Dinikahi Paman Mantan - Mencoba Kembali - Bab 20

Penulis Nuvola
22 October 2025

Rafael memperhatikan langkah Ratna yang berjalan menuju kamar mandi. Begitu suara pintu kamar mandi tertutup, kesempatan itu langsung ia manfaatkan. Dengan langkah hati-hati, Rafael melangkah ke arah ruangan kerja Agam. Pintu itu tidak dikunci. Ia membukanya perlahan, menahan napas seolah takut suaranya terdengar.

Begitu pintu terbuka sepenuhnya, pandangannya menyapu ruangan luas dengan interior modern yang rapi dan beraroma wangi kayu. Tak ada siapa pun di sana. Suasana sunyi hanya diisi oleh dengung lembut pendingin ruangan. Rafael segera menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan cepat menuju kamar pribadi yang berada di dalam ruangan itu.

Tok tok tok.

Suara ketukan itu membuat Lily spontan menoleh. Ia sedang duduk di tepi tempat tidur, masih dengan ponsel di tangan. “Siapa?” tanyanya dengan nada waspada.

Pintu perlahan terbuka, memperlihatkan sosok yang sudah lama tidak ingin ia lihat lagi.

“Rafael?” ucap Lily, suaranya meninggi penuh ketidaksenangan. Ia langsung berdiri, jarak di antara mereka kini hanya beberapa langkah. “Ngapain kamu kesini?” tanyanya tajam, mata Lily menatapnya dingin.

“Aku cuma mau ketemu kamu, sayang,” ucap Rafael lembut, berusaha menenangkan nada suaranya. Ia melangkah mendekat perlahan, mencoba menatap wajah Lily yang kini kaku menahan emosi. “Kamu masih marah sama aku?”

Tangannya terangkat, mencoba menyentuh pipi Lily — refleks yang muncul dari kebiasaannya dulu. Namun Lily cepat mundur, langkahnya menjauh dengan ekspresi jijik dan marah.

“Jangan macem-macem, Rafael!” suaranya bergetar tapi tegas.

Rafael menunduk sedikit, mengangkat kedua tangannya di depan dada. “Iya, aku nggak nyentuh kamu. Aku cuma pengen bicara baik-baik. Aku nggak akan kurang ajar lagi, aku janji. Tapi tolong, kasih aku kesempatan buat perbaiki semuanya.”

“Aku benar-benar mencintai kamu, Lily. Aku baru sadar... yang benar-benar aku cintai itu kamu.”

Namun, Lily hanya memandangnya dengan mata yang sudah kehilangan cahaya hangat. “Aku nggak mau dengar omong kosong kamu lagi. Jadi, keluar dari sini.”

Nada bentakannya tajam, membuat Rafael terdiam sejenak. Nafasnya naik-turun menahan emosi, namun ia tetap mencoba bertahan.

“Lily, please... kasih aku satu kesempatan lagi. Sekali ini aja.”

“Aku bilang pergi!” bentak Lily lagi, lebih keras, membuat udara di kamar itu seakan membeku.

Hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar.

Rafael menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Baiklah,” ujarnya akhirnya dengan suara lemah.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, Rafael bersandar sejenak di daun pintu, mencoba menenangkan diri. Pandangannya lalu tertuju pada meja kerja Agam di ruangan depan. Di sana, ia meletakkan sebuah map hitam berisi dokumen yang sudah ia siapkan sejak kemarin.

Sambil menatap map itu, Rafael bergumam pelan, suaranya hampir tak terdengar, “Masih banyak waktu… aku tahu kamu nggak suka dipaksa, Lily. Tapi aku juga nggak akan menyerah semudah itu, kamu akan tetap menjadi milikku.”

Ia menatap pintu kamar itu sekali lagi, tatapannya penuh arti.

“Ngapain kau disini?!”

Suara lantang dan penuh wibawa terdengar dari arah pintu, membuat Rafael refleks menoleh. Di sana berdiri Agam, wajahnya tegang, sorot matanya tajam menusuk seperti pisau yang siap menguliti setiap kebohongan.

Rafael sempat terdiam sepersekian detik sebelum mengatur napas dan menjawab dengan nada datar namun sopan. “Aku hanya ingin menyerahkan dokumen yang Om minta,” ujarnya, mencoba tetap tenang di bawah tatapan Agam yang menekan.

“Keluar!”

Hanya satu kata, namun cukup untuk mengguncang suasana ruangan.

Rafael mengangguk, lalu melangkah keluar tanpa banyak bicara. Ketika pintu tertutup, Agam menghembuskan napas berat, lalu bergegas menuju kamar pribadinya. Langkah-langkahnya terdengar berat dan tergesa, menunjukkan amarah yang masih tertahan di dadanya.

Begitu pintu kamar dibuka, ia mendapati Lily yang refleks berdiri dari tempat tidur. Wajahnya tampak tajam namun seketika terlihat bernafas lega. Reaksi itu saja sudah cukup bagi Agam untuk menebak Rafael sempat menemui Lily.

Tatapan Agam menajam, rahangnya mengeras. “Apa yang Rafael katakan?” tanyanya to the point, suaranya dalam dan tegas.

Lily memalingkan wajah, menatap lantai agar tidak berhadapan langsung dengan tatapan pria di depannya. “Nggak ada, Om. Nggak usah dibahas,” jawabnya cepat, suaranya tenang tapi terdengar jelas kalau ia berusaha menahan emosi.

Namun bagi Agam, jawaban itu justru menimbulkan kecurigaan.

“Kenapa kamu tidak mau bicara? Apa sesusah itu jujur padaku?” tanyanya, kali ini dengan nada yang sedikit meninggi. Ia melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka hanya sejengkal.

Lily menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Tak ada yang penting untuk dikatakan, Om.”

Agam terdiam sejenak, namun hatinya mulai dikuasai cemburu yang tak bisa ia kendalikan. “Apa sekarang kamu berubah pikiran? Kamu mau kembali ke dia?” suaranya rendah tapi menusuk, dan dalam ketegangan itu, tangannya tanpa sadar mencengkeram pergelangan tangan Lily dengan kuat.

Lily meringis, tubuhnya sedikit menegang menahan sakit. “Om… sakit…”

“Jawab aku, Lily!” desak Agam keras, nadanya seperti perintah yang tak bisa dibantah.

“Aku tak pernah berpikir kembali ke pria brengsek itu!” seru Lily akhirnya. Suaranya bergetar, namun penuh ketegasan. “Apapun yang dia katakan, aku nggak peduli! Aku muak, Om! Aku muak dengan dia!”

Air matanya menetes perlahan, bukan karena Rafael, tapi karena rasa lelah dan tekanan yang menyesakkan.

Mendengar itu, Agam tersentak sadar. Ia segera melepaskan genggamannya, lalu menarik Lily ke dalam pelukannya dengan gerakan spontan. “Maaf… aku terlalu emosi,” lirihnya menyesal, suaranya nyaris tak terdengar.

Lily diam. Ia tak membalas pelukan itu, tapi juga tidak menolak. Tubuhnya hanya kaku di dalam dekapan Agam, merasakan detak jantung pria itu yang berdebar keras di dadanya.

Setelah beberapa saat, Agam perlahan melepaskannya. Pandangannya langsung tertuju pada pergelangan tangan kanan Lily yang kini memerah karena ulahnya sendiri. Hatinya mencelos. “Aku minta maaf,” katanya tulus, suaranya melembut.

Lily menghela nafas pelan, mencoba menenangkan dirinya. “Aku lelah, Om. Aku mau pulang,” ucapnya pelan sambil mengambil tas yang tergeletak di sofa.

Belum sempat ia melangkah, Agam lebih dulu mengambil tas itu darinya. “Aku antar,” ucapnya singkat, lalu menggenggam tangan Lily sebelum wanita itu sempat menolak.

Lily hanya diam. Ia membiarkan Agam menggandeng tangannya keluar dari kamar. Tatapan mata Ratna — sekretaris Agam — langsung membulat ketika melihat pemandangan itu. Agam, pria dingin yang selama ini terkenal kaku dan berwibawa, kini berjalan sambil menenteng tas wanita dan menggandeng Lily dengan lembut.

Ratna bahkan nyaris menjatuhkan berkas di tangannya. “Astaga… ini pertama kalinya,” gumamnya pelan, matanya tak lepas dari mereka sampai pintu lift tertutup.

Begitu lift mulai turun, suasana hening beberapa detik sebelum Lily tiba-tiba tertawa kecil. Tawa ringan tapi tulus, membuat Agam spontan menoleh. “Apa yang lucu?” tanyanya heran, alisnya terangkat.

Lily menggeleng sambil tersenyum geli. “Sini tasku. Om kelihatan nggak cocok banget bawa tas wanita begini,” ucapnya sambil mencoba merebut tasnya.

Namun Agam menolak memberikan. “Tangan kamu masih sakit, jadi biar aku yang bawa,” ujarnya tegas tanpa menatap Lily.

“Tapi nanti Om jadi bahan tertawaan di kantor,” balas Lily, mencoba mengambil tas itu lagi.

Agam menoleh singkat, matanya menatap lembut. “Biarkan saja.”

Lily mendengus kesal, lalu mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil. Melihat itu, Agam tak tahan untuk tidak tersenyum. Ia menunduk sedikit dan dengan santai mencolek hidung Lily.

“Tak ada yang salah dengan apa yang aku lakukan,” katanya dengan nada hangat.