Dinikahi Paman Mantan - Hotel - Bab 17

Penulis Nuvola
20 October 2025

“Mantan kamu itu kayaknya sengaja deh ngerusak pesta kita,” ucap Emma dengan nada kesal ketika mereka berdua akhirnya masuk ke kamar hotel yang dipenuhi aroma mawar putih dan cahaya temaram lilin.

Rafael menoleh sekilas, menatap Emma yang masih mengenakan gaun pengantin berkilau. “Aku nggak ngerasa pesta kita rusak,” jawabnya datar sambil membuka kancing kemeja satu per satu.

“Kamu nggak lihat, kan? Semua mata tertuju ke dia! Dia sengaja tampil mencolok, pakai kalung berlian yang harganya miliaran itu,” gerutu Emma sambil melempar buket bunga ke meja rias. “Jalang itu emang nggak tau malu!”

Rafael tak mengatakan apapun. Ia hanya memalingkan wajah, mengambil jasnya yang tergantung di kursi. “Mau kemana, El?” suara Emma melemah, terdengar antara bingung dan tak percaya.

“Cari angin,” balas Rafael singkat, suaranya nyaris tanpa emosi. Ia membuka pintu kamar hotel yang mewah itu dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

“Tapi ini malam pertama kita, El!” teriak Emma, suaranya bergetar antara marah dan terluka.

Pintu tertutup pelan, menyisakan kesunyian yang menggema di kamar besar itu. Lilin-lilin di meja perlahan meleleh, sementara Emma berdiri terpaku di depan cermin — melihat pantulan dirinya sendiri yang tampak sempurna dari luar.

“Ini semua gara-gara jalang murahan itu!” seru Emma yang begitu tampak kesal.

Di tempat lain, Lily sibuk dengan novel tebal yang sempat ia selesaikan. Ia duduk bersandar di sofa panjang berwarna krem di kamar yang remang hangat. Lampu meja di sudut ruangan memancarkan cahaya kekuningan, cukup untuk menemaninya membaca.

“Nggak tidur?” tanya Agam saat dia masuk ke dalam kamar membawa macbook dan beberapa dokumen.

“Belum ngantuk,” jawab Lily yang mengalihkan pandangannya dari buku novel. “Om mau kerja?” sambung Lily ketika pria itu mengambil tempat duduk disampingnya dan segera membuka macbooknya.

“Iya ada beberapa yang harus diselesaikan,” jawab Agam yang fokusnya mulai ke arah layar macbook.

“Om,” panggil Lily yang membuat Agam menoleh.

“Hm?”

“Aku dengar Om menghabiskan dua puluh miliar sebagai permintaan maafku ke Kak Bella soal salah paham waktu itu.”

Agam menganggukkan kepala. “Kenapa nggak nyuruh aku buat minta maaf lagi secara langsung ke Kak Bella?”

“Seorang wanita cemburu itu wajar jadi nggak papa nggak perlu minta maaf.”

“Aku nggak cemburu,” potong Lily dengan ekspresi serius.

“Nggak papa wajar kok kalau gengsi mengakuinya,” sambung Agam membuat Lily terlihat kesal. “Kan aku yang salah,” imbuhnya ketika Lily kembali hendak membantah.

Agam tertawa melihat ekspresi Lily, dia pun mencolek hidung Lily. “Baca saja novelnya nggak perlu mikirin hal lain,” ujar Agam yang membuka novel Lily yang tadi tempat Lily tutup.

Agam pun kembali fokus ke macbook sedangkan Lily masih menatap Agam dalam diam. Dia masih tidak mengerti dengan semua sikap Agam padanya. Suaminya itu benar-benar tidak bisa dia tebak, sikap misterius dan selalu mendominasi di awal pertemuan mereka memang masih ada sampai sekarang. Bedanya saat ini Agam lebih lembut dan lebih banyak tersenyum.

Lily pun akhirnya tak memilih kembali membaca novel. Sesekali dia menghela nafas pelan, mengganti posisi duduk karena punggungnya mulai terasa pegal. Akhirnya, ia merebahkan diri di samping Agam, membiarkan kepalanya bersandar di bahu pria itu. Bau lembut sabun dan aroma maskulin Agam terasa menenangkan.

Novel masih ia genggam, meski matanya mulai terasa berat. Huruf-huruf di halaman terakhir yang ia baca perlahan kabur, hingga akhirnya kelopak matanya tertutup sepenuhnya. Nafasnya menjadi teratur, lembut, dan damai.

Agam berhenti mengetik ketika merasakan berat kepala Lily di bahunya. Ia menoleh, menatap wajah wanita itu yang kini terlelap. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan saat menatapnya — lembut, damai, dan sedikit menyesakkan dada.

Dengan hati-hati, Agam menutup MacBook-nya dan mengambil novel yang masih tergenggam di tangan Lily. Ia meletakkannya di meja kecil di samping sofa, lalu menatapnya lagi — rambut Lily sedikit berantakan, bibirnya sedikit terbuka, nafasnya teratur.

Senyum kecil muncul di wajah Agam. Ia perlahan membungkuk, lalu menyelipkan satu tangan di bawah tubuh Lily, dan satu lagi di bawah lututnya. Dengan gerakan pelan namun mantap, ia menggendong Lily menuju ke tempat tidur.

Selimut putih tersibak ketika Agam menurunkan tubuh Lily di atas ranjang. Cahaya lembut dari lampu tidur menyorot wajahnya yang tenang. Saat hendak menarik selimut untuk menutup tubuh Lily, wajah mereka tanpa sengaja menjadi sangat dekat — hanya berjarak beberapa sentimeter.

Agam terdiam. Matanya menatap bibir Lily yang tampak lembut dan berwarna merah muda alami. Tenggorokannya terasa kering, ia menelan ludah perlahan, mencoba menahan gejolak aneh yang muncul di dadanya.

Namun detik berikutnya, tanpa sepatah kata pun, ia menundukkan wajahnya sedikit. Hanya sekejap — sebuah ciuman ringan, hangat, dan hati-hati mendarat di bibir Lily.

Ciuman itu begitu singkat, namun cukup untuk membuat dada Agam berdebar kencang. Ia menarik diri pelan, menatap wajah Lily yang masih tertidur, seolah tak menyadari apa pun.

“Tidurlah,” bisik Agam nyaris tak terdengar, suaranya lembut, nyaris seperti doa. Ia menutup selimut hingga ke bahu Lily, lalu duduk di tepi ranjang, menatapnya dalam diam — sebelum akhirnya memadamkan lampu.


Emma pernah berpikir kehidupannya akan sempurna setelah menikah dengan Rafael. Ia membayangkan hari-harinya akan dipenuhi kebahagiaan, cinta, dan kemewahan. Tapi malam pertama yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru justru berubah menjadi mimpi buruk.

Udara dingin menelusup masuk melalui celah jendela, menambah rasa sepi yang menyesakkan dada. Rafael belum juga kembali.

Emma duduk di tepi ranjang dengan gaun tidurnya yang kusut. Di meja, sisa sampanye dan mawar putih yang disiapkan pihak hotel kini tampak hambar. Berkali-kali ia mencoba menelpon Rafael — lima, sepuluh, dua puluh kali — tapi tak sekali pun diangkat. Dan kini, nomor itu bahkan sudah tak aktif.

“Kenapa kamu berubah, El?!” teriak Emma tiba-tiba, suaranya serak menahan marah dan sakit hati. Ia meraih vas bunga di atas meja, melemparkannya ke dinding hingga pecah berantakan. Kelopak mawar beterbangan, air tumpah, dan kamar hotel yang mewah itu kini dipenuhi kepingan kaca.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Riasan di wajahnya mulai luntur, eyeliner mengabur, tapi sorot matanya masih menyala dengan kemarahan dan kepedihan. “Saat kamu masih bertunangan dengan Lily, kita nggak pernah lewat satu hari pun tanpa bertemu…” gumamnya getir, hampir seperti mengomeli bayangan sendiri.

Emma menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Ia tahu betul, sejak awal hubungan mereka dibangun di atas kebohongan dan ambisi. Tapi tidak pernah — tidak sekalipun — ia menyangka Rafael akan meninggalkannya seperti ini, di malam pernikahan mereka.

Dulu, saat pertama kali melihat Rafael, Emma langsung terpikat. Tatapan tajam dan wibawa Rafael membuatnya ingin memilikinya — bukan hanya karena cinta, tapi juga karena obsesi. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa merebut segala yang dimiliki Lily kekasih, status, bahkan kebahagiaan.

Dia memang dengan mudah menggoda Rafael, dan kini Rafael kembali tergoda dengan wanita lain.

Dia berada di kamar hotel, suara hentakan tubuh terdengar menyatu dengan suara seksi seorang wanita yang kini berada dibawah tubuh Rafael.

“Akh! Faster Tuan.” Wanita itu berkata dengan sangat seksi membuat Rafael semakin menggila.

“Mendesahlah bitch!”

Senyum seringai terlihat di wajah wanita itu, dia lalu semakin membuat suara seksi dan ekspresi yang membuat permainan Rafael semakin cepat.