Di malam yang sama saat Andrian bertemu Dr. Satya, Ken Aji tiba di sebuah club eksklusif. Jauh dari keramaian Jakarta Selatan. Dia memilih ruang VIP yang terisolasi total, tempat di mana kekayaan berbaur dengan rahasia.
Pintu ruangan terbuka. Maulidah melangkah masuk. Sosok elegan dengan sorot mata yang lembut. Ini adalah interaksi pertama mereka setelah puluhan tahun berlalu, sejak kematian Ferdinan.
Maulidah berdiri di ambang pintu. Memandang Ken Aji dengan tatapan menyejukkan. Dia memandang Ken Aji seperti anaknya sendiri.
"Ken, setelah dua puluh tahun, akhirnya kau memintaku datang," ujar Maulidah, suaranya pelan.
"Duduklah, Bu," ujar Ken Aji, nadanya lebih lunak dari yang dia tunjukkan pada siapa pun.
“Ada apa Ken? Mengapa tiba-tiba ingin bertemu?” tanya Maulidah perlahan.
"Langsung ke intinya saja, Bu. Kenapa kau merencanakan pernikahan Andrian dan Kaluna tanpa memberitahu aku terlebih dahulu?" tanya Ken Aji, langsung menusuk ke inti masalah, nadanya kini lebih terkontrol.
Maulidah memiringkan kepala. "Aku yang merencanakan? Aku mengira justru kaulah yang malah merencanakan ini.”
Ken Aji menghela napas panjang, kekhawatiran kini terlihat jelas di wajahnya.
"Mereka memang dijodohkan, Bu. Itu keputusan terakhir Ferdinan dan aku, untuk mempererat persahabatan kami, juga untuk memperkuat hubungan anatara Cassavanos dan Ken Aji Corporate. Tapi ini terlalu cepat," katanya.
Mendengar pernyataan Ken Aji, Maulidah langsung tersenyum tipis.
"Tapi bukankah itu bagus, Ken?" simpul Maulidah dengan nada santai.
"Mereka sudah menemukan jalan mereka sendiri. Andrian ingin segera menikah, dan Kaluna juga tidak menolaknya. Kita tidak perlu lagi mempersatukan atau membujuk mereka secara harfiah. Biarkan saja berjalan," sambungnya.
Tapi Ken Aji menggeleng keras, kekhawatiran yang dia rasakan jauh lebih dalam daripada sekadar bisnis.
"Tidak, Bu! Ini tidak bagus!" seru Ken Aji.
Ken Aji melanjutkan, nadanya penuh kekhawatiran. "Aku khawatir, pernikahan ini juga hanya sebuah cara untuk menutupi sesuatu. Mereka berdua punya rencana masing-masing. Andrian ingin menikahi Kaluna bukan untuk sebuah rasa hormat terhadap keputusan Ferdinan, tapi untuk menyerangku!”
Maulidah mengerti kekhawatiran Ken Aji. Dia meraih dan menggenggam tangan Ken Aji dengan lembut. Tetapi ada keyakinan kuat di matanya.
"Aku yakin pada Kaluna, Ken," ujar Maulidah dengan nada penuh makna.
"Ibu yakin bahwa gadis itu adalah cahaya. Dia tidak selemah yang kau kira. Dia yang akan memotong tali yang selama ini merantai dua keluarga besar. Melihat Kaluna, aku melihat sebuah harapan baru," maulidah melanjutkan.
"Tapi ini terlalu berat untuk putriku, Bu. Kau tahu, di baru kembali dari luar negeri dan sama sekali belum mengenal Andrian bahkan diriku, sebagai ayahnya sendiri. Aku takut, Andrian akan menghancurkannya untuk menghancurkan aku!" keluh Ken Aji.
Maulidah menggeleng. "Kau tenang saja, Ken. Aku akan mengurus segalanya. Selama ada aku, akan kupastikan Kaluna aman. Aku akan menjaganya, termasuk dari taring cucuku sendiri,” katanya.
Wajah Ken Aji yang tadinya tegang kini perlahan melunak. Dia menatap Maulidah, sebagai sosok yang paling dia percayai di luar lingkaran keluarganya.
“Baiklah, Bu. Sekali lagi, aku percaya kepadamu. Aku percayakan putriku padamu,” ujar Ken Aji yang akhirnya menyerah pada keputusan Maulidah.
Sementara di sisi lain kota, perjalanan Andrian dari klinik Dr. Satya kembali ke penthouse-nya terasa sangat singkat. Dipenuhi perintah-perintah yang dikeluarkan Andrian kepada Leon.
Sementara Leon sibuk menghubungi jaringan globalnya untuk melacak fasilitas rehabilitasi itu, Andrian hanya larut dalam diam. Menyerap semua kebenaran yang baru saja dia dapatkan.
Setibanya di lantai atas, dua pengawal berdiri sigap di depan pintu kamar tamu. Sesuai perintah Andrian untuk mengetatkan penjagaan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Andrian kepada pengawal itu, nadanya rendah.
"Aman, Tuan. Nona Kaluna tertidur setelah makan. Tidak ada pergerakan atau panggilan masuk," lapor pengawal tersebut.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Andrian membuka pintu kamar tamu dan masuk. Leon yang mengikutinya, tapi langsung berhenti di ambang pintu. Menghormati privasi bosnya.
Kamar itu remang-remang. Hanya diterangi cahaya sore yang masuk melalui tirai tipis. Kaluna terbaring di tempat tidur, terbungkus selimut tebal.
Andrian berjalan mendekat, berhenti di samping tempat tidur.
Dia melihat bagaimana gadis cantik itu terhanyut dalam tidurnya. Wajah Kaluna menghadap ke samping. Rambut hitamnya menyebar di atas bantal.
“Bagus, kau sudah jauh lebih baik sekarang, Nona Kaluna,” gumam Andrian.
Wajahnya sangat tenang dan damai, terlihat tanpa beban sedikit pun. Tidak ada lagi ketakutan yang merangkak di mata itu, tidak ada air mata, tidak ada bayangan histeria yang dia saksikan semalam.
Kaluna yang dilihatnya sekarang adalah Kaluna yang murni, lepas dari semua beban yang disebutnya C-PTSD dan penyiksaan.
Andrian menatap lama. Hanya dalam keadaan seperti inilah Kaluna tampak benar-benar tidak terjangkau.
Dia teringat kata-kata Dr. Satya, “Raka adalah jangkar emosional Kaluna.”
Dan dia teringat kata-kata Kaluna semalam, “Aku tidak ingin ke sana lagi, mereka jahat!”
Andrian mengulurkan tangannya, ragu-ragu di udara sejenak. Akhirnya, dia hanya menyentuh lembut helai rambut Kaluna yang jatuh di pipinya dan memindahkannya.
Da tahu tidur damai ini hanyalah ilusi. Di balik ketenangan ini, tersembunyi jurang yang menganga.
Andrian mundur perlahan. Dia tidak ingin membangunkannya.
"Leon," panggil Andrian, kembali keluar kamar dan menutup pintu dengan sangat pelan.
"Ya, Tuan Muda?"
"Aku tidak ingin dia tahu aku pergi ke Dr. Satya. Jaga semua informasi ini tetap rahasia. Aku akan mandi, lalu atur pertemuan dengan Tim IT di perpustakaan. Aku ingin melihat semua data yang kau temukan sebelum tengah malam."
"Siap, Tuan Muda."
Andrian berjalan menuju kamar pribadinya. Meninggalkan Kaluna dalam ketenangan palsu di dalam tidurnya itu. Misi penyelamatan Kaluna baru saja dimulai.
Setelah mandi kilat, dia tidak membuang waktu untuk beristirahat. Kepalanya terlalu penuh dengan nama Kaluna dan bayangan penyiksaan yang dialaminya. Dia langsung menuju ke meja kerjanya.
Dia tersenyum saat melihat tumpukan berkas yang diletakkan Leon di sana. Berkas-berkas itu tidak tebal, tetapi terlihat penting. Semua tercetak dengan label kerahasiaan tingkat tinggi.
“Leon, aku tidak pernah salah meilihmu,” pujinya sedikit tanpa didengar Leon.
Andrian duduk, menarik tumpukan map itu ke depannya. Berkas pertama berisi laporan ringkas dari tim pengawasan terhadap Kaluna, dan seluruh keluarganya. Berkas kedua adalah laporan keuangan Raka yang sudah disiapkan sebelumnya, tetapi kali ini ditandai beberapa bagian yang mencurigakan.
Andrian mengambil berkas ketiga, yang paling penting. Itu adalah resume dari Dr. Satya. Laporan itu mencantumkan bahwa klinik tersebut memiliki dana besar dari donor anonim, yang seringkali digunakan untuk membantu korban trauma yang tidak memiliki asuransi. Sebuah celah yang digunakan Raka.
Dia mengamatinya sebelum akhirnya kembali memanggil Leon. Andrian meraih telepon intercom di mejanya.
"Leon, masuk," perintah Andrian.
Hanya dalam beberapa detik, pintu ruang kerja terbuka dan Leon sudah berdiri sigap di ambang pintu.
"Ya, Tuan Muda?"
Andrian menunjuk berkas-berkas di meja. "Kau bekerja cepat. Data ini... apa yang membuatmu tertarik pada titik-titik ini?"
Leon melangkah mendekat, menunjuk ke laporan keuangan Raka.
"Tuan Muda, ada transfer dana rutin yang sangat besar dari Raka ke sebuah perusahaan fiktif di Zurich. Nama perusahaan itu, Phoenix Vault," ungkap Leon.
"Phoenix Vault?" ulang Andrian.
"Ya. Perusahaan itu sendiri tidak memiliki aktivitas selain menyimpan dana dan melakukan pembayaran tahunan ke sebuah alamat anonim di Eropa Timur. Saya menduga, Phoenix Vault adalah jalur pendanaan untuk fasilitas rehabilitasi itu. Raka membayar biaya bungkam atau biaya operasional untuk menjaga Kaluna tetap aman dari jarak jauh," papar Leon.
Andrian menganggukkan kepala, matanya menyala. Ini adalah koneksi yang kuat.
"Lacak Phoenix Vault hingga ke intinya, Leon. Cari tahu siapa pemilik sebenarnya dari fasilitas di Eropa Timur itu. Lalu," Andrian mengambil berkas lain sebelum akhirnya menutupnya kembali.
“Percepat pesiapan pernikahanku dengan Kaluna,” ujarnya mantap.