Andrian tidak lagi ragu. Pernikahan ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang cara tercepat untuk melindungi Kaluna dan membalas dendam pada Ken Aji serta siapapun yang menyakitinya. "Aku ingin pernikahan itu dalam waktu dua minggu."
"Dua minggu, Tuan Muda?" Leon terkejut. Itu waktu yang sangat singkat untuk mempersiapkan pernikahan antar dua keluarga besar.
"Ya, dua minggu. Aku akan mengurus surat-surat hukumnya. Kau urus logistiknya," Andrian menatap tajam.
“Baik, Tuan!”
Keputusan Andrian untuk mempercepat pernikahan menjadi dua minggu mengirimkan gelombang kejut di antara stafnya, terutama Leon. Dan memaksa Ken Aji serta Maulidah untuk segera menyesuaikan rencana mereka.
Leon segera memobilisasi tim event organizer tersembunyi yang biasanya menangani acara-acara diplomatik atau pengambilalihan perusahaan, bukan pernikahan. Target Andrian jelas, pernikahan harus terjadi sebelum ada yang bisa menghentikannya atau menggunakan status lajang Kaluna untuk keuntungan mereka.
Di hari yang sama, Leon melaporkan kembali kepada Andrian.
"Tuan Muda, surat permohonan pernikahan darurat sudah diajukan ke kantor catatan sipil, mengacu pada kondisi bisnis mendiang Tuan Ferdinan. Kami menggunakan wasiat sebagai dasar percepatan," jelas Leon melalui panggilan video terenkripsi, sementara Andrian berada di ruang kerja.
"Bagaimana respons Ken Aji?" tanya Andrian dingin.
"Awalnya dia menolak keras, Tuan. Dia menuntut agar pernikahan ditunda tiga bulan. Namun, Oma segera turun tangan. Beliau menelepon Tuan Ken Aji dan, setelah pembicaraan tertutup, Tuan Ken Aji menyetujui percepatan ini. Oma juga yang akan mengurus semua logistik dari pihak Ken Aji Corporate."
Andrian mengangkat alisnya. Maulidah bergerak lebih cepat dari yang dia duga. Dia menghormati langkah strategis Maulidah.
Sejatinya, dia sadar telah melakukan kesahalan terhadap Maulidah. Di mana dia telah membuat Maulidah menjadi sangat antusias untuk pernihakannya, sementara pernikahan itu hanyalah sebuah taktik baginya.
"Baik. Fokuskan semua sumber daya untuk menjamin keamanan Kaluna, terutama saat kita berinteraksi dengan pihak Ken Aji. Jangan biarkan Marisa mendekat," perintah Andrian.
Sementara itu, Kaluna di apartemennya hidup dalam dunia yang sangat berbeda. Dia tahu pernikahannya akan terjadi dalam waktu dekat, tetapi tidak menyangka akan secepat ini. Pihak Maulidah mengirimkan tim penata rias dan perancang busana terbaik.
Kaluna menatap dirinya di cermin, mencoba gaun pengantin yang mahal dan indah, tetapi terasa asing di tubuhnya.
"Gaun ini sangat indah, Nona. Desainer terbaik di Paris yang membuatnya," kata perancang busana dengan bangga.
Kaluna hanya tersenyum tipis. Gaun itu memang sempurna, tapi bukan miliknya.
"Bisakah aku tidak memakai ini?" tanya Kaluna tiba-tiba, membuat tim itu terkejut.
"Maaf, Nona Kaluna? Ini adalah pilihan terbaik yang sudah disetujui Nyonya Maulidah—"
"Meski pernikahan ini bukan atas dasar cinta," potong Kaluna, pandangannya tertuju pada cermin, di mana dia melihat bayangan dirinya sendiri yang juga sebagai seorang desainer. "Tapi impianku sejak kecil adalah memakai gaun yang aku buat sendiri."
Kaluna membalikkan badan, matanya memohon. "Ini satu-satunya hal yang bisa kubawa dari diriku yang dulu ke pernikahan ini. Bisakah kalian memberiku waktu dua belas hari? Aku janji gaun itu akan sempurna dan siap tepat waktu."
Tim itu ragu. Ini adalah pernikahan dua keluarga terbesar, tidak ada tempat untuk improvisasi. Namun, Kaluna berdiri tegak, memancarkan aura ketegasan yang tak terbantahkan.
Tim penata rias dan perancang busana saling pandang. Ekspresi mereka jelas menunjukkan kebingungan dan kegelisahan. Permintaan Kaluna melanggar protokol standar dalam persiapan pernikahan sebesar ini.
"Nona Kaluna, kami mengerti sentimen Anda," ujar perancang busana itu dengan hati-hati, berusaha menjaga profesionalisme. "Tetapi pernikahan ini akan melibatkan empat perusahaan besar. Pernikahan ini akan diliput media internasional. Setiap detailnya harus sempurna. Kami tidak bisa mengambil risiko—"
"Tidak ada risiko," potong Kaluna lagi, suaranya pelan namun tegas. Keahliannya sebagai desainer telah ia kubur dalam-dalam, namun jiwa seninya menolak untuk mati.
"Aku seorang desainer, dan aku berani menjamin bahwa gaun yang kubuat akan lebih dari sempurna, dan akan selesai tepat waktu. Jika kalian tidak percaya, hubungi Tuan Sugara. Katakan padanya, ini syaratku. Aku akan menikah dalam dua minggu sesuai permintaannya, tapi aku akan mengenakan gaun yang kurancang sendiri."
Kepercayaan diri Kaluna yang tiba-tiba meluap membuat tim itu terdiam. Mereka tahu bahwa Maulidah yang mengurus segala logistik pernikahan ini. Setelah beberapa saat berhenti, sang perancang busana menghela napas, menyadari bahwa mereka tidak punya pilihan selain menuruti permintaan Kaluna atau melaporkannya ke atasan yang berkuasa.
Di ruang kerjanya, Andrian mendengarkan laporan Leon.
“Tuan Muda. Semuanya sudah diatur sesuai jadwal yang anda minta. Tapi, ada satu masalah baru… perancang busana kiriman Oma melapor bahwa Nona Kaluna menolak gaun yang disiapkan dan meminta waktu dua belas hari untuk menjahit gaunnya sendiri," ujar Leon.
Andrian terkejut. Dia tahu Ameerta Corporate adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fashion dan busana internasional. Namun itu permintaan yang sungguh di luar kendali.
“Tuan Muda, Nona Kaluna menyebut itu adalah sebuah syarat untuk pernikahan ini. Tapi, apakah ini ide yang bagus? Waktu dua belas hari sangat mepet untuk gaun pernikahan yang baru akan dirancang. Ini berpotensi menunda segalanya," kata Leon.
Andrian tersenyum tipis, sebuah senyum yang jarang sekali terlihat. Senyum itu bukan karena lega, melainkan karena ada rasa kagum yang tak terduga.
Andrian tiba-tiba bangkit dari duduknya. Matanya yang tajam memancarkan urgensi yang belum pernah Leon lihat sebelumnya. Melebihi kekhawatiran bisnis sekalipun.
Tiba-tiba, pintu kamar Kaluna terbuka tanpa ketukan. Andrian masuk. Didampingi oleh Leon yang tampak serba salah.
Tim desainer dan penata rias itu terkejut dengan kehadiran Andrian di kamar Kaluna, mereka segera membungkuk hormat.
"Tuan Muda..." ucap perancang busana itu terbata-bata.
Andrian mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka diam. Pandangannya langsung tertuju pada deretan gaun mewah dan wajah Kaluna yang tegang.
"Ada apa dengan gaun-gaun mewah yang baru saja kau tolak ini?" tanya Andrian dingin, matanya tertuju pada Kaluna.
Kaluna membalas tatapan mata itu.
"Gaun-gaun itu memang berharga, Tuan Sugara, tapi milikku sendiri akan lebih tidak ternilai," ujarnya.
Andrian berjalan mendekat, kini berdiri tepat di depan Kaluna.
"Ini syarat pernikahan yang kau mau? Kau hanya punya waktu kurang dari dua minggu sebelum pernikahan. Apa ini artinya, hanya mengulur waktu untuk menghindari pernikahan ini, kan?" tuding Andrian, nada suaranya penuh kecurigaan.
Kaluna menatapnya lurus, tidak gentar dengan tatapan mengintimidasi Andrian.
"Aku tidak mengulur waktu. Aku hanya perlu dua belas hari untuk mewujudkan gaun itu. Ini adalah satu-satunya hal yang kuminta sebagai kendali dalam hidupku saat ini," ujar Kaluna dengan jelas.
Kaluna menarik napas dalam, lalu memberikan janji yang berani, mengubah taruhan pernikahan ini menjadi taruhan pribadinya.
"Dengarkan aku baik-baik, Tuan Sugara. Jika dalam waktu dua belas hari itu aku gagal... maka aku bersedia untuk menggunakan gaun pilihanmu. Gaun mana pun yang kau pilih. Dan pernikahan ini tetap akan terjadi," ujar Kaluna lagi.
Janji itu, dengan risiko yang diembannya, mengejutkan semua yang mendengarnya, termasuk Andrian. Itu adalah bukti bahwa Kaluna serius dan tidak berniat melarikan diri.
Andrian menatapnya lama. Dia melihat tekad yang membara di mata Kaluna, bukan kepanikan seorang pengantin yang menghindar.
Dia tersenyum tipis, senyum yang jarang dan dingin, namun mengandung persetujuan. "Baiklah," katanya. "Gaun Paris itu akan kutinggalkan di sini. Dan aku akan memintamu memilih gaun dari koleksi pribadiku sebagai cadangan."
Ia menoleh ke tim desainer. "Kalian semua keluar. Kirim semua perlengkapan dan bahan terbaik yang dibutuhkan Nona Kaluna!”
Tim itu membungkuk dan segera meninggalkan ruangan.
“Tidak perlu repot-repot, Tuan Sugara. Aku hanya butuh ponselmu,” ujar Kaluna membuat Andrian kembali memusatkan perhatian padanya.
Andrian mengangkat alisnya, bingung. "Ada apa? Aku akan meminta Leon menyiapkan ponsel baru untukmu.”
"Tidak sempat," jawab Kaluna cepat.