Dengan spontan tangan Elang kembali terangkat, tanda pasrah. Sherlyn hanya tertawa, karena hanya Elang yang terus saja ditodong dengan senjata berapi tersebut. Lelaki itu punya rasa renggang yang tinggi, itu terbukti hanya Elang yang berkali-kali ditodong dengan senjata api itu, dan Sherlyn tidak, karena dia wanita.
"Maafkan kami, kami datang atas nama Shang Fu," kata Elang, akhirnya berterus terang.
Saat mendengar Shang Fu disebut, semua yang ada di tempat langsung membungkukkan badannya hormat.
"Maafkan kami, wahai Tuan muda , kami tak tahu." Kali ini si penodong menyembunyikan senapannya dan meminta maaf
Elang langsung memandang semuanya dengan penuh takjub, sungguh besar efek nama kakeknya. Sherlyn dan Elang pun diterima dengan baik.
Bahkan Sher sangat menikmati suguhan roti kayu manis yang diimpikannya.
"Ini enak sekali," puji Sher sambil tersenyum pada si pembuat roti tersebut.
Setelah semua jamuan selesai, beberapa orang duduk dengan santai melingkar pada suatu tempat seperti sebuah aula terbuka. Elang langsung berhadapan dengan Bho Khong .
Hampir dirinya tak percaya dengan apa yang telah terjadi pada lelaki kecil itu.
"Umurku seangkatan dengan kakekmu, aku terjebak dalam tubuh kecil ini, ada untungnya juga, aku tak pernah punya rasa pegal pada punggungku, dan rambutku masih hitam tak beruban, tapi sayang suaraku masih seperti anak kecil."
Elang mengangguk.
"Katakan apa maksudmu mencari diriku dan maaf di tempat ini tak bisa gunakan mata emasmu," ucap Bho pada Sher, karena dirinya tahu siapa Paman Ho.
"Iya, dan aku tak bisa membuka dimensi yang lainnya. apakah kota ini ...."
"Inilah kota yang tersembunyi. tinggal kami yang ada, sebagian sudah menjadi monster. Dengan menghilangnya dinasti milik Huang, secara tiba-tiba kota kami menjadi seperti ini. mereka aku larang keluar dari portal, hanya aku saja yang keluar, dan mereka anggap aku adalah pencuri yang hina dina. tapi semua aku lakukan untuk semua yang ada di sini. Dan itu senjata kami satu-satunya, dia yang aku suruh jaga tempat ini." Tunjuk Bho pada lelaki yang terus saja siap sedia dengan senjatanya.
Elang menatap satu persatu dari warga yang hanya berjumlah 19 orang saja, termasuk anak-anak kecil.
"Kemana para pemudanya?"
"Mereka tergoda oleh wanita cantik jelmaanl monster. Mereka akan terjebak dalam lingkaran mesumnya, dan tak akan. bisa kembali." Lalu Bho berhenti bercerita. Semua terdiam. Raut wajah yang muram langsung mendera.
Elang menunggu Bho Khong bercerita, setelah semuanya terdiam
"Paman Bho, ceritakan apa yang terjadi saat terakhir kau melihat pertempuran antara kakek dan raja monster ? kemana perginya batu giok hitam itu?"
Bho langsung menatap tajam pada Elang.
"Mengapa kau tanyakan itu!!" berangnya sambil berkacak pinggang.
"Katakan sejujurnya, apa yang sudah terjadi, jangan dikurangi dan jangan ditambahi. kau saksi satu-satunya! Kau pasti tahu di mana batu giok itu," cecar Elang dan langsung menarik sebuah pedang yang menempel di kaki kirinya,
Pedang yang terlihat tak ada istimewanya, kini berada di hadapan mereka dengan berdiri. Pedang ini berdiri sendiri. satu-satunya benda yang bisa menguasai gaib dalam kota tersembunyi ini.
Semua yang melihatnya langsung bergemuruh karena baru pertama kali menyaksikan hal yang luar biasa dari pedang tersebut. Sebenarnya Elang pun sangat kaget dengan penampakan yang tak terduga dari benda ini. Ia pun tak menyadari bila pedang tersebut telah menyatu dengan kaki kirinya
Sher menatap Elang dengan herannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Elang?!" Sher bertanya dan langsung bangkit berdiri.
"Entahlah ...." Elang pun ikutan berdiri, menatap tajam pada keaktifan gaib pedangnya untuk pertama kalinya.
Semua berdecak kagum melihat sebuah pedang berdiri sendiri, walau pun pedang itu tak terlihat indah, bahkan terlihat karatan di beberapa bagian. Bho Khong menatap dengan wajah memucat.
"I–ini pedang milik tuan Shang Fu. pedang yang tak tertandingi. Bagaimana dia bisa bersamamu, sedangkan aku tak melihatmu membawanya."
Sher menatap Elang dengan heran, padahal pedang itu terikat di pinggang Elang sedari tadi, apa selama ini tak terlihat?
"Bho ceritakan tentang pedang ini, dan di mana aku harus temukan batu giok hitam!" gertakan Elang membuat Bho semakin tegang.
"Bisakah kita bicara empat mata saja denganmu, tuan terhormat," usul Bho tiba-tiba.
"Kau panggil aku tuan yang terhormat?!" tanya Elang bingung dengan panggilan baru dari Bho.
Akhirnya, Elang dan Bho mencari tempat untuk mereka bicara.
Bho menceritakan sebuah rahasia hanya dia yang tahu, bahwa, Huang sang raja monster hanya takut pada pedang milik Shang fu yang bisa membelah tubuhnya, hingga Huang melepas batu giok hitam itu, dan memecahnya menjadi beberapa bagian, dan satu ada dalam tubuhnya.
"Aku terkena kutukan Huang, aku terkunci dalam tubuh anak kecil ini, tak ada yang bisa mengambil batu dalam tubuhku ini.'
"Apa bila ada yang bsa mengambilnya, kau bersedia?" tawar Elang.
"Apa kau mampu?" Mata Bho terbelalak.
"Tapi tidak di kota ini, mata emasku tak bisa digunakan di kota ini."
"Mata emas!! itu milik Ho, di mana dia?"
"Kau mengenalnya bukan? Sher adalah ponakan dari Paman Ho, dan dia adalah orang yang terpilih dalam klan keluarganya."
"Apa! Mengapa kau tak bilang dari tadi! ayo, ajak di ke sini." serunya sambil berjalan cepat ke arah tempat di mana para penduduk masih asyik berbincang. Sher banyak menceritakan tentang kemajuan di kotanya, tentang bunga dan tanaman yang indah.
"Sher, hai anak nakal ada tugas untukmu! teriak Elang.
Sher mengalihkan pandangannya melihat Bho berlarian mengejar Elang yang sudah jauh di depannya.
"Kita keluar dari kota ini, dan siapkan dirimu, kita cari batu giok hitam, Bho Khong ikut dengan kita," jelas Elang dan menghampiri pedangnya yang masih berdiri, meraihnya dengan mudah dan kembali mengikatnya pada pinggangnya. Secara gaib, pedang itu langsung menyatu dengan kaki kiri Elang. Semua langsung berdecak kagum kembali
Singkat cerita, Elang, Sher, dan Bho pergi ke suatu tempat yang ditunjuk Bho. Sebuah ladang luas penuh dengan batu terjal. Tempat itu jauh dari pemukiman yang ternyata ada di balik gunung shahua. Hanya berputar saja dari tempat kawasan Shang Fu.
"Mengapa tempat ini disegel?!"
"Ini untuk buangan para tawanan perang waktu itu, dan ada beberapa daerah yang beracun, makanya tempat itu tak boleh ada yang masuk," jelas Bho.
"Lalu bagaimana kita bisa masuk?!" Sher bertanya bingung.
"Hilangkan kutukan Huang dulu, dari tubuhku, maka akan aku tunjukkan pecahan batu giok hitam itu."
Elang memandang Bho, "Kau pikir aku akan menipumu?"
Bho menggeleng, "Ada sebuah tempat. namanya tempat keramat, tapi aku tak bisa katakan di mana, bila kau memang punya mata emas itu, maka kau akan menemukan itu."
Sher memandang Elang.
"Tempat keramat?! bagaimana aku bisa menemukan. tempat itu?" Kini Elang benar-benar menggaruk kepalanya yang tak gatal