Mengulik Sosok Jovanda Praka

Penulis Yoonna
20 October 2025

Mereka tiba di apartemen yang sunyi. Begitu pintu lift terbuka di lantai penthouse pribadi, Kaluna segera melangkah keluar.

"Aku akan meminta seseorang menyiapkan air hangat untukmu," ujar Andrian, membuka kunci pintu utama.

Kaluna tidak menjawab. Dia hanya terus berjalan melewatinya.

Andrian menghela napas. Dia meraih bahu Kaluna sebelum gadis itu mencapai kamar tidur yang ditempatinya.

"Kaluna," panggil Andrian, sedikit lebih lembut.

Kaluna berhenti. Dia tidak berbalik. Dia juga tidak membalas sapaannya.

Dengan pakaiannya yang masih sedikit basah, Kaluna langsung masuk ke kamarnya tanpa berbicara. Pintu ditutup dan dikunci dari dalam.

"Setidaknya... selamat malam," ujar Andrian dengan wajah yang ditekuk.

Andrian menatap pintu tertutup itu dengan rasa frustrasi yang samar. Dia berbalik ke arah Leon yang sedang duduk menatap heran ke arahnya.

Leon, yang sudah mengamati seluruh interaksi itu, mengangkat dagunya sedikit ke arah Andrian, sebuah isyarat tanpa kata yang bertanya, ”Apakah ada masalah?”

Andrian memahami isyarat itu. Dia menggeleng pelan, wajahnya kembali kaku.

"Dia kelelahan," ujar Andrian singkat, mencoba merasionalisasi sikap Kaluna.

Leon menatap pintu itu, ekspresinya serius. "Tuan, Aku sudah melihat banyak wanita yang marah dan berteriak, tapi... diamnya Nona Kaluna, jauh lebih menakutkan daripada banyak bicaranya."

Komentar Leon menghantam Andrian. Leon benar. Keheningan Kaluna adalah senjata terbarunya. Sebuah tembok yang tidak bisa ditembus oleh ancaman atau kemarahan.

"Maksudmu?" tanya Andrian dingin, meskipun dia tahu jawabannya.

"Wanita yang berteriak masih ingin didengar. Wanita yang diam, sedang merencanakan cara untuk memenangkan segalanya tanpa harus bicara lagi," jelas Leon.

Andrian mengangguk perlahan. Seringai kemenangan Andrian meredup.

"Aku memaklumi keadaan hatinya," ujar Andrian.

Andrian masuk ke ruang kerjanya, diikuti oleh Leon.

Dia menutup pintu ruang kerjanya. Papan catur baru saja dibuka. Andrian siap dengan langkah pertamanya.

"Langsung ke intinya. Informasi apa yang kau dapatkan tentang pria itu?" Andrian langsung duduk di kursi kulitnya yang besar, menunjuk kursi di depan mejanya untuk Leon.

"Baik, Tuan," Leon memulai, membuka sebuah tablet digital. "Pria itu bernama Jovanda Praka. Usianya sekitar 35 tahun. Dan… latar belakangnya tidak seperti yang Anda duga."

Andrian menyandarkan tubuhnya, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Bukan pengangguran biasa yang suka mabuk-mabukan, maksudmu?"

"Tidak, Tuan. Raka hanya seorang fotografer profesional. Dia memiliki sebuah studio kecil dan sesekali bekerja untuk majalah lokal. Kami tidak menemukan jejaknya sama sekali dalam dunia bisnis ataupun hukum. Tidak ada saham, tidak ada direksi, dan tidak ada riwayat hukum yang mencurigakan," jelas Leon.

Andrian mengerutkan dahi, rasa frustrasinya bertambah. "Hanya seorang fotografer? Itu bertentangan dengan semua yang kuduga."

"Hubungannya dengan Nona Kaluna hanya sebatas teman dekat sedari kecil, Tuan. Mereka dibesarkan bersama di bawah atap yang sama selama beberapa tahun setelah Ibu Kaluna meninggal. Mereka sangat akrab," jelas Leon.

"Nona Kaluna kerap memberinya pekerjaan untuk memotret produk-produk perusahaan miliknya. Ini terlihat seperti cara Nona Kaluna membantunya secara finansial tanpa melukai harga dirinya," sambungnya.

Andrian memejamkan mata sejenak, memproses informasi yang mengecewakan ini. Dia telah menyusun skenario perang hukum. Tapi yang dia temukan hanyalah seorang seniman yang dibantu oleh teman kayanya.

"Lalu, apa yang membuatmu berpikir dia lebih dari sekadar teman lama, Leon?" tanya Andrian, nadanya penuh keraguan.

Leon mencondongkan tubuh sedikit, matanya serius.

"Ini yang aneh, Tuan. Ini yang tidak bisa diterima nalar saya."

"Apa?" desak Andrian.

"Di bank data Corporate Registry, kami menemukan bahwa Jean Praka adalah penerima kuasa atas tiga properti pribadi yang sangat tua dan tidak terurus yang diwariskan oleh mendiang Nyonya Alina Baldey, Ibu kandung Kaluna. Properti-properti ini tidak bernilai tinggi, tetapi secara legal sangat rumit.” Leon kembali menguak pernyataan yang membuat nalar Andrian semakin berputar-putar.

Leon menjeda penjelasannya untuk beberapa saat. Memberi waktu bagi Andrian untuk berpikir sebentar.

"Dia menggunakan semua sahamnya itu untuk melanjutkan pendidikan, Tuan Muda. Jean Praka lulusan Harvard Law School. Dia seharusnya menjadi ahli hukum perusahaan atau setidaknya seorang merger-akuisisi. Tapi setelah kelulusannya, dia tiba-tiba menghilang dari radar selama bertahun-tahun sebelum akhirnya muncul sebagai seorang fotografer,” papar Leon lagi.

Andrian mengambil nafasnya dengan berat. Rasa dingin menjalar di tubuhnya. Bukan karena suhu ruangan itu, tapi fakta-fakta yang terungkap begitu mengejutkan.

“Setelah itu apalagi, Leon?” tanya Andrian dengan tegas.

“Dan yang lebih anehnya lagi, Tuan, Nona Kaluna baru saja menambahkan surat kuasa penuh atas pengalihan semua aset dan saham pribadi yang terpisah dari Ken Aji Corporate ke tangan Raka, dua minggu yang lalu," papar Leon lagi.

Andrian seketika duduk tegak. Darahnya mendidih.

"Pengalihan saham pribadi? Kepada seorang fotografer? Dia bukan ahli hukum, tapi dia kini menjadi wali hukum untuk seluruh aset Kaluna?" desis Andrian, suaranya dipenuhi ancaman.

“Namun Tuan, salah satu alasan Raka tidak memiliki riwayat di dunia bisnis adalah karena semua sahamnya sudah habis. Dia telah menjual semua sisa sahamnya untuk membantu Kaluna mendirikan Ameerta Corporate. Apa mungkin, ini adalah bentuk terima kasih Nona Kaluna kepada Raka?" Leon mengakhiri dialognya dengan pertanyaa.

“Lebih dari itu Leon. Kaluna telah menyusun rencana untuk mengelabuhi,” ujar Andrian menarik Kesimpulan.

"Mengelabuhi siapa, Tuan?" tanya Leon skeptis.

"Semua orang, Leon. Ayahnya, aku dan terutama para dewan. Dengan mengalihkan asetnya kepada pihak ketiga yang tidak terduga, dia membuat kekayaan pribadinya tidak terlihat. Jika aku atau Ken Aji menekannya untuk menjual saham Ameerta, dia bisa berkata dia tidak memiliki apa-apa. Ini adalah strategi pertahanan untuk melindungi perusahaannya,” jelas Andrian.

Andrian menyandarkan tubuhnya di kursi. Senyum tipis, tetapi penuh kekaguman, muncul di bibirnya.

"Leon," ujar Andrian, suaranya tenang, sama sekali tidak ada nada ancaman.

Andrian berdiri, berjalan ke jendela besar, menatap keheningan kota.

"Ini adalah rencana terselubung. Kaluna dan Jean Praka telah menyusun sebuah taktik politik tersembunyi untuk menguasai dunia perusahaan," lanjut Andrian, matanya berbinar karena spekulasi.

“Itu artinya…” ujar Leon tapi terhenti.

"Tepat Leon, pengalihan kekuasaan ini dipicu oleh sifat Kaluna yang mungkin terbatas, sebagai seorang anak, bahkan suatu saat akan terikat pernikahan. Dia mungkin akan kehilangan sebagian independensi bisnisnya. Selebihnya, Raka adalah orang yang bebas." Andrian menyandarkan tubuhnya ke jendela kaca itu.

"Bebas?" tanya Leon.

"Ya. Dia tidak memiliki hubungan keluarga dengan siapa pun yang berkuasa di sini ataupun terikat bisnis pada siapa pun yang menjadi rival utama. Dia adalah agen yang sempurna untuk bermanuver tanpa dicurigai,” jawab Andrian.

Andrian berbalik, wajahnya dipenuhi kekaguman yang mendalam.

"Aku justru sangat mengagumi kecerdikan Kaluna dalam mengelola asetnya.” Andrian menatap ke arah bintang-bintang yang berkedip lugu.

“Dia bahkan telah mempersiapkan segala kemungkinan untuk masa depan, termasuk kemungkinan orang lain untuk menguasainya. Dia membuat benteng yang tidak terlihat. Sungguh pemikiran yang luar biasa untuk seorang wanita muda," puji Andrian lagi sambil tersenyum kagum.

Andrian berjalan kembali ke meja kerjanya, mengambil dokumen-dokumen Cassavanos.

"Aku berpikir, aku perlu banyak belajar dari tunanganku itu," ujar Andrian, tersenyum lebar.

"Oma benar, dia adalah berlian yang lebih berharga daripada yang kubayangkan, Leon. Dia bukan hanya pembalasan dendam, dia adalah mitra sejati," sambungnya.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan Jean Praka, Tuan?" tanya Leon.

"Tidak ada. Kita biarkan dia memegang kekuasaan itu," jawab Andrian santai.

"Tapi kita akan pastikan dia tahu, bahwa Raka kini bukan hanya bertanggung jawab pada Kaluna, tapi juga padaku. Kita harus melihat bagaimana cara merekrut Raka menjadi sekutu, bukan melawannya," kata Andrian penuh dengan rencana.

Andrian membalikkan kertas. Saat Andrian sedang membolak-balik dokumen dengan ekspresi penuh perencanaan, Leon tiba-tiba menatap tabletnya lagi. Matanya membesar karena teringat sesuatu.

"Tuan, tunggu sebentar," potong Leon, nadanya mendadak serius.

Dia menggesek layar tabletnya dengan cepat, memastikan informasi itu.

Andrian mengangkat alis, sedikit terganggu. "Ada apa lagi, Leon? Jangan bilang dia memegang lisensi penerbangan gelap juga."

Leon menggeleng, "Bukan, Tuan. Ini...”

Leon menatap Andrian. "Dalam laporan aktivitasnya, kami menemukan bahwa Jean Praka baru-baru ini mengunjungi seorang psikolog klinis di sebuah klinik di luar kota."

Andrian yang tadinya antusias, seketika membeku.

"Seorang psikolog?" ulang Andrian, suaranya kembali dingin. "Kenapa? Gangguan kecemasan karena harus menjaga aset triliunan?"