His Contract Bride - Ancaman Samar - Bab 16

Penulis Rei_Moira
09 September 2025

Kael melangkah cepat dari ruang kerjanya. Sorot matanya tajam, fokus pada pintu lift yang akan mengantarnya turun ke lobi kantor pusat Vireaux Group. Bukan tanpa alasan ia bersikap seperti ini. Semuanya gara-gara satu pesan yang hampir membuatnya membanting ponsel ke lantai.

Di belakangnya, Luther terus mengikuti. Sebelah alisnya terangkat, dengan tatapan awas meski secara keseluruhan, gerakannya terlihat santai. Tangannya dengan cekatan menekan tombol lift, dan mempersilakan Kael untuk masuk terlebih dulu. Begitu pintu lift tertutup, Kael sedikit memiringkan kepalanya.

“Sudah kau pastikan area sekitar penthouse aman?”

Luther mengangguk sekali. “Ada dua bodyguard yang sudah aku tempatkan di sana tanpa sepengetahuan nona Aurora.”

“Bagus.” Kael menghela napas dalam, nyaris seperti geraman yang tertahan. “Aku tidak ingin dia terkejut karena ada seseorang yang mencoba untuk mencelakainya.”

“Mereka mulai bermain kotor. Haruskah aku turun tangan?” Suara Luther tak memiliki lekuk keraguan sedikit pun.

Namun Kael menanggapinya dengan gelengan kecil. “Tahan dulu. Aku ingin pion utama mulai bergerak sendiri agar lebih mudah meringkusnya.”

Luther sedikit mengerutkan keningnya. “Tapi… itu berarti nona Aurora tidak akan aman sepanjang Anda menunggu. Anda rela mengorbankannya dalam situasi ini?”

Kael menatap pantulan dirinya di pintu lift. Ekspresinya datar, kontras dengan gemuruh dalam dadanya. “Dia sudah bersedia untuk menyalakan api. Itu berarti, dia harus siap untuk berperan sebagai umpan, right?”

“Sekalipun itu membahayakan nyawanya?”

Rahang Kael mengetat. “Ya, tapi akan kupastikan dia baik-baik saja.” Meski sesaat, ia mulai meragukan keyakinannya.

Luther tak lagi membahasnya. Ia tahu Kael tak akan pernah mundur dari setiap rencananya. Bahkan jika rencana itu berada pada seutas tali tipis antara hidup dan mati.

“Aku harus mencari tempat yang aman jika semua hal menjadi lebih rumit dari pemikiranku.” Kael mengatakannya lagi, saat keduanya telah berada di dalam mobil.

“Tidak ada properti milik keluarga Vireaux yang aman, Tuan. Bastien selalu memiliki celah untuk menyusup kesana.” Luther mengingatkan, sambil menurunkan tuas rem tangan sebelum menjalankan mobil keluar dari basement.

Kael tahu hal itu. Bahkan jika ia membeli aset baru pun, pria tua serakah itu akan dengan mudah menyusup—seperti ular berbisa.

“Tapi…,” lanjut Luther. “jika memang Anda mencari tempat yang aman untuk nona Aurora, Anda bisa membawanya ke villa tua orang tuaku yang tidak pernah terdaftar sebagai aset milikku. Aku tidak akan menjamin keamanan seratus persen, tapi itu lebih dari semua properti Vireaux untuk saat ini.”

Kael menurunkan satu dokumen yang akan ia baca. Sedikit menimbang, mungkin penawaran Luther adalah yang terbaik untuk saat ini.

“Di mana letaknya?” tanya Kael.

“Pinggiran kota, dekat perbatasan menuju ke Ravelle.”

Kael mengalihkan pandangannya ke jalanan Vallmont yang bergerak cepat, nyaris seperti bayangan. Meskipun ia tahu mungkin saja tempat Luther adalah yang terbaik untuk pilihan saat ini, tapi ia masih belum yakin untuk melepas Aurora dari sisinya.

Namun kenapa?

Semua hal yang ia lakukan saat ini. Kecemasan berlebihan yang membingungkan. Kenapa ia harus merasakannya? Sepenting itukah wanita itu baginya? Bukankah seharusnya tak masalah jika Aurora pada akhirnya terluka—atau bahkan yang lebih buruk dari itu. Sama sekali tak ada urusannya dengan Kael. Hubungan mereka hanya sebatas perjanjian hitam di atas putih. Tak ada perasaan yang membuat kecemasan dan ketakutan mendorong keinginan untuk melindungi.

Benarkah?

Apakah semua pernyataan itu benar? Atau… itu semua hanya usaha Kael untuk menghindari perasaan yang sebenarnya telah dirasakan olehnya?

“Luther….”

Luther mengangguk tipis tanpa menggeser pandangannya sedikit pun. “Ya, Tuan?”

Kael membuka mulutnya, tapi tak segera mengeluarkan kalimatnya. Egonya menahan suara—tercekat dan membuatnya menghela napas dalam-dalam.

“Apakah…,” lagi-lagi Kael menjeda kalimatnya. “... wajar jika aku melakukan ini semua?”

Kini Luther menoleh sejenak, hanya sepersekian detik. “Aku tidak tahu apa yang Anda maksud dengan wajar. Tapi kalau itu tentang nona Aurora… ya, itu hal yang wajar. Cinta selalu memiliki rasa untuk khawatir dan ingin melindungi.”

Kael terbatuk ringan, tak menyangka akan tersedak ludahnya sendiri. “Kau bilang apa? Cinta?”

Pundak Luther berjingkat pelan. “Ya, cinta. Bukankah Anda mulai memiliki perasaan itu? Bagiku sangat wajar jika Anda melakukan semua hal itu. Menyewa bodyguard, memastikan nona Aurora tidak terjangkau oleh orang yang menguntitnya, dan mencarikan tempat yang aman untuk perlindungan.

“Wow, woooow! Easy, man. Aku tidak sedang dalam perasaan mendalam seperti itu padanya. Kau salah paham, Luther.”

Satu mata Luther penyipit, semacam ragu pada ucapan yang baru saja didengarnya. “My bad, Tuan. Jadi… apa yang Anda maksud?”

“Lupakan, cepat arahkan ke penthouse saja.” Suara Kael pecah, tak lagi penuh kepercayaan diri.

Luther mengangguk, tak lagi menanyakan. Sedangkan Kael, ia mulai merenungi ucapan Luther. Benarkah teori murahan yang baru saja ia dengar itu terjadi padanya? Sejak kapan ia memiliki kemampuan untuk… merasakan cinta?

Bukan. Tampaknya pertanyaan itu harus diubah. Benarkah ia mencintai Aurora? Sial, pikirannya terus saja menyangkal, namun gemuruh dalam dadanya seakan menegaskan bahwa apa yang dikatakan Luther adalah benar.

Beberapa kali Kael mengetatkan rahangnya. Tangannya mengepal diam-diam, sementara pikirannya terus tertuju pada Aurora.


“Dia telat.” Aurora melempar pandangannya ke jam dinding di ruang santai penthouse. “Dan aku sudah kelaparan!” geramnya.

Ia kembali melirik jam, lalu berdiri dari duduk di sofa dan berjalan kesal menuju meja makan. Hidangan Italia telah tersaji di sana—tentu saja telah dingin.

“Untung semua ini aku beli, bukan kubuat,” rutuknya lagi. “Tapi tetap saja, harusnya dia memberitahuku kalau pulang telat agar aku bisa makan dari tadi! Dasar pria menyebalkan tak memiliki empati sama sekali! Aku curiga kemanusiannya telah digadaikan untuk semua kemewahan ini.”

Bersamaan dengan itu, suara smart lock terdengar nyaring. Bunyi klik pelan mengawali langkah Kael. Dan Aurora, segera menegakkan badannya yang hampir menyendok lasagna.

“Rora?” panggil Kael.

Dengusan kasar terdengar dari Aurora. Ia masih membawa sendok ketika melangkah cepat dan berdiri di hadapan Kael dengan tatapan tajam.

“Kau baru makan?” Alis Kael terangkat satu.

“What??” Aurora tak mampu menahan emosinya. “Kau terlambat datang dan tanya apa aku baru makan?!”

Langkah Kael kehilangan ritmenya. Alisnya bertaut erat. “Kenapa kau marah? Aku melakukan kesalahan?”

Serius? Kenapa rasanya hanya Aurora yang menganggap situasi ini adalah satu momen yang kritis?

“Kau lupa janji kita tadi siang!” seru Aurora.

Kael benar-benar kehilangan arah. Ia mencoba mengingat hal apa yang lolos dalam ingatannya, tapi sampai akhir tak menemukan apa pun. “Apakah kita membuat janji tadi siang?”

“Damn, Kael!” Aurora meledak. “Aku bilang menunggumu makan malam sebelum melangkah keluar dari ruanganmu. Dan kau tanya apakah kita membuat janji?!”

Sial! Kael lupa sepenuhnya.

“Oh?” ucap kael.

Aurora mendelik lebar. Tangannya mencengkeram erat sendok yang ujungnya terdapat saus lasagna. “Oh?! Kau hanya bilang Oh?!”

“Aku kita itu hanya basa-basi, Rora. Kita tak pernah saling menunggu untuk makan malam, right?”

Kael benar. Mereka memang tidak pernah melakukannya. Namun tetap saja….

“Aku benar-benar membencimu, Kael Vireaux!” Aurora menghentak kasar kakinya saat menuju ke meja makan, lalu membawa semangkuk besar lasagna dan membawanya ke dalam kamar. Sebelum ia benar-benar masuk, Kael memanggilnya pelan.

“Ehm… Rora….”

Aurora menoleh, berharap ada permintaan maaf atau apa pun itu.

“Pastikan kau membawa air minum.”

Kael sialan!

Aurora tak menjawabnya. Ia mendorong gemas pintu kamarnya, lalu menggebraknya kasar. Tak ada yang bisa ia harapkan dari pria menyedihkan seperti Kael vireaux.

Sementara itu—masih di ruang tengah—Kael mengerutkan kening sambil tetap memperhatikan pintu Aurora yang tertutup. Demi Tuhan, ia sungguh tidak bisa memahami perasaan seorang wanita. Ia baru saja menuntaskan situasi yang hampir membahayakan Aurora, tapi sekarang wanita itu marah… dengan membawa semangkuk besar lasagna?

“Aneh,” ujarnya, sambil berjalan menuju ke kamarnya.