His Contract Bride - Partner in Crime - Bab 15

Penulis Rei_Moira
09 September 2025

“Jaga mulutmu, Kael Vireaux!” Emosi Aurora terpancing karena kalimat itu.

Kael menyipitkan mata. “Kau yang harus menjaga attitude-mu, Nyonya Vireaux.”

“Hei! Kau yang harusnya menjaga attitude-mu. Dan lagi… wait, kau bilang sudah tahu siapa aku dengan cara yang santai. Apa yang sudah kau rencanakan, Vireaux??”

“Aku suamimu, Rora. Mana sikap hormatmu?” Suara Kael berat, nyaris bergetar ke nada terendahnya.

Aurora berdecak kasar. “Ok… Husband! Jelaskan kenapa kau masih menikahiku ketika tahu bahwa aku adalah putri dari Isabelle Lambert? Kau sengaja?”

Kael tak segera menjawab. Dengan gerakan elegan, ia berdiri dan berjalan beberapa langkah menuju dinding kaca di sisi kiri ruangan. Kota Vallmont terlihat jelas dari sana. Baru ketika ia mendengar Rora mendengus kasar, tumitnya memutar. Kini ia menatap tajam ke arah istrinya itu.

“Kau benar. Aku sengaja menikahimu karena kau adalah putri dari Isabelle Lambert.”

Aurora tak habis pikir. “But… why?”

Kael kembali ke sofa tempat ia duduk sebelumnya. Kakinya menyilang, tampak lebih angkuh dari sebelumnya. “Untuk balas dendam.”

Aurora terdiam sejenak, berusaha mencerna jawaban gamblang dari pria angkuh di hadapannya. “Balas dendam??”

Alis Kael mengedik cepat. Tawanya terlihat sinis—bukan untuk Aurora, melainkan untuk dirinya sendiri.

“Rencana awalnya seperti itu. Membuatmu jatuh cinta padaku, bergantung padaku, lalu aku akan membuangmu.”

“Sialan! Kau—”

“Dan itu adalah rencana awal yang telah berubah sejak kau terlihat cukup berguna untukku.” Kael memotong kalimat Aurora. Kepalanya miring sedikit, sorotnya tegas memperhatikan ekspresi wajah Aurora yang berubah tiap detiknya.

Pundak Aurora tak lagi bisa tenang. Ia berdiri cepat, cukup kasar. Jika saja ia bisa menonjok batang hidung sempurna milik pria itu, sudah pasti akan ia lakukan. Namun ia masih memiliki akal sehat karena tak ingin menyakiti manusia lain. Tidak seperti pria brengsek di hadapannya itu.

“Kau menganggapku mudah, Tuan Vireaux?” desis Aurora, nyaris menggeram.

“Nope,” Kael terkekeh pelan. “Kau tidak mudah. Kau memiliki pesona sendiri, apalagi saat kau berbicara dengan Bastien semalam.”

“Kau memanfaatkanku!”

“Bebas kau menyebutnya seperti apa.”

Kael kini ikut berdiri, perlahan mendekat sampai berada tepat di hadapan Aurora. Pria itu menyeringai tipis ketika sedikit menunduk, berusaha menjangkau kedua mata Aurora yang penuh dengan kekecewaan.

“Tapi yang harus kau tahu, Rora… kau juga telah memanfaatkanku.”

Suara Kael nyaris berbisik, meremangkan diri Aurora yang membeku perlahan.

“A-apa maksudmu?” Entah kenapa, suara Aurora menjadi tergagap. Sial, ini bukan bagian dari rencana!

“Aku membayar lunas utangmu, memberimu tempat tinggal, mengirim uang bulanan, dan menyiapkan sebuah apartemen lengkap dengan isinya setelah nanti kita bercerai.” Kael menyelipkan anak rambut Aurora yang jatuh dengan tangan kanannya. “Itu juga bisa disebut sebagai memanfaatkanku. Honey.”

Sialan.

Aurora tak bisa mendebatnya karena semua yang dikatakan oleh Kael memang benar. Lagipula, memang perbuatan ibunya tidak bisa dibenarkan, dan ia merasa wajar jika Kael sampai ingin balas dendam padanya.

Ia menepis tangan Kael pelan, lalu membalas tatapan pria itu tanpa ragu. “Ok, aku bisa mengerti. Tapi… kenapa kau dengan mudah berubah pikiran? Apa hanya kau pada akhirnya melihat ‘potensi’ yang ada pada diriku?”

Satu seringai tipis tersungging di salah satu sudut bibir Aurora. Ia menepis rasa gugup dan terkejut yang sempat mengganggu.

Sementara Kael… ia mengetatkan rahang, tampak enggan mengatakan jawaban dari pertanyaan Aurora.

“Sudah kubilang kau ternyata berguna. Dan ya… kau memang memiliki potensi untuk membuat orang lain merasa tidak nyaman.”

Kael berdeham pelan, lalu berbalik dan kembali duduk di sofa. “Duduklah, kita bicarakan hal apa yang membawamu kesini.”

Wajah Aurora tertekuk kesal. Ia ingin sekali melemparkan bogemnya pada Kael. Namun ia pun juga sadar, jika ia melakukan hal itu, yang ada jari-jarinya akan patah karena rahang pria itu terlalu keras—sekeras sikapnya.

Aurora duduk—dengan mendengus kasar. Ia merogoh tas dan mengeluarkan kertas lusuh bertuliskan, ‘Jika kau tak meninggalkan Kael Vireaux secepatnya, kau akan bernasib sama dengan Isabelle dan Mireille.’

Tanpa mengeluarkan kata-kata, ia menyerahkan lembar lusuh itu pada Kael. Apa yang tertulis di sana sudah menjelaskan segalanya.

Kening Kael mengerut dalam ketika membacanya. jempolnya mengusap bercak darah yang telah mengering. Wajah dingin yang selalu menjadi harga dirinya, langsung menegang. Barisan kata di kertas itu, jelas sebuah ancaman yang serius.

Kael meletakkannya perlahan, seakan itu adalah hal yang tak ingin ia sentuh berlama-lama. Namun meskipun begitu, sorotnya tetap mengekor, memperhatikan kata demi katanya.

“Aku yakin Bastien Vireaux yang melakukannya!” Tak ada keraguan pada kalimat Aurora.

Kael mengangguk perlahan. “Tapi kita tak memiliki bukti.”

“Bukankah kita bisa mencari tahu dari rekaman CCTV di lorong penthouse?”

“Dan apakah kau sebegitu bodohnya dengan mengira bahwa Bastien sendiri yang menyelipkan itu di sana? Dia bukan tipe orang yang mau mengotori tangannya sendiri, Rora.”

“Tapi setidaknya kita bisa membaca pola dan hubungan dari ancaman ini jika tahu siapa yang mengirimnya, kan??”

Kael menghela napas panjang. Ia menunduk sejenak, lalu kembali menatap Aurora. “Tidak ada CCTV di lorong karena aku melarangnya. Aku tidak ingin privasiku dilihat orang lain.”

“Unbelievable—”

“Tapi kita bisa mengetahuinya dari CCTV lift. Hanya saja, itu akan membuang waktu.”

Aurora menyipitkan matanya. “Kenapa begitu?”

“Kita sudah tahu siapa yang mengirim ancaman itu, Rora. Jadi buat apa mencari tahu dari siapa yang mengirim selembar kertas menjijikkan itu? Langkah itu hanya akan dilakukan jika kita tidak tahu siapa pengirim sebenarnya dari ancaman itu.” Kael menyilangkan kakinya, seringainya tampak meremehkan.

Aurora terdiam sejenak. Benar juga. Semua yang ia katakan justru akan membuang-buang waktu. Ah, rasanya menyebalkan karena terlihat bodoh di depan Kael, sialan!

“Jadi… apa rencanamu?”

Satu alis Kael terangkat rendah. “Kau mau tahu rencanaku? Setelah mengetahui fakta bahwa aku memiliki balas dendam padamu?”

“So what?? Aku bahkan tak peduli dengan rencana balas dendammu. Dan aku tidak sedang jatuh cinta padamu. Itu artinya, balas dendammu itu tidak akan pernah bisa berhasil, Husband.”

Kilatan tajam tampak di mata Kael, seiring dengan rahangnya yang mengetat. “Kau akan menyesalinya.”

“Aku?” Aurora mendengus. “Never! Cepat katakan, apa rencana kita?”

Kael menggeram rendah. Ia tak biasa berada di situasi yang membuatnya kewalahan seperti ini. Berbicara dengan Aurora berhasil menguras tenaganya.

“Tetaplah di sisiku,” ujar Kael, dengan nada bicara lebih rendah dari sebelumnya.

“Sorry?” ulang Aurora, alisnya bertaut.

“Rencananya adalah kau tetap berperan sebagai istriku. Buat ancaman itu hanya angin lalu, dan tunjukkan kemesraan kita di depan semua orang.” Kael mengulanginya dengan lebih detail.

“Itu bagian dari rencana atau hanya keinginanmu saja, Husband?”

Kael tertawa pelan. Sorot matanya menajam saat kembali memperhatikan Aurora. “Kau ingin bermain api, bukan? Dan aku menyalakan bara untukmu dengan memberiku ruang untuk selangkah lebih dekat di sisiku. Dengan begitu, Bastien Vireaux akan terpaksa bermain agresif, dan kita bisa menemukan bukti kuat untuk itu.”

“Kau menjadikanku umpan!”

“Ya, kau benar.” Kael tersenyum. “Jadi, kau masih mau bermain bersamaku, Sayang?”

Aurora mendengus pelan, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa sambil tangan bersilang di dada. “Fine. Nyalakan baranya, akan kubuat apinya berkobar.”

Aurora lalu berdiri, gerakannya perlahan mengarah ke arah Kael yang masih terduduk. Dalan gerakan cepat, ia menunduk, berbisik tepat di telinga Kael. “Tapi, Husband… jangan salahkan jika kau ikut terbakar di dalamnya.”

Kael terdiam, sementara Aurora menegakkan badannya, lalu melangkah begitu saja menuju pintu. Sebelum benar-benar mendorong pintu itu, ia kembali menoleh sambil tersenyum lebar. “Aku tunggu makan malam di penthouse, Husband.”

Alis Kael berkedut pelan. Ia hanya menatap Aurora sampai wanita itu menghilang dari balik pintu. Segera setelah itu, ia menghela napas panjang. Jantungnya berdebar kencang, ia hampir goyah di hadapan Aurora.

“Kau sungguh membuatku gila, Rora.”