Mimpi Pernikahan

Penulis Yoonna
20 October 2025

Setelah keheningan mendominasi untuk beberapa saat, Kaluna menarik nafas dan kembali menatap ke wajah Andrian yang kini mempertanyakan tentang alasannya meminjam ponsel itu.

"Aku butuh menghubungi orang kepercayaanku sekarang. Ada beberapa barang yang kuperlukan, dan hanya ada di ruangan pribadiku.”

Andrian menimbang. Kemudian, tanpa menunjukkan emosi apa pun, Andrian melangkah kembali ke Kaluna. Dia langsung menyerahkan ponselnya ke tangan Kaluna.

Kaluna langsung menelpon nomor perusahaannya. “Halo, ini aku. Aku butuh bantuanmu segera,” ujar Kaluna setelah panggilan telepon itu terangkat.

Tidak terdengar jelas apa yang dikatakan oleh orang di seberang telepon itu, tapi Kaluna terlihat kesal saat mendapatkan tanggapan darinya.

“Itu tidak penting. Dengarkan baik-baik. Pergi ke ruangan pribadiku sekarang. Sampaikan pada Praka terbelih dahulu, dia punya kunci cadangan. Akses brankas pribadiku di sana. Aku butuh kamu mengambil seluruh isi brankas itu,” ujar Kaluna lagi.

Andrian, yang berdiri di samping Kaluna, hanya mendengarkan. Ekspresinya tidak berubah.

Kaluna menarik nafasnya setelah mungkin mendapatkan kembali respon dari orang di seberang telepon itu.

“Jangan buang waktu, segera kirim barang-barang itu ke alamatku sekarang juga!” pinta Kaluna sebelum mengahiri telepon itu.

"Terima kasih," ujar Kaluna singkat seraya mengembalikan ponsel itu ke tangan Andrian.

Andrian menerima ponselnya. Wajahnya tetap tenang, tetapi tangannya menggenggam ponsel itu sedikit lebih erat dari biasanya.

Dia telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana, Kaluna menggunakan wewenangnya dengan cepat, efisien, dan tanpa emosi.

Andrian kemudian berbalik dan berjalan keluar kamar. Dia tidak kembali ke ruang kerjanya. Dia berdiri bersandar di dinding koridor private apartemen itu.

Leon, yang baru saja menerima banyak instruksi dari Andrian, kini mendekat.

"Tuan Muda," kata Leon, suaranya dipenuhi rasa tak percaya. "Nona Kaluna menggunakan ponsel Anda... di depan Anda. Dan hanya untuk urusan brankas itu."

Andrian menatapnya, menunggu tanggapan lain. Tapi tidak ada lagi.

"Selama ini… tidak ada yang boleh meminjam bahkan hanya menyentuh ponselnya. Tapi hari ini, dia memberikannya dengan sukarela kepada Kaluna. Untuk pertama kalinya, dia menuruti permintaan kecil seorang wanita. Apa ini artinya..." Leon membatin sambil menggelengkan kepalanya.

Tapi sebelum Leon menyelesaikan kalimat dalam lamunannya, Andrian kembali mengeluarkan mandat untuknya.

"Prioritaskan brankas itu, Leon. Pastikan barang-barang itu tiba di kamar Kaluna tanpa ada yang menyentuhnya. Mengerti?" pinta Andrian, nadanya dingin dan dominan.

"Mengerti, Tuan Muda!" jawab Leon.

Kekaguman Leon tidak hilang, tetapi dia segera bergerak untuk melaksanakan perintah.

Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar empat puluh menit, Leon menerima notifikasi keamanan dari lobi private apartemen.

"Tuan Muda," Leon melapor kepada Andrian, yang masih berdiri di koridor. "Barang yang diminta Nona Kaluna sudah tiba."

Andrian hanya mengangguk. "Pastikan prosedur keamanannya ketat!"

Leon segera bergegas ke lobi private. Di sana, dia bertemu dengan dua anggota tim keamanannya yang berdiri tegap di samping sebuah brankas hitam kecil. Namun, yang lebih mengejutkan, Jean Praka juga datang bersama dengan mereka.

Jean Praka, dengan setelan bisnisnya yang rapi namun sedikit berantakan, tampak tegang. Dia bukan sekadar mengantar, dia terlihat seperti komandan militer yang mengawasi pengiriman senjata.

Di sampingnya berdiri seorang staf yang tampak pucat, yang diyakini Leon adalah staf yang Kaluna instruksikan.

"Tuan Praka?" Leon melangkah maju, terkejut.

Jean Praka tidak mau repot-repot menyapa dengan basa-basi. Sementara Leon memberi isyarat kepada timnya untuk mulai memindahkan brankas itu.

Leon ragu. Tidak ada orang luar yang diizinkan masuk ke koridor private Andrian.

“Tuan Muda, ada Jean Praka di sini. Dia datang bersama para staf yang mengantar barang Nona Kaluna,” ujar Leon sambil berbisik melalui earpiece-nya.

Setelah mendapatkan jawaban dari Andrian, Leon mengangguk.

"Baik, Tuan Muda. Tuan Praka, mari ikut saya," kata Leon.

Di koridor, Andrian masih berdiri di samping pintu. Dia melihat Leon dan Jean Praka datang, dengan dua pengawal membawa brankas di belakang mereka.

"Tuan Sugara," sapa Jean Praka memberi hormat sekilas kepada Andrian.

Andrian mengangguk, mengabaikan formalitas yang tidak perlu. "Masuklah. Kaluna sudah menunggu di dalam."

Jean Praka mengangguk. Dan langsung masuk ruangan yang dibuka oleh Andrian.

“Praka! Bagus kau juga datang. Ada banyak hal yang harus kusampaikan,” ujar Kaluna yang kemudian menoleh ke Andrian.

“Tuan Sugara, bisa aku berbicara dengannya sebentar?” tanya Kaluna pada Andrian.

“Tanpaku? Hal sepribadi apa?” selidik Andrian merasa sedikit tersinggung.

“Tuan Sugara, jangan mulai dramamu lagi. Ini tentang privasi perusahaanku,” pinta Kaluna.

Andrian tersenyum tipis, senyum yang mengandung rasa hormat yang baru ditemukan.

“Baiklah, lima belas menit,” ujar Andrian yang langsung keluar dari kamar Kaluna.

Saat pintu akan menutu, Kaluna sempat menangkap tangan leon yang secara diam-diam meletakkan sesuatu di meja riasnya. Kaluna tahu, percakapannya dengan Raka mungkin akan diawasi.

”Kuaci? Ada banyak kuaci di ruang kerjaku,” ujarnya memberi isyarat tentang adanya kamera pengawas pada Raka.

Raka dan Kaluna adalah satu kesatuan yang sudah terlatih dan juga cerdik. Isyarat-isyarat tidak biasa memang sudah mereka persiapkan untuk berbicara di belakang musuh.

“Tapi kuaciku yang paling berharga akan segera menjadi seorang istri dalam waktu dekat,” ujar Praka yang mendekati Kaluna sambil menyingkirkan rambut Kaluna yang menutupi wajahnya.

Benar dugaan Kaluna, Andrian memasang kamera tersembunyi untuk mengawasinya.

“Beraninya dia!” ujar Andrian yang ternyata mengawasi mereka di ruangan lain dan terlihat marah.

“Tenang, Tuan Muda. Bukankah kita butuh informasi lebih dari ini?” ujar Leon menenangkan bosnya itu.

Sementara masih di kamarnya, Kaluna masih terlihat berbincang serius dengan Raka. Terlihat sebuah ikatan kuat di antara keduanya.

“Benar Raka, aku tidak percaya bahwa aku akan segera menikah sebentar lagi,” ujar Kaluna menanggapi pernyataan Raka.

Raka tersenyum lega. Dia sadar, bahwa dia harus mengalihkan topik pembicaraan sepenuhnya. Memastikan mikrofon pengawas itu menangkap percakapan yang tidak berbahaya.

Jean Praka berjalan mendekat, menyentuh tepi brankas hitam itu.

"Aku ingat saat kau menceritakan tentang sebuah pernikahan yang kau impikan, Kaluna. Kau sering menjahit di tengah malam, hanya untuk menghasilkan gaun pengantin yang baik untuk kau pakai di hari pernikahanmu sendiri,” ujar Raka.

Dia menarik nafasnya, mendekap pipi Kaluna dengan kedua tangannya.

“Aku tidak percaya, waktu begitu cepat berlalu. Adik kecilku yang selalu ingin kulindungi ini sekarang sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang Tangguh,” susul Raka yang hampir menitikkan air matanya saat menatap Kaluna.

Kaluna tersenyum tipis, sebuah emosi yang tulus di tengah sandiwara ini. "Kau selalu menjadi kakak yang baik, Praka."

"Aku hanya berharap," lanjut Raka, suaranya mengandung harapan yang tulus, " Tuan Sugara itu akan bisa menggantikanku untuk menjagamu dengan baik."

Kaluna berbalik memunggungi Raka. Dia menyentuh kain sutra di dalam brankas itu. Keheningan di kamar itu terasa mencekik. Tiba-tiba hatinya memaksanya menghadapi kenyataan pahit.

"Pernikahan ini memang bukanlah pernikahan yang diatur atas nama cinta, Raka. Tapi setiap wanita pasti menginginkannya," ujar Kaluna, suaranya mencekat.