"Mana?"
"Itu ...." Elang menunjuk dengan dagunya ke arah tepat di depannya.
Lelaki kecil yang di maksud Elang adalah Bho Khong, dia sedang berjalan bermandikan air hujan. Begitu juga yang terjadi pada Bho, dirinya pun terbengong pada dua orang di atas kuda yang sudah basah kuyup karena hujan. Segera Bho mendekati, dengan berkacak pinggang, Bho memandang tajam lalu bertanya dengan suara cemprengnya.
"Siapa kalian! Lebih baik jangan masuk ke kota itu, tak baik."
"Kami mencari seseorang, apa kau mengenalnya?" Elang menjawab dengan lantang pula.
"Aku tak kenal sama orang lain! Pergilah tak ada istimewanya kota itu."
"Aku mencari orang yang bernama -" Sher berkata tapi Bho sudah memotong perkataan Sher. Tetapi Sher terus saja bicarakan seseorang yang dicarinya dengan menyebutkan ciri-cirinya.
"Pergilah!" teriak Bho tak pedulikan Sher yang sedang bicara panjang lebar.
"Rumahmu di mana? Boleh aku sekedar berteduh?" tanya Elang yang curiga dengan anak kecil di depannya ini.
"Aku tak punya rumah!" Selalu saja ketus jawaban dari Bho.
"Kami bukan monster, kami manusia, kau pasti manusia juga bukan?!"
Bho langsung menatap mereka, tingginya kuda membuat anak kecil itu mendongak terlalu tinggi.
"Apa buktinya kau manusia! Apa darahmu berwarna merah?"
"Tentu saja darah kami berwarna merah," jawab Sher cepat.
"Mengapa dengan kudamu, mengapa bermata merah!"
Elang tersenyum, karena Yuhhu memang kuda yang memiliki bola mata berwarna merah.
"Ulurkan tanganmu dan naiklah ke kudaku," ajak Elang.
"Tidak!! Aku tak gampang tertipu. Aku sudah tahu siasat orang monster seperti kalian." Segera Bho berlari sekencang mungkin menghindari mereka.
"Ayo Sher, kita ikuti anak itu, dia pasti tahu di mana orang yang kita cari, karena dia adalah manusia."
Kedua kuda gagah itu pun melesat mengikuti Bho yang larinya cepat sekali.
Tak lama kedua kuda berhenti tepat di sebuah hamparan tanah berumput hijau segar.
Sher terdiam melihat hamparan tanah luas di hadapannya. Tanah lapang hanya ditumbuhi rumput yang tak begitu tinggi.
"Kita ada di mana?" tanya Elang masih bingung,. Elang dan Sher pun turun dari kudanya. Kini mereka berjalan sambil menuntun kuda, tampak binatang besar itu gelisah dan bingung melihat situasi yang beda dari yang lainnya
"Aku merasakan aura yang berbeda di sini. Gunakan mata emas," perintah Sher. Tapi nyatanya keduanya tak bisa gunakan mata emas, bahkan Sherlyn tak bisa menembus dimensi.
"Kota apa ini? Apakah kita aman masuk ke dalamnya?" bisik Sher pada Elang yang masih terus mengawasi sekitarnya.
"Yuhuu merasa tak nyaman di sini." Elang mengelus tubuh Yuhhu agar tenang.
"Tunggu! Aku melihat pergerakan! Cepat jongkok Elang," perintah Sher tiba-tiba. Segera keduanya pun jongkok, mereka tersenyum melihat dua kuda itu pun menekuk kedua kaki depannya, mengikuti tuannya yang berjongkok. Tak lama terdengar suara gemuruh tawa anak-anak kecil, mereka tertawa melihat dua kuda besar sedang menekuk dua kaki depannya. Wajah kuda pun menunduk. Sher dan Elang langsung bangkit dan melihat ke arah sumber suara tersebut, ada sekitar tujuh anak sedang terkekeh sambil menuding Yuhhu.
"Lucu sekali kuda hitam ini, tubuhnya besar! " seru salah seorang dari mereka. Umur mereka hampir sama, sekitar sembilan tahunan.
"Siapa kalian!" tanya mereka takut-takut melihat ke arah Elang dan Sher. Mereka melirik pedang yang terselip di pinggang Elang.
"Hai!" sapa Sher dengan lucu. Mencoba mendekati anak-anak manusia, bukan Monster.
"Aaaaa ...." teriak mereka dan semuanya berlari tunggang langgang, hal tersebut tak disiakan, langsung saja Sher mengejar mereka begitu juga dengan Elang. Memang rasanya nikmat sekali berlarian di atas padang rumput. Embun yang masih basah karena air hujan terasa sejuk di kaki Elang yang sepatunya sudah basah sedari tadi.
"Hai tunggu! Aku cuma mau berteman, apa kalian mau permen aku punya banyak!" teriak sher pada anak-anak yang terus berlari.
"Permen! Apa itu kami nggak suka." Lalu mereka berlari lagi.
Sher terus mengejarnya, hingga melewati sebuah batas yang dirinya kaget tiada terkira, batas itu seperti sebuah membran tipis yang bisa tembus masuk ke dalam sebuah perkampungan yang suasana berbeda dengan kota-kota yang lain, aroma daging asap tercium bercampur bumbu yang lainnya, begitu juga Elang langsung terperangah melihat situasi di depan matanya.
"Apakah aku tersesat, atau masuk ke sebuah dimensi yang lain, Sher! Jangan tinggalkan aku!" teriak Elang segera mengikuti Sher yang terlebih dahulu berjalan jauh mendahuluinya
"Ini seperti di kota kita dulu, Elang, aku kangen kue kayu manis." Sher segera berjalan lagi dan mengikuti aroma yang tercium semakin tajam.
"Di mana anak-anak tadi? "
Pertanyaan Elang tak dipedulikan Sher.
"Tunggu! Dan diam di tempat!" Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka, dan sebuah moncong senapan panjang sudah menghadang di dada Elang. Sher kaget, Ini manusia asli, ya manusia bukan monster atau makhluk jadi-jadian. Sher mencium aroma yang berbeda dari tubuh mereka.
"Salam! Kami minta maaf karena datang tak memberi salam. Kami mencari seseorang sampai kami ke sini, apakah kalian tahu nama Bho Khong?"
Elang masih mengangkat tangannya pasrah, lalu menatap Sherlyn dengan tatapan takut, ini lah mata asli dari Elang.
"Untuk apa kau mencari dia?!" Kali ini terdengar agak melunak, tak beberapa lama beberapa warga keluar dari rumah masing-masing, mereka menatap heran pada Elang dan Sher. Pakaian mereka sangat khas sekali, bagai warga Skotlandia, para wanita di sini memakai penutup kepala, hanya kain yang diikatnya ke belakang rambut. Tapi itu terlihat sangat menarik sekali.
Elang dan Sher masih belum menjawab apa keperluan mereka mencari orang bernama Bho Khong.
Elang mencoba menyingkirkan moncong senapan itu dengan jarinya, tapi sang pemegang senapan tetap mengarahkan senjata itu kembali ke tempat semula, Elang cuma tersenyum meringis.
"Tak perlu menodong kami seperti ini, kami manusia, asli, bukan monster. Kami datang dari pegunungan Shahua."
Mendengar penjelasan Sher, segera senapan itu pun turun ke bawah.
Tak lama, muncul lelaki bertubuh kerempeng, mengenakan kaos yang kedodoran, basah dan dekil.
"Ada apa kalian mencariku," serunya dengan suara yang kini terdengar berbeda.
Sher terdiam, melongo dan menatap tak percaya, berbeda dengan penjelasan bibi A Lung. Bukan anak kecil macam begini yang dicarinya.
"Kami mencari Bho Khong, bukan mencari anak kecil sepert–" Elang hendak menjelaskan tapi dipotong oleh pembawa senapan itu.
"Dia Bho Khong, pemimpin kami, jangan menghina!" Kembali dirinya menodongkan moncong senapan itu ke dada Elang lagi.
Elang langsung angkat tangan lagi.
Sher malah tersenyum melihat hal tersebut, sama sekali tak ada kekhawatiran dalam raut wajahnya.