Di dalam kamar tidur mewah penthouse Andrian, lampu utama mati. Hanya cahaya redup dari lampu tidur yang menerangi ruangan.
Kaluna masih mengenakan gaun hitamnya yang basah kuyup. Kain basah itu menempel dingin di kulitnya. Dia duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya meringkuk, gemetar karena kedinginan dan ketakutan yang merayap.
“Tidak… jangan sekarang!” Kaluna menutup kedua telinganya.
Pintu kamar itu kedap suara, tetapi pikiran Kaluna bising. Dia menarik lutut ke dada, matanya tertutup rapat, berusaha menekan ingatan yang mendesak keluar, tetapi suara-suara itu terlalu kuat.
Ia mengingat saat-saat sebelum dikirim, permohonannya yang menyedihkan kepada pria yang seharusnya melindunginya.
"Ayah, kumohon! Jangan bawa aku ke sana! Aku tidak gila, Ayah..." Bisikan suara kecilnya kembali terngiang di telinganya.
"Diam, Kaluna! Ini demi kebaikanmu. Kau butuh pertolongan!" Beberapa patah kata yang dikeluarkan Ken Aji juga masih terhafal jelas.
Suara ayahnya meredup, digantikan oleh suara yang lebih tajam dan klinis.
Dia mengingat kembali bagaimana masa kecilnya menjadi suram di tangan orang-orang yang gila sains. Mereka melihatnya sebagai anomali genetik yang berharga. Kelinci percobaan yang pantas diteliti.
Dia mengingat kilatan cahaya tajam dan rasa sakit yang menyebar. Dia mengingat bagaimana tubuhnya yang kecil disetrum berulang kali. Siksaan itu bukan untuk rehabilitasi, tetapi untuk memicu dan memetakan respon otaknya.
"Ampun! Ampun! Sakit! Kumohon, hentikan! Aku janji akan diam! Aku janji tidak akan melawan lagi!" Suara Kaluna kecil kembali terdengar.
"Reaksi denyut jantungnya meningkat. Tingkatkan voltase ke 40! Kita harus melihat sejauh mana ambang batasnya!" ujar suara mengerikan itu, kembali merasuk pikirannya.
Yang lainnya tertawa sinis, Kaluna kecil terus merintih meminta ampun.
"Anak ini luar biasa. Lihat bagaimana matanya bergetar! Hahaha!"
"Terus catat. Kita harus menjaga kelinci percobaan ini tetap hidup!"
Kaluna pingsan berkali-kali dalam ruangan putih yang dingin itu. Sekarang, dengan gaun basah di tubuhnya, dia merasakan kedinginan dan keputusasaan yang sama. Bahkan terasa seperti sekumpulan elektroda yang kembali menyetrumnya.
Air mata panas mengalir di pipi Kaluna. Bukan air mata sedih, melainkan air mata trauma yang kembali hidup.
Kaluna terus duduk meringkuk, suara-suara di kepalanya semakin keras dan menguasai. Kilasan memori, permohonan yang ditolak, dan tawa kejam para penyiksa berputar-putar dalam benaknya.
"Tidak! Diam! Diam!" teriak Kaluna dengan suara parau.
Matanya bengkak dan memerah karena tekanan. Suara tawa dan jeritan di masa lalu itu terdengar begitu nyata, begitu menusuk, hingga telinganya terasa seperti ingin sobek. Rasa sakit fisik dan mental mencapai ambang batasnya.
Tiba-tiba, Kaluna melepaskan lutut dari pelukannya. Trauma itu kini beralih menjadi ledakan amarah yang histeris dan tak terkendali.
Dia bangkit berdiri, tubuhnya gemetar hebat. Ia meraih lampu tidur yang ada di meja samping.
BUGH!
Lampu itu dibanting ke lantai, pecah berkeping-keping.
“Kubilang, DIAM!” teriak Kaluna.
Kaluna mulai mengamuk. Menendang kursi rias, menjatuhkan kotak perhiasan di meja. Dia mencengkeram tumpukan buku di rak terdekat dan melemparkannya ke dinding.
PRANG! BRAK!
Setiap benda yang pecah atau berbenturan adalah representasi dari suara-suara yang ingin dia hancurkan.
"PERGI! HENTIKAN! HENTIKAN!" teriak Kaluna histeris, suaranya menusuk dan dipenuhi keputusasaan yang murni.
Di balik pintu ruang kerjanya, Andrian dan Leon terdiam kaku. Suara teriakan histeris dan amukan yang disusul oleh bunyi benda-benda pecah itu terdengar jelas.
Andrian dan Leon saling pandang. Wajah Andrian seketika berubah tegang. Dia mengenali nada kepanikan dan rasa sakit yang murni dalam teriakan itu.
" Kaluna," teriak Andrian, ekspresinya khawatir.
Tanpa bicara lagi, Andrian langsung bangkit. Rasa penasaran dan naluri posesifnya beradu. Dia harus tahu apa yang terjadi pada wanita yang baru saja ia puji kecerdasannya itu.
Andrian berlari ke pintu ruang kerjanya, segera membukanya dan bergegas menuju kamar Kaluna.
"Siapkan kartu kunci master. Sekarang!"" perintah Andrian kepada Leon sambil berjalan cepat.
Tepat di depan pintu kamar Kaluna yang terkunci, Andrian mendengar bunyi benturan keras terakhir. Teriakan Kaluna semakin menusuk.
Andrian tidak menunggu kunci atau Leon. Kepanikan dan naluri posesifnya mengambil alih. Dia mundur dua langkah.
"Kaluna! Buka pintunya!" teriak Andrian, memukul pintu dengan keras.
Tidak ada jawaban. Hanya isakan keras dan napas tersengal dari dalam.
Andrian menarik napas kuat. Dengan seluruh tenaga, Andrian mendobrak pintu itu.
BRAKKK!
Engsel pintu menjerit. Kunci pengaman di bagian dalam patah dengan suara keras. Pintu terbuka lebar, menabrak dinding di sebelahnya.
Andrian terperanjat melihat pemandangan di dalamnya. Gelap dan kacau, dengan pecahan kaca dan barang berserakan di mana-mana.
Kaluna berdiri di tengah ruangan, masih dalam gaun basahnya, gemetar hebat. Matanya bengkak dan dipenuhi teror murni.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Andrian, melangkah masuk.
"KELUAR!" teriak Kaluna, menunjuknya dengan jari gemetar. "JANGAN SENTUH AKU! JANGAN DEKATI AKU!"
Leon tiba di ambang pintu, terpaku melihat kehancuran itu.
Andrian mengabaikan perintah itu, matanya hanya fokus pada ketakutan di mata Kaluna.
Kaluna terus meronta. Dia mundur sejauh mungkin.
"Aku tidak gila! Lepaskan aku! Kalian semua orang-orang jahat! PERGI! PERGI!" teriak Kaluna histeris.
Dia tiba-tiba mengalihkan kemarahannya pada sosok yang tak terlihat. "Ayah! Kau kejam! Kau menjualku! Kau menjadikanku bahan penelitian! Aku benci dirimu, Ayah!"
Andrian mengabaikan jeritan dan perintah itu. Rasa kagetnya berubah menjadi urgensi. Ini bukan lagi drama, ini adalah trauma. Dia melihat ke belakang, memastikan Leon berada di ambang pintu, lalu Andrian melangkah perlahan ke arah Kaluna.
"Hei," ujar Andrian, suaranya kini luar biasa lembut, sebuah nada yang jarang sekali dia gunakan. "Aku tidak akan menyakitimu, Sayang."
Kaluna terus mundur, menggeleng-geleng.
"Pergi! Pergi! Kumohon jangan sakiti aku lagi! Itu sangat menyakitkan," pintanya, memohon dengan menangis.
"Tidak. Aku tidak akan pergi," kata Andrian, jarak mereka menipis. Dia mengangkat tangannya perlahan. "Kau aman bersamaku, Kaluna. Kau aman di sini. Lihat aku."
Dia mendekat, mengabaikan risiko terlempar atau dicakar. Begitu Kaluna berada dalam jangkauan, Andrian bergerak cepat. Dia meraih tubuh Kaluna, memeluknya erat, memaksanya untuk diam dalam pelukannya yang kuat.
Kaluna mencoba meronta pada awalnya, memukul dada Andrian. "Lepaskan! Lepaskan aku!"
Namun, cengkeraman Andrian terlalu kuat dan menenangkan. Tubuh Kaluna yang basah dan lelah perlahan berhenti meronta. Dia ambruk di pelukan Andrian, hanya tersisa isakan tangis keras.
Andrian menahan tubuhnya yang gemetar. Dia menatap Leon, yang masih terkejut di ambang pintu.
"Dia ketakutan, Leon," bisik Andrian, suaranya serak.
Andrian memeluk Kaluna erat. Di dalam kamar yang kacau, Andrian terus memperlakukan Kaluna dengan sangat lembut. Tangannya mengusap punggung Kaluna dengan gerakan menenangkan, sementara dagunya bersandar di puncak kepala gadis itu.
"Ssstt. Sudahlah. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi. Aku di sini. Tidak akan lagi ada bahaya. Tidak ada lagi orang jahat," bisik Andrian, suaranya benar-benar tulus.
Andrian memejamkan mata sejenak. Dia tidak pernah menduga, di balik sikap dinginnya, Kaluna menyimpan rasa sakit yang begitu parah dan terpendam. Semua kecerdikannya dalam berbisnis, semua ketenangan dan kalkulasi dinginnya, hanyalah benteng yang rapuh untuk melindungi trauma mengerikan dari masa lalu.
Dia menyadari betapa salah dugaannya. Kaluna bukan hanya gadis cerdas yang ingin mengelabuinya. Dia adalah korban yang terluka parah.
Saat memeluknya, Andrian menyadari pakaian Kaluna yang masih basah dan menempel dingin di kulitnya. Lebih parah lagi, saat kulitnya bersentuhan dengan dahi Kaluna, suhu tubuh Kaluna terasa tiba-tiba naik, terasa panas menyengat.
"Leon," panggil Andrian.
Suaranya kembali tegang dan mendesak, tetapi lebih lembut dari sebelumnya. Dia tidak melepaskan Kaluna, hanya menoleh ke arah Leon di ambang pintu.
"Cepat panggil dokter! Dia demam," kata Andrian.
Leon mengangguk cepat, wajahnya serius.
"Baik, Tuan!" Leon segera berbalik, meninggalkan kamar itu untuk menelepon bantuan.
Andrian mengeratkan pelukannya, mengabaikan dingin dari gaun Kaluna dan puing-puing di lantai.
"Kau akan baik-baik saja. Aku bersamamu."
Dia memandang ke sekeliling kamar yang hancur. Andrian tahu, permainannya dengan Kaluna baru saja berubah drastis. Ini bukan lagi tentang warisan atau balas dendam. Ini tentang melindungi wanita yang tanpa diduga telah menyentuh sisi kemanusiaannya yang paling tersembunyi.