Andrian duduk di tepi ranjang, tangannya masih dipeluk erat oleh Kaluna yang kini terlelap. Dia mengamati wajah Kaluna yang tampak damai dalam tidurnya, meskipun masih diwarnai pucat dan keringat dingin.
Demam dan trauma telah membuatnya menjadi seorang gadis kecil yang rentan, jauh dari sosok Kijang Emas yang dingin dan penuh perhitungan.
"Leon, aku ingin kau fokus pada satu hal, cari tahu setiap detail tentang fasilitas rehabilitasi yang didatangi Kaluna saat di luar negeri. Aku ingin nama, lokasi, dan detail penyiksaan yang dia sebutkan. Jangan sampai ada yang terlewat," pinta Andrian dengan masih berusaha mempertahankan tangannya yang digenggam oleh Kaluna.
"Baik, Tuan. Saya mengerti." Leon mengangguk dan keluar dari kamar itu dengan langkah pelan, meninggalkan Andrian sendirian bersama Kaluna.
Andrian menatap Kaluna. Rasa kasihan dan marah bercampur di dadanya. Kasihan pada penderitaan yang harus ditanggung gadis ini. Marah pada Ken Aji, yang membiarkan hal keji itu terjadi pada putrinya sendiri.
Dia membiarkan Kaluna terus memeluk tangannya. Di balik kelembutan sentuhan itu, Andrian Sugara, Sang Predator, bertransformasi menjadi Singa Penjaga. Menunda perburuan emasnya demi melindungi benteng yang sangat rapuh di sampingnya.
Kau salah memilih orang untuk dikhianati, Ken Aji. Dan kau salah memilih orang untuk menyakitinya. Aku akan membuatmu membayar harga yang jauh lebih mahal daripada warisan Cassavanos, ujar Andrian di dalam hatinya.
Fajar menyingsing, mewarnai kamar isolasi medis dengan cahaya keemasan yang lembut. Andrian tersentak bangun dari tidurnya yang tidak nyaman.
Dia terbangun dari tidurnya yang masih terduduk di tepi ranjang, bersandar pada headboard. Tangannya masih dipeluk erat oleh Kaluna. Dia merasakan kaku di leher dan bahunya, tetapi rasa kaku itu langsung dia abaikan.
Dia menatap Kaluna. Gadis itu masih tertidur lelap, napasnya terdengar tenang dan teratur. Dia perlahan melepaskan tangannya, lalu menyentuh dahi Kaluna dengan hati-hati.
“Syukurlah, dia sudah membaik,” gumam Andrian.
Kondisinya sudah stabil. Suhu tubuhnya tidak lagi tinggi, hanya menyisakan kehangatan normal. Syok dan demamnya mereda, digantikan oleh kelelahan.
Andrian bangkit perlahan dari ranjang. Dia melirik jam di dindingnya.
Andrian memutuskan untuk meneruskan rencana keberangkatannya menemui Dr. Satya. Tidak akan berguna jika terus berdiam diri di samping Kaluna.
Dia berjalan ke pintu, membukanya sedikit. Leon sudah berdiri di luar.
"Tuan," sapa Leon pelan. "Bagaimana kondisi Nona Kaluna?"
"Stabil. Demamnya sudah turun," jawab Andrian.
"Baik, Tuan." Leon siap menerima intruksi selanjutnya.
"Batalkan pembatalan jadwal penerbangan. Kita berangkat ke lokasi praktik Dr. Satya dalam satu jam. Hubungi tim medis cadangan, instruksikan mereka untuk siaga di sini jika Kaluna terbangun." Tidak menunggu lama, instruksi itu dilayangkan.
Leon mengangguk, menyadari betapa seriusnya Andrian. "Siap, Tuan. Satu jam."
Andrian kembali masuk ke kamar, hanya untuk mengambil jasnya yang tergeletak di kursi. Dia meninggalkan Kaluna yang tertidur lelap, kini bukan sebagai tunangan yang tunduk, melainkan sebagai rahasia yang harus dia lindungi.
Andrian sudah siap berangkat. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap, penampilannya kembali kaku dan sempurna. Dia berjalan cepat menuju lift pribadi.
Tepat saat ia hendak menekan tombol lift, langkahnya dihentikan.
“Kaluna,” sapa Andrian.
Gadis itu baru saja keluar dari kamarnya. Andrian terkejut melihat penampilannya. Kaluna mengenakan pakaian yang begitu rapi, blus sutra berwarna krem dan rok pensil, rambutnya ditata tanpa cela.
Kaluna berjalan menuju Andrian. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan tentang rasa sakit sama sekali.
Alih-alih wajah pucat dan mata bengkak yang dia saksikan semalam, Kaluna tampak segar dan bersemangat. Seolah-olah seluruh drama histeris semalam hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi padanya.
"Kau mau pergi kemana? Seharusnya kau masih beristirahat. Demammu," ujar Andrian dingin, mencoba menyembunyikan keterkejutannya.
Kaluna mengangkat bahu, memotong perkataan Andrian. "Demam? Itu hanya reaksi terhadap air dingin Kajayanti. Aku baik-baik saja."
Andrian terpaku. Ia menatap Kaluna, lalu menatap jamnya.
Kaluna berjalan melewatinya dan menekan tombol lift. "Aku ingin pergi ke Ameerta Corporate," kata Kaluna, tanpa menoleh.
"Tidak," potong Andrian segera. "Sudah kubilang, kau harus beristirahat. Kita sudah membatalkan semua jadwal hari ini."
Kaluna menoleh, sorot matanya yang tajam menunjukkan tekad yang kuat.
"Ini untuk terakhir kalinya aku ke kantor, Aku harus menyelesaikan beberapa hal yang tidak bisa kutunda lagi," balasnya.
Leon, yang berdiri beberapa langkah di belakang Andrian, menghela napas pasrah. Andrian menatap tajam ke Kaluna, mencoba mencari tanda kelemahan, tetapi nihil. Wajahnya hanya menunjukkan kehendak besi.
Andrian menyeringai tipis, mengakui kekalahannya dalam perdebatan ini.
"Tunda keberangkatan, kita akan menemaninya," kata Andrian pada Leon, langsung mengubah lagi jadwal keberangkatannya.
Leon menjadi bingung setengah mati. Leon mengerutkan dahi.
Andrian berjalan ke arah lift, berdiri di samping Kaluna. Keheningan di antara mereka dingin dan penuh ketegangan yang tersembunikan.
Kaluna menoleh padanya, senyum samar di bibirnya menghilang.
"Tuan Sugara," ujarnya, nadanya formal dan lugas.
"Apa?" tanya Andrian dingin.
"Jika kau memiliki urusan lain, kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu. Tidak perlu menemaniku. Lagipula, aku hanya pergi ke perusahaanku sendiri. Aku tidak butuh bodyguard untuk masuk ke kantor," kata Kaluna.
Sikap independen Kaluna yang mendadak setelah malam penuh kerentanan itu menyulut kemarahan Andrian. Kaluna sedang membangun kembali bentengnya. Dia menolak kehadiran Andrian.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan, Nona Kaluna," balas Andrian, suaranya rendah dan penuh kontrol.
Wajah Kaluna seketika mengeras, matanya memancarkan peringatan.
"Aku sudah bilang, aku baik-baik saja," desis Kaluna.
"Oh, aku lihat. Demam yang hilang dalam sekejap mata," cibir Andrian.
Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding lift, memotong jalur Kaluna.
Leon, yang menunggu dengan ponselnya. Penuh jadwal yang dibatalkan dan dijadwal ulang, bergidik di luar lift.
Kaluna menatap mata Andrian sejenak, menyadari bahwa dia tidak bisa melawan. Andrian telah mencicipi kerentanannya, dan kini dia menuntut kendali penuh.
Ia menghela napas pasrah. "Baik, Tuan Sugara. Jika Anda bersikeras ingin membuang waktu Anda."
Lift terbuka. Andrian menyeringai puas.
Mobil Andrian terparkir di basement gedung Ameerta Corporate, yang letaknya cukup jauh dari pusat kota. Sebuah pilihan yang mencerminkan keinginan Kaluna untuk menghindari keramaian.
Begitu mereka memasuki lobi utama, Andrian segera merasakan perbedaan yang mencolok.
Kantor Ameerta sangat teduh. Dinding-dindingnya didominasi warna-warna netral yang menenangkan, dengan banyak tanaman hidup yang tersebar di sudut-sudut ruangan, memberikan kesan damai dan alami.
“Kantormu ini, sangat nyaman,” ujar Andrian mencuri perhatian Kaluna.
Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, tetapi terfilter dengan cerdas, menciptakan suasana yang hangat, bukan silau. Tidak ada keramaian yang memekakkan, tidak ada deadline yang menjerit di udara.
Andrian, yang terbiasa dengan markas Sugara Group yang bertema baja, kaca, dan penuh ketegangan . Merasa dirinya seperti berada di alam lain saat memasuki kantor Kaluna.
Saat mereka berjalan melintasi lantai, para pekerja yang ramah dan sangat menghormati Kaluna segera menunduk hormat.
"Selamat pagi, Nona Kaluna," sapa seorang resepsionis dengan senyum tulus.
"Selamat pagi, Nona," sapa sepasang manajer yang berpapasan, nada suara mereka lembut dan tenang.
Kaluna membalas sapaan itu dengan senyum tipis, menunjukkan sisi kehangatan yang tak pernah dia tunjukkan pada Andrian atau keluarganya.
Suasana ini sangat berbeda dari keadaan di kantornya, Sugara Group, karyawan bergerak cepat dengan tatapan waspada. Ketakutan akan kegagalan adalah motivasi utama. Di sini, motivasinya tampak didorong oleh rasa hormat dan lingkungan yang suportif.
Andrian menyadari, Kaluna tidak hanya membangun perusahaan. Dia membangun sebuah benteng yang aman dan damai. Jauh dari hiruk pikuk dunia bisnis predator yang didominasi ayahnya dan dirinya sendiri.
"Kau membangun surga kecil di sini," komentar Andrian pelan, nadanya sedikit terkejut.
Kaluna berjalan menuju lift pribadinya. "Aku membangun tempat di mana orang tidak perlu berteriak hanya untuk didengar, Tuan Sugara. Kau tahu, suasana seperti ini jauh lebih efektif untuk kreativitas daripada teror."
Andrian hanya mengamati. Ia semakin yakin bahwa untuk memahami Kaluna seutuhnya, ia harus memahami benteng-benteng yang dia bangun, baik itu Ameerta yang damai, maupun Raka si wali hukumnya.