“Pastikan bawa air minum? Hah!”
Aurora mengempas tubuhnya kasar di atas kasur. Tangannya masih membawa semangkuk lasagna, dan ia tak ada rencana untuk berbagi dengan pria itu. Kael telah main-main dengan wanita yang kelaparan, dan itu tandanya benar-benar menabuh genderang perang.
Yah… si paling berlebihan. Aurora selalu saja begitu jika ia sedang kelaparan. Seakan rasionalisnya hanya sebatas lambung terisi penuh.
Suapan besar langsung mengisi penuh mulutnya. Dua suap… tiga suap… sampai sepuluh suap baru sadar jika sikapnya benar-benar menyedihkan.
Marah hanya karena Kael tidak menganggap perkataannya sebuah janji adalah… memalukan. Dan semuanya sudah terlanjur. Kini ia terlihat menggelikan di mata pria angkuh itu.
“Bodoh!”
Aurora menepuk jidatnya sendiri, lalu kembali menyuap lasagna sambil terus meratapi kecerobohannya. Tidak seharusnya ia menunjukkan sikap kekanakannya pada pria itu.
Ketukan pintu membuatnya terlonjak pelan. Dari balik pintu, Kael kini memanggilnya pelan.
“Rora, buka pintunya.”
“Aku sibuk!” seru Aurora, mencari alasan karena ia tak memiliki muka lagi untuk berhadapan langsung dengannya malam ini.
“Buka, atau kudobrak pintunya!” Kael dengan ciri khasnya yang selalu memaksa.
Aurora mendesah panjang, tangannya meletakkan mangkuk lasagna yang tinggal separuh di atas kasur. Tanpa menjawab, ia melangkah dan membuka pintunya meskipun enggan.
“Kau lupa air minummu.” Kael menyodorkan segelas air, tepat di hadapan wajah Aurora.
Mata Aurora menyipit tajam. “Kau mau bermurah hati membawakan aku air minum atau berniat dari awal mau menyiramku?”
Kael mengerutkan kening, lalu perlahan menurunkan posisi gelasnya. “Kau terlalu pendek, dan aku tidak berniat untuk menyirammu.”
Aurora menggeram, menerima gelas itu dan berbalik cepat. Ketika Aurora kembali duduk di kasurnya, Kael ternyata telah duduk di kursi sambil menatap tajam pada Aurora.
“Kau tidak pergi?” tanya Aurora.
“Kau mengusirku?” Kael menyilangkan kaki, tubuhnya bersandar santai.
Aurora kehabisan kata-katan. “Well… terserah kau saja.” Lalu ia mengarahkan pandangannya pada sisa lasagna. “Kau mau ini?”
Kael mengalihkan pandangannya pada mangku itu, lalu kembali menatap raut wajah Aurora. Wanita itu masih marah. Detik selanjutnya ia berdeham sekali, kedua sudut bibirnya berkedut pelan, tampak ragu karena ingin mengucapkan sesuatu.
“Dengar, aku sama sekali tidak menyangka jika ucapanmu tadi adalah sebuah janji. Well, kau tidak mengatakannya dengan jelas.”
“Aku bilang menunggumu makan malam, bukankah itu seharusnya sudah jelas, Tuan Vireaux?”
Anggukan kecil Kael terlihat sangat menyebalkan bagi Aurora. Kalau memang pria itu ingin meminta maaf, seharusnya tinggal bilang saja maaf—bukan malah berputar-putar dan terus bersikap mengesalkan.
“Ok, lain kali aku akan mengingatnya.” Kael berusaha menyudahi omelan Aurora. “Jadi, kau benar-benar akan menghabiskan lasagna itu sendirian?”
Aurora kembali menoleh, lalu mengambil mangkuk itu dan menyerahkannya pada Kael. “Kau bisa mendapatkannya kalau mau. Aku tadi hanya… lapar. Maaf.”
Kael terkekeh pelan. Ia menerimanya dan berdiri tegak. Aurora yang dari tadi sudah berdiri, tetap saja harus mendongak. Kael tidak berbohong saat mengatakan Aurora pendek.
Hei! Bukan berarti Aurora memiliki masalah dengan pertumbuhan, tapi memang Kael yang terlampau tinggi—dan terlampau tampan.
Fokus, Aurora!
“Aku akan memakannya karena aku tidak terlalu suka ravioli.” Kael tersenyum, lalu melangkah keluar.
Seakan tersihir, Aurora mengikuti langkah Kael ke meja makan. “Aku juga beli spaghetti, kau bisa makan itu kalau mau.”
“Ok. Sisa lasagna dan spaghetti adalah milikku, dan kau habiskan ravioli-nya.”
Aurora termenung sejenak. Situasi yang saat ini sedang ia rasakan, entah kenapa berbeda seperti biasanya. Meskipun interaksi mereka saat ini bisa dibilang hampir sama dengan sebelumnya—penuh pertikaian dan perkataan sini—tapi entah kenapa rasanya menjadi lebih ringan.
Apakah mungkin karena ia merasa tidak memiliki rahasia lagi? Ah, benar. Pasti karena itu!
Ponsel Aurora yang tadi tertinggal di meja ruang tengah berbunyi sekali. Notifikasi pesan muncul, diikuti dengan layarnya yang menyala redup.
Aurora mengambilnya, lalu segera membuka pesan itu. Namun baru sedetik ia membaca, keningnya mengerut dalam.
Kael yang hendak duduk di kursi makan menyadari itu. Ia kembali menegakkan badan dan mendekat sambil bertanya, “ada masalah?”
Aurora segera menyerahkan ponselnya. Ia tak memiliki alasan untuk menyembunyikannya. Lagipula, mereka telah resmi menjadi partner, kan?
“Pria ini… kau menghajarnya?”
Sebuah foto pria muda yang terluka parah di bagian pelipis kanan sedang berbaring di sebuah ranjang yang tertutup sprei satin berwarna marun—jelas bukan ranjang rumah sakit.
Di bawah foto itu, tertulis kata, ‘Sudah kubilang menjauhlah dari dia. Pria keji itu, bahkan mampu melakukan hal seperti ini pada pria asing.’
“Apa yang kau tutupi dariku, Kael? Bukankah kita sepakat untuk tidak bermain rahasia lagi?” tanya Aurora.
Kael menyerahkan ponsel Aurora, lalu menghela napas panjang. “Aku memang melakukannya, dan mungkin… itu alasan kenapa aku telat pulang malam ini.”
Aurora mengerutkan keningnya. “Kenapa? Apa yang terjadi sampai kau tega melakukan hal itu pada orang asing?”
Kael diam, merasa tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. Kekhawatiran tentang Aurora yang ketakutan membuatnya menahan untuk menceritakan yang sebenarnya.
“Kael Vireaux, kau mendengarku? Apa alasanmu sampai membuat pria ini babak belur? Aku yakin kau tidak melakukannya hanya untuk sebuah kesenangan, right?”
Kael menatap dalam sorot mata Aurora yang menuntut. Rasanya ia sedang membodohi dirinya sendiri. Niatnya sudah jelas untuk menjadikan Aurora sebagai umpan, tapi kenapa sekarang malah takut wanita itu terluka? Sungguh sangat kontras dengan ucapannya tadi pada Luther.
“Kael!” sentak Aurora.
Kael menghela napasnya panjang. Kedua tangannya terbenam di saku celana, menunjukkan keangkuhan yang tak sengaja diperlihatkan.
“Apa pun itu… aku tidak melakukannya untuk sebuah kesenangan. Aku hanya melakukannya pada orang yang memberi ancaman.” Kael akhirnya bersuara.
Aurora menggenggam erat ponselnya. “Ancaman?” Kini jantungnya berdetak kencang. Mungkinkah…
“Dia mengikutimu sejak kau dalam perjalanan menuju ke kantor. Luther menyadarinya saat kau keluar dari gedung. Pria itu terus mengincarmu.”
Jawaban Kael yang lugas menambah ritme jantung Aurora yang semakin memacu cepat. “Darimana kau tahu kalau pria itu mengincarku?”
Kael ragu untuk menjawabnya. Masih banyak rahasia besar yang belum ia ceritakan pada Aurora. Jika mengatakannya, ia takut wanita itu akan memandangnya dengan tatapan yang lain.
“Kael, tolong katakan padaku,” ucap Aurora. “Mau tidak mau aku telah tercebur dalam duniamu. Dan apa pun itu, kumohon tidak ada yang harus ditutupi lagi.”
Aurora benar. Kael tidak seharusnya memiliki ketakutan tentang pandangan Aurora padanya jika rahasia itu terungkap. Lagipula, jika ia memang berniat untuk menjadikan Aurora sebagai umpan, wanita itu harus tahu segalanya.
“Pria itu, adalah salah satu dari daftar pembunuh bayaran yang bekerja untuk keluarga Vireaux.” Suara Kael lebih dalam dari biasanya, sedikit bergetar di ujung kalimat.
“A-apa?” ulang Aurora.
Kedua tangan Kael menggenggam erat. “Keluarga Vireaux menjalankan usahanya dengan cara apa pun, Rora. Memiliki tim pembunuh bayaran adalah salah satunya.”
Aurora mundur selangkah. Tangannya mulai gemetar. “T-tapi… buat apa?”
“Melenyapkan siapa pun yang menghalangi langkah bisnis kami. Itulah tujuannya. Dan pria itu, adalah salah satunya. Dan ketika pria itu mengikutimu, kau pasti tahu apa alasannya, kan?”
Aurora terkesiap. Tangannya menutup erat mulutnya. “Membunuhku?” ucapnya, nyaris tak bersuara.
Kael mengangguk pelan. “Kau benar. Dan satu hal yang pasti, selama aku bernapas, hal itu tidak akan pernah kubiarkan terjadi padamu.”