Andrian mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangan mengepal erat. Punggungnya terasa kaku, seolah dia sedang menahan beban yang tak tertahankan.
Ruangan yang tadinya terasa dingin kini terasa membara oleh kemarahan yang mendidih. Dia tahu Kaluna telah melalui neraka itu. Tetapi melihatnya secara visual, mendengar rintihan pilunya, ada rasa sakit yang berbeda.
Leon, di sampingnya, tampak pucat. Dia telah bekerja di dunia keamanan cyber yang keras. Tetapi kekejaman yang terekam dalam video itu jauh lebih nyata dan dingin daripada yang pernah dia hadapi.
"Matikan," perintah Andrian, suaranya terdengar serak, hampir tidak bisa dikenali.
Leon dengan cepat menekan tombol eject. Layar monitor kembali menampilkan grafik saham Sugara Group, tetapi sekarang grafik itu tampak remeh dan tidak berarti.
Andrian menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Dia meraih gelas di mejanya dan meneguk isinya. Mencoba memadamkan api yang membakar dadanya.
Tanpa berbicara, Andrian langsung berlari melewati koridor. Wajahnya memerah, matanya meneteskan air mata. Keadaan yang kontras dengan kehidupannya selama ini.
“Tuan Muda,” panggil Leon namun dia lebih memilih menahan dirinya untuk emosi Andrian.
Andrian sampai di kamar Kaluna, Leon mengikutinya dari belakang. Tidak mendekat, tapi mengawasainya. Andrian melihat Kaluna berdiri tegak, rapuh namun mencoba keras untuk terlihat kuat.
Gadis itu berdiri dan sibuk dengan manekin dan gaun pengantinnya. Video itu kembali terputar di benak Andrian, rasa sakit Kaluna kecil yang kini terlihat membalut Kaluna dewasa.
“Kaluna…” ujar Andrian, nadanya serak.
Dengan satu langkah cepat, Andrian bergerak mendekat. Tanpa peringatan, dia menarik Kaluna ke dalam pelukan yang erat dan protektif.
Itu bukan pelukan romantis yang biasa. Itu adalah pelukan yang dipenuhi dengan penyesalan, amarah yang ditujukan kepada dunia. Dia memeluknya seolah-olah dia sedang memeluk kenangan masa kecil Kaluna yang kelam.
Kaluna terperanjat. Dia merasakan kehangatan yang mendadak dan kekuatan otot-otot di balik jas Andrian. Pelukan ini berbeda dari sentuhan Praka yang menenangkan; pelukan Andrian terasa seperti sebuah klaim, sebuah penegasan kepemilikan.
Dia mencoba melawan. "Tuan Sugara, apa yang kau lakukan?" bisiknya.
Suara Kaluna teredam di dada Andrian. Dia masih memegang seam ripper, yang kini terasa aneh di tangannya.
Andrian hanya mempererat pelukannya. Dia menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke rambut Kaluna, menarik napas dalam-dalam.
"Biarkan sebentar saja," bisik Andrian, suaranya bergetar rendah di telinga Kaluna, nyaris terdengar seperti sebuah permohonan.
Kata-kata itu tidak menuntut, tetapi penuh dengan kesungguhan hati. Kaluna merasakan kemarahan yang membara di dada Andrian.
Kaluna memilih untuk tidak melawan, namun dia juga tidak membalas. Dia terdiam sejenak, merasakan ketegangan di tubuh Andrian. Pelukan ini terasa seperti seseorang yang sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi sesuatu yang besar.
"Ada apa?" tanya Kaluna perlahan suaranya dipenuhi kebingungan.
Kekhawatiran pertama yang muncul di benaknya bukanlah tentang dirinya sendiri, melainkan tentang interaksi dua pria yang baru saja meninggalkannya.
"Apa kau bertengkar dengan Raka? Apa Raka menyakitimu?" lanjut Kaluna.
Nada suaranya berhati-hati, diselipkan sedikit rasa bersalah. Dia takut perbincangan mereka tadi tentang masa lalunya telah memicu masalah antara Andrian dan Jean Praka.
Andrian semakin mempererat pelukannya sebentar, seolah menyalurkan semua emosi yang dia tahan.
"Tidak, Kaluna," bisik Andrian, suaranya serak dan dalam, vibrasinya menjalar ke telinga Kaluna.
Kaluna semakin tidak mengerti. Tapi dia mematung, membiarkan amarah Andrian mereda perlahan.
Andrian melepaskan bahu Kaluna. Ekspresi yang sebelumnya dipenuhi emosi kini berubah menjadi wajah bisnis yang kejam.
"Kau, kau jangan terlalu memaksakan diri. Minta Leon mengirim beberapa orang untuk membantu pekerjaanmu," kata Andrian berusaha menormalkan suasana hatinya.
Andrian melangkah cepat menuju pintu.
Kaluna berdiri mematung. Perubahan ekspresi Andrian berseling beberapa menit berputar di kepalanya. Dia tidak tahu persis apa yang telah terjadi, tetapi kebenaran yang mengerikan tersirat dalam nada suaranya yang tegas.
Kaluna menunduk, melihat seam ripper di tangannya. Perlahan, senyum tipis, dingin, dan penuh tekad terukir di bibirnya.
“Kau memintaku beristirahat hanya agar aku kalah… baiklah! Kita akan lihat, sejauh apa aku bisa menolak gaun jelekmu itu, Tuan Sugara,” gumam Kaluna.
Dia kembali menatap gaun itu, mengambil napas dalam-dalam, dan dengan kekuatan baru yang terinspirasi oleh sumpah diam Andrian, dia melanjutkan pekerjaannya. Suara robekan jahitan gaun itu kini terdengar seperti countdown sebelum perang dimulai.
Leon sudah berada kembali di ruang kerja Andrian setelah menyaksikan adegan emosional di kamar Kaluna tadi. Dia sedang mengamati tumpukan dokumen tebal di koper. Dia langsung menegakkan badan begitu Andrian masuk.
"Tuan Sugara, saya sudah mulai memverifikasi nama-nama di daftar," lapor Leon segera.
Andrian mengangkat tangan, menghentikan laporan itu. Ia melangkah ke tengah ruangan. Rekaman suara Kaluna kembali terngiang di benaknya, "Aku bermimpi menjadi seperti seorang putri..." dan "padang rumput hijau ada bunga dan pohon-pohon besar..."
"Lupakan itu sebentar," potong Andrian.
Andrian kemudian menoleh ke arah Leon. "Persiapan pernikahan."
Leon berkedip, terkejut. "Pernikahan? Secara keseluruhan, kita berada di angka tujuh puluh lima persen, Tuan Sugara. Sesuai dengan jadwal yang ditetapkan—"
Andrian kembali mengangkat tangan, memotong penjelasan Leon, wajahnya serius. "Tujuh puluh lima persen," desis Andrian. "Berarti belum seratus persen, ya. Kalau begitu, kita ubah rencana."
Leon langsung panik. Perubahan rencana pernikahan sebesar ini akan menyebabkan kekacauan.
"Ubah rencana? Tuan Sugara, apa maksud Anda? Kita tidak bisa mengubah rencana secepat ini! Apa yang ingin Anda ubah? Tanggalnya? Lokasinya?" tanya Leon, cemas.
Andrian menghela napas, matanya memancarkan perhitungan yang dalam. "Kita tidak akan mengubah tanggalnya. Kita akan mengubah konsepnya."
"Konsep?"
Andrian berjalan ke meja, mengambil salah satu map Kaluna, seolah mengambil inspirasi dari sana. "Kita tidak akan melakukan pernikahan corporat yang kaku dan hitam-putih. Bukan lagi tentang merger dua keluarga di mata publik."
Andrian menatap Leon. "Pernikahan Kaluna Ameerta harus menjadi pernikahan putri dongeng yang ia impikan."
Leon menatap Andrian dengan keheranan total. "Putri... dongeng? Tuan Sugara, Anda bicara tentang pernikahan Sugara Group, bukan karnaval. Konsep kita sudah sangat modern dan elit. Mengubahnya menjadi tema dongeng—"
"Aku tidak peduli," potong Andrian tajam. "Kaluna pantas mendapatkan mimpinya. Dia pantas mendapatkan keindahan dan keajaiban. Aku ingin semua orang tahu bahwa bersama denganku dia akan memasuki gerbang kehidupannya dengan kebahagiaan sejati, bukan hanya karena kontrak."
Andrian menunjuk ke monitor, di mana grafik saham Sugara Group tampak megah. "Leon, aku ingin kau mewujudkan semua yang Kaluna inginkan."
Andrian mulai merinci dengan cepat, nada bicaranya penuh otoritas namun juga diwarnai visi romantis yang tak terduga.
"Padang rumput hijau? Cari lokasi yang memiliki area terbuka luas, atau ciptakan padang rumput hijau di lokasi indoor kita. Bunga dan pohon-pohon besar? Datangkan, buat hutan buatan jika perlu. Jangan lupakan Sungai kecil dan angsa-angsa yang akan menari di sana," papar Andrian.
Leon mencatat dengan bingung. "Angsa-angsa yang ikut menari, Tuan? Dalam waktu sesingkat ini?”
Andrian kembali memandang Leon, suaranya kini kembali pada nada yang berbahaya.
"Ini bukan hanya tentang mewujudkan impian, Leon. Dengan memberinya pernikahan yang indah dan tulus, kita menunjukkan kepada dunia bahwa tidak ada paksaan. Itu akan memperkuat posisi kita di pengadilan dan di hati Kaluna," kata Andrian mengabaikan keluhan Andrian tentang angsa.
"Ubah anggaran. Tambah beberapa kali lipat bila perlu. Aku ingin yang terbaik. Kontak tim desain, tim logistik, dan tim media. Mulai hari ini, konsep pernikahan Sugara Group adalah Keajaiban Putri Dongeng," sambungnya.
Leon menatapnya, benar-benar kagum. Andrian tidak hanya menjalankan kontrak, dia sedang membangun benteng emosional dan hukum yang indah.
Dia tahu tugasnya sekarang bukan lagi hanya logistik, tetapi keajaiban.