"Hei! Siapa kalian! Apa yang kalian lakukan dengan angsa-angsaku!" teriak Mulan, suaranya melengking karena terkejut dan marah.
Nyonya Mulan yang matanya cepat beradaptasi dengan keadaan, melihat Bobi sedang memegangi satu angsa besar yang memberontak. Dia segera berlari menuju kolam tanpa memedulikan alas kaki.
"Astaga! Angsaku! Pantas saja angsa-angsa di sini berteriak dan memberontak, tenyata... kalian mencoba mencuri angsa-angsaku! Dasar pencuri!" tuding Mulan, menunjuk mereka dengan jari yang gemetar.
Leon membeku. Rencana negosiasi senyapnya gagal total. Mereka sekarang dicap sebagai pencuri angsa.
"Tunggu, Nyonya! Ini bukan pencurian, kami bisa menjelaskan, ini-" Leon segera melangkah maju, mencoba menjaga profesionalitasnya.
Tapi perkataannya dengan cepat langsung dipotong oleh Mulan.
Mulan tidak mendengarkan. "Aku akan panggil polisi!"
“Nyonya, kami tidak bermaksud mencuri. Angsa-angsamu menakuti tuan kami, makanya kami menanganinya,” ujar Bobi yang langsung mendapat pandangan menusuk oleh Leon.
“Alasan!” teriak Mulan.
Tepat saat Mulan berteriak, pintu rumah kembali terbuka. Suaminya, Hadi, keluar terhuyung-huyung, mengenakan sarung yang buru-buru dia kenakan.
"Ada apa ini, Bu? Siapa yang berani-beraninya mengganggu—" teriak Hadi, berjalan mendekat dengan wajah mengantuk dan marah, bersiap ikut menuding.
Namun, begitu Hadi mendekat, pandangannya jatuh ke wajah Leon yang begitu familiar. Nyali Hadi langsung menciut. Matanya terbelalak lebar.
Wajah Leon menunjukkan auranya yang dingin, terutama tatapan matanya, semuanya menjeritkan otoritas yang tidak main-main. Hadi yang berperan sebagai salah satu ketua RT di daerah itu, langsung mengenali aura tersebut.
"Tu-Tuan Leon," sapa Hadi dengan suara serak, hampir berbisik.
Mulan, yang sedang berdebat sengit dengan Bobi, terkejut mendengar suara suaminya yang mendadak berubah.
Hadi segera menyambar lengan istrinya.
"Cepat beri hormat! Apa-apaan kau ini," desis Hadi panik, menekankan kata-kata itu dengan kekuatan yang membuatnya Mulan terkejut.
Mulan, yang masih bingung, melihat kembali ke arah Leon. Dia melihat bagaimana suaminya yang biasanya sangar mendadak menjadi patuh dan gemetar.
"Dia ini... Tuan Leon! Tuan Operasional dari kantor pusat! Dia... dia punya kendali atas segala hal yang kau lihat di kota ini!" balas Hadi, matanya masih terpaku pada Leon dengan rasa hormat yang tidak tergoyahkan.
Leon, yang awalnya kesal karena aksinya terganggu, kini kembali tenang dan memanfaatkan momen tersebut. Dia melangkah maju, melepaskan ketegangan di wajahnya.
"Maaf atas keributan ini, Tuan Hadi," ujar Leon, nadanya kembali menjadi suara manajer aset yang berkuasa.
"Maafkan istri saya, Tuan! Dia tidak tahu!" Hadi buru-buru mendorong istrinya untuk minggir.
Nyonya Mulan, yang akhirnya sadar bahwa mereka berhadapan dengan orang penting, pucat pasi. Tuduhan pencuri unggas yang baru saja dia lontarkan kini terasa seperti lelucon yang mahal.
Leon tersenyum kecil. Dia menghela napas ega karena otoritasnya diakui. Meskipun dalam situasi yang memalukan. Dia berjalan mendekati Hadi, menanggapi hormatnya dengan anggukan singkat dan dingin.
"Tidak masalah, Tuan Hadi. Hanya kesalahpahaman kecil," ujar Leon datar.
Hadi menundukkan kepalanya, penuh rasa hormat. "Suatu kehormatan bagi kami, Tuan Leon mengunjungi kediaman kami. Mohon maaf atas sambutan yang kurang pantas dari istri saya."
Leon mengabaikan permintaan maaf itu. Dia harus segera menyelesaikan misi ini.
Hadi menegakkan badannya sedikit, siap melayani. "Boleh saya tahu maksud kedatangan Tuan Leon?" tanyanya hati-hati, berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.
Dia membayangkan permintaan bisnis properti atau transaksi aset yang besar.
Leon menoleh ke kolam yang luas, lalu menunjuk ke arah angsa-angsa di sana.
"Kami datang untuk angsa, Tuan Hadi," jawab Leon terus terang.
Jawaban itu membuat Hadi dan Mulan sama-sama terkejut. Hadi, yang berurusan dengan berbagai masalah kota, tidak pernah menyangka orang sekelas Leon akan datang ke peternakannya hanya untuk urusan unggas.
"Angsa?" ulang Hadi, memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
"Ya. Sebenarnya… Tuan Muda kami, Andrian Sugara akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Kami butuh beberapa angsa untuk pernikahan itu," ungkap Leon.
Seketika, Hadi dan Mulan menganga. Pernikahan sang penguasa, mereka tahu betul betapa megahnya acara itu nanti. Tapi apa hubungannya dengan angsa-angsa mereka?
Hadi segera mengambil inisiatif, semua keraguan tentang pencurian menghilang. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk membuat koneksi dengan Sugara Group.
"Astaga, Tuan Leon! Sekali lagi, ini adalah sebuah kehormatan besar! Ambil saja! Pilih yang kau inginkan, bila perlu ambil saja semuanya! Jangan pikirkan uangnya, suatu kebahagiaan bagi kami mendengar penikahan Tuan Muda!" seru Hadi.
"Kami mencari yang istimewa."
Hadi melangkah maju dengan antusias, "Angsa istimewa? Maksud Tuan Leon, yang paling besar? Atau yang paling bersih bulunya? Tentu saja! Kami punya yang terbaik! Angsa Putih Jawa! Sehat-sehat dan anggun semua!" ujar Hadi, berharap bisa memberikan panduan.
Leon menoleh ke arahnya, matanya memancarkan perhitungan gila di tengah misi yang absurd ini. Dia menarik napas dalam-dalam, memutuskan untuk langsung pada inti masalah.
"Apa ada... di antara angsa-angsa ini, yang pandai menari, Tuan Hadi?" tanya Leon.
Pertanyaan itu melayang di udara. Hadi dan istrinya, yang tadinya siap sedia, seketika membeku. Mereka saling pandang dengan ekspresi kebingungan total.
Hadi berdeham, berusaha menyembunyikan keterkejutannya yang luar biasa. Selama bertahun-tahun dia memelihara unggas, ini adalah pertanyaan paling aneh yang pernah dia dengar.
Dia menahan tawa, menyembunyikannya di balik batuk yang dipaksakan. Wajahnya berusaha serius, tetapi matanya berkedip-kedip geli.
"Menari, Tuan Leon?" ulang Hadi, mencoba memastikan otaknya tidak salah memproses informasi dari orang penting ini.
"Ya. Menari. Tuan Sugara menginginkan ilusi tarian. Angsa-angsa yang menari dengan anggun saat acara itu," jelas Leon, yang harus menjaga wajah serius meskipun tahu betapa konyolnya permintaan itu.
Hadi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menatap deretan angsa yang kini berenang menjauh dan mendesis kesal.
"Tuan Leon," kata Hadi, nadanya sungguh-sungguh. "Seumur hidup saya, orang yang mencari angsa untuk sebuah acara adalah angsa yang sehat dan gemuk. Saya bahkan... saya tidak pernah melihat angsa-angsa saya ini menari sebelumnya."
Dia terkekeh pelan. "Paling-paling mereka berputar-putar sedikit saat diberi makan, Tuan."
Mulan membekap mulutnya sendiri, menahan senyum geli.
Leon merasakan panas menjalar ke lehernya. Dia seharusnya sudah tahu jawaban ini. Permintaan Andrian benar-benar gila.
"Baik," potong Leon cepat, mengabaikan tawa yang tersembunyi. "Kalau begitu kita ambil saja angsa yang paling anggun dan tenang. Angsa yang setidaknya tidak akan membuat kekacauan di pesta.”
Leon merasakan sakit kepala yang menusuk. Permintaan ini, ditambah dengan perjuangan anak buahnya, benar-benar menguji batas kesabarannya.
Bobi dan Nakula, meskipun kelelahan, lega karena bisa mengakhiri pergumulan dengan unggas itu. Mereka dengan cepat memasukkan sepuluh angsa ke dalam kotak pengangkut yang besar dan aman.
"Sepuluh angsa, Tuan Leon?" tanya Pak Hadi, bingung mengapa harus sebanyak itu jika mereka tidak bisa menari.
"Ya, sepuluh. Kami perlu opsi cadangan dan ilusi keramaian," jawab Leon datar. "Kami akan 'melatih' mereka menari."
Leon menyelesaikan transaksinya dengan cepat. Dia menyerahkan amplop tebal kepada Pak Hadi.
"Ini bayarannya. Dan tolong lupakan kejadian malam ini. Lupakan bahwa kami bertanya tentang angsa menari," kata Leon, suaranya mengandung perintah yang tidak bisa ditolak.
Pak Hadi mengangguk patuh, matanya terbelalak melihat nominal di amplop itu.
"Siap, Tuan Leon! Rahasia terjamin!"
Tanpa membuang waktu, Leon berbalik. Dia berjalan cepat ke van, diikuti Bobi dan Nakula yang terengah-engah.
Mereka harus segera pergi sebelum Pak Hadi bertanya apakah mereka juga memerlukan balerina babi.
Mereka berhasil kabur dengan sepuluh angsa, dan Leon hanya bisa berharap sepuluh angsa ini setidaknya mau terlihat anggun.
Van itu melaju meninggalkan peternakan, meninggalkan Hadi dan istrinya yang berdiri mematung di tepi kolam. Leon menyandarkan kepalanya di kursi.
"Sepuluh angsa," keluh Leon. "Semoga saja salah satu dari mereka punya bakat menari yang terpendam, atau Tuan Muda akan membuat kita yang menari di lantai dansa."