CEO Obsesif

Penulis Yoonna
20 October 2025

"Hanya seorang pria mabuk yang menggodaku," jawab Kaluna dengan nada meremehkan.

"Dia langsung kabur seperti pengecut saat melihat kau datang," lanjutnya dengan provokatif.

Andrian memandang Kaluna dengan saksama. Ekspresi Kaluna yang kesal namun tenang, dan nada suaranya yang menghina pria itu, hampir meyakinkan. Namun, Andrian tidak buta. Gerakan Raka saat melarikan diri terlalu terlatih untuk sekadar pria mabuk yang usil.

"Pria mabuk itu cukup atletis," komentar Andrian dingin, menyipitkan mata.

"Mungkin dia mantan atlet yang beralih profesi menjadi pemabuk murahan," balas Kaluna cepat, mengangkat bahu acuh tak acuh.

Kaluna membalikkan badan, menyandarkan tubuhnya ke pagar balkon seolah tidak peduli.

Melihat Kaluna menyandar santai di pagar itu, di tempat yang sama persis saat ayahnya tergelincir menuju kematian, memicu trauma hebat. Dia melihat Kaluna, tunangannya, kunci permainannya, berada dalam bahaya yang sama.

“Tidak!” teriak Anndrian.

Dia menerjang maju, menyambar tubuh Kaluna dengan kekuatan brutal. Dia menarik Kaluna menjauh dari pagar, memeluknya erat-erat. Genggamannya pada Kaluna terasa begitu kuat hingga menyakitkan.

Kaluna benar-benar terkejut. Dia merasa tubuhnya terangkat dari tanah.

"Tuan Sugara! Lepaskan! Apa yang kau lakukan?" protes Kaluna, bingung dengan serangan panik ini.

Andrian tidak menjawab. Pikirannya tidak berada di sana. Dia menahan Kaluna rapat-rapat di dadanya, matanya terpejam, dan napasnya memburu tak beraturan. Keringat dingin membasahi pelipisnya.

Pikirannya seketika melayang ke masa lalu, ke balkon yang sama ini, bertahun-tahun yang lalu.

“Ayah...” ujar Andrian lemah dan tertahan.

Andrian masih bisa mendengar suara keras dari jeruji besi yang patah, teriakan yang memilukan, dan pandangan mengerikan tubuh ayahnya, Ferdinan, yang terjatuh dari atas sana.

Balai-balai balkon itu telah menjadi saksi bisu tragedi terbesar dalam hidupnya. Pagar yang kini disentuh Kaluna adalah pagar yang pernah rusak, tempat trauma itu terjadi. Trauma itu tidak pernah hilang, hanya terpendam.

Setelah beberapa saat, Andrian membuka mata. Dia menarik napak panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdentum liar. Dia melonggarkan pelukannya sedikit, tetapi masih menahan Kaluna.

Kaluna menatapnya, matanya yang marah kini dipenuhi kebingungan.

"Ada apa denganmu?” tanya Kaluna dengan sedikit kepedulian.

Andrian tidak menjawab tentang masa lalu. Dia hanya menggeleng pelan, wajahnya masih pucat.

Kaluna masih mencoba mencerna tatapan kosong dan kepanikan yang baru saja ia lihat di mata Andrian. Pria yang baru saja dia anggap sebagai manipulator kejam kini tampak seperti anak kecil yang diserang ketakutan.

"Apa yang kau—"

Kaluna bahkan belum sempat menyelesaikan pertanyaannya ketika Andrian tiba-tiba melakukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan daripada teriakannya tadi.

Andrian melepaskan pergelangan tangan Kaluna. Tapi alih-alih menjelaskan tindakannya, dia malah menyambar wajah Kaluna dengan kedua tangannya.

Tanpa peringatan, dia menundukkan kepalanya, dan bibirnya langsung menyapu bibir Kaluna dengan mendesak dan tiba-tiba.

“Ehm…” Kaluna hanya bisa berdehem tertahan untuk menghindari Tindakan Andrian.

Sentuhan itu tidak lembut, itu adalah luapan emosi yang eksplosif. Sebuah campuran dari kepanikan yang masih tersisa, kelegaan karena Kaluna selamat dari bahaya, dan dominasi yang menjadi ciri khas Andrian.

Kaluna terperanjat. Matanya terbelalak. Seluruh tubuhnya menegang karena terkejut dan marah. Dia tidak pernah menduga bahwa Andrian akan berani melakukan hal seperti itu.

Kaluna refleks mendorong dada Andrian dengan kedua tangannya, tetapi pria itu terlalu kuat. Cengkeramannya pada wajah Kaluna tak terhindarkan.

“Apa kau gila? Lihat semua mata yang tertuju pada kita!” Kaluna berusaha memperingatkan.

Setelah beberapa detik yang terasa sangat panjang dan memabukkan Andrian akhirnya melepaskannya. Dia menarik diri, tetapi dahinya masih menyentuh dahi Kaluna. Napas mereka berdua terengah-engah.

Andrian tersenyum menatap Kaluna yang marah. Dia mendorong Kaluna menjauh, tetapi masih menahan pergelangan tangan Kaluna, memastikan gadis itu tetap berada dalam jarak aman, jauh dari ambang batas balkon.

Tatapan ketakutan yang sesungguhnya yang baru saja dilihat Kaluna di mata Andrian, kini membuatnya yakin bahwa pria ini jauh lebih rumit, dan jauh lebih rapuh di balik topeng CEO yang kejam itu.

“Ayo turun!” ujar Andrian mendadak dingin sambil menarik Kaluna.

Dari jendela lantai bawah aula pesta, Maulidah dan Leon menyaksikan adegan di balkon. Kepanikan Andrian yang mendadak, tarikannya yang brutal dari pagar. Dan puncak tindakannya yang mendesak dan penuh klaim.

Leon, yang bergegas masuk setelah melihat Andrian terburu-buru menyusul Kaluna, kini berdiri di samping Maulidah. Keduanya mengamati siluet Andrian dan Kaluna yang akhirnya melangkah turun dari balkon.

Maulidah memecah keheningan yang panjang dengan nada penasaran yang langka. "Leon," panggilnya, matanya masih terpaku pada Andrian yang kini memimpin Kaluna menembus kerumunan.

"Ya, Oma," jawab Leon sigap.

"Hubungan mereka... Begitu mendadak, bukan?" Maulidah menoleh ke arah Leon. "Sejak kapan Andrian memiliki hubungan yang begitu intens dengan gadis itu? Ini terasa seperti dia telah menyimpan rahasia ini selama berbulan-bulan."

Leon menundukkan kepalanya, ekspresinya dipenuhi kebingungan yang tulus.

"Jujur, Nyonya Besar, saya tidak tahu pasti kapan hubungan asmara itu terjalin. Justru, awalnya Tuan Andrian memiliki rencana yang benar-benar berbeda," ungkap Leon.

Maulidah menyipitkan mata. "Rencana yang berbeda? Jelaskan."

"Dua hari yang lalu, Tuan Muda meminta saya mengatur sebuah pesta untuk menghabisi Nona Kaluna secara sosial. Tuan Andrian melihat Nona Kaluna sebagai kelemahan terbesar Tuan Kinan. Rencana awalnya adalah menggunakan Kaluna untuk menjatuhkan mental Tuan Kinan, sehingga Tuan Kinan akan terpaksa menyerahkan Cassavanos," papar Leon.

Maulidah terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan kejutan. "Menghabisi? Dan apa yang terjadi?"

"Setiap rencana yang kami susun mulai dari skandal kecil hingga sabotase reputasi, selalu gagal, bukan karena perlawanan, tetapi karena Tuan Muda sendiri yang mendadak mengubah arah," jelas Leon.

Kebingungan Leon terlihat jelas. "Dia akan membatalkan di menit terakhir, atau mengubah rencana menjadi situasi yang justru membuat dia dan Nona Kaluna semakin sering berinteraksi. Perdebatan awal mereka berubah menjadi tarik-ulur yang aneh. Entah mengapa, setiap kali dia ingin menghancurkannya, dia malah berakhir mengejarnya,” sambungnya.

Maulidah tersenyum. Senyumnya kini menunjukkan pemahaman yang mendalam, bukan tentang strategi bisnis, melainkan tentang hati. Dia menoleh ke arah Andrian yang sedang membuka pintu mobil untuk Kaluna di luar.

"Jadi, cucuku tersesat di tengah perburuannya sendiri," gumam Maulidah.

Maulidah menghela napas, rasa bangga bercampur dengan kepuasan.

"Bagus. Itu lebih baik. Leon, kau tidak perlu mencari tahu kapan asmara itu dimulai. Yang perlu kau pahami, seorang Sugara tidak pernah mendapatkan sesuatu dengan cara biasa. Dan sekarang, dia mendapatkan wanita yang dia butuhkan, melalui jalan yang tidak pernah kita prediksi," kata Maulidah lagi.

Leon mengangguk paham. Tentang asmara ya, ah ini bahkan lebih rumit dari pada sekedar menodongkan pistol ke kepala lawan, pikirnya.

Maulidah lalu menoleh pada Leon dengan tatapan tajam. "Sekarang, fokus pada tugas barumu, Leon. Terus awasi mereka dan jaga dia."

"Siap, Oma. Seperti identitas yang telah keluarga ini berikan kepada saya, saya akan tetap setia mendampingin dan menjaga Tuan Muda," jawab Leon, sambil segera mengangguk.

“Bukan Tuan Muda, tapi Kaluna, Leon,” ujar Maulidah cepat.

“Maksud Anda?” susul Leon penuh tanya.

“Jaga gadis itu dari segala bahaya termasuk dari Tuan Mudamu itu sendiri. Meski Andrian menganggapnya sebagai pion untuk menghancurkan musuh, tapi aku melihat potensi lain dari Kaluna yang benar-benar kuat. Firasatku mengatakan, Kaluna memang diciptakan untuk Tuan Muda. Kaluna juga yang akan membawa cahaya kedamaian antara Andrian dan Ken Aji. Dan yang paling penting, untuk keluarga besar kita,” papar Maulidah.

“Saya mengerti, Oma!” angguk Leon.