Drama

RAHASIA YANG TUMPAH

Penulis Sabil_775
20 October 2025

Suara ulekan batu terdengar beradu pelan dengan meja kayu. Aroma tumisan bawang menyeruak dari tungku, memenuhi dapur pesantren yang sempit namun hangat. Di luar, cahaya sore menembus celah jendela, menimpa wajah dua perempuan muda yang sedang sibuk di sana. Shanum dan Hilma.

“Hil, tolong ambilin garam, ya,” ucap Shanum tanpa menoleh, ia sibuk mengaduk kuah sayur di panci besar.

Hilma mengangguk kecil, mengambil wadah garam di rak bambu. “Kamu kayaknya hari ini semangat banget, ya. Dari tadi senyum terus.”

Nada suaranya ringan, tapi matanya memperhatikan dengan penuh selidik.

Shanum tersenyum, pipinya memerah. “Nggak juga. Cuma ... entahlah, rasanya hari ini adem aja.”

Hilma menaikkan alis. “Adem? Di dapur segini panasnya?”

Ia terkekeh kecil, mencoba bercanda, tapi dalam hatinya sudah mulai menduga sesuatu.

“Jangan bilang ... gara-gara Ustadz Azzam?”

Shanum berhenti mengaduk. Punggungnya kaku sesaat sebelum ia pelan menatap Hilma. “Kamu tahu aja.”

Hilma tersenyum setengah. “Ya jelaslah. Kamu dari tadi aja udah tiga kali nengok ke jendela. Padahal yang lewat cuma santri mengangkat ember. Tapi kalau Azzam yang lewat, langsung deh kamu pura-pura sibuk.”

Nada suaranya masih lembut, tapi di baliknya ada geliat rasa tak nyaman.

Shanum menunduk, pipinya makin merah. “Aku ... aku cuma suka cara dia berbicara, Hil. Tenang, tapi dalam. Kayak setiap kata punya makna.”

Hilma berhenti menyiangi cabai di tangannya. Ia menatap Shanum lama, mencoba menahan sesuatu di dadanya. “Kamu serius? Kamu suka sama dia?”

Shanum mengangguk kecil. “Iya, Hil. Aku ... nggak tahu kenapa. Setiap kali dia lewat, aku ngerasa hati aku kayak...” Ia berhenti, mencari kata. “Kayak ada sesuatu yang tenang, tapi nyakitin juga.”

Hilma diam. Ia tak tahu harus menanggapi dengan apa. Di luar, suara santri yang sedang menyapu halaman terdengar samar.

“Shanum,” katanya akhirnya, “kamu sadar kan, Azzam itu bukan orang biasa? Dia tertutup banget. Bahkan Buyya aja nggak tahu pasti asal-usulnya.”

“Justru itu, Hil.”

Shanum menatapnya dengan mata berbinar. “Mungkin dia punya masa lalu yang berat. Tapi bukankah setiap orang berhak mulai dari nol lagi?”

Hilma mendengus pelan, menyembunyikan gelisahnya di balik tawa kecil. “Kamu ini ... gampang banget jatuh hati.”

Shanum tertawa lembut. “Aku nggak jatuh, Hil. Aku cuma... pengen ngerti dia. Dan aku yakin, dia orang baik.”

Hilma menunduk lagi, memotong cabai tanpa bicara. Hatinya mulai terasa perih. Ia tahu betul siapa Azzam, atau setidaknya, ia tahu ada sesuatu yang besar yang disembunyikan lelaki itu. Tapi bukan itu yang membuat dadanya panas, melainkan karena ia sendiri diam-diam juga memperhatikan Azzam sejak hari pertama lelaki itu datang ke pesantren. Dan dia menyukainya.

Sementara itu, Shanum kembali bicara.

“Tapi...” ia menatap jendela kecil yang menghadap ke arah kelas tempat Azzam biasa mengajar. “Aku kadang cemburu. Soalnya Azzam kayaknya lebih perhatian sama Ustadzah Azura.”

Hilma langsung menoleh. “Kamu cemburu sama Azura?” Nada suaranya meninggi sedikit tanpa sadar.

“Ya... aku lihat sendiri. Waktu kemarin Azura lupa bawa kitab, Azzam yang ngambilin. Waktu Azura sakit, Azzam juga yang nganter obat dari Ummi.”

Shanum menunduk, mengaduk panci tanpa semangat. “Dia nggak pernah kayak gitu ke aku.”

Hilma menggigit bibir. Perasaan aneh merayap di dadanya, campuran antara cemburu, kasihan, dan... iri. Ia menatap Shanum yang terlihat polos, anak Abuya Zimraan yang selama ini disanjung banyak orang di pesantren. Dan kini, ia bicara soal cinta seolah dunia ini sesederhana itu.

“Shanum,” kata Hilma pelan, “kadang cinta itu bukan soal siapa yang lebih diperhatikan. Tapi siapa yang lebih berani melihat kebenaran.”

Shanum menatapnya bingung. “Maksudmu?”

Hilma menatap wajah sepupunya lama, lalu berkata dengan nada setengah berbisik, “Kamu tahu nggak... kadang orang yang kamu suka, bisa berubah kalau tahu siapa kamu sebenarnya.”

“Apa maksudmu?” Shanum memicingkan mata.

Hilma hendak menjawab, tapi menahan diri. Lidahnya gatal, tapi akalnya menahan. Namun rasa cemburu sudah menumpuk sampai tak tertahan.

Ia tertawa kecil, sarkastik. “Andai Azzam tahu siapa ayahmu sebenarnya... mungkin dia nggak bakal segitu kagumnya sama kamu.”

Ucapan itu meluncur begitu saja, dingin, tajam, memotong udara sore yang tadinya hangat.

Shanum menatap Hilma dengan wajah pucat. “Apa maksudmu, Hilma?”

Hilma tersadar atas ucapannya. Ia mencoba menutupi. “Nggak... aku cuma—”

“Hilma!” Shanum membentak pelan, nadanya gemetar. “Kamu ngomong apa barusan?”

Hilma menatap Shanum dengan mata bergetar. Tapi sebelum sempat ia menjawab, terdengar suara langkah di belakang mereka.

Keduanya menoleh bersamaan.

Azzam berdiri di ambang pintu dapur, membawa dua kantong belanjaan besar dari pasar pesantren. Keringat masih menetes di pelipisnya, dan wajahnya menahan heran.

“Assalamu’alaikum,” sapanya, suaranya pelan namun cukup untuk memecah tegang di udara.

Shanum buru-buru berbalik ke arah panci, pura-pura sibuk mengaduk sayur. Hilma menunduk, jantungnya berdetak cepat. Tapi Azzam tidak langsung masuk, matanya sedikit menyipit, seolah mencoba memahami sisa kalimat yang tadi meluncur.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Hilma akhirnya. “Ustadz baru pulang dari pasar?”

“Iya,” jawab Azzam datar, menaruh kantong di atas meja. “Tadi Ummi minta dibeliin tepung dan minyak. Katanya untuk stok bahan sudah habis.”

“Terima kasih, Ustadz,” kata Shanum cepat, suaranya sedikit gemetar. “Tadi saya sama Hilma lagi nyiapin bahan makan malam.”

Azzam mengangguk. “Saya lihat tadi di jalan, kalian berdua sibuk banget.”

Ia menatap sekilas ke arah Hilma, bukan tatapan marah, tapi ada tanda tanya di sana.

Hilma tak berani menatap balik. Tangannya gemetar kecil saat menaruh sendok kayu di meja.

“Ustadz...” Shanum tiba-tiba memecah diam. “Kalau nggak keberatan, boleh bantuin saya aduk sebentar? Saya mau ambil piring di rak belakang.”

Azzam tersenyum tipis. “Boleh.”

Ia maju, mengambil alih sendok kayu, mengaduk perlahan. Suara kayu beradu dengan panci terdengar menenangkan, tapi di kepalanya, satu kalimat terus bergema:

“Andai Azzam tahu siapa ayahmu sebenarnya...”

Ia menatap kuah sayur yang mendidih, namun pikirannya melayang jauh. Kalimat itu seperti kunci yang baru saja diketuk, kunci menuju sesuatu yang disembunyikan.

Hilma mengusap pelipisnya, gugup. Sementara Shanum kembali membawa piring, mencoba menata wajahnya agar tak terlihat gelisah.

“Masakannya harum sekali,” kata Azzam akhirnya, berusaha terdengar santai. “Untuk makan malam semua guru, ya?”

“Iya,” jawab Shanum cepat. “Ummi minta saya yang urus.”

Azzam mengangguk, lalu menatap Hilma. “Kalian sepupuan, kan?”

Hilma menatapnya kaget. “Iya, ustadz. Kami... sepupu.”

“Mirip,” katanya lagi, tersenyum samar. “Tapi karakternya beda. Shanum ceria, kamu lebih tenang.”

Hilma tersenyum kaku. “Saya cuma... nggak banyak bicara, Ustadz.”

Azzam mengangguk lagi, lalu menaruh sendok kayu di piring. “Saya ke kamar dulu, mau siapin bahan ngajar. Nanti kalau perlu bantuan, panggil aja.”

Ia menatap Shanum sebentar, cukup lama untuk membuat gadis itu salah tingkah, lalu melangkah keluar dari dapur.

Begitu langkahnya menjauh, Shanum menatap Hilma tajam. “Apa maksud ucapanmu tadi?”

Hilma menatap pintu yang baru saja tertutup, lalu menunduk. “Lupakan, Shanum. Aku cuma keceplosan.”

“Tapi kamu bilang soal Ayah. Kamu tahu sesuatu, ya?”

Shanum menggenggam tangan Hilma, matanya tajam dan penuh tanda tanya.

Hilma menatap balik, suaranya nyaris bergetar. “Percaya sama aku, Shanum. Ada hal yang... lebih baik kamu nggak tahu.”

“Tapi kamu udah bilang separuh,” desak Shanum, hampir menangis. “Sekarang aku malah takut!”

Hilma memejamkan mata, napasnya berat. “Aku minta maaf. Aku beneran minta maaf.”

Shanum membalik badan, menatap jendela yang menghadap ke kelas Azzam. Dari kejauhan, ia bisa melihat sosok lelaki itu berjalan perlahan ke arah kamarnya. Ada sesuatu di sana, bukan lagi sekadar ketertarikan, tapi rasa khawatir yang belum ia pahami.


Malamnya, Azzam duduk di tepi ranjang. Ia membuka catatan kecilnya, menulis dengan hati-hati:

*** Hari ini aku mendengar kalimat yang tak seharusnya kudengar. Tentang ayah Shanum. Tentang sesuatu yang mungkin bisa membuka pintu masa lalu pesantren ini. Aku harus tahu siapa sebenarnya keluarga itu.***

Tangannya berhenti. Ia menatap jendela. Di luar, lampu dapur masih menyala, dan bayangan dua gadis itu tampak samar di balik tirai bambu.

Azzam memejamkan mata.

“Kalau benar tebakan ini,” bisiknya pelan, “mungkin jalanku untuk membongkar kebenaran... baru saja dimulai.”