“Kael, jika ada orang yang mengancamku, menurutmu siapa yang mungkin melakukannya?”
[Apa maksudmu?]
Aurora menatap selembar kertas berwarna cokelat kusam. Ia menemukannya di bawah pintu apartemen ketika akan berangkat ke tempat pilates. Genggamannya mengerat pada ponsel yang masih terhubung dengan Kael.
“Ada hal penting yang harus kubicarakan.” Suara Aurora terdengar tergesa, ada seutas panik dalam nada bicaranya.
[Aku pulang sekarang juga.]
“Tidak perlu. Aku sedang dalam perjalanan ke kantormu. Pastikan saja aku bisa masuk ke dalam ruanganmu tanpa ada drama.”
[Luther akan menjemputmu di bawah.]
Sambungan telepon terputus. Aurora menyimpan ponsel di dalam tasnya, begitu juga dengan selembar kertas yang ia jejalkan—tangannya masih gemetar.
Sementara itu di ruangan kerja milik Kael, Luther masuk tanpa suara. Gerakannya selalu tegap seperti biasa, terlihat tenang tapi sangat mustahil untuk diabaikan. Ketika sampai di depan meja Kael, ia berhenti, memiringkan kepala, seolah sedang membaca pikiran dari wajah tuan muda Vireaux.
“Ada masalah, Tuan?”
Kening Kael mengerut samar. “Aurora akan kesini. Tunggu dia di bawah dan bawa kesini setelah datang.”
Informasi itu terdengar aneh bagi Luther. Kael tidak pernah membiarkan orang asing menginjakkan kaki di ruangannya. Dengan memperbolehkan Aurora datang, mungkinkah pria itu telah membuka hatinya?
“Anda menyuruhnya datang?” tanya Luther.
“Dia bilang akan kemari. Sepertinya telah terjadi sesuatu. Aku tidak pernah mendengar nada bicaranya sekalut itu.”
“Anda mengkhawatirkannya?”
Ekspresi Kael segera berubah. Ia berdeham sekali, lalu berdiri untuk menghindari tatapan Luther yang menginterogasi. “Buat apa aku mengkhawatirkannya? Aku hanya tidak mau orang lain bergosip karena aku melarang istriku sendiri masuk ke ruangan ini.
Luther tersenyum samar, lalu mengangguk sekali. “Baiklah, aku akan menunggu Nona Aurora di lobi.”
“Ok, terima kasih, Luther.”
Luther mengangguk sekali lagi, lalu berbalik dan melangkah cepat ke arah pintu. Bunyi pintu ditutup yang menggema pelan membuat Kael menghela napas panjang. Rasanya sangat sesak setiap kali Luther mencoba untuk mengorek perasaannya terhadap Aurora. Seakan menguliti egonya, dan memaksanya untuk tunduk pada kenyataan bahwa alur rencananya telah berubah total.
Sebenarnya, Aurora tak harus menemui Kael untuk membicarakan masalah ini. Namun, ia merasa ada hal yang lebih besar ketimbang harus menutupi siapa dirinya sebenarnya di hadapan Kael. Terlebih setelah ia berhasil mengalahkan Bastien semalam.
Kertas lusuh yang ia bawa, berhasil menghantam ketenangannya selama ini. Beberapa bercak darah yang telah menghitam, tertinggal di lembarnya—menjejak amis.
‘Jika kau tak meninggalkan Kael Vireaux secepatnya, kau akan bernasib sama dengan Isabelle dan Mireille.’
Goresan ancaman menggunakan tinta baru di bawah tulisan tangan yang Aurora yakini adalah milik Mireille, ibu Kael.
Ya, karena itulah ia memutuskan untuk menemui Kael. Ancaman itu tak lagi soal dirinya, tapi juga nama ibunda Kael yang ikut ditulis di sebelah nama ibunya.
Saat kakinya menginjak kantor pusat Vireaux Group, Luther telah berdiri, menyambutnya dengan anggukan samar. Tak berkata, Aurora segera mengikuti langkat cepat Luther, seakan waktu adalah hal berharga yang tak ingin pria itu buang percuma.
Sedikit berjingkat karena harus menyamakan langkah, Aurora berhasil masuk lift tepat waktu. Namun ia tak memiliki energi untuk protes. Di dalam kepalanya menggema banyak asumsi yang terus bermunculan selama perjalanan. Mungkinkah Bastien yang mengirimnya? Lalu kenapa? Bukankah motifnya akan terlihat jelas jika mengirim ancaman itu setelah ia berhasil mengalahkannya dalam jamuan makan semalam?
Atau… mungkinkah Bastien Vireaux sebodoh itu?
“Apakah harimu berat, Nona?” Luther melirik sejenak.
Pandangan Aurora beralih cepat. Terlambat untuk mengubah ekspresinya. Luther jelas telah menangkap keresahan dalam sorot matanya.
“Fine… i guess… i wish.” Suaranya terdengar semakin lirih.
“Pilihan yang tepat untuk bertemu dengan Tuan Vireaux saat kau merasa tidak baik-baik saja, Nona.” Luther kembali menatap lurus. “Meskipun terkesan dingin dan tak berperasaan, tapi Tuan Kael adalah pendengar dan pemecah solusi yang handal.”
Seringai tipis tertarik di sudut bibir Aurora, seakan tak mempercayai ucapan Luther. “Kita akan buktikan.”
Lift terbuka. Luther mempersilakan Aurora untuk keluar lebih dulu. Lantai marmer warna hitam mengilap, menyambut langkah Aurora yang sedikit bergetar. Di antara gugup yang menciptakan gemuruh dalam dadanya, ada seringai sinis saat menilai nuansa lorong di lantai khusus milik Kael ini.
Pria itu benar-benar tidak mengenal warna selain hitam.
pintu baja yang lagi-lagi berwarna hitam terbuka. Luther mendorongnya perlahan, lalu memberikan ruang untuk langkah Aurora.
“Silakan, Nona… Tuan Vireaux di dalam.”
“Thanks, Luther.” Aurora mengangguk.
Luther membalas anggukan, lalu segera menutup pintu dari luar setelah Aurora melewatinya.
Pandangan Aurora mengedar. Vibes ruangan itu serupa dengan kamar Kael. Hanya saja, ini terlalu luas dan… terlalu kantor. Aurora menertawakan dirinya sendiri. Sungguh lucu mengatakan ruangan ini terlalu kantor—sedangkan ini memang kantor.
“Kepalamu terbentur sesuatu?” Kael mengerutkan keningnya, sedikit heran dengan sikap Aurora.
Tawa kecil Aurora menghilang, berganti dengan raut serius yang tak pernah dilihat oleh Kael sebelumnya. “Kau melihatku berdarah atau memar?” tanyanya sinis.
Kael berdiri dari kursinya, menghampiri Aurora yang masih berdiri di tempat awal berhenti. Ia mengitari Aurora sekali, lalu berdiri tepat di hadapan wanita itu. “Tidak ada, tapi jelas kau terlihat sedang membawa beban.” Ia berbalik, berjalan perlahan ke arah sofa kulit hitam di tengah ruangan. “Duduklah.”
Aurora melangkah patuh. Ia tidak sedang berada dalam mode membangkang. Saat ini ia harus mengungkap sebuah rahasia yang jelas akan memengaruhi masa depannya—mungkin diusir dari penthouse.
“Aku harus jujur padamu.” Aurora mengatakannya setelah duduk tegap di hadapan Kael.
Kael menyipitkan mata, mencoba membaca situasi. “Kau mencintaiku?”
“Sorry?”
“Wajahmu seperti seseorang yang ingin mengungkap perasaan. Aku hanya berusaha menebaknya.” Kael menyilangkan kaki. Seringainya terlihat menyebalkan seperti biasa.
“Aku tidak mencintaimu, Kael.”
Kalimat itu sudah jelas ada di dalam kontrak. Dilarang untuk jatuh cinta. Namun sialnya, Kael merasa kesal mendengarnya.
“Good,” ujar Kael, nadanya kembali dingin. “Kau tepat untuk tidak jatuh cinta padaku.”
Aurora memutar kedua bola matanya. “Oh please, Tuan Vireaux. Kurangi asupan alkoholmu agar kau tidak melantur di siang hari. Ada hal penting lain yang harus kukatakan padamu saat ini.”
“Mulutmu bisa menjadi lubang kuburmu sendiri, Rora. Berhati-hatilah.” Kael kembali memperlihatkan ekspresi dinginnya. “Katakan, apa yang membuatmu sampai nekat mengganggu waktuku?”
Aurora menghela napasnya panjang. Ia memejamkan mata sejenak, lalu menatap Kael lekat-lekat. “Kau pasti tahu Isabelle Lambert, kan?”
Kael melengos sejenak ketika mendengar nama wanita itu disebut. Cukup terkejut Aurora membahasnya, tapi kini ia juga penasaran dengan arah pembicaraan mereka.
“Kenapa kau menanyakan jalang itu?”
Aurora sudah menduga reaksi Kael akan seperti itu. Namun kini tak ada kesempatan bagi dirinya untuk mundur—ia tak boleh mundur.
“Jalang itu, adalah ibu kandungku. Isabelle Lambert, adalah istri dari Matthew Varren. Mereka adalah orang tuaku.”
Jantung Aurora berdebar sangat cepat. Ia pasrah dengan sikap Kael setelah mendengarnya. Namun….
“Lalu?” tanya Kael santai.
“Lalu?” Aurora bingung. “Bukannya itu sebuah pengakuan yang besar? Aku adalah putri dari seorang jalang yang telah mengacau rumah tangga orang tuamu.”
Kael menghela napas panjang. Tubuhnya ditarik mundur ke sandaran sofa, matanya tak putus memperhatikan Aurora. “Aku sudah tahu, Rora… sejak awal. Lalu? Apa masalahnya sekarang?”
Aurora mengerjap cepat. Pikirannya kini penuh dengan pertanyaan. Kael sudah tahu? Bagaimana bisa? Sejak awal? Tapi kenapa ia masih menikahinya? Apa yang sebenarnya terjadi?
“T-tapi… Kael—”
“Aku sudah tahu siapa kau sebenarnya sejak awal, dan aku tidak ingin membahas hal itu lagi. Jadi, apa ada hal yang ingin kau katakan lagi selain itu? Kalau tidak ada, lebih baik kau pulang sekarang.”
“Ada!” sahut Aurora cepat.
Kael semakin menaruh perhatiannya. “Katakan, Rora. Jangan buang waktuku hanya untuk percakapan receh.”