His Contract bride - Alur yang Mulai Berubah - Bab 13

Penulis Rei_Moira
09 September 2025

Kael menoreh garis cepat di bawah tanda tangannya. Di hadapannya, Luther memperhatikan dari tadi, sorot matanya terlihat kritis.

“Apa ada hal baik yang terjadi pada Anda akhir-akhir ini, Tuan?”

Kael menatap sejenak pada Luther, lalu mendengus samar—menyembunyikan lekukan di sudut bibirnya yang hampir tak mampu ia kendalikan.

“Semalam aku bersenang-senang dengan Rora.” Nada bicaranya terlihat bangga, kembali mengingat acara makan malam bersama dengan Bastien Vireaux semalam.

“Bersenang-senang?” Luther jelas salah paham. “Apakah hubungan kalian sudah benar-benar lepas dari dendam dan segalanya?”

Wajah Kael memerah. Dehamannya keras, tapi tak mengintimidasi sekali. Justru Luther terkekeh pelan. Menghadapi Kael Vireaux bukanlah hal menakutkan baginya.

“Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Luther!”

“Lalu?” Kedua mata Luther menyipit.

Kael menyandarkan bahunya di sandaran kursi kerjanya yang mewah. Seringai tipis tak lagi ia sembunyikan, terlihat jelas di wajahnya. “Dia mengalahkan ucapan Bastien dengan mudah. Selama ini aku meremehkan kemampuan wanita itu.”

“Nona Aurora memang wanita yang luar biasa—”

Luther terpaksa menghentikan kalimatnya karena tatapan tajam dari Kael yang mendadak tertuju padanya.

“Dia unik,” ralat Luther. “Jadi… apakah Anda benar-benar telah melupakan dendam itu?”

Kael menghela napas panjang. Sejujurnya, ia hampir lupa dengan tujuan awalnya menikahi Aurora. “Sepertinya aku akan fokus dengan masalah Bastien terlebih dulu.”

Luther mengangguk-angguk kecil. Jawaban tak jelas dari Kael, tapi di telinganya terdengar sangat jelas jika pria itu telah mencabut alasan utama menikahi Aurora Vallen.

“Baguslah,” ucap Luther. “Tapi, Tuan… sebenarnya aku sedikit penasaran dengan balas dendam yang Anda maksud. Apa yang sebenarnya ingin Anda lakukan padanya? Dari awal, perlakuan Anda padanya bisa dibilang ‘manis’ bagi ukuran seorang Kael Vireaux.”

“Kau ingin bertanya tentang hal itu sejak lama, huh?” Kael menyeringai.

Luther mengedikkan bahunya sekali. “Anggaplah seperti itu, Tuan. Sejujurnya, aku takut Anda terlibat masalah besar dengan rencana balas dendam itu.”

Kael menegakkan tubuhnya, kedua tangan bertumpu di meja, sementara jemarinya menutup wajahnya sampai batang hidung. “Kau mengira aku akan bermain darah?”

“Tak ada yang tidak mungkin, Tuan.” Luther mengakuinya.

Kael tertawa kencang. Ekspresi Luther yang tegang membuatnya tak bisa menahannya. “Kau rupanya benar-benar menyukai Rora.”

“Aku menyukainya karena selama nona Aurora datang, Anda terlihat lebih bersemangat dan sesekali tersenyum. Itu membuatku lega.” Luther mengakuinya lagi.

Kael menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Awalnya aku hanya ingin membuatnya jatuh cinta padaku, bergantung padaku, lalu aku akan mengempasnya dengan sangat kencang, sampai membuatnya merasa sakit dan tidak akan percaya lagi dengan yang namanya cinta.”

“Dan sekarang?” Luther tak ragu sama sekali saat menanyakannya.

Kael berdiri, tak segera menjawab. Langkahnya perlahan mendekat jendela besar yang menampilkan megahnya kota Vallmont. “Akan kupikirkan lagi nanti. Kurasa dia cukup berguna saat menjadi istriku.”


“Pilates?” Aurora mengerutkan keningnya.

kartu keanggotaan pilates baru saja ia terima hari ini. Semenjak kembali ke penthouse setelah aksi kabur gara-gara ‘hukuman’ itu, tampaknya Kael selalu saja memberikan kejutan padanya.

“Apa motifmu menyuruhku untuk pergi pilates, Tuan Vireaux?” Kedua mata Aurora memicing tajam.

“Kudengar kau dulu sering melakukannya.” Kael menyilangkan kaki. Tubuhnya selalu tampak pas di single sofa yang selalu ia tempati di ruang tengah penthouse. “Tapi karena terlilit utang, kau menghentikan kelasmu yang lama, benar?”

Benar. Tapi entah kenapa Aurora merasa kesal mendengarnya.

“Lalu? Kau menyuruhku pilates lagi?” Aurora masih mempertahankan nada angkuhnya.

Kael mendengus pelan. “Buang saja kalau kau mau. Itu hanya kompensasi kecil karena kau telah berhasil membuat pamanku kehabisan kata-kata.”

Aurora kembali melihatnya. Kartu keanggotaan VIP yang telah aktif satu tahun. Bagaimana bisa ia membuangnya? Nominal yang harus dikeluarkan untuk kelas itu sama dengan jumlah yang harus dibayarkan untuk satu winter coat branded.

“Siapa bilang aku tidak suka.” Aurora cepat-cepat menurunkan kartu itu, menyembunyikannya di balik badan, seolah itu adalah barang berharga miliknya. “Aku hanya curiga dengan motifmu.”

“Harusnya aku yang mencurigaimu karena kau telah melanggar kesepakatan kita untuk tidak masuk ke dalam ruangan itu.” Nada bicara Kael tak pernah lembut pada Aurora, tapi kali ini kontras dengan sorotnya yang tak biasa.

Aurora berdecak pelan, lalu duduk di sofa lainnya—di sebelah kiri Kael—memperhatikan pria itu, seolah sedang menafsirkan suasana hatinya.

“Selagi kau membahas hal itu, aku ada pertanyaan untukmu.” Tangan Aurora mengepal sebelah setelah mengatakannya.

“Aku tidak akan menjawab apa pun dari pertanyaan yang akan kau lontarkan.” Dengan cepat, Kael telah menetapkan batasannya.

“Cih!” Aurora membuang muka sekilas. “Kau bahkan belum mendengar apa yang ingin kukatakan.”

Kael berdiri, meletakkan buku tebal yang tadi sempat dibacanya beberapa halaman. Aurora memperhatikan tiap gerakan pria itu. Dan detik berikutnya, ia telah menyimpulkan jika Kael adalah perpaduan antara elegan dan psikopat—menyebalkan.

“Aku tidak perlu mendengar pertanyaanmu.” Kael menatap tajam ke arah Aurora. “Masuk ke kamarmu, dan jangan ganggu aku lagi.”

Tanpa menunggu jawaban, Kael melangkah cepat ke kamarnya. Seolah sedang melarikan diri dari apa yang akan dikuliti oleh Aurora. Ia tak mampu untuk menjawab apa pun yang berkaitan dengan ruangan itu… mungkin tidak sekarang.

“Siapa juga yang akan mengganggumu. Kau kira aku akan masuk ke kamarmu dan bersikeras menanyakan apa yang adi dalam pikiranku?!” Ledakan emosi tidak bisa ditahan Auora.

Kael mendengarnya. Sebelum membuka pintu kamar, ia menoleh ke arah wanita yang tengah menatapnya—seolah ingi melahapnya hidup-hidup. “Who knows? Kau bahkan telah menindihku di malam pertama kita. Siapa yang bisa menduga kalau malam ini kau berniat untuk mengambil kesempatan lagi?”

Aurora terdiam sejenak, mencernanya. Detik selanjutnya….

“KAU KIRA AKU MESUM?!”

Seringai samar itu tersungging angkuh di satu sudut bibir Kael. “Sebutkan kata yang lebih tepat bagi seorang wanita yang mengendap masuk ke kamar pria, lalu menindihnya begitu saja dengan alasan gelap. Kau mau menganggap aku maklum dengan hal itu?”

Tangan Aurora refleks meraih bantal kecil di sofa, lalu melemparnya kuat—tepat menghantam pundak kanan Kael. “Aku bukan wanita seperti itu!!”

Kael tak peduli. Dia membuka pintunya, lalu masuk begitu saja tanpa merespon kemarahan Aurora. Bunyi klik pelan semakin membuat pundak Aurora naik turun.

“Dia mengunci pintu??” Aurora berteriak frustrasi. Hah!! Aku bukan wanita mesum, Kael Vireaux!! Kau akan menyesal karena telah menghinaku seperti itu!”

Tak ada sahutan. Tentu saja.

Aurora berdiri kasar, menghentak sebelah kakinya saat melangkah ke kamarnya sendiri. Gemuruh dalam batinnya tak mampu ia tahan. Tangannya meraih cepat gagang pintu, lalu membukanya kasar dan membantingnya cepat.

“Sembarangan saja dia bicara! Kau benar-benar akan menyesal, Kael!”

Sementara itu di kamar milik Kael, pria itu terkekeh pelan saat mendengar pintu kamar Aurora dibanting. Seakan ia menikmati ledakan emosi milik wanita itu. “Kau yang akan menyesal, Rora. Akan kupastikan itu.”