Deklarasi Sang Pewaris

Penulis Yoonna
20 October 2025

Andrian dan Kaluna tiba di podium yang sudah disiapkan di ujung ruangan. Cahaya lembut menyoroti mereka berdua.

Semua mata, dari pebisnis hingga para pelayan, tertuju pada pasangan itu. Di tengah keheningan yang mencekik, Andrian mengangkat gelas sampanye-nya tinggi-tinggi.

"Hadirin sekalian," suara bariton Andrian memecah kesunyian, "Saya ingin menggunakan kesempatan ini, bukan hanya untuk merayakan, tetapi untuk menyampaikan sebuah pernyataan."

Dia menoleh ke arah Kaluna, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada orang lain. Genggamannya di pinggang Kaluna menguat, seolah memastikan wanita itu sepenuhnya miliknya di mata semua orang.

"Selama ini, banyak yang bertanya-tanya tentang Cassavanos Group. Mengenai CEO-nya, dan arah masa depan kita. Hari ini, saya akan menjawab semuanya," lanjut Andrian, matanya kini mencari sosok Ken Aji yang masih berdiri kaku.

Ken Aji merasakan jantungnya berdebar kencang. Firasatnya menjerit, memberitahu bahwa apa yang akan diumumkan Andrian bukanlah kabar baik.

Martin, dari sudutnya, menyeringai puas. Ia tahu, Tuan Muda Cassavanos ini tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menghancurkan Ken Aji.

"Banyak rumor yang beredar. Tentang perebutan kekuasaan, tentang warisan. Saya tegaskan," kata Andrian, suaranya kini terdengar lebih dingin dan mengancam, "Saya adalah Andrian Sugara, CEO Sugara Group."

Keheningan yang mencekik kembali menyelimuti ruangan. Bisikan-bisikan tertahan, menunggu kelanjutan yang semua orang yakini adalah pengumuman pengambilalihan.

Andrian tersenyum tipis, kali ini senyumnya lebih santai, seolah menikmati kesalahpahaman yang terjadi. Ia mengangkat tangannya, menenangkan hadirin.

Dia menoleh ke samping, memberi isyarat hormat kepada Ken Aji yang masih berdiri kaku. Ketegangan yang campur aduk dengan kebingungan mulai terlihat di matanya.

"Saya tegaskan, Sugara Group dan Cassavanos Group adalah dua entitas yang terpisah, independen, dan akan tetap demikian. Cassavanos Group adalah mahakarya Ayah saya, dan saya menghormati keputusan terakhir beliau untuk mempercayakan perusahaan itu kepada seseorang yang terbukti paling loyal dan paling berintegritas."

Andrian mengangguk ke arah Ken Aji. "Saya ingin menggunakan momen ini untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuan Kinan Setyo Adji. Kesetiaan dan dedikasi beliau dalam mengurus Cassavanos Group, dan dalam menjaga keluarga kami selama masa duka, tidak ternilai harganya. Beliau adalah pemimpin sejati Cassavanos."

Martin, yang tadinya menyeringai, kini membeku, matanya memancarkan kebingungan. Ini bukan yang ia harapkan.

Andrian menarik napas. "Saya telah memilih jalan saya sendiri. Saya membangun Sugara Group dari nol. Dan saya lebih memilih untuk memimpin perusahaan yang saya bangun dengan tangan saya sendiri. Saya bangga menjadi CEO Sugara Group."

Ken Aji memang bernapas lega. Beban berat ancaman bahkan penghinaan di depan umum, seketika terangkat. Andrian tidak menghancurkannya. Lebih dari itu, Andrian malah memujinya dan mengesahkan posisinya sebagai wali kuasa sah Cassavanos Group, warisan mendiang Ferdinan.

Namun, kelegaan itu hanyalah setipis kulit ari. Di dalam benaknya, alarm bahaya berbunyi sangat keras. Pikirannya tidak bisa tenang, menolak menerima situasi damai ini.

“Tidak masuk akal,” batin Ken Aji.

Anak muda ini, Andrian, selalu dikenal karena sifatnya yang berapi-api dan ambisius. Selama bertahun-tahun, setiap interaksi mereka, bahkan sejak sebelum Ferdinan wafat, dipenuhi ketegangan.

Andrian adalah orang yang paling vokal memprotes penunjukan Ken Aji sebagai wali kuasa dan pelaksana kepemimpinan di Cassavanos. Dia pernah menuntut pembukaan kembali surat wasiat, menantang setiap kebijakan, dan menunjukkan keinginan yang membara untuk mengambil alih Cassavanos.

"Dia tidak pernah setenang ini," gumam Ken Aji pelan, matanya menatap tajam ke arah Andrian yang kini memeluk putrinya, Kaluna, dengan bangga.

Itu semua adalah tindakan yang sangat kontradiktif dengan karakter Andrian Sugara yang dia kenal selama ini. Ken Aji yakin, Andrian tidak akan pernah menyerahkan sesuatu yang pernah ia anggap sebagai miliknya.

Kenapa hari ini dia menyerah begitu saja?

Marisa dan Kajayanti terperangah. Ejekan mereka beberapa menit yang lalu kini terasa seperti ludah yang berbalik mengenai wajah sendiri. Kajayanti merasakan air mata kemarahan dan penyesalan mendesak keluar.

“Aku tidak percaya ini, pria itu adalah pewaris Cassavanos,” gumam Marisa yang didampingi Kajayanti.

"Namun, malam ini, saya punya pengumuman lain, jauh lebih penting dari sekadar merger bisnis,” ujar Andrian lagi, kembali mengalihkan perhatian semua orang.

Andrian menoleh ke arah Kaluna, dan semua mata kini tertuju pada wanita itu. Genggaman Andrian di pinggangnya kini terasa protektif, bukan posesif.

"Hadirin sekalian, perkenalkan gadis di samping saya ini. Dia adalah... Kaluna Ameerta Setyo Adji, putri dari Tuan Kinan Setyo Adji."

Andrian mengeluarkan tangannya kanannya yang sejak tadi bersemayam di saku jasnya. Dia meraih dan mengangkat tangan kanan Kaluna untuk memamerkan wanitanya di hadapan kerumunan.

Sebemlumnya, Andrian melakukan gerakan yang nyaris tak terlihat. Dengan tangannya yang memegang pergelangan Kaluna, Dia secara sangat cepat dan tersembunyi menyelipkan sesuatu di jari manis Kaluna.

Mata semua orang terpaku pada wajah Kaluna dan keangkuhan Andrian, sehingga tak ada yang menyadari manuver itu.

“Aku umumkan, aku dan Nona Kaluna sudah bertuangan dan dalam waktu dekat, kami akan segera melangsungkan pernikahan,” sambung Andrian dengan suara lantang.

Saat tangan Kaluna terangkat penuh, cahaya podium menyorot sempurna. Seketika, kilauan tajam memancar dari jari manis Kaluna. Sebuah cincin berlian mewah yang tampak antik dan mempesona kini telah bersemayam di sana, seolah-olah memang sudah ada sejak awal.

Mata Kaluna membulat sempurna menatap Andrian. Serangkaian protes terhadapnya membeludak di kepala Kaluna, tidak sabar untuk menyerang mesin pendingin itu.

Seketika suara kegaduhan langsung meledak.

"Tidak mungkin! Ini tidak benar!" seru Kajayanti tiba-tiba, suaranya parau, tetapi tertutup oleh keramaian.

Di sudut ruangan, Kajayanti yang sudah sangat yakin akan menjadi Nyonya sang pewaris, kini terhuyung, tangannya mencengkeram lengan ibunya. Wajahnya yang tegar langsung runtuh.

Marisa menatap nyalang ke arah Alivia, yang terlihat sama terkejutnya.

"Alivia!" desis Marisa, maju menerobos kerumunan kecil. "Apa-apaan ini? Bukankah kau yang menjamin perjodohan Tuan Muda dengan putriku? Kau yang mengatur semuanya! Ini penghinaan!"

Alivia terlihat panik. Ia benar-benar tidak tahu soal pertunangan mendadak ini. Andrian telah bertindak di luar kendalinya. Kekalahan politik dan sosial terasa menusuknya.

"Tenang, Kajayanti, saya—"

"Tidak ada yang perlu ditenangkan!" potong Marisa dengan suara meninggi. "Putramu baru saja mengumumkan tunangannya adalah Kaluna!"

Di podium, Andrian hanya tersenyum melihat kekacauan di sudut ruangan. Ia merangkul Kaluna erat. Malam ini, ia telah memenangkan segalanya: cintanya, perusahaannya, dan kebebasannya dari intrik keluarga.

Sementara di sudut ruangan, Leon menyipitkan mata dan mengangkat alisnya. Dia adalah orang yang paling sering berurusan dengan detail-detail pribadi Andrian, tetapi ia sama sekali tidak melihat pergerakan cincin itu.

“Darimana asalnya cincin itu? Kapan Tuan Muda membelinya?” batin Leon.

Rasa bingung bercampur kekaguman pada kelihaian bosnya. Cincin itu... Leon kembali yakin bahwa itu bukanlah perhiasan baru. Cincin itu memiliki aura warisan yang kuat.

Sementara itu, di depan Leon, Maulidah, mengamati detail kecil itu dengan senyum penuh arti. Ia melihat cara Andrian memasangkan cincin itu secara diam-diam. Manuver itu begitu halus, menunjukkan betapa Andrian sangat menghargai nilai di balik cincin itu.

"Ternyata ini tujuanmu meminta cincin itu sebelumnya. Anak itu memang cerdas," gumam Maulidah. "Dia tahu, cincin itu harus muncul seolah-olah telah menjadi takdir."

Maulidah tahu bahwa cincin itu adalah kunci, bukan hanya perhiasan. Dengan cincin itu, Andrian tidak hanya mengikat Kaluna, tetapi juga... sesuatu yang lain.