Jeritan Kaluna Kecil

Penulis Yoonna
20 October 2025

Air matanya mulai menetes. Kaluna tidak bisa menahannya lagi, dia membiarkan Raka melihat kerapuhannya yang tersembunyi sekali lagi.

"Aku masih memimpikan tentang pernikahan seperti yang aku inginkan dulu," lanjut Kaluna, suaranya kini dipenuhi kesedihan yang mendalam.

“Aku bermimpi menjadi seperti seorang putri dalam kisah dongeng, mengenakan gaun yang paling indah, dan melangsungkan pernikahan di sebuah padang rumput hijau ada bunga dan pohon-pohon besar di depan sebuan sungai kecil dibawan langit biru. Di mana semua orang menyaksikan kami menari dengan indah, dihiasi oleh angsa-angsa yang juga ikut menari."

Kaluna menggelengkan kepalanya, air mata membasahi pipinya. Dia tahu harapan itu tidak akan terwujud saat ini. "Aku harus membuang mimpi itu jauh-jauh, Raka. Tidak ada angsa, tidak ada bangunan kaca. Hanya janji dan pertarungan."

Jean Praka membiarkan keheningan mengambil alih. Dia tidak berusaha menyentuh Kaluna, tahu bahwa apa yang Kaluna butuhkan saat ini bukanlah sentuhan, melainkan pengakuan atas rasa sakitnya.

"Mimpi itu tidak akan hilang, Kaluna," ujar Raka lembut.

Kaluna menutup mata, merasakan air mata membasahi pipinya. Dia tahu harapan itu tidak akan terwujud saat ini. Tidak ada air mata yang boleh tumpah di atas kain gaun ini. Gaun ini haruslah sempurna, kering, dan kuat, sama seperti dirinya.

Dengan taruhan yang ia buat, ia tidak punya waktu untuk berduka. Dia menyeka air matanya dengan punggung tangan, mengambil napas dalam-dalam, dan meraih seam ripper.

Suara seam ripper yang mulai merobek jahitan gaun lama itu memecah keheningan, menandai dimulainya hitungan mundur Kaluna.

Dia harus berjuang, tidak hanya untuk Ameerta dan kebebasannya, tetapi juga untuk gaun itu. Satu-satunya hal yang tersisa dari dirinya yang dulu.

"Sudah selesai?" tanya Andrian yang tiba-tiba kembali masuk ke kamar Kaluna tanpa mengetuk pintu.

“Tuan Praka, kita perlu berbicara,” ujar Andrian menatap Praka, matanya menyampaikan sebuah urgensi yang tidak bisa dihindari.

Kaluna dan Praka saling pandang. Mungkin ini tentang interaksi mereka saat berdua tadi. Tapi Praka menyimpulkan sedikit senyuman di wajahnya.

"Tentu," jawab Praka.

Andrian menoleh sekilas ke Kaluna, yang kini fokus pada gaunnya.

Andrian berbalik, keluar dari kamar. Praka mengikutinya. Pintu kamar itu tertutup di belakang mereka.

Andrian, Praka dan Leon berjalan cepat menuju ruang Andrian yang terletak di sayap lain apartemen. Ruangan itu didominasi oleh layar-layar besar yang memantau pasar global dan keamanan cyber.

"Duduk," perintah Andrian, langsung menuju meja kerjanya.

Jean Praka tidak langsung duduk. Dia berdiri di tengah ruangan, matanya melirik ke arah Leon dan monitor. Dia segera menyentuh earpiece yang terpasang samar di telinganya.

"Sekarang!" kata Praka tanpa ada tambahan kata lain.

Perintah itu terdengar sangat singkat, tetapi tegas dan final. Dia melepaskan sentuhan dari earpiece-nya, mengakhiri transmisi.

Baik Andrian maupun Leon terkejut. Andrian, yang hendak membuka laptopnya, menatap Praka dengan alis terangkat tinggi.

Praka akhirnya duduk di sofa.

Tak lama kemudian, masuk seorang asisten berpakaian jas rapi membawa sebuah koper aluminium kecil yang terkunci rapat.

"Ini," kata Praka.

Praka bangkit, mengambil koper itu dari tangan asistennya dan meletakkannya di meja Andrian. Dia mengeluarkan sebuah kunci kecil dan membukanya. Di dalamnya terdapat tumpukan map dan dokumen yang tebal, semuanya berlabel Pusat Rehabilitasi Kesehatan Mental, Kaluna Ameerta STJ.

"Saya tahu Anda telah mengawasi pergerakan saya, menyelidiki latar belakang Kaluna, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya selama ini," lanjut Praka. Nada bicaranya tidak menuduh, melainkan fakta.

"Saya bahkan tahu Anda telah menemui Dokter Satya tempo hari," lanjutnya penuh penekanan.

Andrian diam, tidak mengonfirmasi maupun menyangkal.

Leon tampak sedikit terkejut, menyadari betapa dalam jaringan informasi Praka. Andrian sendiri tetap tenang, tetapi ada kekaguman yang samar di matanya.

"Saya tahu apa yang Anda inginkan, Tuan Sugara," kata Praka, menunjuk koper itu.

Praka tersenyum kecil, senyum seorang sekutu yang setara.

"Saya telah merangkum semuanya di dalam koper ini," katanya, membuka koper itu sepenuhnya. "Catatan harian, hasil konsultasi, dan bukti medis yang menunjukkan siapa yang bertanggung jawab atas trauma terbesarnya. Berkas ini adalah semua yang Anda butuhkan untuk memenangkan pertarungan di pengadilan, dan memenangkan kepercayaan Kaluna."

Andrian mengambil salah satu map, merasakan beratnya kertas di tangannya. Praka tidak hanya menyerahkan dokumen, dia menyerahkan kepercayaan dan otoritas atas masa lalu Kaluna.

“Anda tidak perlu lagi repor-repot menelusuri pusat rehabilitasi itu, saya sudah membereskannya. Tempat itu bukanlah pusat rehabilitasi, tapi pusat penelitian sains. Saya telah membuat dunia memboikotnya. Semua data bisa anda temukan di sini,” ujar Praka kembali merujuk ke koper itu.

Andrian mengangguk, matanya menunjukkan binar cerah. Seolah sedang menemukan harta karun yang sangat bernilai.

“Tugasmu saat ini hanyalah memberi pelajaran kepada satu-satunya dalang kehancuran itu,” ujar Praka dengan tegas.

“Dalang?” ulang Andrian seolah belum mengerti.

“Marisa Suganda! Dia satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kelamnya masa kecil Kaluna,” kata Praka.

“Aku bisa saja menghancurkannya sejak dulu, tapi melawan Marisa dengan bukti-bukti ini akan membuka kembali luka lama Kaluna yang belum sepenuhnya sembuh. Sekarang, semuanya kuserahkan kepadamu, Tuan Sugara!” tekan Praka lagi.

“Kau benar, Tuan Praka… untuk hal ini, kita tidak boleh bergerak gegabah,” sahut Andrian.

“Tapi kuperingatkan kepadamu, Tuan Sugara. Marisa mungkin sendiri, tapi dia lebih iblis dari yang kita duga. Seiring berjalannya waktu, dia mungkin telah membesarkan sekutu yang akan menjadi kuda perangnya,” ujar Praka lagi sebelum memutuskann untuk meninggalkan apartemen Andrian.

Andrian memiringkan kepalanya sedikit. Selama ini, dia hanya menganggap Praka sebagai manajer aset yang cakap. Ternyata dia juga seorang co-founder yang mengurus operasional Kaluna, yang kini bersembunyi di balik gelar fotografer.

Andrian mulai memahami dan mengerti mengapa Kaluna begitu mempercayai Raka.

Andrian membuka map pertama dari koper itu, tatapannya langsung tertuju pada tanggal masuk Kaluna ke pusat rehabilitasi. Tapi matanya menangkap sesuatu yang tersembunyi. Ada sebuah DVD di antara tumpukan map itu. Benda itu tampak tua, bahkan mungkin usang, terbungkus dalam selongsong kertas putih polos tanpa label apa pun.

“Leon, hubungkan DVD ini ke slot monitor, aku ingin melihat dengan jelas apa isinya!” ujar Andrian menyeahkan DVD itu pada Leon.

Layar monitor yang tadinya menampilkan grafik saham Sugara Group kini berubah menjadi hitam, menampilkan menu pemutar video.

Andrian duduk tegak, menunggu.

Video itu mulai diputar. Kualitas gambarnya buram, diambil sekitar dua puluhan tahun yang lalu. Latar tempatnya segera dikenali Andrian, seperti sebuah ruangan dingin di pusat penelitian sains.

Kaluna kecil terlihat berada di ruangan yang kedap udara, dengan pencahayaan yang redup. Dia terbaring di tempat tidur, tampak dibatasi oleh ikatan samar di pergelangan tangannya. Di sekelilingnya, berdiri beberapa orang berpakaian serba putih yang memegang peralatan. Percakapan mereka telah ditranslate ke dalam Bahasa Indonesia.

Tiba-tiba, tubuh Kaluna menegang. Sebuah erangan yang menyakitkan lolos dari bibirnya. Rekaman audio menangkap bunyi mendesis rendah, bukan teriakan keras. Kaluna meringkuk, tubuhnya bergetar hebat. Itu adalah reaksi tubuh terhadap rasa sakit yang tidak wajar.

“Ayah... Ayah! Tolong... aku tidak gila, bawa aku kembali, ayah!” rintih Kaluna tersengar sangat mengiris hati.

Dia pingsan, hanya untuk siuman beberapa detik kemudian.

“Bagus! Denyut jantungnya cepat bereaksi,” ujar seseorang dengan tawa kecil, terdengar menyeramkan.

“Catat. Respon negatif terhadap stimulus. Ulangi! Kita harus memastikan dia mengingat kepatuhan. Ini adalah bagian dari terapi penyesuaian intensif,” ujar yang lainnya.

Tubuh Kaluna kembali menegang. Kali ini lebih lama. Matanya terpejam, air mata mengalir dari sudut matanya, bercampur dengan keringat. Di ruangan yang redup itu, wajahnya tampak menyiratkan penderitaan yang tak tertahankan.

“Hentikan! Tolong! Itu sakit! Kumohon, aku bukan orang gila!” mohon Kaluna dengan nada pilu.