Di Balik Pagar Balkon

Penulis Yoonna
20 October 2025

Di tengah ketegangan yang tersisa, Maulidah, Nenek Andrian, bergerak. Dengan langkah perlahan namun penuh wibawa, dia berjalan melintasi kerumunan yang masih menyaksikan drama itu, langsung menuju podium.

Dia tidak melihat ke arah Ken Aji, Alivia, maupun tamu-tamu lainnya. Semua fokusnya tertuju pada Andrian dan terutama, pada Kaluna.

Andrian tersenyum tipis saat melihat neneknya mendekat, seolah ini adalah bagian yang dia nantikan. Tapi Kaluna sebaliknya, dia merasakan ketegangan yang lebih mencekik dari sebelumnya. Tatapan Maulidah terasa menembusnya, mengupas setiap lapis pertahanannya.

“Oma,” ujar Andrian menyambut neneknya.

Dia mencium tangan keriput itu. Sementara Maulidah mengusap kepalanya.

Maulidah mengalihkan pandangannya pada Kaluna. Senyum yang tersungging di wajahnya. Biasanya dingin dan penuh perhitungan, kini terlihat begitu hangat dan bahagia. Membuat Alivia dan Leon yang menyaksikan dari kejauhan semakin bingung.

Maulidah mengulurkan tangannya ke wajah Kaluna.

"Selamat datang, Nak," ujar Maulidah dengan suara lembut yang tak terduga. "Selamat datang cucuku. Aku tahu kau akan menjadi menantu yang sempurna untuk keluarga Cassavanos."

Wajah Maulidah benar-benar memancarkan kebahagiaan saat menatap Kaluna. Dia mengamati fitur wajah Kaluna, senyumnya semakin lebar.

"Matamu ini... mengingatkanku pada seseorang dari masa lalu yang sangat kucintai. Sungguh, aku tidak pernah sebahagia ini dengan pilihan Andrian," puji Maulidah lagi.

Sentuhan dan kata-kata Maulidah yang penuh kasih sayang itu membuat Kaluna terkejut. Kaluna telah menyiapkan dirinya untuk serangan, sindiran, atau setidaknya tatapan skeptis dari matriarki keluarga Cassavanos. Namun, dia malah menerima sambutan yang begitu tulus.

"Terima kasih, Nyonya," balas Kaluna, suaranya sedikit tercekat karena bingung.

"Tidak perlu sungkan. Panggil aku Oma," potong Maulidah.

Mata Maulidah berbinar saat ia melihat kilauan cincin itu di jari Kaluna. Dia membiarkan tatapannya berlama-lama pada cincin tersebut, seolah menegaskan pengakuannya atas benda itu.

"Andrian sudah dewasa dan sudah pandai memilih," lanjut Maulidah, menepuk bahu Kaluna ringan.

Maulidah kemudian menoleh ke arah Andrian, senyum penuh makna terukir di bibirnya. "Jaga menantu Oma baik-baik, Tuan Muda. Dia adalah yang paling berharga dari semua yang kau dapatkan malam ini."

Pernyataan terakhir Maulidah, yang secara implisit mengesampingkan Sugara Group dan warisan Cassavanos, kembali menciptakan bisikan di antara para tamu. Ken Aji, yang menyaksikan interaksi itu, kini merasakan kengeriannya berlipat ganda.

Andrian meraih Kaluna kembali, matanya memancarkan rasa terima kasih yang tersembunyi pada neneknya. Dia tahu, dengan restu Maulidah, tidak ada seorang pun di keluarga besar yang berani mengganggu rencananya, termasuk ibunya sendiri.

“Terimakasih Oma,” sahut Andrian dan Kaluna bersamaan.

Andrian dan Kaluna tidak langsung meninggalkan aula setelah mendapat restu mengejutkan dari Maulidah. Andrian, yang kini merasa posisinya tak tertandingi, memutuskan untuk berbincang sejenak dengan beberapa rekan bisnis pentingnya.

Dia ingin mengukuhkan citra barunya sebagai CEO Sugara yang stabil, tidak lagi diintai masalah warisan. Dan yang terpenting, seorang pria yang telah menemukan pasangannya.

"Tuan Sugara, sebuah perubahan yang luar biasa. Selamat. Kami tahu ini tidak hanya akan memperkuat sinergi antara Sugara dan Cassavanos, tapi juga kau telah menggandeng Ken Aji Copporate dan juga Ameerta Copporate secara tidak langsung," ujar seorang pebisnis tua, menatap Kaluna yang berdiri dengan wajah kaku di sisi Andrian.

"Tentu saja," balas Andrian santai, memegang gelas sampanye. "Pernikahan ini adalah pengikat yang lebih kuat dari merger apa pun. Kaluna akan membawa aura yang berbeda ke dalam keluarga kami."

Sementara Andrian sibuk menerima pujian dan menanamkan kesan kekuatan, Kaluna merasa tak nyaman. Suara-suara bisnis, tatapan penuh perhitungan, dan beratnya cincin di jarinya terasa menyesakkan. Dia melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari Ayahnya, tetapi Ken Aji sudah tidak terlihat.

Tiba-tiba, matanya menangkap sebuah gerakan di atas. Aula pesta itu memiliki balkon mengelilingi ruangan, biasanya digunakan untuk orkestra atau staf. Di sudut gelap balkon itu, tersembunyi di balik pilar besar, ia melihat bayangan seseorang.

Orang itu tidak melakukan gerakan mencolok, tetapi dia mengangkat tangan kirinya dan menyentuh pelipisnya dua kali dengan gerakan cepat sebuah sinyal yang sangat spesifik dan sangat familiar.

“Raka,” gumam Kaluna perlahan.

Jantung Kaluna berdebar kencang. Sinyal itu adalah kode rahasia yang mereka gunakan saat merasa dalam bahaya dan perlu berkomunikasi tanpa diketahui orang lain.

"Aku permisi ke toilet sebentar," bisik Kaluna pada Andrian, suaranya sedikit tegang.

Andrian menoleh, senyumnya sedikit meredup. Mata Andrian mengawasi Kaluna dengan tajam.

"Tentu," kata Andrian, namun suaranya penuh peringatan. Dia mendekat, berbisik pelan, "Cepatlah kembali!"

Kaluna mengangguk singkat dan segera bergegas menuju tangga darurat terdekat yang menuju lantai atas. Dia harus bergerak cepat sebelum Andrian curiga atau mengirim Leon untuk mengikutinya.

"Luar biasa, Kaluna. Langkahmu malam ini... sungguh gila," ujar Raka menyambut Kaluna yang baru saja sampai di balkon itu.

suaranya pelan tetapi penuh ketegasan. Dia menoleh ke bawah, ke arah Andrian yang masih dikelilingi pebisnis.

"Kau berhasil masuk ke kandang singa dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dari yang kita duga. Bahkan sudah menduduki posisi calon istri pewaris," kata Raka lagi.

"Aku tidak suka membuang waktu," balas Kaluna, wajahnya menunjukkan ketegasan yang dingin.

Raka mencondongkan tubuhnya, ekspresinya berubah serius. "Tapi tiada salahnya untuk tetap berhati-hati, Kaluna. Andrian Sugara adalah pria yang tidak bisa diprediksi. Jangan salah melangkah.”

Kaluna mendengarkan dengan tenang, kemudian dia tersenyum, senyum yang sama dinginnya dengan yang sering Andrian tunjukkan. Dia menegakkan tubuhnya, menatap Raka dengan tatapan percaya diri yang tinggi.

"Kita lihat saja nanti," ucap Kaluna, kali ini dengan suara lantang dan penuh keyakinan, mengabaikan potensi ada yang mendengarkan. "Setidaknya, kita hanya perlu menunggu. Aku sudah ada di sini. Kita hanya harus menunggu keuntungan apa yang akan kita dapatkan nantinya dari drama ini."

Raka terdiam, sedikit terkejut dengan keberanian dan keyakinan Kaluna. Kaluna bukan hanya pion, dia adalah pemain yang mengambil risiko paling tinggi.

Kaluna tersentak. Andrian Sugara sudah berada di belakangnya, berdiri tegak di ambang batas cahaya dan bayangan. Bagaimana pria itu bisa menyusul begitu cepat? Andrian pasti sudah mengawasi pergerakannya sejak dia meninggalkan kerumunan.

Raka yang terkejut segera bertindak. Tanpa basa-basi, dia langsung melompat pagar pendek balkon dan dengan cekatan mendarat di atap yang lebih rendah di belakang gedung, lalu meluncur cepat dan menghilang. Gerakan itu sangat cepat dan terlatih.

“Bertemu teman lama? Kupikir kau tersesat saat akan ke toilet,” ujar Andrian menutupi rasa curiganya.

Andrian melangkah mendekat, matanya yang tajam tertuju pada Kaluna, lalu beralih ke titik di mana Raka baru saja menghilang. Alisnya terangkat dalam pertanyaan yang menuntut jawaban.