“Dari mana saja kamu, El?” suara Emma terdengar tajam begitu Rafael membuka pintu kamar hotel.
Rafael tak menjawab. Ia hanya melangkah masuk dengan wajah datar, aroma alkohol samar tercium dari tubuhnya. Jas hitamnya tak lagi rapi, kancing kemeja bagian atas terbuka. Ia berjalan melewati Emma begitu saja seolah tak mendengar pertanyaannya.
Emma menatapnya dengan pandangan penuh amarah dan curiga. Saat Rafael melewati cahaya lampu meja, matanya menangkap sesuatu di leher pria itu — tanda merah samar, jelas dan tak bisa disembunyikan.
“Leher kamu… kenapa?” suaranya bergetar menahan emosi. Ketika Rafael tetap diam, Emma maju satu langkah, menatapnya tajam. “Jawab, El! Jangan main-main sama aku!” teriaknya dengan mata memerah karena marah dan air mata yang hampir jatuh.
“Berisik!” bentak Rafael tiba-tiba, suaranya keras dan dingin, membuat Emma terdiam sesaat.
Rafael berjalan cepat menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras. Suara air mengalir terdengar tak lama kemudian, seolah ingin menenggelamkan ketegangan yang tersisa di udara.
Emma berdiri mematung di tempat, lalu perlahan duduk di tepi tempat tidur. Bathrobe putih yang membalut tubuhnya sedikit melorot di bahu, memperlihatkan kulitnya yang masih lembab setelah mandi. Ia menatap kosong ke arah pintu kamar mandi, mencoba menahan amarah yang berubah menjadi sesak di dada.
Ketika Rafael keluar beberapa menit kemudian, wajahnya tampak segar tapi ekspresinya tetap dingin. Ia mengenakan kemeja baru, merapikan lengan bajunya tanpa menatap Emma.
“Cepat bersiap. Kita akan pulang,” katanya datar. “Jangan buat nama baikku jelek dengan penampilan kamu yang seperti itu.”
Nada suaranya terdengar seperti perintah, bukan permintaan. Emma hanya menghela nafas panjang sebelum akhirnya berdiri dan menuju meja rias. Ia menatap pantulan dirinya di cermin — mata sembab, wajah lelah. Dengan gerakan pelan, ia mulai merias wajahnya, menutupi jejak emosinya dengan lapisan bedak dan lipstik merah muda.
Sementara itu, Rafael melangkah ke balkon. Ia menyalakan sebatang rokok, menghembuskan asap ke udara pagi yang dingin. Tatapannya kosong menembus langit yang mulai terang, pikirannya entah melayang ke mana.
Tiga puluh menit kemudian, keduanya keluar dari kamar tanpa banyak bicara. Lorong hotel yang mewah terasa sunyi ketika langkah mereka terdengar bergema.
Di dalam mobil, keheningan masih menggantung. Hanya suara mesin dan deru angin yang memecahnya.
“El, gimana kalau kita sarapan dulu?” suara Emma akhirnya terdengar, berusaha mencairkan suasana. “Aku belum makan apa-apa dari kemarin.”
“Nggak ada waktu,” balas Rafael datar, tanpa menoleh dari jalanan di depan. “Aku harus ke kantor.”
“Tapi El, bukannya kamu ambil cuti beberapa hari? Ini—”
“Aku bilang nggak ada waktu!” potong Rafael, kali ini dengan nada lebih keras.
Suasana di dalam mobil kembali sunyi. Emma menunduk, menggigit bibirnya sendiri menahan emosi. Di luar jendela, kota masih terlihat indah — tapi bagi Emma, dunia seolah ikut memudar.
Ia menatap Rafael dari samping, mencoba mencari sedikit sisa kasih di wajah pria itu. Namun yang ia temukan hanya dingin, dan jarak yang semakin tak terjangkau.
Mobil berhenti perlahan di depan rumah utama keluarga Bamantara — sebuah bangunan megah dengan pilar tinggi dan taman yang tertata rapi di sekelilingnya. Udara pagi masih dingin, sinar matahari baru menyentuh dedaunan yang berembun.
Emma membuka pintu mobil dan melangkah turun. Tumit sepatunya beradu pelan dengan batu marmer halaman depan. Ia berdiri tegak, menatap rumah besar itu.
Namun ketika ia menoleh ke arah mobil, Rafael sama sekali tak menunjukkan tanda akan turun. Dalam hitungan detik, suara mesin kembali meraung — mobil itu melaju menjauh meninggalkan Emma sendirian di tengah halaman yang luas dan sepi.
Helaan nafas panjang lolos dari bibir Emma. Ia menggigit ujung bibirnya sendiri, menahan emosi yang sudah di puncak. Tangannya mengepal kuat, jemarinya mencengkram ujung dress biru pucat yang ia kenakan. Dadanya terasa sesak — bukan hanya karena marah, tapi karena perasaan ditinggalkan untuk kesekian kali.
Pintu rumah besar itu terbuka perlahan. Dari dalam, seorang wanita paruh baya melangkah anggun keluar. Barbara dengan balutan gaun sutra warna krem dan perhiasan mutiara di lehernya. Tatapan matanya tajam namun wajahnya tetap lembut, seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan situasi dengan senyum tenang.
“Emma, sudah pulang?” ucap Barbara, suaranya halus namun penuh wibawa. “Kok pagi sekali? Mana Rafael?”
Emma langsung menatapnya dengan mata yang memerah, air mata nyaris menetes. Ia melangkah cepat mendekati Barbara. “Mama… bantu Emma, Ma,” ujarnya parau. “Sikap Rafael semakin dingin. Dia bahkan meninggalkan Emma di hotel, dan… dia main perempuan, Ma.”
Barbara berhenti beberapa langkah di depan Emma, menatap menantunya itu dari atas ke bawah dengan tatapan menilai. Lalu ia tersenyum samar, senyum yang tidak benar-benar hangat.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan,” ujarnya pelan, nadanya terdengar seperti nasihat tapi juga mengandung ketidakpedulian. “Apa salahnya kalau seorang pria… bermain di luar? Yang penting posisi sebagai istri tetap di tanganmu, Emma.”
Kata-kata itu membuat Emma terdiam. Matanya berkaca-kaca, tidak percaya dengan kalimat yang baru ia dengar.
“Tapi, Ma—”
Barbara melangkah lebih dekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Suaranya menurun menjadi bisikan dingin di telinga Emma. “Kalau kamu ingin Rafael kembali seperti dulu,” katanya pelan, “pikat dia dengan tubuhmu. Itu cara paling mudah untuk menaklukkan pria.”
Emma terperanjat, menatap Barbara dengan dahi berkerut. Tapi Barbara hanya meliriknya singkat, seolah nasihatnya adalah hal yang sangat wajar.
“Jaga badanmu, Emma. Jangan sampai berubah,” lanjut Barbara tanpa ekspresi. “Wanita hamil pasti akan kehilangan bentuk tubuhnya, dan percayalah… pria tak suka dengan itu.”
Kata-kata itu menusuk dalam, membuat Emma terdiam membeku di tempatnya. Antara malu, marah, dan kecewa.
Barbara kemudian merapikan ujung shawl di bahunya, lalu menatap ke arah pintu masuk rumah. “Sudahlah, ayo masuk. Tak perlu membuat keributan di pagi hari. Rumah ini terlalu besar untuk diisi dengan tangisan,” ucapnya dingin sebelum berbalik dan melangkah masuk.
Emma hanya berdiri disana, menatap punggung mertuanya yang menjauh. Angin pagi menerpa wajahnya yang masih basah oleh air mata.
Rafael buru-buru ke kantor karena dia mendengar jika hari ini. Lily akan ke Bamantara Group bersama ayahnya, wajah Rafael terlihat bersemangat. Sebelum keluar dari mobil dia memastikan penampilannya sempurna.
Saat melangkah masuk, Rafael melihat Lily yang masih berada di lobby bersama dengan ayahnya. Keduanya terlihat sedang berbicara, Rafael pun melangkah mendekat.
“Ayah kenapa pagi-pagi sekali ada disini?” tanya Rafael basa-basi yang kemudian matanya melirik ke arah Lily.
Wajah Lily melengos, dia terlihat malas untuk berkontak mata dengan Rafael.
“Ada yang mau ayah bicarakan dengan Agam,” jawab Agung. “Kamu, kenapa ke kantor? Harusnya kamu mengambil cuti untuk menemani Emma,” sambung Agung.
“Pekerjaan masih sangat banyak, tak bisa aku tinggal ayah,” jelas Rafael berbohong. “Ayo aku antar ayah ke ruangan Om Agam,” ucap Rafael dengan senyum tipis.
Agung mengangguk, mereka pun melangkah ke arah lift. Saat pintu lift dibuka, ketiganya masuk. Agung berada di depan sedangkan Lily dan Rafael dibelakang Agung. Rafael mengambil kesempatan untuk menyentuh tangan Lily, tapi Lily langsung menepisnya dia lalu maju satu langkah agar sejajar dengan sang ayah.