Mata bulat Maya yang kecil tak berani menatap Adrian. Gadis itu mengarahkan pandangannya ke asal arah untuk menghindarinya. Sebab ia benar-benar takut salah tingkah jikalau harus bertatap mata dengan Adrian dalam posisi yang teramat sedekat ini.
Tetapi tentu saja, Adrian tak membiarkan itu terjadi. Walaupun ia tak mau Maya ketakutan, tetapi sudah kepalang basah, Maya sudah berada di pelukannya sekarang.
Lelaki itu mencengkeram dagu Maya dengan kedua jarinya, dan mengarahkan wajah itu kepadanya, supaya menengadah ke arahnya dan bertatap mata dengannya. Adrian tak melepaskan pandangannya sedetik pun, menatap lekat dan intens ke arah Maya.
“Maya, jangan menghindariku lagi,” bisiknya lirih, penuh godaan nan parau. Membuat Maya seketika dijalari rasa ngeri, membayangkan bahwa lelaki yang tengah memangkunya dan membelenggunya dengan santai itu akan melakukan sesuatu padanya.
Bagaimana tidak? Adrian saat ini hanya mengenakan celana pendek tanpa mengenakan atasan. Dan lelaki itu bersikap tak tahu malu dengan sengaja memamerkan bentuk tubuhnya pada Maya. Dirinya tadi memang berniat memakai baju, tetapi karena Maya hendak keluar dan ia begitu takut ditinggalkan, hancurlah sudah sikap sopan nan santun yang dijaganya selama ini untuk tidak menakuti Maya.
Adrian tersenyum menyadari semburat rona merah di wajah Maya.
“Maya, apa aku membuatmu takut?” Saat berkata, Adrian sengaja mengusap bibir Maya lagi dan lagi. Sementara pendar matanya menyiratkan seakan-akan ia ingin segera menghabisi mangsa yang telah ditangkapnya susah payah.
Maya meronta, berusaha melepaskan diri dari pelukan sebelah tangan Adrian yang panjang, yang melingkar di kedua bahunya dan menahannya kuat-kuat supaya tetap berada di sana.
“A-Adrian … k-kau … kau sebaiknya memakai bajumu terlebih dahulu,” katanya terbata sembari mendorong kuat dada Adrian agar menjauh darinya.
Tentu saja Adrian tidak melepaskannya begitu saja. Dia malah menarik pinggang Maya dengan gerakan kurang ajar, supaya lekat padanya dan menempel tepat di tubuhnya, untuk saling berbagi kehangatan.
Keringat Adrian yang membasah di seluruh tubuh telanjangnya tadi, kini sebagian telah menempel pada gaun Maya yang berwarna biru muda. Terserap dan saling berinteraksi satu sama lain hingga menciptakan pelak tembus pandang di beberapa bagian basah di gaun itu.
Adrian bukannya merasa bersalah, malahan semakin melebarkan senyumnya saat menyadari itu. Sementara Maya masih bersusah payah menarik diri menjauhi Adrian walaupun tahu kekuatannya ternyata tak sebanding dengan Adrian.
“Maya jangan bergerak.” Adrian menggeram pelan. Senyumnya sedikit luntur, tergantikan ekspresi kaku yang berusaha ia kendalikan. “Diamlah, dan duduk manis di pangkuanku,” lanjutnya lagi seraya mengangkat tubuh Maya, lalu menyilangkan kedua kakinya yang panjang dan cukup telanjang, untuk akhirnya mengembalikan Maya duduk di pangkuannya lagi dalam posisi yang lebih tinggi. Hampir sejajar dengannya.
“Adrian … ini –” Maya hendak menolak, tetapi jari telunjuk Adrian telah menempel di bibirnya, sebelum ia sempat.
“Sssttt! Patuhlah, aku tidak akan melakukan apapun padamu,” katanya penuh janji, yang tentu saja tidak dapat dipercaya.
Karena posisi mereka telah sejajar, Maya tak bisa lagi menghindari tatapan Adrian yang intens. Dan hanya bisa menegang, merinding merasakan debaran jantungnya yang hampir menjebol rongga dadanya.
Ketakutan bahwa Adrian akan memaksakan kehendak kepadanya telah terlintas di bola mata bulat itu, hingga Adrian menyadarinya. Karena itulah, lelaki itu berusaha menenangkannya dengan kalimat nan penuh janji.
“Tanpa izin darimu, aku tidak akan memaksamu. Percayalah Maya, aku tidak semaniak itu,” katanya meyakinkan Maya.
Tetapi siapa yang akan percaya? Siapa pun yang melihat posisi mereka saat ini, tentu saja akan langsung beranggapan bahwa dirinya telah memaksa Maya untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan oleh gadis itu.
Maya memang berada di atas pangkuannya, tetapi bukan atas kemauannya sendiri. Maya ditarik paksa, dan dicengkeram kuat untuk sampai di sana. Bahkan gadis itu tetap tidak bisa melepaskan diri walaupun telah meronta-ronta sekalipun. Menyedihkan!
“Maya, kaulah yang datang padaku, dan aku menerimamu. Kenapa kau begitu ingin jauh dariku?” ucap Adrian lagi.
“Adrian lepaskan dulu, ini tidak benar. Jika orang lain melihat aku akan–”
“Tidak ada yang melihat kita. Apa yang kau khawatirkan? Kau tidak berpikir kita akan melakukan hal-hal yang kita inginkan, bukan?” celetuk Adrian tak tahu malu.
Hal itu membuat wajah Maya semakin merah layaknya tomat siap panen. Pun terasa sangat panas.
“A-aku datang karena kau pergi begitu saja semalam, dan kau … kau tidak bisa dihubungi.” Akhirnya Maya melontarkan tujuannya datang ke tempat itu.
Adrian tersenyum dan menyibakan rambut Maya ke belakang. “Apa gadis kecil ini merindukanku?”
Tak menunggu Maya menjawab, Adrian menarik kembali dagu Maya dan mendekatkan wajah mereka, menempelkan dahinya ke dahi Maya. Pandangannya yang mulai buram dipenuhi gairah membuatnya memejamkan mata sejenak untuk mengendalikan diri.
Tentu saja, Adrian adalah lelaki normal. Ada seorang gadis di atas tubuhnya dan terus meronta seakan sengaja membangunkan hasrat kelelakiannya. Dia tidak mungkin bisa menahannya lebih lama lagi.
Napasnya yang terengah mencoba mengendalikan diri, membuat Maya menjadi khawatir dan langsung memusatkan perhatian padanya. “Adrian, kau kenapa?”
Adrian tak menjawab, hanya menjauhkan wajahnya sedikit dan hanya sebentar. Sebelum kemudian, lelaki itu dengan kuat menahan tengkuk Maya dengan sebelah tangannya supaya tak menjauh, dan tangannya yang lain menyentuh pinggang Maya yang lembut dengan sangat kurang ajar. Sementara bibirnya telah bergulir dan merangsek, mengecup dan merenggut segala rasa manis dari bibir Maya yang merah menggoda.
Adrian sudah tak bisa menahannya lagi. Dia memang bukan lelaki baik yang dapat dipercaya, sehingga dengan semudah itu mengingkari janji yang baru saja dibuatnya.
Adrian tak memberi kesempatan bagi Maya untuk menolak sentuhan bibirnya. Bahkan untuk bernapas pun tidak.
Maya sendiri adalah gadis yang tidak berpengalaman, sehingga hanya bisa meronta sebagai pertahanan dirinya walaupun tidak berguna sama sekali. Pasrah pada akhirnya, dan mengerang lirih merasakan sakit serta menikmati senyar yang menjalari seluruh tubuhnya ketika dia telah kehilangan seluruh udara untuknya bernapas sebab telah direnggut oleh Adrian.
Lama kemudian barulah akhirnya Adrian melepaskannya. Saat ia menyadari bahwa wajah Maya hampir membiru sebab kehabisan napas.
Ketika dia melepaskannya, tampak bibir Maya lebam dan merah keunguan. Membuat Adrian menyesalinya dalam hati. Seharusnya dia bersikap sedikit lembut tadi, supaya tak menyakiti Maya.
Dia lalu mengusap lembut bibir itu. Dan menatap Maya dengan dada naik turun yang masih terengah-engah mengais udara untuk membasahi paru-parunya.
“Kau boleh bernapas Maya. Kenapa kau menahan napasmu?” bisik Adrian lembut. Masih mengusap-usap bibir Maya.
Maya sendiri tak ingin melihatnya dan memilih menghindar. Tampak malu-malu ketika matanya tak sengaja bertemu dengan mata milik Adrian, dia pun memukul dada Adrian dengan keras.
“Kenapa kau melakukannya padaku?” marahnya menuntut. Selain matanya yang menunjukan kemarahan yang nyata, bibir Maya juga mengerucut dengan sangat sempurna.
Adrian malah terkekeh, bukan hanya karena wajah tersipu Maya yang lucu, tetapi juga karena pertanyaan gadis itu.
“Lalu aku harus melakukannya pada siapa? Bukankah kau calon istriku?” katanya membuat Maya semakin tersipu.
Bersambung ….