Interogasi Dokter Satya Wiratama

Penulis Yoonna
20 October 2025

Meskipun mendengar nama-nama besar itu, resepsionis itu menatap tablet di mejanya. Wajahnya tetap profesional dan tenang. Seolah dia terbiasa berhadapan dengan orang-orang berkuasa.

Dia tetap meminta Andrian menunggu dan membuat janji.

"Mohon maaf sekali, Tuan Sugara, Dokter Satya tidak bisa diganggu tanpa janji. Anda harus mengisi formulir dan menunggu jadwal kosong berikutnya," ujar resepsionis itu dengan suara sopan namun tegas.

Sikap resepsionis yang santai dan teguh itu membuat Andrian sangat marah. Di dunia Andrian Sugara, nama dan kekuasaan adalah kunci yang membuka setiap pintu. Dia belum pernah ditolak dengan kesopanan yang begitu menjengkelkan.

"Kau pikir kau siapa? Aku bilang, telepon dia sekarang!" desis Andrian, melangkah maju hingga tangannya bertumpu pada meja resepsionis.

Aura intimidasi predatornya langsung memancar.

Leon, yang menyadari kemarahan bosnya sudah di ambang batas, segera mengambil tindakan. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi jalur komunikasi rahasia.

Tepat saat Leon sedang berbicara dengan donatur utama klinik, pintu ruang konsultasi pribadi terbuka. Dr. Satya keluar untuk menemui mereka.

Dr. Satya Wiratama melangkah ke ruang tunggu. Dia adalah pria paruh baya dengan tatapan mata yang dalam dan tenang. Dia memandang lurus ke Andrian, tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut atau terintimidasi.

"Apa kau baru saja tertembak hingga membuat keributan seperti ini?" tanya Dr. Satya dengan suara tenang namun tegas, nadanya menyiratkan teguran tajam.

"Klinik ini adalah tempat penyembuhan, bukan ruang negosiasi," sambungnya dingin.

Andrian terkejut. Belum pernah ada orang yang berani menyambutnya dengan penghinaan setenang ini.

"Aku Andrian Sugara, aku tidak punya waktu untuk janji temu. Aku datang untuk urusan mendesak,” jawab Andrian dingin, sekali lagi menggunakan namanya sebagai otoritas tertinggi.

Tapi itu tidak berpengaruh pada Dokter Satya. Dokter itu hanya memiringkan kepalanya sedikit.

"Siapapun anda, keributan ini tidak akan mempercepat apapun. Rumah sakit ini adalah milikku, dan ada aturan di sini," balas Dr. Satya, mengabaikan nama besar itu.

Dr. Satya menoleh ke resepsionis. "Batalkan janji saya berikutnya. Beri waktu lima belas menit untuk Tuan Sugara. Setelah itu, saya kembali ke jadwal."

Dia memberi isyarat kepada Andrian untuk mengikutinya kembali ke ruang konsultasi. "Masuklah. Dan pastikan asistenmu tidak menghubungi seluruh dewan direksi saat berada di sini, Tuan Sugara."

Andrian merasa seperti baru saja dipukul mundur, tetapi dia tahu ia harus menahan amarahnya. Dokter ini adalah kunci rahasianya. Andrian mengikuti Dr. Satya, diikuti Leon.

Dr. Satya berjalan santai menuju kursinya di belakang meja konsultasi. Dia memberi isyarat kepada Andrian untuk duduk di kursi kulit di depannya.

"Silakan duduk, Tuan Sugara," ujar Dr. Satya, nadanya kembali tenang dan profesional, seolah keributan barusan tidak pernah terjadi.

"Ada keperluan mendesak apa hingga Anda hampir menghancurkan rumah sakit ini?" tanya Dr. Satya.

Andrian duduk, tatapannya tajam menembus mata Dr. Satya. Leon berdiri kaku di belakangnya. Andrian memilih mengabaikan sindiran tentang menghancurkan rumah sakit.

"Ini tentang Nona Kaluna," kata Andrian tanpa basa-basi.

“Kaluna Ameerta Setyo Aji?” ulang Dr. Satya, menyebutkan nama itu dengan penekanan yang jelas.

"Benar," jawab Andrian datar.

Dr. Satya terdiam sejenak. Matanya menyipit, mengamati ketenangan Andrian. Dia langsung menghindar dari percakapan itu, tidak ingin menceritakan yang sebenarnya.

"Maaf, Tuan Sugara. Saya rasa Anda salah sasaran," ujar Dr. Satya. "Nona Kaluna... beliau bukanlah pasien saya. Saya tidak bisa memberikan informasi apa pun mengenai seseorang yang tidak terdaftar di sini," sambungnya.

Andrian tersentak. Dr. Satya mengelak dengan menyatakan Kaluna bukanlah pasiennya. Pernyataan itu kontradiktif dengan fakta bahwa Raka adalah pasien yang sebenarnya.

"Jangan bermain-main denganku, Dokter," desis Andrian, amarahnya kembali memuncak.

Dr. Satya melanjutkan, nadanya kini tegas dan melindungi. "Saya tegaskan sekali lagi, Nona Kaluna bukanlah seorang pasien, dia tidak ada riwayat kejiwaan. Saya tahu Anda memiliki kepentingan. Beberapa hari terakhir, beberapa orang menemui saya untuk meminta diagnosa, setidaknya membuatkan diagnosa palsu tentang penyakit yang diderita Kaluna."

Pernyataan Dr. Satya itu mengejutkan Andrian. Ada pihak lain yang juga mengincar kondisi mental Kaluna.

"Saya tegaskan sekali lagi bahwa Kaluna tidak memiliki riwayat penyakit apa pun," tegas Dr. Satya, tatapannya lurus ke Andrian.

"Saya juga tidak akan melanggar sumpah saya sebagai dokter dengan membuatkan diagnosa palsu. Jika Anda bersikeras, maka dokter lain di luar sana mungkin bersedia. Saya menyarankan Anda untuk mencari psikiater yang lain," ujar dokter itu lagi.

Andrian mengepalkan tangan, amarahnya meluap. Dokter ini berpikir Andrian adalah salah satu dari orang-orang rendahan yang mengincar diagnosis palsu.

Andrian segera menyangkalnya dengan cepat dan keras. "Apa katamu? Aku tidak serendah itu. Aku tidak membutuhkan diagnosa palsu, tapi mencari fakta," desis Andrian, meluruskan.

Andrian berdiri, membungkuk di atas meja. "Kaluna adalah calon istriku dan aku wajib tahu apa yang terjadi pada Kaluna."

Melihat gairah dan ketulusan mendadak dalam amarah Andrian, Dr. Satya menyadari bahwa Andrian berbeda dari para pengincar diagnosa palsu yang datang sebelumnya. Dia mundur sedikit dari posisi kerasnya.

"Saya minta maaf atas kesalahpahaman saya, Tuan Sugara," ujar Dr. Satya dengan nada lebih lembut, mengakui bahwa dia telah salah menilai niat Andrian.

Namun, wajahnya kembali serius, penuh perhitungan. "Meskipun demikian, saya tetap tidak bisa melanggar kerahasiaan. Dan... saya butuh bukti bahwa Anda adalah calon suami yang tidak akan menyakiti Nona Kaluna.”

“Apa maksudmu, Dokter Satya? Kau meragukanku?” tanya Andrian meunjukkan sedikit ketersinggungan.

“Maaf, Tuan Sugara, saya harus memastikan bahwa anda tidak akan mengeksploitasi informasi sensitif yang saya berikan. Karena selama ini, setiap orang yang mengklaim melindungi Kaluna, selalu berakhir menyakitinya," jelas Dr. Satya.

Andrian berdiri, membungkuk di atas meja. Dr. Satya menantangnya untuk membawa bukti ketulusan. Andrian sama sekali tidak mau menerima penolakan.

"Aku tidak butuh tantangan, Dokter. Aku butuh informasi!" desak Andrian. Ia kembali menegaskan posisinya.

Andrian menurunkan suaranya, membiarkan sedikit kerentanan muncul di matanya. Sebuah taktik yang sangat jarang dia gunakan.

"Dia akan menjadi istriku dalam hitungan minggu. Jika dia memiliki bahaya tersembunyi, itu akan menjadi ancaman bagiku juga. Apa kau tahu? aku mencintainya, Dokter," ujar Andrian, memaksa dirinya mengucapkan kata yang sulit itu.

Wajah Dr. Satya yang tenang akhirnya menunjukkan kelelahan. Dia menghela napas panjang, menyadari bahwa keteguhan Andrian tidak akan berhenti.

"Baik, Tuan Sugara. Saya akan bicara, tapi ini sangat rahasia," ujar Dr. Satya, memandang Leon untuk memastikan tidak ada perekam yang aktif.

Lalu dokter itu menjelaskan,

"Dulu, saat Nona Kaluna masih kecil, Tuan Ken Aji memang meminta saya untuk menangani masalah Kaluna, karena gangguan mental yang dia alami," ujarnya terjeda oleh nafasnya.

Andrian mengeras. "Gangguan mental apa?"

"Tapi itu hanya diagnosa Ken Aji sendiri. Setelah serangkaian pemeriksaan, saya langsung menolaknya. Karena tidak ada masalah kejiwaan yang serius pada Kaluna saat itu. Dia hanya seorang gadis kecil yang cemas karena tekanan keluarga dan lingkungan yang sangat tidak sehat," lanjut Dr. Satya.

Pernyataan itu mengonfirmasi kecurigaan Andrian. Trauma Kaluna bukan penyakit bawaan, melainkan sebuah hasil.

"Lalu kenapa Kaluna trauma sekarang?" tanya Andrian tajam.