Harga dari Sebuah Trauma

Penulis Yoonna
20 October 2025

Tak lama kemudian, Dokter Radika tiba, seorang pria paruh baya yang tenang dan profesional, dengan tas medis yang sigap di tangan. Dokter pribadi Andrian.

Andrian masih memeluk Kaluna, menahannya agar tetap tenang. Kaluna kini hanya sesekali terisak, tubuhnya demam dan lemas.

Namun, sebelum Dokter Radika bisa mendekat, Andrian teringat akan pakaian Kaluna yang basah dan dingin.

"Leon," panggil Andrian, menatap Leon. "Minta pelayan membantu Nona Kaluna segera berganti pakaian.”

Leon mengangguk dan segera memberi instruksi singkat kepada pelayan. Pelayan itu masuk dengan hati-hati ke dalam kamar, menunggu isyarat.

Andrian perlahan melepaskan Kaluna, menoleh ke arah pelayan.

“Aku akan menunggu di luar,” kata Andrian.

Kaluna yang demam tidak melawan saat pelayan itu menuntunnya dengan lembut menuju kamar mandi.

Andrian keluar dari kamar itu, diikuti oleh Dokter Radika dan Leon. Dia menutup pintu yang engselnya sudah rusak. Dia kembali menatap Leon, wajahnya tegang.

"Dokter Radika, mari ke ruang tamu sebentar," ajak Andrian. "Leon, ikut aku."

Mereka berdua berjalan menuju ruang kerja. Andrian kembali duduk di kursinya, sementara Leon berdiri di depannya.

Andrian duduk di kursinya, tatapannya dingin namun penuh konsentrasi. Leon berdiri di depannya, baru saja menyelesaikan laporannya.

"Raka pasti ada hubungannya atau setidaknya tahu benar tentang apa pun yang terjadi pada Nona Kaluna di masa lalu," Leon menyimpulkan.

Andrian mengangguk, menyentuh pelipisnya. Dia mengabaikan laporan keuangan yang berserakan di mejanya.

"Kau benar, Leon," ujar Andrian. "Mungkin dengan datangnya Raka menemui psikiater itu, ada hubungannya dengan Kaluna. Dia menanggung beban trauma Kaluna, atau mencoba membantunya sembuh. Kita harus tahu apa yang mereka sembunyikan."

"Saya akan segera..."

Pintu ruang kerja Andrian tiba-tiba terbuka. Dokter Radika masuk dengan ekspresi yang tenang namun serius. Dia sudah selesai memeriksa Kaluna.

"Dokter," ujar Andrian, langsung bangkit. "Bagaimana keadaannya?"

Dokter Radika menutup pintu dengan hati-hati. "Secara fisik, Tuan Sugara, Nona Kaluna mengalami demam tinggi. Ini adalah respons fisik terhadap dingin yang berkepanjangan dari gaun basahnya dan... tekanan emosional yang hebat."

"Tekanan emosional?" tanya Andrian.

"Ya. Saya melihat tanda-tanda kelelahan fisik yang ekstrem, kurang tidur, dan ketegangan psikis. Syok yang dia alami mungkin beberapa hari terakhir, ditambah dengan trauma yang jelas-jelas baru saja muncul kembali, telah melemahkan pertahanan tubuhnya."

Dokter Radika membuka tasnya, mengeluarkan resep. "Saya sudah memberinya obat penurun panas yang kuat dan vitamin. Dia harus beristirahat. Saya juga memberikan obat penenang ringan jika gejolak emosi atau teror malam kembali terjadi."

Andrian mengambil resep itu, rahangnya mengeras. "Bagaimana dengan luka-lukanya? Ada memar?"

"Tidak ada luka fisik baru, Tuan. Hanya memar emosional," jawab Dokter Radika dengan lembut. "Namun, saya harus jujur. Perilaku histeris yang disertai agresi, terutama teriakannya tentang penyiksaan dan bahan penelitian bukanlah reaksi stres biasa. Ada kemungkinan besar Nona Kaluna menderita Gangguan Stres Pascatrauma atau kita kenal dengan PTSD yang parah, yang dipicu oleh trauma masa lalu yang belum teratasi."

Andrian mengangguk. Sekarang, dia memiliki konfirmasi medis. Ini bukan gertakan. Ini adalah luka nyata.

"Dokter Radika, bolehkah saya meminta rekomendasi Anda untuk psikiater masalah trauma, khususnya trauma masa kecil yang rumit seperti ini?" tanya Andrian, nadanya teratur.

Dokter Radika mengangguk, memahami urgensi situasi. "Tentu, Tuan Sugara. Jika Anda mencari yang terbaik dalam penanganan trauma kompleks, ada dua nama yang saya rekomendasikan..."

Dia menyebutkan dua nama profesional terkemuka di bidangnya, memberikan sedikit detail tentang spesialisasi mereka. Andrian mendengarkan dengan saksama.

"Terima kasih atas bantuannya, Dokter Radika," ujar Andrian, rahangnya masih mengeras.

Dokter Radika pamit pulang. Andrian hanya menunggu hingga pintu ruang kerjanya kembali tertutup, menyisakan keheningan yang tegang.

"Leon, lupakan laporan Cassavanos sebentar. Prioritas berubah," tegur Andrian, menatap lurus ke asistennya.

Andrian menunjuk nama-nama psikiater yang baru saja diberikan Dokter Radika.

"Selidiki latar belakang dokter-dokter ini. Aku ingin tahu rekam jejak mereka, spesialisasi trauma mereka, dan yang paling penting, keterlibatan mereka dengan keluarga Cassavanos atau Ken Aji di masa lalu," titah Andrian.

Leon segera mengeluarkan ponselnya, mulai mencari. "Baik, Tuan. Saya akan menghubungi tim investigasi."

Andrian mondar-mandir di ruang kerjanya. Pikirannya dipenuhi gambaran Kaluna yang gemetar dan histeris. Dia harus menemukan profesional yang tepat, tetapi dia juga harus berhati-hati agar tidak menjebloskan Kaluna ke dalam pusat rehabilitasi mengerikan lainnya.

Lima belas menit berlalu. Leon tetap diam, jari-jarinya bergerak cepat di layar. Tiba-tiba, Leon menghentikan gerakannya. Ekspresinya berubah menjadi terkejut dan serius.

"Tuan," panggil Leon, suaranya sedikit tercekat.

Leon memutar layarnya ke hadapan Andrian.

"Dari tiga nama yang Anda minta selidiki, dia, Dr. Satya Wiratama seorang spesialis trauma anak dengan reputasi internasional..." Leon memulai, menunjuk salah satu nama di layar.

Leon menghela napas. "...Kami mendapati satu nama ini berhubungan langsung dengan Raka, Tuan. Dr. Satya adalah dokter yang sempat ditemui Raka belakangan ini.”

Andrian menatap nama itu di layar, lalu kembali menatap Leon, matanya menyala.

"Jadi, Kaluna sudah punya benteng perlindungan legal, dan sekarang, benteng perlindungan psikologis juga?" desis Andrian, seringai predatornya kembali. Kali ini, seringai itu mengandung kekaguman dan ancaman.

Andrian semakin bingung menanggapi fakta-fakta mengejutkan akhir-akhir ini membuat isi kepalanya mendidih seketika. Perjuangannya bukan hanya tentang pengklaiman terhadap Cassavanos, tapi lebih dari itu.

"Dia bukan hanya merencanakan masa depan, Leon. Dia sedang menyembuhkan masa lalunya. Dan dia menggunakan orang-orang yang paling dia percayai untuk melindunginya."

Andrian mengambil napas dalam-dalam. "Cari tahu di mana praktik Dr. Satya berada, Leon, sekarang juga. Atur jadwal keberangkatan. Kita akan menemuinya besok pagi. Batalkan semua janji temu dengan klien sampai kita kembali."

"Baik, Tuan," sahut Leon.

"Aku tidak akan membiarkan trauma itu menghancurkannya lagi. Aku akan melindungi benteng ini, bahkan jika itu harus menghancurkan siapa pun yang pernah menyentuhnya," desis Andrian

"Baik, Tuan," jawab Leon, bergerak cepat menuju pintu untuk mulai mengatur logistik penerbangan dan investigasi lokasi praktik Dr. Satya.

Tepat saat Leon mencapai pintu, dan Andrian kembali fokus pada tumpukan laporan di mejanya, pintu ruang kerja itu tiba-tiba terbuka. Seorang pelayan yang tadi membantu Kaluna berdiri di sana, wajahnya pucat.

"Tuan Muda!" panggil pelayan itu, suaranya terengah-engah dan khawatir.

Andrian dan Leon serentak menoleh.

"Ada apa?" tanya Andrian, nada suaranya kembali tajam.

"Ma-maaf, Tuan, keadaan Nona memburuk,” lapor pelayan itu panik.

"Panasnya tidak turun, dan dia... dia mulai mengigau!" sambung pelayan itu.

Wajah Andrian seketika berubah. Semua rencana bisnis, psikiater, dan Raka langsung terlupakan.

"Apa?!” Andrian langsung bangkit, kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi keras.

Andrian langsung berlari keluar dari ruang kerja. Dia tidak peduli dengan penampilannya, atau dengan Leon yang kini mengikutinya dari belakang.

Andrian tiba di kamar itu. Kaluna sudah ditempatkan di kamar yang lain.

Dia mengalami demam tinggi dan mengigau, terus menggerakkan kepalanya. Bibirnya kering, dan dia mulai memanggil sosok yang baru saja ia caci.

"Ayah... Ayah... Jangan pergi... Kumohon..." rintih Kaluna lirih, suaranya parau.

Andrian segera melepaskan tangan Kaluna dari cengkeramannya yang kuat, lalu menggenggamnya dengan kelembutan yang hati-hati.

Kaluna yang sedang mengigau dan linglung karena demam, tidak menyadari siapa yang ada di depannya. Matanya yang setengah terbuka menatap Andrian dengan pandangan kosong, seolah melihat sosok Ayahnya.

Tiba-tiba, Kaluna meraih tangan Andrian, memeluknya erat ke pipinya yang panas.

"Jangan tinggalkan aku... jangan kirim aku ke sana lagi," pintanya dengan nada memohon yang menyayat hati.

Dia tidak menyadari Andrian siapa. Dalam kesakitannya, dia hanya melihat sosok ayah yang dia butuhkan untuk menemaninya.

Andrian yang sigap, tidak menarik tangannya. Dia membiarkan Kaluna memeluknya, kelembutan mengalir di tangannya.

"Aku di sini, tenanglah. Aku akan terus di sisimu," bisik Andrian, membungkuk hingga dahinya hampir menyentuh dahi Kaluna yang panas.

Andrian mengesampingkan semua pekerjaannya, semua itu tidak lagi penting. Prioritasnya saat ini hanya satu, membuat Kaluna tertidur tenang.

Dia duduk di tepi ranjang, tangannya yang bebas mengusap lembut rambut Kaluna yang sedikit lembap. Dia menunggu dengan sabar, membiarkan sentuhan fisiknya menjadi jangkar bagi Kaluna yang sedang berlayar di tengah badai demam dan trauma.

Perlahan, isakan Kaluna mereda, dan napasnya mulai teratur. Gadis malang itu mulai terhanyut dalam tidurnya.