Pedang Giok Hitam_Masuk Dalam Dimensi Tanah Keramat

23 October 2025

Elang menatap Sher. Wajahnya memucat, dan entah mengapa tiba-tiba, Bho menatapnya dengan tajam, sedetik kemudian, Bho melepaskan diri dari cengkeraman tangan sang perompak dan berlari secepat mungkin menuju tempat persembunyian Sher dan Elang.

Bug!! Tubuh kecil Bho langsung mendorong tubuh Sher dengan kuat, hingga mereka jatuh ke pasir laut dengan keras dan seketika menghilang!

Elang bingung bukan kepalang, apa lagi rombongan penculik Bho langsung melihat ke arah Elang.

"Mereka di sana!!" Tunjuk mereka dengan pedangnya.

Bagaikan kawanan kuda pacu, mereka menderu menuju ke arah Elang berdiri. Ada perasaan takut pada Elang pada situasi ini, spontan tangan Elang langsung menarik pedang yang menempel pada kaki kirinya, Entah secara naluri, Elang bisa mengendalikan kebasan dan kibasan pedang panjang dan berat itu.

Beberapa orang langsung kaget dengan senjata yang Elang keluarkan, pasalnya, mereka sangat mengenali pedang tersebut.

Beberapa ada yang mundur. Setiap ayunan pedang itu meninggalkan asap hitam tipis.

"Itu pedang giok hitam!! Teriak mereka serentak. Elang masih terus melawan mereka, liukan tubuh dan kuatnya tangan Elang menjadikan dirinya semakin bisa mengendalikan gerakan pedang tersebut.

"Gila! Pedang ini hebat sekali!' batin Elang dengan tersenyum senang.

"Ayo, kalian maju! Rasakan bagaimana sakitnya dibuly!" tantang Elang pada para perompak.

Tubuh Elang semakin bisa menguasai gerakan dari pedang tersebut, Setiap kebasannya memberikan jejak asap tipis, terkadang Elang meniupnya, sambil meledek para musuhnya untuk maju melawan. Berapa para perompak sudah terkapar di tanah, bukan karena terluka karena pedang, tapi karena sakit panas saat tersentuh pedang tersebut. Elang terus perhatikan perubahan pada pedang yang dipegangnya, sedikit berkurang karatan pada sisi pedangnya.

"Luar biasa pedang milik kakek ini." Elang berulang kali memuji pedang milik Shang Fu. Hingga kini tak ada siapa pun di hadapan Elang, mereka kocar-kacir ketakutan. Elang tersenyum, dan kembali masukan pedang tanpa warangka itu di sisi kiri pinggangnya, secara otomatis pedang itu langsung menempel pada kakinya. Matanya beredar memperhatikan sekitar, yang tadinya banyak sekali makhluk tak kasat mata dilihatnya, kini tak ada sama sekali. ke mana perginya? Juga Sher dan Bho? Elang berjalan pelan menuju tanah yang agak tinggi, tangganya berkacak pinggang, suasana jadi sangat sepi sekali, bahkan tanah ini sudah tidak bercahaya lagi, apakah tanah keramat berpindah tempat? Tapi ke mana? Elang bingung, tak ada Sherlyn pula. Elang terus melangkah pelan masuk dalam kawasan di depannya.

Kemana Sher dan Bho?

Saat Bho mendorong tubuh Sher dengan kuat, karena Bho tahu sesuatu, mereka jatuh pada dimensi yang hilang! Dalam tanah keramat. melayang hingga akhirnya jatuh berdentum pada sebuah tanah berumput kering.

"Ahgh!" Sher terpekik kaget dan merasakan tubuhnya sakit tertindih seseorang dengan badan yang besar. Sher melihat lelaki tua sekitar umur lima puluhan, berambut keriting dan sudah berjanggut putih, tubuhnya sedikit gempal.

"Siapa kamu! Kau mendidihku!" teriak Sher dan mendorong pundak lelaki itu yang ternyata ....

"Akhirnya, aku kembali ke tubuhku, hai aku Bho!" seru lelaki itu terbelalak bahagia dengan suara bariton khas laki-laki dewasa.

Sher memandang heran pada penampakan di depannya, benarkan ini Bho? Yang terperangkap dalam tumbuh anak kecil itu?

"Ah, kau ini. Gara-gara kau, kita tak tahu ada di mana?"

"Aku tahu, inilah yang ku bilang tanah keramat!"

Swingggg!! sebuah kepakkan sayap dari sesuatu binatang yang besar tepat di atas mereka

"Tiarap!" perintah spontan Bho pada Sher.

Keduanya segera merebahkan diri di tanah berumput kering tersebut. Sher kaget melihat makhluk besar mirip naga dengan ekor panjangnya. Tampangnya sangat mengerikan. Gigi-gigi tajamnya siap memangsa siapa saja. Kembali binatang itu terbang rendah hingga angin menerpa seluruh tubuh mereka. Tak lama binatang mirip naga itu pun pergi menjauh.

"Binatang apa itu?" tanya Sher dengan suara bergetar.

"Itu adalah para monster, di sinilah dinasti yang hilang itu berada."

"Apa! " Belum juga tuntas keterkejutan Sher, Bho langsung mengajaknya bersembunyi dari sesuatu.


Kembali pada Elang, kali ini kelaparan melanda, sungguh ini suatu ujian, Elang harus bisa bertahan dalam kesendirian, setiap ada gerakan yang mencurigakan Elang langsung mengambil pedangnya, dan bersiap-siap bertarung, bila kalah, maka akan mati sia-sia di tanah keramat alias tanah buangan para penjahat kelas kakap.

"Hai kau!!!"

Seketika Elang langsung melihat ke sumber suara yang berasal dari atas.

Terlihat dari bebatuan cadas, seorang lelaki dengan tampang sangar dan turun seketika tepat di hadapan Elang.

"Apa kau lupa denganku Shang Fu? Tak kusangka, kau mampu ke tempat ini juga, apa kau melakukan kesalahan ? apa kau ingin menangkapku untuk yang kedua kalinya?!" Begitu garangnya lelaki setengah tua ini berkata.

'Pasti ini adalah musuh dari kakek,' batin Elang. Dan semua yang melihat Elang dan pedang ini pasti menyangka dirinya adalah Shang Fu.

Elang cuma diam dan memasang wajah tenang, tak mau wibawa kakeknya tercoreng hanya karena ia takut akan gertakan musuhnya.

"Oh, kau menantangku? Apa ada maksud kau datang kemari?"

"Aku butuh keteranganmu!"

Pria itu tampak terkejut dengan suara Elang karena memang berbeda dengan dialek Shang Fu.

Dengan memicingkan matanya, sang lawan mundur, "Siapa kau!"

"Kau bilang kenal denganku, mengapa sekarang kau takut." Elang berjalan maju perlahan. Rupanya, pria di depannya, sudah mengeluarkan senjata.

"Apa kau suruhan raja monster? Apa aku waktunya mati?"

Elang malah mengambil kesempatan ini untuk terus bisa berlatih dengan pedang yang kini sudah bisa dikuasainya.

Blast! Sebuah sabetan belati melesat mendekati tubuh Elang, pedang mulai memberikan reaksi. Pedang itu bergerak pelan dalam genggaman tangannya.

"Kau tahu musuhmu, ternyata. Ayok kita selesaikan!

Elang sudah siap dengan kuda-kudanya, liukan tubuhnya yang lincah menjadikan gerakan yang sulit terduga oleh lawan. Sabetan pedang itu memang belum mematikan, hanya mengeluarkan hawa panas saja bila tersentuh oleh asap yang berwarna hitam pias tersebut. Itu pun cepat menghilang tersapu oleh angin.

Lawan yang kini bertambah dua, membuat Elang mengernyitkan dahinya, dari manakah lawan ini muncul?