Lorong menuju ruang kerja Agam terasa sunyi. Hanya suara langkah sepatu Rafael dan Agung yang terdengar bergema di antara dinding marmer. Lily berjalan di belakang mereka dengan langkah pelan, wajahnya tampak pucat.
Setibanya di depan pintu besar berwarna coklat tua, Rafael mengetuk dua kali dengan sopan. “Om, ada Ayah dan Lily yang datang,” ucap Rafael setelah memutar gagang pintu perlahan.
Suara ketikan keyboard yang semula terdengar dari dalam ruangan berhenti. Agam mengangkat pandangannya dari layar laptop, lalu berdiri dari kursinya. Wajahnya langsung berubah ketika melihat sosok Lily berdiri di ambang pintu — pucat, lemah, namun tetap berusaha tersenyum.
“Bukannya aku sudah bilang kamu istirahat hari ini?” suara Agam datar tapi mengandung nada khawatir. Ia berjalan menghampiri Lily, berhenti hanya beberapa langkah di depannya. “Kenapa malah bekerja?” tanyanya, kali ini lebih lembut namun tegas.
Lily terdiam. Pandangannya menunduk, tangan kirinya menggenggam tas kecil yang dibawanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Tatapan Agam beralih ke arah Agung. Nada suaranya menurun, tapi sorot matanya tajam seperti pisau. “Apa Ayah yang mengajak Lily ke sini? Ayah nggak tahu kalau istriku lagi sakit?”
Pertanyaan itu meluncur begitu pelan, tapi cukup untuk membuat udara di ruangan terasa berat. Agung membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Tatapan Agam yang tenang tapi menekan membuat lidahnya kelu.
Beberapa detik kemudian, Agung menarik napas panjang. “Ayah nggak tahu kalau Lily sakit,” ucapnya akhirnya, suaranya terdengar menyesal. “Kalau ayah tahu, pasti ayah nggak akan biarkan dia ikut. Maafkan ayah.”
Agung lalu menatap Lily dengan ekspresi lembut yang jarang terlihat. “Kenapa nggak bilang sama ayah kalau kamu nggak enak badan, Nak?” tanyanya dengan nada penuh kasih. “Biar ayah suruh sopir antar kamu pulang, ya.”
Belum sempat Lily menjawab, Rafael tiba-tiba bersuara. “Aku bisa antar kakak ipar pulang,” ucapnya tenang tapi terdengar terlalu cepat — seolah ada maksud tersembunyi di balik tawarannya.
Kepala semua orang serentak menoleh ke arah Rafael. Tatapan Agam langsung mengeras, kilatan tajam muncul di matanya. “Tak perlu,” ujarnya singkat namun tegas. “Istriku bisa istirahat di kamar pribadiku.”
Rafael menahan diri untuk tidak menanggapi, menelan ludahnya pelan. Sementara Agung hanya menghela napas, memilih diam agar suasana tak semakin tegang.
Agam kemudian berbalik ke arah Lily. Suaranya berubah lembut, tapi tetap mengandung wibawa. “Masuk kamar dan istirahatlah,” katanya. “Kamu kelihatan lelah.”
Lily mengangguk pelan, “Iya Om.”
Ia lalu berjalan menuju pintu samping yang terhubung ke kamar pribadi Agam. Agam mengikuti Lily dengan pandangan matanya sampai pintu kamar tertutup. Baru setelah itu, ia kembali menatap Agung dan Rafael dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Udara dalam ruangan terasa kembali dingin, tapi bukan karena pendingin udara — melainkan karena jarak dan ketegangan yang kini menggantung di antara mereka bertiga.
“Untuk apa kau masih disini Rafael?” suara yang terdengar tajam itu tertuju kepada Rafael.
“Apa salahnya aku disini Om?”
“Bukankah kamu mengajukan cuti beberapa hari? Kenapa nggak menemani istri tercintamu itu?”
“Banyak pekerjaan yang harus aku urus, Om tenang saja istriku pengertian kok.”
“Tiba-tiba menjadi rajin, bukan karena tahu istriku kemari kan?” sambung Agam yang melangkah ke arah sofa. Dia lalu duduk, aura dingin dan dominant kembali menyebar membuat Agung mengerti situasi akan semakin buruk jika Rafael tetap berada disana.
“Sudahlah Rafael kamu bisa keruanganmu, ayah akan berbicara berdua dengan Agam,” tutur Agung yang akhirnya membuat Rafael keluar dari ruangan Agam.
Tok tok tok. Suara ketukan halus terdengar dari arah pintu.
“Masuk,” ucap Lily tanpa menoleh. Ia masih duduk di atas tempat tidur, bersandar pada sandaran empuk dengan beberapa bantal besar di belakang punggungnya. Ponsel di tangannya menampilkan layar chat yang belum sempat ia balas. Wajahnya tampak pucat, rambut hitamnya terurai menutupi sebagian bahu.
Pintu kamar terbuka perlahan. Seorang perempuan melangkah masuk sambil membawa nampan berisi cemilan dan segelas jus buah segar.
“Permisi, Bu,” ujar Ratna sopan dengan senyum ramah di wajahnya. “Saya membawa cemilan untuk Bu Lily. Tadi Pak Agam yang menyuruh saya.”
Lily menoleh, tersenyum tipis. “Letakkan di sini saja,” katanya sambil menunjuk nakas di sisi tempat tidur.
Ratna mendekat dengan langkah hati-hati. Ia meletakkan piring kecil berisi potongan roti lapis dan segelas jus di atas nakas, memastikan semuanya tertata rapi. Aroma jeruk segar segera memenuhi ruangan yang wangi lembut lavender.
“Kalau begitu saya pamit keluar, Bu. Kalau Ibu butuh apa pun, tinggal panggil saja, ya,” ujar Ratna dengan nada lembut.
“Iya, terima kasih, Ratna,” jawab Lily sambil tersenyum kecil.
Setelah Ratna menutup pintu, ruangan kembali sunyi. Hanya suara jam dinding dan embusan pendingin ruangan yang terdengar. Lily mengambil gelas jus itu dan meneguknya perlahan. Rasa dingin dan manisnya sedikit melegakan tenggorokannya yang terasa kering sejak tadi pagi.
Ia menatap gelas yang kini setengah kosong, lalu mengembuskan nafas pelan. Pagi tadi, ia sempat meminum secangkir kopi. Kemarin, setelah minum kopi, semuanya baik-baik saja. Tapi hari ini berbeda. Belum lama setelah menyeruputnya, perutnya terasa melilit dan mual.
Agam yang mengetahui hal itu langsung melarang Lily untuk pergi ke kantor.
Kini, di dalam kamar pribadi Agam yang luas dan tenang, Lily menatap ke arah jendela besar di samping tempat tidur. Tirai putih menari pelan tertiup angin dari celah ventilasi. Sinar matahari yang lembut masuk, memantul di kulitnya yang pucat.
Perlahan, ia memijat perutnya yang masih terasa perih sambil memejamkan mata.
“Masih sakit? Aku panggilkan dokter ya.” Suara Agam membuat Lily membuka matanya.
“Nggak perlu, Om. Aku baik-baik saja,” ucap Lily mencegahnya. “Apa ayah udah pulang?” tanya Lily yang dijawab anggukan kepala.
“Kenapa nggak bilang ke ayah kalau kamu sakit agar kamu nggak nemenin dia kesini.”
“Apa dia benar-benar akan peduli?” balas Lily membuat Agam terdiam.
“Yaudah istirahat aja, nggak usah memikirkan hal lain,” tutur Agam yang dijawab anggukan kepala oleh Lily. “Sebentar lagi aku ada rapat, kamu disini dulu setelah selesai rapat baru aku antar kamu pulang.”
Agam mengusap puncak kepala Lily sebelum dia keluar dari kamar meninggalkan Lily untuk istirahat.
Beberapa saat setelah Agam keluar dari ruangannya, Rafael keluar dari lift menuju ruangan Agam. Ratna yang melihat Rafael pun menghampirinya.
“Pak Rafael, maaf Pak Agam masih rapat,” ucap Ratna sekretaris Agam.
“Apa masih lama?”
“Rapatnya baru aja dimulai, jadi kemungkinan masih lama Pak. Apa ada pesan yang ingin Pak Rafael sampaikan?”
“Tidak ada, nanti kabari saja jika rapat sudah selesai,” tutur Rafael yang kemudian melirik ke arah ruangan Agam yang tertutup rapat.
Smirk terlihat di wajah Rafael saat dia berjalan menjauh dari ruangan itu.