Andrian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, rahangnya mengeras. Setelah meninggalkan Martin yang syok. Setelah pertengkaran singkat di makam, suasana di dalam mobil kembali diselimuti kebekuan formal.
"Kita kembali ke penthouse," ujar Andrian datar.
"Tidak," potong Kaluna tenang.
Andrian mengerem sedikit. Dia menoleh ke Kaluna, alisnya terangkat tinggi.
"Kita ke tempat, di mana ada sebuah urusan yang perlu kuselesaikan,” sambung Kaluna.
"Urusan apa?" tuntut Andrian, tidak menyukai nada misterius itu.
Kaluna menatap Andrian dengan dingin.
"Jalan saja, akan kuberitahu nanti,” pinta Kaluna.
Andrian tersenyum tipis, seringai seorang predator.
"Baiklah,” ujarnya singkat.
Andrian memutar setir, mengubah arah laju mobil.
Mobil mewah Andrian berhenti di depan gerbang megah kediaman Ken Aji. Sebuah rumah yang memadukan arsitektur klasik dan kemewahan yang tenang, dikelilingi pagar tinggi dan pepohonan rindang.
Andrian memandang gerbang itu sejenak, mengamati keamanannya yang rapi. Gerbang itu sama sekali tidak menunjukkan kekacauan yang seharusnya menimpa rumah seorang taipan yang sedang didera masalah besar.
"Kenapa tidak bilang jika ingin pergi ke sini?" tuntut Andrian, tidak menyukai ide mendatangi rumah musuhnya.
Kaluna menoleh padanya, senyum tipis terukir di bibirnya. "Tentu saja, jika kukatakan, kau akan terus menderaku dengan berbagai pertanyaan,” jawabnya.
Wajah Andrian sedikit menegang mendengar alasan Kaluna. "Dasar kau ini.”
“Sekarang aku bertanya, kenapa kita ke sini?” tanya Andrian lembut.
“Ini rumah ayahku, tidak boleh jika aku mengunjunginya?” tuntut Kaluna.
“Jangan mencoba bermain-main, Nona Kaluna,” selidik Andrian.
“Belum, Tuan Sugara. Justru permainan baru akan dimulai,” sahut Kaluna.
Andrian kembali menatap Kaluna. Dia mengangkat alisnya lagi. Kali ini dibarengi dengan dagunya.
"Seseorang telah sangat merepotkan belakangan ini. Selama kita terus diam, dia pasti akan berusaha melancarkan serangan terakhirnya, terutama setelah drama pertunangan semalam," jelas Kaluna, suaranya tenang.
"Kau tahu, bukankah setiap perbuatan jahat harus dibalas, Tuan Sugara?" sambungnya dengan penuh provokasi.
Andrian kembali tersenyum kecil. “Cerdik!” pujinya.
“Baiklah, kau yang masuk duluan!” pinta Kaluna.
Mereka saling mengangguk paham hingga akhirnya berpisah di depan gerbang itu.
Andrian melangkah masuk ke ruang tamu utama kediaman Ken Aji. Sambutan yang dia terima sangat dingin, persis seperti yang dia harapkan.
Di sana sudah menunggu Ken Aji, duduk tegang di kursi utama. Wajahnya menunjukkan campuran kemarahan dan kekalahan. Di sisi Ken Aji, berdiri Marisa dengan wajah pucat dan mata penuh ketegangan.
Namun yang paling menonjol adalah kehadiran Kajayanti, yang berdiri di dekat perapian. Dia mengenakan gaun sutra mahal, tetapi matanya berkilat penuh kebencian dan penghinaan.
"Kau berani datang ke sini," sapa Ken Aji, suaranya serak menahan amarah.
Andrian menyilangkan tangan di depan dada, tatapannya meremehkan. "Aku datang untuk menemui calon mertuaku, Tuan Kinan. Tunanganku ada di luar. Dia datang untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal."
"Omong kosong!" bentak Ken Aji, bangkit dari kursinya. "Kau pikir dengan menjebak Kaluna, kau bisa mendapatkan kendali atas aset Cassavanos?"
"Aku tidak butuh asetmu, Tuan Kinan," bentak Andrian, suaranya lantang dan berkuasa, memantul di dinding ruangan. “Kau pikir aku akan menggunakan cara kotor dengan mempermainkan hati Kaluna?”
Kemarahan Andrian yang tiba-tiba mendominasi membuat Marisa tersentak mundur. Ken Aji terdiam, tidak menduga ledakan emosi sekuat itu.
Kajayanti dengan pikiran liciknya malah melihat suatu kesempatan. Sekali lagi, dia harus mengambil simpati Ayahnya.
"Dasar psikopat!" teriak Kajayanti, matanya penuh air mata palsu.
Dia bergegas maju, tangannya terangkat, seolah bermaksud menampar atau mencakar wajah Andrian.
"Beraninya kau membentak ayahku!" teriak Kajayanti lagi.
Secepat kilat, dengan refleks yang berbahaya, Andrian bergerak.
Bukan hanya menangkis, Andrian menyambar dan mencekik leher Kajayanti. Mengangkat tubuhnya sedikit ke udara. Wajah gadis itu memucat, matanya melotot.
"Berani sekali kau menyentuhku," desis Andrian, suaranya sedingin es.
Dengan gerakan yang benar-benar tanpa ampun, Andrian melempar tubuh Kajayanti seenaknya ke arah sofa terdekat. Kajayanti terjerembab dengan suara keras, terbatuk-batuk menahan rasa sakit dan teror.
"Kaju! Sayang, kau baik-baik saja?" Marisa berlari mendekati putrinya.
Ken Aji menatap Andrian, wajahnya pucat pasi karena syok. Pria di hadapannya adalah iblis yang jauh lebih brutal dari yang dia duga.
Tepat pada momen kekacauan itu, pintu ruang tamu terbuka. Kaluna masuk, melangkah dengan tenang. Kaluna berhenti, tatapannya menyapu ruangan.
Andrian yang berdiri tegak dan mendominasi di tengah ruangan, Kajayanti terkapar dan terbatuk di sofa, dan Ayahnya yang membeku di sana. Tapi dia tidak menunjukkan keterkejutan sama sekali.
"Selamat pagi, Ayah," sapa Kaluna datar.
Tatapan Kaluna beralih pada Andrian. "Sepertinya aku terlambat untuk perkenalan. Tapi, bisakah kita melakukan ini tanpa kekerasan, Tuan Sugara?"
Melihat Kaluna masuk, ekspresi brutal di wajah Andrian tiba-tiba melunak. Wajahnya yang tegang karena amarah berubah menjadi ekspresi yang dibuat-buat. Penuh rasa sakit dan kekecewaan.
Andrian segera berbalik. Dia melangkah mendekati Kaluna, dan mengambil tangannya.
"Sayang, syukurlah kau di sini," ujar Andrian
Dengan nada yang mendadak manja dan mengeluh, sebuah kontras total dari sosok dominan yang baru saja melemparkan Kajayanti. Dia memegang tangan Kaluna, seolah mencari dukungan.
"Ayahmu..." Andrian menghela napas dramatis, matanya menatap Kaluna dengan tatapan penuh kepedihan yang dibuat-buat. "Ayahmu memperlakukanku dengan sangat tidak adil, Sayang."
Kaluna menyipitkan matanya. Dia mencondongkan wajahnya ke wajah Andrian. Andrian menoleh ke arah Ken Aji, yang masih terpaku.
"Dia bilang aku hanya memanfaatkanmu untuk merebut Cassavanos, padahal… aku hanya ingin mencintai putrinya dengan tulus," lanjut Andrian, bibirnya bergetar palsu.
Kaluna menatap serius ke arah Andrian. “Lalu? Apa yang terjadi padamu? Apa mereka menyakitimu?” tanyanya menanggapi kemanjaan mesin pendinginnya itu.
"Tidak! Tapi hatiku ini yang sakit... hatiku sakit sekali mendengar kata-kata ayahmu itu.” Andrian masih memprovokasi Kaluna.
Andrian membalikkan tangan Kaluna dan mencium punggung tangannya yang mengenakan cincin pertunangan, aksinya ini murni sebuah pertunjukan besar.
Kaluna memaksakan senyum tipis. Dia dengan lembut menarik tangannya dari genggaman Andrian. Memberikan jeda agar drama itu mereda.
"Oh, jadi… kau terluka, ya…" balas Kaluna, nadanya dingin dan sinis.
Kaluna melirik sekilas ke arah Kajayanti yang masih terbatuk-batuk kesakitan di sofa. Dia kembali menatap Andrian. Senyum sinisnya mengembang.
"Begitu sakit ya, sampai kau hampir mematahkan lehernya," sindir Kaluna tajam.
Mendengar sindiran tajam Kaluna tentang Kajayanti, Andrian sama sekali tidak tersinggung. Justru, senyumnya melengkung. Dia kembali memamerkan ekspresi manja yang dibuat-buat, sedikit memiringkan kepalanya.
Kaluna mendengus pelan, menolak memberikan reaksi lebih lanjut pada sandiwara murahan Andrian. Dia tahu, semakin dia merespons, semakin besar panggung yang dia berikan kepada pria itu.
Kaluna hanya memutar bola mata, mengabaikan Andrian sepenuhnya, dan menoleh pada Ken Aji.
"Aku datang hanya untuk barang-barangku yang tertinggal, Ayah. Aku akan kembali secepatnya," kata Kaluna, suaranya mengandung janji dan instruksi tak terucapkan untuk Ayahnya.
Ken Aji, yang sedari tadi membeku, akhirnya angkat bicara. Suaranya terdengar berat dan terganggu oleh sikap acuh tak acuh putrinya.
"Kaluna!" panggil Ken Aji tegas. "Bukankah kau baru kembali dari luar negeri? Kau bahkan belum sempat ke sini sebelumnya. Kenapa kau begitu terburu-buru? Kenapa semuanya serba terburu-buru?"
Kaluna berhenti. Dia menoleh perlahan ke arah Ayahnya. Tatapannya dingin dan kosong, seolah Ken Aji adalah orang asing.
“Di rumah ini… apa aku masih punya tempat?” sindir Kaluna lagi.
“Kaluna, apa yang kau katakana? Ini adalah rumahmu,” ujar Ken Aji melemah.
"Bukankah Ayah sudah cukup repot dengan satu putri?" balas Kaluna, suaranya pelan namun penuh sarkasme yang menyakitkan. "Aku tidak ingin menambah beban Ayah dengan kehadiranku."
Ken Aji terdiam. Pukulan dari kata-kata Kaluna mengenai tepat sasaran. Mengingatkannya pada hubungan dingin yang dia ciptakan sendiri.
Andrian tersenyum puas menyaksikan drama keluarga yang dingin itu. Keretakan antara ayah dan anak itu adalah kartu AS-nya.
Kaluna tidak menunggu jawaban. Dia berbalik dan melangkah menaiki tangga. Setiap langkahnya terasa terburu-buru, membawa beban rencana yang harus dia laksanakan. Persis di bawah hidung Andrian.
“Sampai bertemu beberapa saat lagi, keluarga Setyo Adji.” Andrian melangkah menyusul Kaluna tanpa Kaluna sadari.