Analisis Sang Pemburu

Penulis Yoonna
20 October 2025

Andrian dan Kaluna kembali ke apartemen milik Andrian. Di lantai teratas kompleks apartemen mewah itu, pintu lift terbuka langsung ke unit penthousenya. Interiornya didominasi warna monokrom elegan, namun terasa dingin dan hampa, seperti cangkang yang indah tanpa jiwa.

"Ini kamar tidurmu," katanya datar, menunjuk ke pintu di sisi kiri ruang tamu utama. "Kau punya kamar mandi pribadi dan lemari pakaian yang seharusnya sudah terisi, Leon sudah mengurusnya."

Kaluna melirik pintu itu, lalu kembali menatap Andrian. Kelelahan emosional dan fisik mulai terasa, tetapi ketegangan antara mereka jauh lebih besar.

"Aku sarankan kau beristirahat," lanjut Andrian, melonggarkan dasinya. Suara dominasinya kembali, menghilangkan jejak panik yang sempat dia tunjukkan di balkon.

"Dan untuk malam ini, mungkin hingga beberapa hari ke depan, istirahatlah dari segala urusan dunia bisnis. Pikirkan saja peran barumu, Nyonya Sugara masa depan,” ujarnya lagi, kali ini dengan penekanan.

Kaluna tahu dia harus menurut. Melawan Andrian saat ini hanya akan membuang tenaga. Ia mengangguk kaku.

"Baik," balas Kaluna.

Dia berjalan ke arah kamarnya, tetapi berhenti di ambang pintu. Dia berbalik, menatap Andrian dengan tatapan yang penuh perhitungan.

"Tapi besok pagi, aku harus mengunjungi sebuah tempat," ujar Kaluna.

Andrian yang sedang membuka kancing mansetnya, berhenti. Alisnya terangkat, menunjukkan rasa ingin tahu.

"Sebuah tempat? Ke mana?"

"Haruskah kukatakan?" jawab Kaluna, memastikan suaranya tetap tenang dan terkontrol. "Aku tidak akan lama. Aku hanya perlu menyelesaikan urusan kecil."

Andrian berjalan perlahan mendekatinya, memancarkan aura bahaya. "Apapun yang kau lakukan, mulai sekarang itu adalah urusan kita berdua.”

Kaluna ragu sejenak. Jika ia berbohong, Andrian pasti akan tahu.

"Makam ibuku," jawab Kaluna pelan. "Aku selalu mengunjunginya setelah mengalami hari yang sangat buruk. Dan hari ini... adalah hari terburuk."

Wajah Andrian tidak menunjukkan emosi yang berarti, tetapi matanya berkilat sesaat. Dia memahami. Kematian ibunya adalah sumber rasa sakit Kaluna, sama seperti kematian ayahnya adalah sumber trauma bagi Andrian. Keduanya saling terhubung oleh penderitaan yang sama.

Andrian menyandar di kusen pintu, menghalangi Kaluna masuk. Ia menyeringai tipis, seolah telah menemukan kunci lain.

"Aku akan ikut bersamamu, aku perlu menunjukkan pada dunia bahwa tunanganku, bahkan dalam kesedihannya, didampingi dengan baik. Aku juga perlu bertemu calon ibu mertua ku."

"Tidak perlu," tolak Kaluna segera. "Itu urusanku sendiri."

"Perlu," koreksi Andrian dingin.

"Karena kau sekarang adalah urusanku. Dan jika kau tidak setuju aku ikut, aku akan mengirim Leon untuk mengikutimu setiap saat. Pilihlah, Nona Kaluna. Aku, atau mata-mata yang bahkan tidak bisa kau bodohi seperti pria mabuk yang melompat dari balkon tadi?" sindir Kaluna.

Kaluna mengepalkan tangannya. Dia tahu Andrian tidak main-main. Kehadiran Andrian mungkin menjengkelkan, tetapi setidaknya itu lebih baik daripada diikuti Leon.

Dan mungkin, di makam ibunya, Andrian akan menunjukkan sisi rapuh lain yang bisa dia manfaatkan.

"Baiklah." Kaluna menyerah.

Andrian tersenyum, menjauh dari pintu, memberikan izin padanya untuk masuk. "Selamat malam, Nona Kaluna."

Kaluna melangkah masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan bunyi keras. Dia bersandar di pintu, membiarkan cincin di jarinya bersentuhan dengan kayu. Besok, ia akan membawa musuhnya itu ke tempat paling suci dan rapuh dalam hidupnya.

Andrian tidak langsung beranjak. Ia bersandar sejenak di pintu, menghela napas, seolah menanggalkan topeng publiknya.

"Tuan Muda," panggil Leon yang sejak tadi duduk di sofa ruang tamu apartemen itu.

Ada senyum terselubung yang sulit dia sembunyikan.

"Saya harus akui, melihat perubahan rencana ini sungguh... menarik,” sambungnya.

Andrian menoleh ke arah Leon, matanya menyipit penuh peringatan, tetapi dia tidak menunjukkan kemarahan. Dia melonggarkan dasinya dan berjalan mendekati jendela besar, menatap ke arah kota.

"Perubahan apa yang kau maksud, Leon?" tanya Andrian dingin.

Leon memberanikan diri. "Melihat Anda menerjang untuk menyelamatkan Nona Kaluna dari pagar, dan kemudian... klaim yang begitu mendesak tadi. Dua hari lalu, Tuan Muda berniat menghabisi Nona Kaluna, tapi sekarang, Anda justru sangat melindunginya, bahkan dari risiko kecil. Dari menghabisi, menjadi memiliki. Ini adalah lompatan yang luar biasa."

Andrian berbalik, tatapannya menusuk. Ia berjalan mendekati Leon. "Jangan samakan kepemilikan dengan keintiman, Leon. Kaluna adalah pion terpenting. Aku tidak akan membiarkan aset seberharga ini rusak oleh kecerobohan atau... kecelakaan yang tidak perlu."

"Tentu, Tuan Muda," kata Leon, meskipun ia tahu bahwa trauma Andrian terlihat jelas saat ia melihat pagar itu.

“Tapi, kau dan Nona Kaluna terlihat sangat serasi. Oma bahkan sangat mengakuinya,” goda Leon lagi.

“Kenapa begitu?” tanya Andrian merasa penasaran.

“Nona Kaluna itu, sangat cantik. Begitu serasi dengan Tuan Muda yang-“

“Cukup, jika kau begitu mengaguminya, aku akan memberikan Kaluna padamu,” sahut Andrian, dingin memotong perkataan Leon.

“Tidak, bukan begitu, Tuan Muda,” tahan Leon.

Andrian mengabaikan sindiran halus Leon dan langsung beralih ke urusan yang lebih penting.

"Pria di balkon tadi," ujar Andrian, suaranya kembali tajam dan berkuasa. "Pria mabuk yang atletis itu. Aku ingin tahu siapa dia.”

“Mabuk?” tanya Leon.

“Kaluna bilang dia hanya seorang pria mabuk yang menganggunya,” jelas Andrian.

“Tapi dari caranya melompat dari tepi balkon itu, dia tidak terlihat seperti orang mabuk,” koreksi Leon.

Andrian menatap Leon dengan serius. Seolah mendapatkan sebuah pengakuan yang tidak disengaja.

“Kau menguntitku?” serang Andrian pada Leon.

Leon terperanjat. Dia sadar telah melakukan kesalahan. Bagaimana mulutnya bisa menyeracau sembarangan. Leon tersenyum kecil.

“Ti-tidak, Tuan Muda. Hanya ketidaksengajaan. Aku hanya mengawasimu, takutnya ada bahaya yang mengancam. Apalagi, kau baru saja menganggu emosi Ken Aji,” kilah Leon.

“Omong kosong,” elak Andrian. Tapi dia tidak menunjukkan ekspresi marah terhadap Leon.

“Aku tidak mau ada variabel tak terduga dalam permainan ini. Kembali ke Rumah Cassavanos sekarang. Aku ingin kau periksa rekaman CCTV di sekitar balkon lantai atas. Perbesar dan baca wajahnya. Cari tahu identitasnya, apa hubungannya dengan Kaluna, dan untuk siapa dia bekerja."

"Siap, Tuan Muda," jawab Leon, sambil segera membungkuk.

"Satu hal lagi," tambah Andrian, sebelum Leon sempat beranjak.

"Besok pagi, aku akan menemani Kaluna ke makam ibunya. Cari tahu lokasi pastinya dan semua informasi yang relevan tentang almarhum Ibu Kaluna. Aku tidak mau ada kejutan lagi," titah Andrian lagi menambah pekerjaan Leon.

Leon mengangguk penuh hormat. "Akan saya siapkan semuanya, Tuan Muda. Semuanya akan tersedia saat Anda bangun besok."

“Bagus!” puji Andrian.

Leon pun segera bergegas keluar, meninggalkan Andrian sendirian di penthousenya. Andrian menoleh ke pintu kamar Kaluna. Dia tahu, di balik pintu itu, bukan hanya istrinya di masa depan yang bersembunyi, tetapi juga konspirator yang kini sedang merencanakan serangan balasan.

Dan dia, Andrian, justru merasa terhibur dengan permainan yang semakin rumit ini.

“Nampaknya, aku harus lebih berhati-hati saat ini. Orang yang sedang jatuh cinta, emosinya memang tidak stabil dan terkadang menyebalkan,” ceracau Leon sambil tersenyum sendirian melangkah menuju mobilnya.

Saat Leon memacu mobilnya kembali ke kediaman Cassavanos, Andrian berdiri sendirian di tengah kemewahan penthouse-nya yang dingin. Dia tidak langsung mandi atau beristirahat. Matanya tertuju pada pintu kamar Kaluna, tempat di mana Kaluna sedang merencanakan langkah selanjutnya.

Andrian mengeluarkan ponselnya, bukan untuk menghubungi Leon lagi, melainkan untuk membuka sebuah folder tersembunyi. Folder itu berisi foto-foto lama dan dokumen tentang Ayahnya, Ferdinan.

Andrian memutar salah satu video yang tersimpan sejak bertahun-tahun lalu. Dalam video itu, Ayahnya terlihat di balkon yang sama, tampak gugup dan marah, sebelum akhirnya, video itu terputus.

“Sial!” teriaknya.

Andrian mematikan video itu dengan cepat. Trauma di balik kejadian-kejadian belakangan ini bukanlah sepenuhnya kepura-puraan. Pagar besi itu selalu memicu teror yang nyata.

Dia berjalan ke bar minimalis dan menuang scotch tanpa es. Menyesapnya perlahan, Andrian mulai menyusun ulang strateginya.

Pria di balkon itu adalah variabel yang paling mengganggunya. Kaluna terlalu pintar untuk bertindak sendiri tanpa jaringan dukungan. Jika pria itu adalah rekan yang dipercaya Kaluna, maka Kaluna bukan hanya pion, tetapi ratu yang siap bergerak sendiri.