Wajah Kaluna, yang tadinya memerah karena terkejut dan marah, kini sedikit memucat saat dia merasakan tatapan intens dari Maulidah, Nenek Andrian.
Tatapan itu menembus keramaian, penuh pemahaman yang tak menyenangkan. Kaluna merasa seolah Maulidah tidak hanya melihatnya, tetapi juga melihat kehadiran cincin di jarinya.
Andrian, tanpa peduli dengan keributan yang diciptakannya, membungkuk dan berbisik di telinga Kaluna, suaranya mengandung nada perintah dan kepuasan.
"Senyum, Sayang. Malam ini milik kita. Nikmati kekalahan mereka."
Kaluna mengepalkan tangannya di balik punggung Andrian, menahan diri untuk tidak melepaskan diri dari rengkuhan pria itu dan berteriak. Cincin yang tiba-tiba muncul di jarinya terasa dingin dan berat, seperti beban yang baru saja diletakkan di pundaknya.
“Pertunangan? Menikah? Sejak kapan?”
Semua yang diumumkan Andrian adalah kebohongan. Pertemuan mereka baru beberapa saat. Itupun selalu dipenuhi perdebatan, perang argumen, dan ketidaksetujuan. Tiba-tiba diumumkan bertunangan? Ini adalah siasat, sebuah langkah politik yang kejam.
Kaluna melirik sekilas ke arah Ayahnya. Dia bisa melihat raut wajah ayahnya yang semakin cemas, bukan karena reputasinya, tetapi karena dirinya. Kebahagiaan semu yang disorot lampu podium ini terasa seperti jebakan berlapis emas.
“Apa yang sedang kau rencanakan, Tuan Sugara?” tanya Kaluna yang hanya Andrian sendiri yang mendengarnya.
Andrian kembali menatap kekacauan di depannya dan mengabaikan pertanyaan Kaluna.
Kekacauan yang disebabkan oleh pengumuman itu mencapai puncaknya. Kajayanti dan ibunya, Marisa, tidak bisa lagi menahan diri. Melihat Alivia tidak berdaya dan panik, mereka memutuskan untuk mengambil tindakan sendiri.
Marisa menarik Kajayanti dengan kasar melewati kerumunan yang terkejut, menuju podium tempat Andrian dan Kaluna masih berdiri. Wajah Kajayanti memerah padam, kombinasi antara rasa malu yang mendalam dan amarah yang membara.
"Hentikan!" teriak Kajayanti, suaranya berhasil menembus kegaduhan.
Andrian menoleh, ekspresinya tetap tenang, namun matanya memancarkan peringatan. Dia melepaskan satu tangannya dari Kaluna, siap menghadapi badai.
Marisa yang memimpin di depan, menunjuk Kaluna dengan jari gemetar. "
Kau! Siapa kau berani-beraninya naik ke panggung ini dan merusak rencana kami! Kau pikir kau pantas mendampingi pewaris keluarga Cassavanos!"
Kajayanti maju selangkah, air mata mengalir deras di wajahnya. "Andrian! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku! Aku yang seharusnya bertunangan denganmu! Ingat, Andrian! Ibuku dan Ibumu sudah setuju! Kau bahkan pernah berjanji—"
"Tidak ada janji yang dibuat," potong Andrian dingin, suaranya mematikan.
"Kita bahkan belum pernah bertemu sebelumnya, dan kau langsung berharap banyak. Jangan libatkan perasaanku dalam transaksi bisnis Ibu kita,” sambung Andrian.
Penolakan publik itu seperti pukulan telak. Kajayanti terhuyung. Matanya beralih ke Kaluna, melihat cincin berlian mewah yang berkilauan di jari gadis itu, yang seketika terasa seperti ejekan yang paling keji.
Dalam luapan amarah dan rasa dikhianati, Kajayanti kehilangan kendali. Dengan gerakan cepat dan tanpa pikir Panjang, dia menerjang ke arah Kaluna. Tangannya terangkat tinggi, seolah ingin mencakar atau merobek cincin itu dari jari Kaluna.
"Dasar gadis sialan!" teriak Kajayanti histeris.
Namun, sebelum Kajayanti sempat menyentuh Kaluna, Andrian bergerak jauh lebih cepat.
Dalam sepersekian detik, Andrian membalikkan badan, menutupi Kaluna sepenuhnya dengan tubuhnya. Dia menangkap pergelangan tangan Kajayanti yang melayang di udara dengan cengkeraman baja.
Rasa sakit instan membuat Kajayanti tersentak dan menjerit tertahan.
Tatapan Andrian saat itu benar-benar menyeramkan, jauh lebih dingin dan mengancam daripada saat ia berbicara tentang bisnis.
"Jangan pernah," desis Andrian, suaranya rendah dan penuh bahaya, "berani-beraninya kau menyentuhnya. Kaluna adalah tunanganku. Dia milikku. Serangan sekecil apa pun padanya, akan kuanggap sebagai penghinaan dan aku tidak akan mengampuninya."
Cengkeraman itu menguat, memaksa Kajayanti berlutut kecil karena rasa sakit. Marisa bergegas maju, panik melihat putrinya dipermalukan.
"Tuan Muda! Lepaskan putriku!" bentak Marisa.
"Bawa dia pergi!" perintah Andrian, melepaskan cengkeramannya seolah tangan Kajayanti adalah barang menjijikkan.
Andrian melangkah mundur, menarik Kaluna lebih dekat lagi ke dalam pelukannya yang protektif. "Jika ada lagi drama yang mengganggu pertunanganku, siap-siap menerima kehancurannya sendiri!"
Ancaman itu berhasil. Marisa pucat pasi. Dia segera menarik Kajayanti yang menangis histeris menjauhi podium, menyadari mereka benar-benar kalah—tidak hanya secara sosial, tetapi juga ancaman bisnis kini ada di depan mata.
“Ayo!” ajaknya pada Kajayanti.
Di tengah kekacauan, Kaluna mendongak menatap Andrian. Pria itu baru saja membelanya dengan cara yang mutlak dan brutal. Biasanya, dia akan langsung melawan Kajayanti secara langsung, tapi dibelakang Andrian, dia bahkan tidak perlu membuang-buang tenanga.
Tetapi sekilas, dia tahu, tindakan ini bukan didorong oleh cinta, melainkan oleh kepemilikan dan rencana besar yang siap untuk menyerangnya kapan saja. Dan itu terasa lebih menakutkan daripada ancaman Kajayanti selanjutnya.
Ken Aji bergerak. Ia harus berinteraksi, menghentikan spekulasi lebih lanjut tentang putrinya.
“Cukup Marisa!” Menghentikan Marisa yang berniat untuk memanas-manasinya, Ken Aji berkata cepat. “Berhenti mempermalukan diri kalian sendiri,” sambungnya.
Ken Aji melangkah perlahan menuju podium, melewati kerumunan yang kini terpecah antara mengagumi cincin Kaluna dan menyaksikan drama Marisa. Di wajahnya, ia memasang senyuman yang dipaksakan.
"Andrian," ujar Ken Aji, suaranya sengaja dibuat lantang dan ramah. "Ini sungguh kabar yang mengejutkan. Kau benar-benar pandai merahasiakannya dari kami."
Dia memeluk Andrian singkat, namun di saat yang sama ia berbisik dengan nada dingin dan mengancam, hanya terdengar oleh Andrian.
"Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu. Jangan sentuh putriku. Atau kau akan tahu apa artinya berurusan dengan Kinan Setyo Adji."
Andrian membalas pelukan itu, senyumnya tidak goyah. Di telinga Ken Aji, ia membalas dengan bisikan yang sama dinginnya.
"Selamat, calon Ayah Mertua. Rencanku? Tentu saja. Aku selalu memiliki rencana dalam setiap perjalananku,” balas Andrian.
Melihat situasi sudah tidak terkendali, dan ancaman dari Marisa serta Kajayanti sudah diatasi, Andrian memutuskan bahwa pertunjukan sudah berakhir. Dia menarik Kaluna menjauh dari podium dengan langkah cepat dan tegas.
Namun, saat mereka berdua melewati celah kerumunan, Ken Aji tiba-tiba kembali menghadang jalan mereka. Wajahnya gelap, diliputi kemarahan.
Ken Aji mencengkeram lengan Kaluna, menghentikan langkah mereka dengan paksa.
“Apa kau gila, kau bertunangan dan akan menikah dengan orang yang ingin menghancurkan ayah?” Ken Aji mencengkram bahu Kaluna.
Kaluna menatap ayahnya, dan di mata sang ayah dia melihat ketakutan yang nyata. Namun, alih-alih panik, wajah Kaluna mengeras. Amarahnya pada Andrian seketika dialihkan pada pria yang kini memohon padanya, Ayahnya sendiri.
Kaluna menarik lengannya dengan kasar dari cengkeraman Ken Aji. Dia maju selangkah, menantang tatapan ayahnya.
"Menghancurkan?" tanya Kaluna, suaranya terdengar tajam dan menusuk, menarik perhatian orang-orang terdekat. "Lalu, apa bedanya dengan Ayah?"
Ken Aji tersentak, terdiam oleh reaksi tak terduga putrinya.
“Bukankah kau yang lebih dulu memilih menikah dan lebih membela orang yang jelas-jelas telah menghancurkan hidupku,” sambung Kaluna.
Kalimat itu, menghantam Ken Aji seperti cambuk. Ken Aji terhuyung mundur selangkah.
"Kaluna, Nak... ini berbeda. Dia berbahaya!" kata Ken Aji masih berusaha mengingatkan putrinya.
Ia melirik Andrian, senyum tipis, pahit, terukir di bibirnya. "Ohya? Tapi aku suka bahaya ayah.”
Andrian menyeringai puas. Ia tidak perlu berbicara. Kaluna telah menangkis serangan ayahnya dengan tamparan emosional yang jauh lebih efektif.
Andrian meraih pinggang Kaluna dengan kuat. "Sudah selesai, Tuan Kinan. Ayo kita pergi, Kijang Emasku!"
Mata Ken Aji melebar sempurna. Rasa lega yang sempat dia rasakan lenyap tak bersisa, digantikan oleh kengerian yang menusuk. Andrian telah memadamkan semua kecurigaan, membuat semua orang percaya bahwa saat ini ia hanya akan fokus pada Sugara Group dan pernikahannya, sambil diam-diam menyiapkan pukulan yang lebih mematikan.
Ken Aji merasakan dingin menjalar di punggungnya, bukan karena ancaman bisnis, melainkan karena keterlibatan putrinya, Kaluna. Andrian tidak hanya bermain catur dengan bidak perusahaan, dia juga menggunakan hati Kaluna.