Di dalam mobil yang sunyi, ketegangan antara Andrian dan Kaluna terasa mencengik. Kaluna duduk tegap, memandang lurus ke depan, menolak melakukan kontak mata. Ekspresi ketidaknyamanan dan kekesalan terlihat jelas.
Andrian duduk di sebelahnya, pandangannya tajam dan tak terhindarkan.
"Kau pikir kau bisa mengelabuhiku dengan pertunjukan teatrikal pengalihan wewenang itu?" tanya Andrian, suaranya pelan tapi menusuk.
Kaluna mendengus tanpa menoleh. "Itu bukan teatrikal. Itu adalah legalitas. Aku melindungi milikku."
"Kau tidak melindungi milikmu. Kau mengosongkan dirimu dari kekuasaan. Dan kau memberikannya kepada seorang fotografer," desis Andrian.
Kaluna menyinggungkan sedikit senyuman di bibirnya.
“Jadi, kau juga mempermasalahkan status sosial Praka, seperti para karyawanku tadi?” sindirnya.
Andrian membungkuk sedikit ke depan, menatap Kaluna dalam, memaksanya mendengarkannya.
"Siapa Raka sebenarnya, Kaluna? Aku tidak bicara tentang latar belakang pekerjaan atau keluarganya. Aku bicara tentang posisinya di hidupmu. Mengapa kau mempercayakan tanggung jawab sebegitu besarnya terhadap pria itu?"
Kaluna akhirnya menoleh, matanya berkilat marah. "Itu urusanku! Dia adalah orang yang kupercayai!"
"Kepercayaan?" Andrian membalas, telak mengenai titik sensitif Kaluna. “Sama sekali kepercayaan konyol yang tidak masuk akal dengan membuatnya memegang seluruh asetmu. Bukankah itu risiko yang sangat bodoh untuk seorang Kijang Emas?"
Kaluna mengepalkan tangannya di pangkuan. Dia tahu dia tidak bisa melarikan diri dari pertanyaan ini.
"Raka... dia bukan sekadar wali aset," jawab Kaluna perlahan, suaranya melembut menjadi sesuatu yang hampir rapuh.
"Dia...." Kaluna menghentikan pernyataannya.
"Dia siapa?" desak Andrian.
"Kau akan tahu nanti,” ujar Kaluna.
“Bagaimanapun caranya, aku pasti akan tahu. Tapi kau membuang waktuku,” sanggah Andrian.
Kaluna mendengus, menatap Andrian dengan tatapan mencemooh.
"Jadi kau ingin terus mengurusi kecemburuanmu terhadap Raka? Itulah yang hanya membuang-buang waktu," ujarnya tajam.
Penggunaan kata kecemburuan oleh Kaluna mengenainya tepat sasaran. Meskipun Andrian tidak akan pernah mengakuinya. Benar, ada dorongan posesif yang sangat kuat melihat Kaluna mempercayakan segalanya pada pria lain.
"Aku tidak cemburu," bantah Andrian datar, suaranya mengandung kontrol mutlak.
Kaluna tersenyum memandang perubahan wajah Andrian. Senyum itu tipis, penuh kemenangan. Karena dia tahu betul, bahwa dia telah menusuk tepat pada ego posesif Andrian, meskipun pria itu mati-matian menyangkalnya.
Kalun menyandarkan tubuhnya di kursi mobil itu sambil berkata, “Raka adalah jaminan kebebasanku, Tuan Sugara. Jika aku gagal dalam pernikahan ini, setidaknya aku tidak akan gagal menyelamatkan aset-asetku."
Andrian terseyum terpaksa. Dia berdehem sebelum kembali berbicara. “Dasar kau ini, kita belum menikah dan kau sudah memikirkan tentang perpisahan,” singgung Andrian.
Di kursi pengemudi yang memegang kendali mobil, Leon yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, tiba-tiba tertawa kecil. Tawa itu pecah tanpa bisa ditahan, menertawakan percakapan bos dan calon bosnya yang saling menyinggung tentang perasaan dan posesif.
Seketika, Andrian menoleh tajam ke arah spion tengah, menangkap mata Leon.
"Apa yang kau tertawakan?" tegur Andrian dingin, ekspresinya kembali menjadi predator murni.
Leon segera menghentikan tawanya, menelan ludah. "Maaf, tidak ada, Tuan."
"Sepertinya belakangan ini kau sering menunjukkan emosi tak terduga, terutama jika ada Nona Kaluna di dekatmu. Kau kini berpihak pada Kaluna, Leon?" tuding Andrian.
Mendengar Andrian yang tersinggung dan menuduh Leon, Kaluna ikut tertawa. Tawa itu bukan histeris, melainkan tawa kecil yang sinis dan meremehkan.
"Oh, lihat," ujar Kaluna, tawanya masih tersisa. "Sang Alpha merasa terancam oleh sekretarisnya sendiri. Sepertinya bentengmu juga tidak sekuat yang kau kira, Tuan Sugara."
Tawa Kaluna dan tingkah Leon membuat Andrian semakin kesal. Dia merasa harga dirinya kini telah goyah akibat ulah Kaluna dan anak buahnya itu. Rasa posesif yang dia tunjukkan barusan, kini diolok-olok secara terbuka.
"Kalian berdua terlalu banyak bicara pagi ini," desis Andrian, rahangnya terkatup rapat.
Tanpa membuang waktu lagi untuk perdebatan yang tidak perlu, Andrian membuka pintu mobil dan keluar. Leon dengan sigap membuka pintu untuk Kaluna.
Mereka masuk ke penthouse Andrian. Andrian memimpin Kaluna masuk ke salah satu kamar tamu yang sudah disiapkan. Mengantar Kaluna masuk ke kamarnya adalah cara Andrian memastikan gadis itu berada di tempat yang aman.
"Istirahatlah. Aku ada urusan yang mendesak. Jika memungkinkan, aku akan kembali sebelum sore," perintah Andrian.
Kaluna hanya bersedekap, menatap Andrian dengan tatapan menantang.
Andrian berbalik, bertemu pandang dengan Leon yang menunggu dengan tas kerja di tangan.
"Leon," panggil Andrian, nadanya kembali menjadi perintah mutlak. "Kembali atur penerbangan. Aku ingin kita di udara dalam lima belas menit."
Leon, yang baru saja membatalkan dan menjadwal ulang penerbangan beberapa kali dalam satu jam terakhir, tampak terkejut.
"Sekarang, Tuan Muda?" tanya Leon, raut wajahnya menunjukkan sedikit kelelahan dan kebingungan.
Andrian menyipitkan mata, membalas pertanyaan itu dengan sinis. "Kenapa? Kau lelah? Jadwalmu hari ini hanyalah mengatur penerbangan dan mencari data rehabilitasi. Tidurmu pasti jauh lebih nyenyak daripada aku tadi malam."
Leon tersentak. Dia tahu ini bukan saatnya untuk mengeluh. Rasa bersalahnya karena tertawa barusan masih membayang. Leon pun langsung sigap kembali.
"Maaf, Tuan Muda. Tidak ada masalah. Saya segera mengurusnya," jawab Leon tegas.
"Atur penjagaan untuk Nona Kaluna. Letakkan dua orang di depan pintu dan dua orang di luar koridor," ucap Andrian menambahkan perintah untuk Leon.
"Kau tidak perlu membuang-buang orangmu, jangan khawatir, aku tidak bodon dan bukanlah seorang pengecut yang akan melarikan diri seenaknya,” singgung Kaluna.
Andrian memandang Kaluna, seringai sinis kembali di wajahnya. Kaluna hanya mengangkat bahunya, lalu berbalik dan menutup pintu kamar itu.
Andrian dan Leon segera melanjutkan langkah menuju lift.
“Penjagaan tetap berlaku, Leon. Pastkan dia aman. Aku tidak ingin kejadian tadi malam terjadi lagi padanya," ujar Andrian prihatin.
Leon mengangguk tegas. Mengambil langkah cepat menuju pintu keluar.
Perjalanan berlangsung dalam keheningan yang tegang. Fokus Andrian kini telah beralih sepenuhnya dari pengambilalihan Cassavanos ke trauma Kaluna dan peran misterius Raka.
Sementara Leon sibuk mengatur logistik dan mengontak timnya untuk penyelidikan fasilitas rehabilitasi yang diminta Andrian.
Andrian dan Leon tiba di sebuah bangunan modern dengan arsitektur yang sangat tenang. Tidak ada plang mencolok, hanya inisial kecil 'SW' di pintu masuk klinik Dr. Satya Wiratama. Tempat ini dirancang untuk privasi absolut.
Tepat sebelum Andrian melangkah masuk, dia menahan Leon yang hendak membuka pintu.
"Leon," panggil Andrian, suaranya rendah dan waspada. "Aku ingin kau menyiapkan mata-mata yang siaga di sekitar sini. Aku tidak suka suasana ini. Terlalu tenang."
Leon mengangguk, memahami kekhawatiran bosnya.
"Aku takut ada yang mencurigai kita dan sengaja mengambil tindakan sebelum kita. Kau tahu, Raka cerdas, dan Kaluna adalah target banyak orang sekarang," lanjut Andrian, pandangannya menyapu sekeliling area parkir yang sepi.
"Baik, Tuan Muda. Saya akan segera mengaktifkan tim pengawasan non-visual di area ini," jawab Leon sigap, mengeluarkan ponselnya sambil tetap mengikuti langkah Andrian.
Andrian melangkah masuk diikuti Leon. Di ruang tunggu, suasananya jauh dari hiruk pikuk rumah sakit. Dinding berwarna beige lembut, sofa beludru, dan aroma terapi yang menenangkan menciptakan ilusi kedamaian.
Seorang resepsionis yang ramah menyambut mereka di meja depan.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya resepsionis itu dengan suara lembut.
Andrian melangkah maju, sorot matanya yang tajam menuntut.
"Kami ingin bertemu Dr. Satya Wiratama sekarang," ujar Andrian, tidak memperkenalkan diri, nadanya dingin dan tidak menerima penolakan.
Resepsionis itu tersenyum dengan sopan. "Mohon maaf, Tuan. Dokter Satya memiliki jadwal yang padat hari ini. Jika Anda ingin berkonsultasi, Anda harus membuat janji terlebih dahulu."
Andrian mendengus, mengabaikan permintaan untuk membuat janji. Sikap ini tidak pernah dia alami di mana pun.
"Hubungi Dokter Satya dan katakan padanya bahwa Andrian Sugara ada di sini. Ini tentang Kaluna Ken Aji. Dia akan tahu," perintah Andrian, nadanya semakin tajam.