Drama

KEDEKATAN YANG DI SENGAJA

Penulis Sabil_775
21 October 2025

Pagi itu, embun masih menggantung di ujung dedaunan kopi yang tumbuh di belakang pesantren. Udara Gayo terasa segar tapi lembap, menusuk sampai ke kulit. Dari arah masjid, suara santri mengaji samar-samar terdengar bercampur dengan aroma roti goreng dari dapur asrama.

Azzam melangkah pelan di antara jalan setapak berlapis tanah merah. Ia membawa segelas teh panas di tangan kanan, sementara tangan kirinya dimasukkan ke saku baju koko abu-abunya. Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat, membuat langkahnya seperti berjalan di antara mimpi dan kenyataan.

Namun langkah itu bukan sekadar kebiasaan pagi. Ada tujuan tersembunyi di balik ketenangan wajahnya. Sejak semalam, kalimat Hilma terus terngiang di kepala, menusuk lebih dalam daripada yang ia mau akui.

“Andai saja Azzam tahu kelakuan busuk ayahmu dulu, dia nggak bakal mau sama kamu.”

Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya seperti cambuk di dada. Ia tahu Hilma tidak asal bicara. Ucapan itu bukan sembarang emosi, ada rahasia besar di baliknya, mungkin saja sesuatu yang bisa membuka kunci masa lalu yang selama ini. Dan itu berkaitan dengan masa lalu ibunya.

Ia berhenti di tepi dapur. Dari kejauhan, terlihat Hilma duduk di teras kecil, menjemur buku-buku santri yang basah karena hujan malam tadi. Jemari gadis itu bergerak hati-hati, seperti takut merusak halaman-halaman yang sudah menguning. Sesekali, mata Hilma terarah ke halaman belakang tempat beberapa santri bermain.

Azzam menarik napas, menata ekspresi agar tetap ringan. Ia tahu ia harus bermain peran dengan hati-hati. Azzam menghampiri, pura-pura seolah tak sengaja lewat.

“Rajin sekali pagi-pagi udah sibuk?” suaranya lembut tapi cukup untuk membuat Hilma menoleh.

Hilma mengangkat wajah, terkejut, lalu tersenyum tipis. “Kalau nggak dikerjain, nanti Ummi marah. Lagi pula ... matahari pagi juga sehat untuk berjemur.”

Azzam tertawa kecil, pura-pura menyesap tehnya. Ia kemudian menaruh gelas tehnya di pinggir meja. “Kalau begitu aku bantu. Biar cepat selesai.”

“Ah, nggak usah, Ustaz,” jawab Hilma, tapi tangannya sudah kalah cepat. Azzam mengambil beberapa buku dari ember kecil, lalu menjemurnya di samping Hilma.

Suasana hening sejenak. Hanya ada suara burung dan desiran dedaunan yang diterpa angin.

Azzam menatap sekilas, berpura-pura santai. Tapi pikirannya tajam, “benarkah gadis ini tahu sesuatu tentang keluarga Zimraan?”

Ia perlu mendekat, tapi tanpa menimbulkan kecurigaan.

Hilma menatapnya dari ekor mata. Wajah Azzam tampak tenang, tapi juga ada sesuatu di balik tatapan itu, semacam kedalaman yang tak mudah dijelaskan. Dan setiap kali ia melihat Azzam, lelaki itu selalu tersenyum. Ia pun buru-buru mengalihkan pandangannya, merasa gugup tanpa alasan.


Sementara itu, dari jauh, Shanum memperhatikan mereka dari jendela kamarnya. Mata gadis itu menatap lurus ke halaman, di mana Azzam dan Hilma tampak tertawa kecil.

Dadanya terasa sesak.

Ia sudah cukup berani semalam, mengatakan pada Hilma bahwa ia menyukai Azzam. Tapi Hilma tidak begitu menanggapinya. Malahan Hilma menyuruh dirinya untuk menjaga jarak.

Tapi kenapa sekarang, orang yang ia sukai justru terlihat dekat dengan sepupunya sendiri.

Shanum menggigit bibir, jemarinya mencengkram bingkai jendela. Kenapa dia harus dekat dengan Hilma?

Apalagi Hilma ... sejak dulu selalu tampak menang dalam segala hal. Ia cantik, manis, dan disukai semua orang.

Rasa panas itu naik ke dada. Tapi yang membuat Shanum lebih gelisah bukan hanya rasa cemburu, melainkan ucapan Hilma semalam.

“Andai, Azzam tahu kelakuan busuk ayahmu dahulu…”

Ia menggenggam tangannya erat. Apa maksudnya? Apa yang dimaksud Hilma dengan “ayahmu”? Apakah ia menyembunyikan sesuatu yang justru Shanum tidak mengetahui nya.

Hatinya mulai diselimuti rasa takut. Ia ingin menyangkal, tapi bagian kecil dari dirinya justru percaya, bahwa Hilma mungkin tahu sesuatu yang tidak ia ketahui.


Sementara itu, di ruang guru, Azura sedang menyiapkan buku pelajaran tafsir di ruang guru. Udara masih sejuk, dan sinar matahari yang masuk dari jendela membuat ruangan terasa hangat.

Namun ketika matanya tanpa sengaja menangkap sosok Azzam dan Hilma yang tampak sangat dekat. Ia terdiam sejenak.

Dari kaca jendela, terlihat Azzam mengulurkan tangan, membantu Hilma mengangkat jemuran buku. Keduanya tampak akrab, meski obrolannya samar tertelan angin. Hilma tersenyum malu, dan Azzam menunduk sedikit sambil berkata sesuatu yang membuat gadis itu tertawa kecil.

Azura menatap pemandangan itu lebih lama dari yang ia sadari. Ada sesuatu yang aneh di dadanya. Rasa sesak yang tidak punya nama.

Kenapa hatinya terasa sakit?

Padahal Azzam bukan siapa-siapanya. Ia hanya guru baru. Seseorang yang bahkan belum lama tinggal di pesantren ini.

“Kenapa wajahmu muram, Ustazah Azura?” suara Ummi Farah memecah lamunannya.

Azura tersentak, lalu buru-buru menunduk. “Nggak, Ummi. Hanya kepikiran jadwal pelajaran hari ini.”

Ummi menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya, seolah bisa membaca isi hatinya. Namun ia hanya mengangguk kecil sebelum berlalu, meninggalkan Azura yang kini tak lagi fokus membuka buku di depannya.


Sementara itu, di balik gedung musala, Farhan berdiri bersandar pada dinding, memperhatikan Azzam dari jauh. Pandangannya tajam, penuh curiga.

Ia sudah beberapa hari terakhir memperhatikan gerak-gerik guru baru itu, terlalu tenang, terlalu terukur, dan terlalu … penuh perhitungan.

Saat Azzam berpaling, Farhan sempat menangkap tatapan mata itu. Ada sesuatu di sana, bukan sekadar ketenangan, tapi kedalaman yang mengingatkan Farhan pada seseorang dari masa lalu.

Ia menarik napas panjang dan melangkah ke arah asrama putra. Di sana, Elzhan sedang memperbaiki papan jadwal piket.

“El, boleh aku tanya sesuatu?” katanya tenang.

Elzhan menoleh sambil tersenyum. “Tanya aja, Ustadz.”

“Guru baru yang bernama … Azzam. Kau tahu asalnya dari mana?”

Elzhan berhenti menulis. “Yang aku tau, dia dari Banda Aceh. Kenapa, Ustadz?”

Farhan menatap ke langit, seolah mencari jawaban di antara awan. “Entahlah, El. Ada yang aneh dari sikapnya. Dari awal dia datang aku melihat nya seperti seseorang yang sudah lama aku kenal. Pun, matanya…” ia berhenti sebentar, “…seperti pernah kulihat.”

Elzhan tertawa kecil. “Kamu kebanyakan curiga, Ustadz. Dia cuma guru baru. Buyya sendiri yang menyuruhku menjemputnya waktu itu.”

Farhan menunduk, suaranya nyaris berbisik. “Dan itu justru yang bikin aku nggak tenang…”


Menjelang sore, cahaya matahari mulai redup. Azzam duduk di perpustakaan kecil, menyalin catatan pelajaran tafsir untuk kelas sore. Ruangan itu tenang, hanya suara kertas dan detak jam dinding yang terdengar.

Pintu berderit pelan. Hilma muncul, membawa tumpukan buku tua. “Ini yang kamu minta, Ustaz,” katanya pelan.

Azzam mengangkat wajah, menatapnya sambil tersenyum. “Terima kasih. Kamu memang selalu cepat.”

Hilma meletakkan buku di meja, tapi saat hendak berbalik, Azzam memanggil, “Hilma, boleh aku tanya sesuatu?”

Gadis itu berhenti, menoleh. “Apa, Ustaz?”

“Semalam … kamu sempat bicara sesuatu tentang ayah Shanum.” Azzam menatapnya tenang, tapi sorot matanya tajam. “Kamu tahu sesuatu, ya?”

Hilma membeku sejenak, wajahnya berubah tegang. “Kamu dengar, ya?”

Azzam menunduk sedikit, pura-pura merasa bersalah. “Aku nggak bermaksud menguping. Tapi kata-katamu terdengar jelas.”

Hilma menatap ke arah jendela. Cahaya sore menyapu wajahnya, membuat matanya terlihat sendu. “Kalau aku ceritakan … apakah kamu janji nggak akan bilang ke siapa pun?”

Azzam menatapnya dalam. “Aku janji.”

Hilma menghela napas panjang, menatap lurus ke matanya. “Yang kamu lihat selama ini, bukan semuanya seperti yang kamu kira. Kadang … orang yang terlihat paling suci, justru yang paling pandai menyembunyikan dosa.”

Suara itu bergetar, seperti keluar dari luka lama yang belum sembuh.

Azzam diam, tapi jantungnya berdentum keras. Ia tahu, sore yang sengaja ia rencanakan ini akhirnya membuahkan hasil. Ia telah menyentuh ujung kebenaran yang selama ini ia cari.

Namun ia juga sadar, semakin dalam ia menggali, semakin besar risiko yang menunggunya. Karena di pesantren ini, kebenaran bukan hanya disembunyikan… tapi dijaga dengan darah.