Kaluna tiba di kamarnya, segera menutup pintu dan menguncinya. Namun, dia hanya mengunci bagian dalam sebentar, sekadar formalitas. Dia segera bergerak menuju laci meja riasnya.
Bodoh, pikir Kaluna. Dia seharusnya memastikan Andrian tidak mengikutinya. Tepat saat itu, kunci pintu diklik dari luar.
Andrian masuk tanpa menunggu. Dia berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahunya di kusen, tangannya di saku celana. Matanya tajam, menyapu seluruh ruangan dan mengunci pergerakan Kaluna.
"Aku sudah bilang, aku akan menemanimu," kata Andrian dingin.
Kaluna tidak membuang waktu untuk berdebat. Dia tahu dia harus beraksi. Dia berjalan lurus ke meja rias, membuka laci paling bawah. Dia mengambil sebuah amplop tebal berwarna cokelat tua.
Andrian hanya mengawasinya. Dia tidak melangkah mendekat. Dia tidak bertanya isi amplop itu. Matanya fokus pada ekspresi Kaluna dan waktu.
"Dokumen?" tanya Andrian datar.
"Surat-surat penting perusahaanku, kau tidak perlu tahu isinya," jawab Kaluna.
Andrian mengangkat bahu. Sikapnya benar-benar acuh tak acuh.
Kaluna merasakan sedikit kejengkelan. Andrian tidak peduli terhadap apa yang dia cari. Ini justru membuatnya semakin sulit.
Kaluna mengambil pulpen dari meja rias, lalu segera duduk di kursi kecil di depan meja itu. Dia membuka amplop itu, mengeluarkan selembar kertas besar, surat kuasa penuh. Dia membaca cepat isinya, lalu menandatangani bagian bawah dengan tegas.
Andrian tetap bersandar di kusen pintu, menyaksikan Kaluna menandatangani dokumen tanpa sedikitpun minat untuk mengintip.
"Selesai?" tanya Andrian, nada suaranya sedikit mendesak.
"Belum," jawab Kaluna.
Dia memasukkan kembali surat yang sudah ditandatangani itu ke dalam amplop, lalu menutupnya rapat. Dia menyembunyikan amplop itu di dalam tas tangan kecilnya.
Kaluna berdiri. Dia mengambil kalung kecil dari kotak perhiasan di meja riasnya.
"Selesai," kata Kaluna, menoleh ke Andrian.
"Bagus," jawab Andrian, dan kini ia bergerak. Dia mendorong dirinya dari kusen pintu, berjalan menuju Kaluna. "Sekarang kita pergi?” tanya Andrian setelahnya.
Kaluna hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.
Andrian meraih pergelangan tangan Kaluna. Cengkeramannya kuat namun tidak menyakitkan. Mereka berjalan keluar dari kamar, meninggalkan kamar lama Kaluna.
Mereka menuruni tangga, menuju ruang tamu, di mana Ken Aji, Marisa dan Kajayanti yang masih terguncang menunggu konfrontasi berikutnya.
Saat Kaluna dan Andrian mencapai anak tangga terakhir, Kajayanti melompat dari sofa. Di tangannya, dia memegang segelas penuh air bening yang seharusnya untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Terima ini, dasar kau gadis sialan!” kecamnya.
BYUURR!
Kajayanti menyiram Kaluna dengan seluruh isi gelas air itu.
Air dingin membasahi rambut, wajah, dan gaun hitam Kaluna. Tetesan air menetes dari wajah Kaluna, membasahi bahu gaunnya.
Aksi Kajayanti ini sangat spontan. Marisa terkesiap. Ken Aji bangkit, terkejut.
"Kajayanti!" teriak Ken Aji.
Kajayanti tersenyum sinis dan puas, melempar gelas kosong itu ke lantai. "Kau pantas mendapatkannya! Pencuri!”
“Kau!” teriak Andrian, matanya menyala.
Pria itu bereaksi cepat. Dia menarik Kaluna ke belakangnya. Menjadikan dirinya tameng, wajahnya seketika kembali mengeras membentuk topeng amarah yang paling brutal.
Namun, sebelum Andrian bisa mencapai Kajayanti, Kaluna melangkah cepat ke depan, menghalangi jalan Andrian.
Kaluna menatap tajam ke mata Andrian. Gerakan tangan Kaluna meredakan amarah Andrian untuk sementara.
"Tak perlu repot-repot, Tuan Sugara. Ini bagianku," ujar Kaluna dengan suara rendah yang berbahaya.
Andrian terhenti. Dia merasakan amarah murni memancar dari Kaluna. Jauh lebih dingin dan menakutkan daripada amarahnya sendiri. Andrian mundur selangkah, mengamati.
Kaluna kemudian melangkah maju, membiarkan air menetes dari dagunya. Dia menatap Kajayanti, yang kini berdiri dengan senyum puas dan arogan.
"Jadi, adik kesayangku ini ingin bermain-main sebelum aku pergi, ya," ujar Kaluna, melangkah mendekat, "Ayo, aku akan mengajarimu cara bermain air yang seru."
Kaluna berhenti tepat di depan Kajayanti. Dia langsung mencengkram tangan Kajayanti dan menyeretnya ke kamar mandi di rumah itu.
Semua orang berlari mengikuti arah pergerakan kedua saudara tiri itu. Sementara Andrian mengirinya dengan begitu santai. Menunggu kemungkinan-kemungkinan reaksi brutal sang Kijang Emas yang selama ini tersembunyi.
Dengan sekali hentakan, Kaluna mendorong Kajayanti hingga tersungkur ke dalam whirlpool bathtub di kamar mandi itu. Dia menyalakan air kerannya hingga tubuh Kajayanti basah sempurna.
“Bagus, Kijang Emas. Kau telah menunjukkan siapa dirimu. Tindakan gadis ini benar-benar sesuai dengan kriteria wanitaku. Tidak mudah ditindas, tidak membuang waktu dengan jeritan atau air mata, dan akan membalas setiap tindakan yang merugikannya dengan perhitungan yang dingin.” Andrian memuji Kaluna dalam hati.
Tindakan Kaluna yang dingin, menolak diposisikan sebagai korban. Dia segera membalikkan serangan Kajayanti dengan ancaman finansial yang mematikan, sungguh mengesankan
Kaluna memiringkan kepalanya, senyum merendahkan terukir di bibirnya.
"Daripada terus mengganggu jalanku dan merengek pada ibumu, lebih baik kau segera melamar pekerjaan. Karena pria seperti Tuan Sugara... tidak akan menyukai gadis kekanakan, tidak berguna, dan pengangguran sepertimu itu,” gertak Kaluna dengan nada mengejek.
Gertakan itu langsung menusuk tepat di ulu hati Kajayanti. Wajah Kajayanti memucat. Ancaman kerugian finansial, ditambah dengan penghinaan terhadap status dan daya tariknya, jauh lebih efektif daripada kekerasan fisik.
Kaluna segera meninggalkan perannya itu dan berjalan cepat menuju mobil. Gaun hitamnya basah menempel di kulitnya, meninggalkan jejak tetesan air di lantai marmer teras.
Gadis itu, pikir Andrian, matanya tertuju pada punggung Kaluna yang tegak meski baru disiram. Dia benar-benar tidak terduga.
Saat mereka berdua mencapai teras depan, Ken Aji yang sedari tadi syok dan muram, tiba-tiba berlari menghampiri mereka. Wajahnya dipenuhi keputusasaan.
"Kaluna! Tunggu!" panggil Ken Aji, suaranya parau.
Kaluna berhenti tepat di depan mobil. Dia menoleh perlahan ke arah Ayahnya. Membiarkan air dari gaunnya menetes ke lantai teras.
"Ada apa lagi, Ayah?" tanya Kaluna, nadanya sudah kembali dingin dan lelah.
Ken Aji melirik Andrian yang berdiri mengawasi dengan seringai penuh minat.
"Kau pikir aku tidak peduli padamu?" tanya Andrian.
"Peduli?" ulang Kaluna, tawa pahit keluar dari bibirnya. "Sejak kapan, Ayah? Sejak Ibu meninggal? Sejak kau tega mengirimku ke psikiater karena dituding mengalami gangguan kejiwaan hanya karena aku menentang Marisa dan putrinya?"
Kaluna melangkah maju satu langkah. Menatap Ken Aji dengan mata yang membara karena rasa sakit yang sudah lama terpendam.
"Kau bahkan tidak pernah mendengar jeritanku, Ayah!" desis Kaluna, kata-katanya menusuk seperti pecahan kaca. "Kau hanya percaya apa kata Marisa, bahwa aku gila, aku labil!"
Air mata Ken Aji mulai menetes, rasa bersalah memukulnya. "Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Nak. Rehabilitasi..."
"Rehabilitasi?" potong Kaluna, nada suaranya berubah menjadi kemarahan dingin. "Kau tidak pernah tahu bagaimana kehidupanku selama di luar negeri! Apa aku benar-benar direhabilitasi? Apa kau pernah bertanya tentang keadaanku? Kau hanya mengirim uang dan bertanya apakah aku sudah sembuh?"
Kaluna menatap Ayahnya dengan tatapan penuh keputusasaan dan penghakiman. "Kau tidak peduli tentang bagaimana aku bertahan hidup di sana. Kau tidak mendengar jeritanku yang memintamu untuk membawaku kembali? Sudah lama aku ingin kembali, ayah!"
"Aku sudah terbiasa sendirian, Ayah. Jangan khawatirkan aku," ujar Kaluna, melangkah mundur, mendekati mobil.
Andrian memahami sedikit keretakan yang membuat jarak antara ayah dan anak ini. Dia memanfaatkan momen itu. Dia membuka pintu mobil untuk Kaluna.
Kaluna masuk ke mobil. Andrian mengikutinya, masuk ke kursi pengemudi, lalu memacu mobilnya, meninggalkan Ken Aji yang berdiri terhuyung di teras.