Berburu Angsa

Penulis Yoonna
20 October 2025

Leon terdiam setelah Andrian pergi, menatap pintu yang tertutup di belakang bosnya. Ia meremas keningnya sendiri. Pikirannya dipenuhi gambaran padang rumput di dalam ruangan, hutan buatan, dan angsa yang menari.

“Ya Tuhan, Pria ini benar-benar akan membuatku gila,” gumam Leon dalam hati, menggelengkan kepalanya perlahan.

Hanya beberapa menit yang lalu, Andrian sedang mendidih karena kemarahan yang suci. Sekarang dia bertransformasi menjadi seorang perancang acara yang terobsesi dengan dongeng. Leon merasa seperti sedang melayani dua orang bos berbeda dalam satu tubuh.

Yang pertama, dia harus segera membatalkan dan mengubah kontrak dengan semua vendor yang sudah setuju dengan konsep modern corporate yang kaku. Pasti akan terjadi debat sengit dengan beberapa pihak pendukung dan Wedding Organizer yang merasa waktu dan desain mereka terbuang sia-sia.

Leon harus menyiapkan dana kompensasi besar-besaran agar mereka tutup mulut dan bekerja sesuai arahan baru. Tapi bagian yang paling membuat otaknya berputar adalah angsa-angsa yang menari.

"Mencari angsa dan membuat angsa-angsa itu menari. Itu terdengar seperti adegan dari film fiksi ilmiah kelas B." Leon mencibir pelan.

Leon menarik napas dalam-dalam. Jika Tuan Muda-nya itu ingin dongeng, maka dia akan memberinya dongeng dengan anggaran tak terbatas dan teknologi abad ke-22.

Leon mengambil tabletnya, tekadnya kembali. Ia mengetuk layar dengan cepat, langsung mengirim pesan kepada kepala tim IT dan Visual FX Sugara Group dan tim desain logistik..

"Prioritas utama konsep pernikahan berubah menjadi kisah putri dongeng. Saya ulangi, Putri Dongeng. Cari dan datangkan 500 pohon hidup dan 1 ton rumput sintetik kualitas terbaik. Ciptakan padang rumput dan hutan di lokasi pernikahan. Anggaran tak terbatas. Selesaikan dalam 48 jam."

Leon menggelengkan kepalanya sekali lagi, tetapi senyum tipis, setengah pasrah, setengah kagum, tersungging di bibirnya. Andrian Sugara sedang mengubah perang hukum menjadi drama romantis yang gila. Dan dia harus menjadi sutradara kekacauan nan indah ini.

Beberapa jam kemudian, masih di ruang kerja Andrian, Leon memimpin sebuah rapat singkat darurat. Di depannya duduk dua anak buah kepercayaannya dalam tim logistik dan operasional, Bobi dan Nakula, yang tampak kebingungan.

"Baiklah, mari kita ulangi misinya," kata Leon, suaranya tegang namun berusaha terdengar profesional. "Tuan Muda menginginkan konsep cerita dongeng. Kita harus menciptakan padang rumput, sungai kecil buatan, dan yang terpenting, angsa yang Menari."

Bobi, seorang pria bertubuh atletis dengan ekspresi selalu skeptis, menyilangkan tangan. "Angsa menari, Bos? Kita bicara tentang pernikahan, bukan sirkus air. Kenapa tidak pakai drone berbentuk angsa saja,"

Leon menatap tajam. "Angsa asli memberikan kesan vintage dan otentik untuk foto-foto."

Nakula, yang lebih muda dan lebih akomodatif, memegang pulpen di antara giginya. "Angsa asli... kita tidak bisa melatih angsa menari, Bos."

"Tentu saja tidak bisa," desah Leon, mengusap wajahnya. "Tapi kita bisa membuat ilusi. Kita bisa membuat angsa berjalan di jalur yang sudah ditentukan, atau terlihat elegan dan anggun saat Kaluna menari. Intinya, kita butuh angsa yang tenang, jinak, dan terlihat sempurna."

Leon mencondongkan tubuhnya ke atas meja. "Aku sudah mencari peternakan yang bisa kita datangi sekarang. Sebuah peternakan di luar kota yang dikenal memiliki angsa-angsa yang sangat terawat. Ini bukan negosiasi. Ini pengambilan aset strategis."

Bobi mendengus. "Jadi kita akan menculik angsa, Bos?"

"Terserah bagaimanpun caranya, angsa-angsa itu harus ada di properti Sugara Group sebelum matahari terbenam," koreksi Leon dingin.

Nakula tersenyum kecil. "Misi Angsa Penari. Saya suka. Siapa saja yang ikut, Bos?"

"Hanya kita bertiga. Ini harus senyap. Aku tidak ingin ada rumor tentang Sugara Group menculik unggas demi pernikahan dongeng. Ambil mobil van hitam yang tidak mencolok, dan bawa kotak pengangkut hewan yang besar dan aman," jawab Leon.

Leon menunjuk pintu. "Aku akan menyelesaikan urusan vendor. Siapkan keberangkatan, dan kita pergi sebentar lagi!"

Bobi dan Nakula saling pandang, kemudian mengangguk. Mereka bergegas meninggalkan ruangan.

Satu jam kemudian, van hitam itu melaju ke sebuah peternakan yang tenang dan asri di pinggiran kota. Peternakan itu dikelilingi pepohonan rindang dan memiliki kolam besar tempat puluhan angsa putih berenang anggun.

Leon, mengenakan jaket hoodie gelap agar tidak mencolok, memimpin. Bobi dan Nakula mengiringinya dari belakang.

"Ingat," bisik Leon, mengenakan sarung tangan kulit. "Kita tidak punya waktu untuk bernegosiasi emosional dengan pemilik peternakan. Kita ambil angsa-angsa itu sekarang. Kita tinggalkan cheque di tempat yang terlihat jelas, dan kita pergi."

"Siap, Bos," sahut Bobi, matanya berbinar karena kegembiraan.

Tugas ini jauh lebih seru daripada mengatur meeting bulanan.

Mereka bertiga menyelinap diam-diam di antara semak-semak, menuju area kolam yang dikelilingi pagar kayu rendah.

Puluhan angsa putih berenang tenang, beberapa sedang tidur di tepi kolam. Tampak sangat anggun dan damai.

"Baiklah, kita butuh enam. Yang paling elegan," bisik Leon.

Mereka memanjat pagar kayu rendah itu dengan hati-hati. Saat kaki Leon mendarat di rumput, salah satu angsa yang tidur di dekat situ langsung terbangun, mengangkat kepalanya dan mengeluarkan suara mendesis pelan.

Leon berhenti di depan angsa putih besar yang terlihat paling megah itu.

Leon berjongkok, menatap mata angsa itu. Angsa itu menatapnya kembali dengan pandangan angkuh khas unggas.

"Hei," bisik Leon, suaranya mengandung campuran kekaguman dan kegilaan. "Kau akan segera menari untuk Nyonya Sugara. Kau tahu, ada padang rumput dan langit biru yang menunggumu."

Leon, terdorong oleh kebodohan sesaat akibat tekanan kerja, melanjutkan, "Katakan padaku, apakah kau bisa menari?"

Angsa itu, tampaknya tidak terkesan dengan janji kemewahan di masa depan atau pertanyaan konyol itu, langsung bereaksi.

Tanpa peringatan, dia melompat, lehernya memanjang, dan paruhnya yang keras menyosor kuat-kuat bagian lutut celana jeans Leon.

"Aduh!" Leon melompat mundur, nyaris kehilangan keseimbangan. Angsa itu terus mendesis marah, bulunya mengembang.

"Sialan!" desis Leon kesal, menggosok lututnya belakangnya yang terasa sakit. Ia merapikan hoodie-nya dan menatap angsa yang kini berdiri gagah di hadapannya.

"Baiklah, kalau begitu jangan menari," gerutu Leon.

Leon menoleh ke anak buahnya. Matanya berkilat jengkel. "Lupakan negosiasi. Lupakan keanggunan. Tangkap saja angsa-angsa itu! Sekarang! Bobi, yang paling besar itu! Nakula, ambil dua lagi di tepi kolam!"

Bobi dan Nakula, yang sedari tadi menahan tawa melihat bos mereka diserang unggas, segera beraksi. Misi senyap kini berubah menjadi kekacauan.

Nakula berusaha menangkap dua angsa lain di tepi kolam dengan teknik yang lebih halus. Sementara itu, Bobi bergumul dengan angsa yang paling besar.

Angsa itu memberontak, mengepakkan sayapnya dengan keras, membuat suasana menjadi gaduh.

"Angsa-angsa ini tidak ramah, Bos!" teriak Bobi, menghindari patukan.

Leon memperhatikan perjuangan Bobi. Dia mengamati bagaimana angsa itu memberontak, lehernya memanjang, bulu-bulunya berkibar indah di bawah cahaya rembulan. Ada keindahan liar di tengah kegarangan itu.

Leon tersenyum tipis, senyum yang sama dinginnya dengan es. Penuh pengertian yang baru dia dapatkan.

"Ya. Persis seperti calon Nyonya Sugara," gumam Leon, suaranya tenang.

Nakula, yang hanya berhasil menahan satu angsa kecil di sudut pagar, menatap bosnya bingung. Mereka berjuang menangkap burung air. Tapi bos mereka malah membandingkannya dengan tunangan co-founder mereka.

Usaha mereka untuk menangkap enam ekor angsa gagal total. Angsa-angsa yang tersisa sudah berada di tengah kolam, mendesis dengan nada peringatan.

Setelah perjuangan yang intens, mereka hanya berhasil mengamankan satu angsa, angsa terbesar yang ditangkap Bobi. Angsa itupun masih meronta keras.

"Bagaimana ini, Bos! Sudah sejauh ini kita hanya berhasil menangkap satu. Aku tidak sanggup lagi!" keluh Bobi, ngos-ngosan.

Tiba-tiba, pintu belakang rumah itu terbuka. Sesosok wanita paruh baya, yang pastinya adalah pemilik peternakan muncul di ambang pintu. Mengenakan jubah mandi tebal dan ekspresi yang luar biasa marah.