Masih di dalam ruang konsultasi yang dingin namum menenangkan itu, Dr. Satya menunduk. Menghembuskan nafas perlahan untuk kembali melanjutkan pernyataannya.
"Tapi entah ada permainan apa dan siapa yang menjalankannya, Kaluna malah dikirim ke pusat rehabilitasi di luar negeri. Tapi, sebuah tempat yang saya duga kuat itu, malah berubah menjadi fasilitas penyiksaan dengan dalih pengobatan," ujar Dr. Satya lagi.
"Tuan Ken Aji sangat bersikeras bahwa Kaluna harus disembuhkan dari sifat pemberontaknya. Saya menolak terlibat, dan itulah mengapa saya tidak pernah menjadi psikiater resmi Kaluna," sambungnya.
Andrian menegakkan tubuhnya, amarahnya memuncak setelah mendengar tentang kesalahan Ken Aji dan fasilitas rehabilitasi itu.
"Fasilitas itu, beri aku namanya," perintah Andrian.
Dr. Satya menggeleng pelan, menghindari kontak mata.
"Nama fasilitas itu terlalu sensitif untuk diucapkan di sini. Tapi saya akan memberikan Anda petunjuk lain, yang mungkin menjelaskan mengapa saya begitu protektif terhadap privasi Kaluna."
Dr. Satya menunjuk ke sebuah foto kecil di mejanya, foto Raka dan seorang gadis kecil.
"Tidak lama setelah Kaluna dikirim ke luar negeri, tiba-tiba seorang pemuda remaja datang kepada saya," jelas Dr. Satya, suaranya kembali melembut.
Andrian dan Leon sama-sama menajamkan pendengaran.
"Pemuda itu bernama Jovanda Praka. Dia menceritakan tentang masalah Kaluna itu. Dia menjelaskan bagaimana Kaluna dipaksa tunduk, bagaimana dia disiksa. Raka tahu persis apa yang terjadi, karena dialah yang diam-diam mencoba menghubunginya," papar Dr. Satya.
"Raka, kerabat dekat Kaluna?" tanya Andrian skeptis.
"Bukan," jawab Dr. Satya. "Dia sama sekali tidak ada hubungan darah dengan Kaluna. Dia hanya seorang anak dari teman dekat ibu kandung Kaluna. Ikatan mereka adalah ikatan persahabatan murni, yang diperkuat oleh penderitaan Kaluna dan rasa empati Raka."
Dr. Satya memandang Andrian dengan serius.
"Raka datang dalam keadaan putus asa, mencari bantuan hukum, mencari bantuan medis. Dia adalah seorang remaja yang berusaha menyelamatkan teman masa kecilnya. Rasa kemanusiaan dan keberaniannya membuat saya tergerak untuk membantu Kaluna keluar dari neraka itu,” kata Dr. Satya lagi.
"Bagus, aku mengerti! Itulah mengapa Raka adalah walinya, dia yang membawa Kaluna keluar. Ternyata, dia adalah seorang pahlawan," batin Andrian.
Andrian berdiri, tubuhnya tegang oleh gelombang amarah dan realita baru tentang Ken Aji. Dia tidak bisa menerima deskripsi umum tentang fasilitas penyiksaan. Dia butuh detail.
"Fasilitas rehabilitasi itu, mengapa Anda menyebutnya neraka, hingga menyebabkan trauma bagi Kaluna?" desak Andrian, suaranya kini tertahan, dipenuhi urgensi untuk membalaskan dendam Kaluna.
Dr. Satya menghela napas panjang, menundukkan pandangannya. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa sakit yang mendalam. Seolah dia sendiri menyaksikan penderitaan itu.
"Tuan Sugara, ini bukan fasilitas rehabilitasi biasa. Ini adalah sebuah klinik eksperimental berkedok disiplin ketat. Kaluna dikirim ke sana untuk menghilangkan sifat pemberontak dan ketergantungan emosionalnya," jawab Dr. Satya, suaranya pelan dan berat.
Andrian terdiam, mendengarkan penjelasan Dr. Satya dengan serius. Mempersiapkan diri untuk fakta-fakta selanjutnya yang berpotensi memicu amarahnya lagi.
Dr. Satya melanjutkan, suaranya serak. "Di sana, Kaluna mengalami isolasi ekstrem, dipaksa menelan obat-obatan dosis tinggi yang mengubah perilakunya. Yang terburuk... mereka menggunakan terapi kejut listrik untuk memodifikasi memorinya."
Andrian dan Leon, yang selama ini diam di belakang, sama-sama tersentak.
"Itu adalah penyiksaan terencana," tegas Dr. Satya.
"Tanpa Ken Aji sadari, tujuan mereka bukanlah untuk menyembuhkan, tapi mematahkan jiwanya agar patuh total pada pihak yang mendominasi. Kaluna dibuat menjadi kelinci percobaan dalam ambisi orang-orang yang gila sains di sana," susulnya lagi.
Dr. Satya menunjuk ke sebuah buku tentang trauma kompleks di mejanya. "Trauma yang dialami Nona Kaluna bukan hanya karena satu peristiwa, tapi penyiksaan yang berlangsung secara berulang dan sistematis."
Andrian tidak lagi peduli pada Cassavanos atau perusahaan. Wajahnya mengeras, penuh dendam.
"Di mana fasilitas itu?" tanya Andrian, suaranya serendah dan sedingin mungkin.
Dr. Satya hanya menggeleng.
"Saya tidak punya nama yang pasti, Tuan. Hanya petunjuk negara dan jaringan gelap yang terlibat,” katanya.
Saya rasa sudah cukup waktu yang saya berikan, Tuan Sugara. Saya harus menangani pasien saya yang lain," ujar Dr. Satya mengakhiri interaksi menegangkan itu.
Andrian merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih santai. Mengulurkan tangan dan berkata, “Terimkasih banyak, Dr. Satya. Mohon maaf telah menganggu waktunya.”
Dr. Satya mencondongkan tubuhnya ke depan, nadanya penuh peringatan.
"Anda harus berhati-hati terhadap satu nama ini, Tuan Sugara. Hindari kontak langsung antara Nona Kaluna dengan seseorang yang bernama Marisa," ujar Dr. Satya, menyebut nama itu dengan penekanan berat.
"Marisa?" ulang Andrian, nama itu tidak asing.
Dia tahu Marisa adalah ibu tiri Kaluna. Sejak awal, wanita ini dan putrinya memang terlihat memiliki ambisi tersembunyi.
"Ya. Sejak awal, hanya Marisa yang paling ingin tahu keadaan Kaluna. Bukan karena peduli, tetapi karena dia adalah satu-satunya yang secara aktif mencari tahu kelemahan Nona Kaluna," jelas Dr. Satya.
"Raka menceritakan ini pada saya. Dia mencurigai Marisa terlibat dalam upaya untuk menekan Kaluna kembali ke kondisi trauma, atau bahkan... berusaha merusak mental Kaluna demi mendapatkan asetnya," lanjut Dr. Satya.
“Wanita ini, beberapa hari terakhir memang secara tidak langsung sempat memberi masalah pada Nona Kaluna,” sahut Andrian.
"Dan yang paling sensitif, Marisa adalah salah satu dari beberapa orang yang mencoba membayar saya untuk membuat diagnosa palsu tentang ketidakstabilan mental Kaluna, agar dia dicabut haknya secara hukum," katan Dr. Satya lagi.
Pernyataan itu mengonfirmasi kecurigaan Andrian tentang siapa saja yang menjadi musuh Kaluna. Marisa tidak hanya serakah, dia berbahaya.
Andrian mengangguk, tanpa perlu diperintah. Kini, misinya bukan hanya mencari kebenaran, tetapi melindungi Kaluna.
"Terima kasih, Dokter. Ini jauh lebih berharga daripada semua hal yang pernah kudapatkan selama ini," ujar Andrian.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Andrian berbalik. Dia sudah mendapatkan cukup. Dia melangkah keluar diikuti oleh Leon yang sudah siap dengan tumpukan tugas baru.
Andrian melangkah keluar dari klinik Dr. Satya, membiarkan pintu tertutup di belakangnya. Wajahnya kini tidak lagi menunjukkan amarah yang dangkal atau posesif. Yang ada hanyalah perhitungan dingin dan determinasi yang membara.
Leon segera menyusul langkah cepat bosnya menuju mobil yang diparkir di luar.
"Tuan Muda," ujar Leon, begitu mereka mencapai mobil. "Saya sudah mengatur tim pengawasan di sekitar apartemen Anda, dan saya sudah menghubungi tim IT untuk mulai melacak jaringan gelap fasilitas rehabilitasi."
Andrian mengangguk, membuka pintu mobil dan masuk ke kursi penumpang. Dia sangat fokus.
"Itu tidak cukup, Leon," perintah Andrian, suaranya pelan tapi tegas.
Leon segera masuk ke kursi di sebelah pengemudi.
"Kau punya dua misi utama sekarang," kata Andrian, menatap Leon lurus.
"Yang pertama, hubungi kontak gelap kita di Eropa dan Amerika Latin. Cari semua jaringan klinik rehabilitasi yang menggunakan terapi kejut listrik atau penyiksaan psikologis modifikasi perilaku. Fokus pada periode sepuluh tahun lalu, saat Kaluna direhab. Kita akan menemukan fasilitas itu dan menghancurkannya," ujar Andrian sambil mengacak-acak tabletnya.
"Yang kedua, pihak lain ingin diagnosis palsu. Marisa adalah ancaman nyata, bukan hanya kecemburuan yang dibuat-buat. Posisikan tim terbaikmu untuk mengawasi setiap pergerakan Marisa. Setiap panggilan telepon, setiap pertemuan. Jika dia melakukan gerakan sekecil apa pun yang mengancam Kaluna, aku ingin tahu segera," tambahnya.
Leon dengan cepat mengeluarkan tablet-nya, jemarinya bergerak lincah mencatat setiap detail. "Siap, Tuan Muda. Dan untuk Raka?"
Andrian bersandar di kursi, memijat pelipisnya. "Raka. Dia adalah benteng Kaluna. Untuk saat ini, jangan sentuh dia. Awasi saja. Aku butuh dia tetap tenang dan merasa aman di Ameerta, setidaknya sampai kita membongkar jaringan penyiksaan ini. Raka dan pengalihan kekuasaan itu memang sedikit gila, tapi kegilaan ini adalah tameng bagi Kaluna sendiri."
"Kita kembali ke apartemen, Leon!" seru Andrian.
Mobil melaju kencang, meninggalkan klinik Dr. Satya yang tenang. Andrian kini berada dalam permainan yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya.
Ini bukan lagi tentang uang. Ini adalah tentang menyelamatkan Kaluna dari trauma dan musuh-musuh yang bersembunyi.