Bab 25. Nadira Nadiva

Penulis regular20
20 October 2025

Bab 25. Nadira Nadiva

"Nadira Nadiva, dia itu adalah Ibu dari Mariska!" ungkap Adi kemudian.

"Maksudnya? Mariska temannya Mona?" tanya Ahmad dengan mata membulat.

"Iya, Mariska yang itu!" tukas Adi mengiyakan pertanyaan Ahmad.

"Ternyata buah jatuh tak jauh dari pohonnya ya!" sahut Ahmad menimpali, sebab ia tahu bagaimana perangai gadis yang bernama Mariska tersebut.

"Haruskah kita mendatanginya untuk tahu cerita lebih jelasnya?" tanya Adi kemudian memberi saran.

"Boleh, nanti kita atur jadwal untuk bertemu dengannya!" tukas Ahmad menimpali perkataan Adi.

"Iya, nanti akan Aku kabari waktu yang tepat untuk kita pergi ke panti jompo!" lanjut Adi lagi.

"Panti jompo? Jadi Ibu Mariska ada di panti jompo?" timpal Ahmad bertanya. Dia merasa sedikit terkejut mendengar pernyataan Adi tentang Nadira Nadiva.

"Iya, itu info yang aku dapatkan kemarin. Mariska tak mau repot-repot merawat ibunya yang saat ini tengah lumpuh, jadi dia memasukkan ibunya ke panti jompo!" terang Adi menjelaskan info yang i dapatkan dari orang kepercayaannya.

"Siapa yang masuk panti jompo?" sahut Pak Andi yang tiba-tiba masuk ke ruangan Adi.

"Ayah?!" pekik Ahmad yang merasa terkejut melihat kedatangan ayah mertuanya yang datang secara tiba-tiba.

"Silahkan duduk Pak!" sahut Adi mempersilahkan atasannya untuk duduk di kursinya.

"Tidak apa, Adi. Saya duduk di sini saja!" jawab Pak Andi duduk di sebelah Ahmad.

"Oh iya, tadi siapa yang masuk panti jompo? Maaf saya tidak sengaja dengar pembicaraan kalian," terang Pak Andi kemudian.

"Nadira Nadiva, Ayah! Seseorang yang memisahkan Ibu dengan Ayah kandung saya!" jelas Ahmad kepada sang ayah mertua.

"Nadira Nadiva?" gumam Pak Andi sembari mengernyitkan keningnya, teringat dengan nama seseorang yang pernah ia tahu.

"Kenapa Ayah. Ayah kenal sama Nadira Nadiva?" tanya Ahmad heran dengan ekspresi ayah mertuanya.

"Ah tidak, hanya saja kok cerita kamu hampir mirip dengan kisah pernikahan sahabat Ayah yang juga hancur karena campur tangan orang ketiga, dan namanya sama. Nadira Nadiva!" terang Pak Andi menjelaskan.

"Siapa nama sahabat Ayah? Kalau Ahmad boleh tahu?" tanya Ahmad lagi karena merasa penasaran.

"Namanya Abdullah Jaelani dan istrinya Ningsih Puspita!" jawab Pak Andi, yang membuat Ahmad tercengang mendengar penuturan nya tersebut.

"Jadi? Ayah mengenal kedua orang tua saya?" jelas Ahmad yang merasa terkejut dengan penuturan ayah mertuanya.

"Orang tua? Jadi kamu anak dari Ningsih Puspita yang selama ini dicari-cari oleh Abdullah?" tanya Pak Andi terkejut mendengar penuturan menantunya tersebut.

"Iya, Ayah. Saya memang anak dari Ibu Ningsih!" tukas Ahmad menimpali.

"Makanya saya ingin tahu kenyataan yang sebenarnya, sebelum saya menerima Pak Abdul kembali menjadi Ayah saya. Saya tidak ingin membuat Ibu bersedih!" ujar Ahmad.

"Nak, Abdullah itu orang yang baik. Namun kebaikan hatinya telah di manfaatkan orang yang tidak bertanggung jawab!" ungkap Pak Andi menjelaskan, mencoba memberikan pengertian kepada menantunya agar tidak membenci sang ayah.

"Benarkah, Ayah? Lantas, kenapa dia tidak bisa meyakinkan Ibu di masa lalu, dan malah membiarkan Ibu pergi?" sergah Ahmad dengan sedikit emosi, merasa tidak terima jika sang ayah mertua lebih membela ayahnya.

"Dia tidak ada pilihan lain, Nak. Dia tidak mau melihat Ibumu pergi jauh dan turut membawamu. Sebab dia hanya bisa mengawasi kalian dari jauh!" imbuh Pak Andi kemudian.

"Kenapa selama ini Ayah tidak pernah memberitahuku tentang ini? Sementara Ayah tahu banyak hal tentang ini semua!" cecar Ahmad lagi yang merasa kecewa kepada sang ayah mertua.

"Ayah memang tahu kisah ini, tapi Ayah tidak tahu jika anak dari Abdullah adalah kamu. Ayah juga tidak pernah tahu nama Ibumu, dan juga tidak pernah bertemu dengannya. Karena dia selalu menolak saat Ayah meminta bertemu, mungkin Ibumu juga sudah menyadarinya!" ucap Pak Andi menambahkan, meski itu tidak sepenuhnya benar. Pak Andi hanya tidak ingin jika Ahmad jadi membenci dirinya juga jika dia berkata jujur tentang segalanya.

"Jadi, Ibu...." Ucap Ahmad gusar.

"Tenang, Nak. Sekarang hal yang terpenting kita harus bersama-sama mengungkap kebenaran ini, semuanya demi kebahagiaan Ayah dan juga Ibumu!" ujar Pak Andi mengusap punggung menantunya itu.

"Baiklah, jika Ayah yang berkata begitu Ahmad percaya!" jawab Ahmad menatap wajah yang tak lagi muda di hadapannya, sementara Adi yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan penuturan dari kedua orang yang ada di hadapannya.

"Jadi, bagaimana tadi. Nadira Nadiva ada di panti jompo?" tanya Pak Andi kepada Adi yang sedari tadi hanya menyimak perdebatan diantara menantu dan mertua.

"Eh. Iya, Pak!" jawab Adi.

"Kalau begitu, kalian berdua harus pergi sekarang dan minta kejelasan dari wanita itu. Agar bisa meyakinkan Ningsih bahwa Abdul tidak bersalah!" tukas Pak Andi kemudian.

"Tapi Ayah, sebentar lagi ada meeting dengan klien penting!" ujar Ahmad.

"Sudah, tidak apa. Biar Ayah yang menghandle semuanya di sini, kalian boleh pergi. Agar masalah ini cepat tuntas dan beres!" putus Pak Andi sembari berdiri dari duduknya.

"Baiklah, jika itu memang kehendak Ayah. Kami akan berangkat sekarang, terima kasih Ayah!" ucap Ahmad yang langsung memeluk sang Ayah mertua.

"Iya Nak, sama-sama. Ayah hanya ingin kamu dan orang tua kandungmu bahagia, meski Ayah juga menyayangimu seperti anak sendiri. Namun, keluarga kalian harus berkumpul kembali!" tukas Pak Andi menepuk-nepuk pundak Ahmad.

Dari luar ruangan tersebut, terlihat seseorang tengah memperhatikan Ahmad yang sedang berpelukan dengan Pak Andi. Dia mengernyitkan dahinya, lalu ingin mengetuk pintu ruangan itu....

*

Sementara itu di tempat lain, seseorang gadis sedang melamun dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Setelah pertemuannya dengan istri Ahmad, yang ternyata adalah gadis yang dulu begitu menjadi primadona di kampus tempatnya menempuh pendidikan.

"Kak, kak, KAK Nay!" pekik Hasan, yang membuat Naysila terkejut.

"Iya, ada apa Has?" tanya Naysila.

"Kita udah sampai, kakak gak mau turun?" tanya Hasan.

"Sampai mana?" imbuh Naysila linglung.

"Sampai kantor kakak, kak Naysila kenapa? Sejak dari kantor polisi tadi kakak melamun terus!" ucap Hasan heran.

"Ah, iya kah? Masa sih? Nggak ah!" kilah Naysila lalu bergegas membuka pintu dan turun dari mobil Hasan.

"Kakak beneran, gak apa-apa?" tanya Hasan lagi di balik kursi kemudi mobilnya.

"Iya, aku baik-baik saja kok. Terima kasih ya sudah di antar sampai sini!" tukas Naysila seraya pergi, meninggalkan Hasan sendirian dalam mobilnya.

"Andai, kamu bukan calon kakak ipar ku Nay!" gumam Hasan sembari melihat Naysila pergi menjauh dari penglihatannya.

Entah apa maksud dari kata-kata yang di ucapkan oleh Hasan itu, seperti menyiratkan sebuah arti yang mendalam.

*

Di sisi lain, di dalam kamar apartemen Brian. Dia terlihat sangat kesal, sepulang dari kantor polisi tadi.

"Bre*k, sl, kenapa wanita jlg itu minta pertanggung jawaban ku. Padahal bukan hanya aku yang pernah tidur dengannya, kenapa aku begitu bo**h hingga dulu termakan hasutan dan rayuan darinya.

"Mana mungkin aku mau bertanggung jawab, atas kehamilannya yang aku tak yakin siapa ayah dari bayi itu. S**l, dia membuatku frustasi, jangan sampai dia mengatakan hal itu pada orang lain. Apalagi Mona, ataupun Oma. Bisa habis aku, jika Oma sampai tahu akan hal itu!" gerutu Brian.

"Jangan sampai ada yang tahu, tapi aku harus bagaimana sekarang? Aakkh?!" teriak Brian gusar meremas rambutnya dengan kasar.

Brian menyesal dengan sikapnya yang telah membuang Mona, juga menyesal kenapa dia menjalin hubungan dengan Mariska. Hingga kini Mariska menuntut pertanggung jawabannya, karena dia sekarang sedang hamil tapi entah dengan siapa.

Dia takut mengecewakan Oma nya untuk kedua kalinya, pertama dia tidak bertanggung jawab atas Mona. Dan sekarang dia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti respon Oma nya jika mengetahui bahwa Brian melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Dalam pikirannya yang kalut, tiba-tiba....

Ting... Tong....

Bunyi bel apartemen mengagetkannya, entah siapa yang datang. Mendadak, perasaan Brian pun tak menentu.


Siapakah gerangan yang datang ke apartemen nya....