Pengalihan Sempurna

Penulis Yoonna
20 October 2025

Pagi itu, Kaluna mengenakan gaun hitam panjang yang sederhana, kontras dengan perhiasan berlian mewah di jari manisnya. Andrian, di sampingnya, mengenakan setelan gelap yang sama formalnya.

Mereka tiba di kawasan pemakaman elite, sebuah kontras yang mencolok dengan citra seram pemakaman pada umumnya.

Kompleks itu lebih mirip taman yang luas dan terawat. Dengan walkway marmer yang bersih, pepohonan rindang, dan udara sejuk yang jauh dari hiruk pikuk kota.

"Tolong, berdiri agak jauh dari sini, Tuan Sugara," pinta Kaluna pelan, suaranya tercekat. "Aku ingin berbicara dengannya, sendirian."

Andrian tidak langsung menurut. Dia berdiri kaku di belakang Kaluna, memancarkan aura pengawasan, bukan empati. "Aku bilang, aku akan menemanimu, Nona Kaluna. Berdoa tidak memerlukan privasi."

Kaluna berbalik cepat, matanya yang sembap menatap tajam. "Ini bukan tentang doa! Ini tentang diriku, tentang perasaanku. Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau! Jangan merampas momen ini dariku!"

Andrian menatap Kaluna. "Sepuluh meter. Itu batas maksimal kebebasan yang bisa kuberikan. Jangan coba-coba membuang waktu atau berpikir untuk melarikan diri."

Kaluna menghela napas. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Dia berbalik ke arah makam, membiarkan air mata yang dia tahan sejak semalam tumpah. Dia berlutut di hamparan rumput hijau, mengusap nisan dingin itu.

Makam almarhum ibu Kaluna berada di area premium. Dikelilingi taman kecil yang dirawat. Batu nisannya terbuat dari marmer putih yang elegan, dengan ukiran nama yang sederhana dan abadi.

Kaluna melangkah mendekat, lututnya terasa lemas. Tempat ini adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa benar-benar jujur dan rentan.

"Ibu," bisik Kaluna, suaranya bergetar. "Aku minta maaf. Sepertinya, aku sudah membuat pilihan yang sangat buruk. Aku sudah membiarkan diriku terikat dengan pria yang paling berpotensi menghancurkan Ayah, dan mungkin juga diriku."

Dia memejamkan mata, membiarkan kepalanya bersandar pada marmer putih itu. "Aku tahu Ibu akan menentangnya, Bu. Ibu tahu aku tidak pernah pandai memilih pria. Tapi... aku berpikir, ini adalah satu kesempatan untukku, Bu. Aku akan mencari tahu kebenaran di balik semua ini."

Di belakangnya, Andrian berdiri tegak. Dia tidak mencoba menguping. Tangan Andrian perlahan terangkat, meraih tepi kaca mata hitamnya.

Tiba-tiba, suara bariton yang berat dan penuh provokasi memecah keheningan.

"Kupikir kau sudah memutuskan untuk melupakan tempat ini, Tuan Muda."

Andrian menoleh kaku. Di belakangnya berdiri Martin, pamannya, dengan senyum arogan.

Melihat kehadiran Martin, Andrian segera melangkah menjauh. Dia tidak ingin perdebatannya yang tajam dan tak terhindarkan dengan Martin mengganggu momen khusyuk Kaluna.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Paman?" tanya Andrian, wajahnya langsung mengeras menjadi topeng CEO yang kejam.

Martin tertawa pelan. "Oh, aku punya semuanya, urusan lama, urusan baru. Terutama setelah drama yang kau ciptakan semalam. Sebuah pertunjukan yang bagus, Tuan Muda. Sayangnya, itu tidak mengubah apa-apa, bukan?"

"Kau membuang waktuku, Paman. Aku terlalu sibuk untuk menemanimu bermain-main," ujar Andrian dingin.

Martin kembali tertawa, tawanya terdengar kering di tengah kesunyian pemakaman.

"Sibuk? Sibuk mengambil langkah yang paling bodoh dalam hidupmu? Kau menikahi putri musuhmu? Benar-benar kejutan yang ironis."

Wajah Andrian tetap tenang. "Ironis? Itu strategis, Paman. Pernikahan ini mengikat Ken Aji Corporate dan Ameerta Corporate pada Sugara. Itu cukup untuk menutup mulut para pemegang saham yang meragukan stabilitas warisan kita."

"Omong kosong!" bentak Martin, suaranya naik satu oktaf, mencerminkan frustrasi yang nyata.

"Kau menjadikan putri Ken Aji sebagai Nyonya Sugara! Kau pikir dengan begitu klaimmu atas Cassavanos akan lebih mudah? Selama putri musuhmu itu berada di sisimu, siapapun bisa menuduhmu melakukan manipulasi, atau bahkan konspirasi untuk menjatuhkan sainganmu!" tekan Martin memberikan peringatan.

Martin mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyala-nyala.

Andrian menyesuaikan kerah jasnya, senyum tipis terukir di bibirnya.

"Itu sangat mudah, Paman," balas Andrian, suaranya tenang, sebuah kontras yang menakutkan dengan amarah Martin.

Andrian melangkah lebih dekat, membuat Martin mundur selangkah tanpa sadar.

"Daripada terus mengompori dan mengkritik langkahku, lebih baik kau merenungkan hal yang sejak dulu menjadi pertanyaan bagi semua orang, termasuk aku sendiri," lanjut Andrian, matanya menembus Martin.

Andrian berhenti sejenak, memberikan jeda dramatis.

"Mengapa Ayahku, lebih mempercayakan hak wali kuasa dan asetnya kepada orang lain daripada saudara kandungnya sendiri, Paman Martin?"

Pertanyaan itu, yang seharusnya sudah lama terkubur, kembali menghantam Martin dengan telak. Wajah Martin yang tadi memerah karena amarah seketika memucat. Matanya berkedip panik.

"A-apa maksudmu?" gagap Martin, berusaha terlihat tidak terpengaruh.

"Kau mengerti maksudku, Paman," desis Andrian, suaranya penuh bahaya. "

Ayah sangat menghargai kesetiaan dan kejujuran. Dia tidak butuh saudara yang terus mengkritik, dia butuh sekutu yang terpercaya. Dan sepertinya, Ayah punya alasan yang sangat kuat untuk meragukan kesetiaanmu. Pikirkan itu baik-baik, sebelum kau mencoba mengusikku lagi," sambung Andrian.

Andrian berbalik, meninggalkan Martin yang kini berdiri membeku di tengah jalan setapak. Seluruh strategi dan kepercayaan dirinya hancur oleh satu pernyataan mematikan itu.

Masih di depan makam ibunya, Kaluna memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh. Tiba-tiba, ia merasakan dorongan untuk mengangkat pandangannya.

Di balik rimbunnya pohon kamboja besar, tersembunyi dengan sempurna, berdiri sesosok bayangan. Itu Raka.

Saat Andrian dan Martin tenggelam dalam perdebatan, Kaluna bergerak cepat.

"Raka, syukurlah kau ada di sini. dengarkan aku baik-baik. Andrian mulai mencurigaimu. Dia tahu kau ada di balkon semalam, dan dia meminta Leon untuk menyelidikimu. Tetaplah berhati-hati dan tetap pada posisimu saat ini."

"Aku tahu, Kaluna. Aku sudah melakukan langkah pencegahan. Tapi kecurigaannya akan mengarah padamu tak lama lagi," sahut Raka.

"Biarkan saja," potong Kaluna dingin. "Aku harus memotong rantai yang mengikatku pada Ayah sebelum dia benar-benar menghancurkan dirinya sendiri."

Kaluna menarik napas dalam-dalam. Inilah langkah yang paling berisiko, namun paling harus dia lakukan.

"Besok pagi, aku akan pergi ke perusahaanku," lanjut Kaluna. "Kau harus hadir di sana. Aku akan mengalihkan semua kekuasaanku. Semua saham, hak suara, dan aset yang ada di bawah naunganku, kepadamu Raka. Aku akan menyerahkan surat kuasa penuh dan tidak dapat dibatalkan."

"Tapi, ini berarti kau mempertaruhkan dirimu sepenuhnya pada permainan Andrian," Raka mengingatkan.

"Ya. Itulah gunanya kau tetap menjadi orang luar yang tidak dicurigai. Saat Andrian sibuk mencari bukti, kau harus siap untuk bertindak sebagai wakilku di perusahaan. Jaga semuanya. Jangan biarkan Ayah melakukan langkah yang lebih gegabah lagi."

Raka akhirnya menghela napas. "Baik. Tapi tetaplah berhati-hati, Kaluna. Dia adalah singa yang terluka, dia bisa mengcenkrammu kapan saja,” ujar Raka kembali mengingatkan Kaluna.

Andrian, yang baru saja meninggalkan Martin dalam keadaan syok, kembali ke makam ibunya Kaluna dengan langkah cepat. Namun, dia berhenti mendadak. Kaluna tidak ada.

"Kaluna!" panggil Andrian, suaranya mengandung nada perintah yang tertahan.

Andrian merasakan darahnya mendidih. Dia baru saja memberi gadis itu satu-satunya kebebasan, dan Kaluna mengkhianatinya dalam hitungan detik.

Dia mengambil langkah lebar, bersiap untuk mencari ke seluruh area makam, matanya menyapu setiap pohon dan celah makam keluarga di sekitarnya.

"Tuan Sugara!" seru Kaluna muncul di belakang Andrian, suaranya sengaja dibuat lantang.

Andrian berbalik, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Ke mana kau pergi, Kaluna? Aku menyuruhmu tetap di sini!"

Kaluna berjalan mendekatinya, alisnya terangkat bingung. "Aku? Justru kau yang ke mana? Kau yang menghilang. Aku sudah lama selesai dengan ibuku dan kau tidak ada. Aku mencarimu, kupikir… kau marah karena memintamu sedikit menjauh tadi."

Andrian terdiam. Serangan balik Kaluna yang logis dan diselimuti kepanikan palsu, berhasil membalikkan situasi.

Andrian merasakan kekalahan kecil. Dia tahu dia pergi untuk berdebat dengan Martin, dan dari sudut pandang Kaluna, dialah yang menghilang.

"Aku... aku hanya melangkah menjauh sedikit. Untuk memastikan privasimu. Maafkan aku, membuatmu takut," kilah Andrian, nada suaranya sedikit melunak.

Kaluna membalas dengan tatapan tajam.

"Aku harap kau tidak berencana meninggalkanku di masa depan," sindir Kaluna, berhasil memasukkan pesan bahwa dia adalah tunangannya yang sah.

Andrian menghela napas, sambil menyunggingkan sedikit senyuman lega. "Baik, Kita pergi sekarang," kata Andrian, suaranya kembali dingin.