dan Adi akan mengobrol di ruangan Adi." Ucap Ahmad membuka pintu untuk Mona, dan lalu pergi bersama dengan Adi meninggalkan Mona sendirian di ruang kerjanya.

"Kenapa Mas Ahmad seperti sedang menyembunyikan sesuatu? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku tidak boleh tahu? Dan info penting apa yang akan di sampaikan Mas Adi tadi, sehingga aku tak boleh tahu!" gumam Mona setelah Ahmad berlalu menjauh dari hadapannya.

Setibanya di ruangan Adi, Ahmad segera menutup rapat ruangan itu. Tak ingin ada yang mendengarkan percakapan mereka.

"Jadi, apa info yang kamu dapatkan?" tanya Ahmad tidak sabar mendengar apa yang sudah diketahui oleh Adi.

"Jadi setelah aku cari-cari info info mengenai Nadira Nadiva, aku menemukannya dan sangat terkejut dengan kenyatannya. Kamu juga pasti akan terkejut mendengar siapa itu Nadira Nadiva!" tukas Adi setelah dia duduk di sofa yang berhadapan dengan Ahmad.

"Jadi siapa dia, cepat katakan Adi!" ucap Ahmad dengan penasaran.

"Nadira Nadiva, dia itu adalah...."


Mau tahu siapa Nadira Nadiva? Baca Next Part ya.