Drama

Pedang Giok Hitam_Tanah Keramat

23 October 2025

Elang dan Sher teringat kata-kata Paman Ho tentang tempat keramat ini. Apakah hal ini yang Paman Ho maksud, bahwa penuaan pada dirinya diperoleh karena melewati tanah keramat ini dan ini adalah hal berbahaya.

"Bila kau berbohong, kau akan mampus Bho! Aku tahu kau licik selicik akal bulusmu! " gertakan dari Elang membuat ciut nyali Bho.

"Aku serius, tanah keramat itu, bisa berpindah tempat, makanya tak bisa aku pastikan di mana." Bho mulai bicara serius .

Sher terdiam, mereka sudah jauh dari kota tersembunyi. Bho duduk di atas keledainya yang berjalan pelan. Terlihat kontras dengan kuda besar milik Sher dan Elang.

"Apa perlu kita masuk ke dimensinya?" tanya Elang pada Sher.

"Hati-hati, tempat keramat itu justru akan bahaya bila kita ada di sana, Paman Ho itu contohnya."

Bho mendengarkan saja perbincangan Elang dan Sher.

"Bila Bho berbohong , kita umpankan pada Huang."

Bho langsung mendongak ke arah Elang.

"Kau belum tahu penampakan dari Huang bukan? Apalagi kedua istrinya yang lebih licik dari aku,"

Elang tersenyum, Hem aku penasaran seperti apa batu giok hitam itu, dan akan aku lawan kau Huang!! kau buat kakekku penuh penderitaan!

"Redam amarahmu, Elang," cakap Sher tahu isi hati lelaki yang kini sebagian mengisi hatinya.

Elang cuma membalasnya dengan senyuman manis. Mata elang milik Paman Ho, sepertinya cocok dengan Elang. justru Sher takut mata emas itu tak bisa diambilnya lagi.

Slap!! Sebuah anak panah melesat dengan tiba-tiba, hingga kuda yang dinaiki Sher kaget dan langsung berlari cepat. Yuhhu langsung mengejar kuda Sher. Kejadian itu tak terduga sama sekali.

"Hai tunggu!" Bho berteriak dan berusaha memacu keledainya untuk berlari cepat.

Tapi, Bho tertinggal jauh, hingga beberapa orang sudah menangkap Bho!

Sher dan Elang sebenarnya sudah bersembunyi di balik semak-semak. Begitu pula kuda mereka.

"Kita ikuti mereka, kemana akan membawa Bho," bisik Sher.

Elang mengangguk dan segera menyuruh yuhu pergi bersama kuda Sher.

"Ayo!" Keduanya pun berjalan perlahan sambil Elang menggenggam erat tangan Sher.

Mereka segera ikuti rombongan yang membawa Bho. Siapakah mereka? Apakah benar apa yang diceritakan Bho tentang tanah keramat itu?


Byur! Seember air dingin mengguyur tubuh kecil, kurus dan lusuh itu, tak ayal anak tersebut langsung terbangun dari tidur lelapnya.

"Bangun, bodoh! Tidur saja kerjamu, bersihkan kapal ini!" teriak seorang lelaki berwajah garang.

Bho melaksanakan apa yang di perintahkan, ini adalah kali ke duanya kelompok perompak itu menculik Bho. Para awak kapal tak menyadari kalau ada dua penyusup gelap ikut dalam kapal mereka, yaitu Sher dan Elang.

"Kali ini bila kau bohong lagi tentang tanah keramat itu, nyawamu akan melayang!" Para perompak lautan ini telah sengaja membawa Bho naik ke kapalnya.

Semua tertawa pada Bho, yang hanya ketakutan dan sedang mengepel lantai kayu kapal yang sangat kotor.

"Aku dengar yang kau bicarakan. tanah keramat pada dua orang asing tadi! Katakan apa yang kau dapat dari mereka!"

"Aku tak dapat apa-apa, dan aku tak mengenal mereka!" bohong Bho pada perompak yang dari tadi bertanya dan selalu menyuruhnya dengan galak.

"Halah kau kan paling licik, pasti kau membohongi mereka juga bukan!"

Byur! seember air dingin sudah menyiram tubuh kerempengnya lagi.

Elang nampak geregetan melihat kelakuan mereka yang tak berperikemanusiaan. Tangannya sudah mengepal marah, melihat Bho di perlakukan dengan keji.

Namun, Sher mencegahnya, teringat kata-kata dari Bho bahwa dirinya tak akan. bisa mati, walaupun dilempar dari atas ketinggian sekalipun.

"Lekas kerjakan!! Sampai bersih!" seru salah satu dari para perompak itu. Bho masih terus kerjakan semuanya. Semua meninggalkan Bho sendirian. Elang mencoba memberi sinyal pada Bho. Saat ini Sher dan Elang bersembunyi di balik jaring besar yang tergulung.

"Ssstt! Bho, lihat sini!" bisiknya setengah ngotot.

"Bho!" panggil Sher pelan.

Ombak lautan terasa tenang mengalun. Bho pun menoleh ke arah panggilan tersebut.

"Elang!" pekiknya girang.

"Shhh, pelankan suaramu."

Bho pun berpura-pura tak melihat kehadiran mereka.

Hingga menunggu cukup lama, akhirnya Bho mendekati persembunyian Elang.

"Kalian mengapa bisa mengikutiku?" tanya Bho dengan suara berbisik.

"Apa kapal ini menuju tanah keramat?" tanya Elang.

Bho terdiam.

"Aku percaya padamu, apakah kau percaya padaku? Kalau tidak ada kepercayaan bagaimana aku bisa membebaskan dirimu?" bisik Sher, menjadikan seorang Bho Khong langsung mengangguk.

"Giring kami ke tanah keramat." Elang segera masuk kembali ke dalam gulungan jaring, tatkala ada seseorang mendekati mereka.

"Kau sedang apa, bodoh! Ayo! Masakkan kami makanan." Tubuh Bho langsung ditarik menuju kabin dapur.

Sepeninggal Bho, "Apa rencana selanjutnya?" tanya Sher.

"Tunggu hingga kapal ini mendarat," jawab Elang.

Sher menghela napasnya panjang, karena sesaknya tempat persembunyian mereka membuat tubuh mereka sangatlah dekat. Badan Sher yang mungil terimpit oleh badan Elang yang tinggi besar.

"Kau menjepit kakiku, Elang," seru lirih Sher.

Elang pun menggeser kakinya, walaupun itu pun sudah sangat mepet sekali.

"Ah, aku sudah tak betah."

"Shhhh, pelankan suaramu," bisik Elang. Ia pun merasa risi juga, karena tubuhnya kini teramat dekat dengan gadis cantik ini.

Sher mulai gelisah dengan tempat persembunyian yang sangat sempit. Karena sedari tadi tubuhnya bergerak terus menghindari impitan kaki Elang pada pinggangnya.

"Tunggulah, beberapa saat, pasti mereka akan mendaratkan kapalnya, lihat." bisik Elang karena melihat beberapa orang sudah menurunkan jangkarnya.

"Langit sudah gelap, semoga saja tak ada badai," Lirih Sher berbisik

"Ya ...."

"Kapal segera mendarattt! " teriak salah satu dari perompak tersebut.

Terlihat Bho keluar dari ruangan dengan cara yang membuat Elang gregetan.

"Kali ini, jangan kau tipu kami," seru salah satu perompak itu sambil mendorong tubuh Bho kasar.

"Tidak, lihatlah, salah satu ciri tanah keramat akan terlihat lebih bercahaya dari tempat yang lainnya, dan wilayah itu akan berpindah-pindah, lihatlah ... tanah itu bersinar." Bho Khong pun menunjukkan pada sebuah gundukan tanah yang terlihat tanahnya bercahaya.

Beberapa orang tampak memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas lagi dengan apa yang ditunjukkan Bho. Begitu juga Sher dan Elang, mereka sudah hendak bersiap-siap, ada sebuah skoci, perahu kecil cadangan yang ada di samping bagan kapal. Dengan hati-hati Sher juga Elang sudah berada di atasnya.

Keruyykkkk ... perut Elang berbunyi sangat keras, menyadari hal tersebut, Sher langsung menarik tubuh Elang untuk bersembunyi mepet ke dinding kapal.

Ada salah seorang awak kapal yang mendengarnya, dan memeriksa bagian jaring dan dek kapal, beruntung dia tidak memeriksanya ke bawah.

"Ah, kau ini ..." desis Sher pada Elang.

Elang hanya mengangkat dua tangannya, dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Benar saja, kapal mulai merapat ke tepian.

Saat sudah mendekati daratan, mereka segera turun dan berdiam sejenak, menunggu para awak kapal turun termasuk Bho, Mata Bho terus mengawasi Sher dan Elang.

"Tunggu, sepertinya aku sudah bisa gunakan mata emas ini, Ayo."

Elang mulai berkonsentrasi benar saja, dengan cepat tubuh keduanya berpindah pada pepohonan yang berada di bagian samping daratan. Bho sempat tercekat kala melihat sinar melesat saking cepatnya, yaitu Sher dan Elang sudah berpindah tempat.

Elang menatap sekitarnya, bibirnya tersenyum kecut.

"Banyak sekali, mereka para tawanan dan penjahat monster yang dibuang di sini."

"Betul. Ayo Lang, aku mulai merinding, ada yang berusaha menarikku dalam dimensinya, banyak sekali."