Wajah kota terlihat kumuh, hujan hari ini membuat tanah menjadi becek. Bahkan beberapa sampah teronggok di beberapa sudut kota.
"Hai! Ada yang mau uang tidak? Jatah siapa nih yang buah sampah hari ini?" Teriak seseorang dengan baju mirip seorang koki.
"Aku ... tapi janji, kau beri aku upah ya!" sebuah suara terdengar cempreng, ternyata pemilik suaravitu adalah anak kecil, menjadikan orang koki itu harus menunduk untuk melihatnya.
"Hah! Kau lagi Bho Khong. Kau tidak membuangnya pada tempatnya, tapi kau bongkar sampahmu ya kan!? Tidak! Aku tak mau pakai jasamu!! Hai! Para manusia, tak mau uang ya?!" Teriaknya lagi menawarkan pada yang lainnya.
Bho Khong tampak tersinggung dengan cara orang itu, bertahun-tahun manusia macam dirinya hanya menjadi budak bak orang tak berguna di depan para monster ini, dan Bho Khong mencegah para manusia untuk datang ke kota ini, tapi ada saja orang yang menghiasi rejeki untuk sekadar menjadi jongos mereka agar mendapatkan upah berupa uang yang memang jumlah lumayan banyak
"Biar aku saja, mereka tak akan mendengar, deal beri aku upah dulu, dan segara akan aku buang sampah busukmu ini!"
Anak lelaki dengan tubuh kurus itu pun menarik bak sampah yang tingginya lebih dari dirinya, walaupun terlihat sangat kepayahan. Napasnya terdengar tak beraturan. Lagi-lagi, tangannya menarik lagi bak sampah tersebut. Bau busuk menguar, karena sampah yang bercampur dengan air hujan. Tanah becek yang diinjaknya membuat kaki kecil itu menjadi kotor dan sangat menjijikkan.
Sejumlah uang yang diberikan sang pemilik sampah tadi lumayan bisa ia kantongi. Bisa untuk membeli makanan yang tak kalah nikmat di kampung tersembunyi. Kampung tersembunyi?
Sher langsung turun dari kudanya dan menuntunnya ke sebuah palang kayu untuk parkiran kuda, mengikatnya dengan benar, begitu juga Elang melakukan hal yang sama, walaupun Yuhuu tak pernah terikat di palang parkiran untuk kuda. Sher masuk duluan ke sebuah warung yang tampak ramai. Kali ini ia yang memilih tempat ini. Dipilihnya sebuah kursi dekat sebuah jendela. Lantai kayu warung ini tampak terlihat guratan-guratan tanah basah karena para pengunjung yang meninggalkan tanah becek tersebut ke dalam lantai warung, Wanita cantik itu tak pedulikan hal tersebut, padahal dalam hatinya sudah menciut dengan suasana warung yang bikin tak berselera makan.
Selanjutnya Elang pun masuk dan duduk di dekat Sher. Makanan pun sudah datang, sengaja memesan dua porsi untuk dirinya dan Elang, dua ayam panggang dan nasi.
Elang sudah mulai tergoda dengan penampakan masakan ayam tersebut, begitu juga Sher, keduanya asyik makan dan tak sadar dua bakul nasi sudah mereka habiskan, selesai makan, bayar dan segera lanjutkan perjalanan. Tapi ....
Kuda Sher hilang!
"Hai kemana kudaku!"
Begitu juga yuhuu! Elang memandang sekitar, nampaknya orang-orang ini tak peduli dengan sesuatu ataupun tak ada peraturan dalam kota ini. Semua berlalu lalang tak peduli dengan Sher yang sudah berkacak pinggang marah karena kuda mereka sudah tak ada di tempat.
"Gila! Kota apa ini! sialan!" Sher menendang sebuah kotak kayu yang sudah rusak untuk melampiaskan kekesalannya. Dirinya tak mau jalan saat keadaan tanah penuh berair dan becek di mana-mana.
"Tunggu aku panggil kudaku. Yuhuuuuu!"
Elang mulai memanggil kudanya. Diam, hening sesaat. Hemmm , Elang ulangi lagi memanggil Yuhuu, tak lama dari arah berlawanan, Yuhuu terlihat berontak dari sebuah tarikan. Melihat hal tersebut, Elang dan Sherlyn langsung mendekati tempat tersebut, terlihat kuda milik Sher sudah tergeletak tak bergerak, entah mati atau hanya pingsan.
"Kau! Kau apakan kudaku! Lepaskan!!" teriak Elang.
Orang yang memegang tali kekang kuda itu pun tak mau melepaskan dan masih tetap kuat memegangnya bahkan Yuhuu sudah berontak sangat kuat. Siapa orang ini, bisa begitu kuat mengendalikan tali kekang milik Yuhuu.
"Lang, gunakan mata emasmu, aku merasakan sesuatu."
Tak lama benar saja, Elang melihat Yuhuu ketakutan karena yang pegang tali kekang itu adalah monster dengan sebuah tanduk di kepalanya.
Sher mundur, bila urusan berkelahi memang bukan keahliannya. Elang memandang Sher, Tubuh Elang menerima sinyal dari efek mata emasnya. Tangannya mengepal keras.
"Lepaskan kudaku!!! Bila tidak, aku akan melawanmu!"
Mendengar bentakan keras dari Elang lelaki yang kini sudah berwujud penuh menjadi monster itu melepas tali kekang dan kini menatap Elang dengan seksama.
"Kalian! Bukan warga sini, ini bukan wilayah untuk siluman macam kalian."
Elang terdiam, kini paham, untuk kaum seperti Sher dikatakan kaum siluman yang bertentangan dengan para monster ini.
Setelah Yuhuu terlepas, dari arah belakang dia menyerang Monster tersebut. Kaki depannya menendang dengan keras punggung lelaki bertanduk tersebut, hingga tubuhnya keluar dari rumah pondok kayu.
Tubuhnya terjatuh pada genangan air, saat itu juga hujan kembali turun dengan deras, Tapi, para lelaki itu langsung pergi dari luar dan mencari tempat berteduh.
"Kurang ajar, tunggu balasan dariku!!!" teriaknya sambil mengancam.
"Lang sepertinya makhluk tadi takut dengan air hujan."
"Betul sekali Sher, lihat tak ada penduduk sama sekali." Tunjuk Elang pada jalanan yang sangat lenggang ini, Tak lama kuda milik Sher bergerak dan berdiri kembali dengan kokoh, rupanya, Yuhhu sudah membangunkannya. Tangan Sher menepuk lengan Elang, " Kau harus tanyakan pada Yuhuu apa yang sudah terjadi."
Elang mendekati Yuhuu dan mengelusnya dengan pelan, begitu juga yang Sherlyn lakukan pada kudanya.
Tiba-tiba Elang tertawa ngakak, dan menepuk punggung kuda hitamnya.
"Ayo, anak nakal, kita bentar lagi masuk kota, " kata Elang sudah naik ke punggung kudanya.
"Kau berhutang padaku, mengapa kau tertawa."
"Ha ha ha ha, kau akan tertawa juga. Sudahlah, mumpung masih hujan, cepatlah, situasi hujan ini menguntungkan kita, tak akan halangan."
"Aku ceritakan sambil jalan." Mereka pun mulai memacu kuda besar itu dengan pelan. Hujan ini membuat jalanan sepi dan mereka tak banyak kendala untuk itu, karena ternyata monster takut dengan air hujan! ha ha ha.
Cukup lama mereka berhujan-hujanan. Seketika Elang melihat dari kejauhan seorang anak kecil kurus dan memakai kaus yang kegedean, berjalan tenang saja melewati hujan. Elang berhenti. "Ada manusia di sini. Siapa anak kecil itu?"