"Ha ha, kau lupa dengan kehadiranku, Shang Fu! Aku si Halimun!" teriak salah satu dari lelaki tambun yang berdiri tepat di sebelah kirinya. Dia memegang tombak panjang yang runcing, ujung logamnya tampak bersinar saat tertimpa sinar rembulan malam. Tunggu! bukankah tadi siang hari, mengapa dengan cepat berganti dengan malam? Berbagai pertanyaan ada dalam pikiran Elang.
Swing! Sebuah belati kembali melayang, kali ini sebelum melewati tubuhnya, pedang yang Elang pegang sudah menangkisnya dan berbalik arah dengan cepat
"Sialan!!! Kau !"
Lelaki berikutnya yang maju dengan gerakan memutarkan tombak, hingga terdengar desingan dari si tombak, sempat membuat mata Elang pusing, hingga tak bisa membedakan mana tombak yang asli dan bayangan tombak. Disaat Elang dalam dilema, pedang itu bergerak dengan cepat, menarik tubuh sang pemegangnya hingga bersalto di udara dan melewati musuh. Seketika Elang sudah berada di belakang pemutar tombak dan menendang punggung lawan dengan keras. Gerakan menendang yang spontan itu membuat pria tambun itu kehilangan keseimbangannya lalu terjerembab ke belakang, lagi-lagi keanehan terjadi, sang lawan hilang, saat itu juga Elang langsung mengejar lawan dan ikut tertarik pada sesuatu hal yang tak dinyananya.
Elang masuk dalam dimensi yang lain!
Tiba-tiba, dirinya berada di bebatuan yang curam, terlihat olehnya lelaki tambun itu sudah berlari ketakutan menghindari sesuatu.
"Hai tunggu dulu, aku butuh penjelasanmu!" Suara Elang menggema di udara. Tak lama. beberapa bebatuan kecil luruh karena efek suara yang Elang timbulkan tadi.
"Ada di mana ini?" Elang semakin bingung dengan suasana di sekitarnya. Dirinya berada di sebuah gunung bebatuan, bukan malam seperti saat dirinya bertarung dengan lawan tambun itu, tapi ini siang hari, panasnya membuat matanya silau menatap ke depan.
Brak! Sebuah bongkahan batu tiba-tiba luruh dari atas, batu-batu ukuran sedang dan kecil meluncur deras ke bawah di mana Elang berdiri dalam keadaan masih setengah bingung. Segera tangan Elang memasukkan pedangnya dibalik pinggangnya yang seketika itu langsung menyatu dengan kaki kirinya, Elang berlari menghindari reruntuhan batu tersebut, turun ke sebuah sisi yang lebih aman.
Elang terdiam saat batuan itu sudah tak luruh lagi, matanya mengedar pandangannya ke atas, di langit yang biru dan matahari terasa begitu dekat sekali.
Terdengar suara sebuah kepakkan sayap besar dari balik bangunan batu di mana elang bersembunyi. Spontan mata Elang langsung tertuju pada sumber bunyi tersebut, Sungguh kaget luar biasa, Elang melihat penampakan menyeramkan yang ada di depannya, seekor monster mirip naga, tapi bukan naga biasa, berekor panjang bersayap dan mempunyai moncong yang sangat besar dengan gigi-giginya yang runcing. tubuhnya berwarna gelap, tatapannya yang seakan hendak menerkam Elang,. Lelaki itu segera menempelkan tubuhnya mepet ke dinding tembok bebatuan tersebut, menahan napasnya sesaat, Elang terus mengawasi bentuk binatang monster yang besarnya sepuluh kali lipat kuda besar milik Shang Fu.
Matanya tajam menatap sekeliling namun, mata monster itu tak menemukan sosok Elang, sehingga kepakkan sayapnya yang besar akhirnya menjauh dari tempat tersebut.
"Binatang apa tadi, besar sekali," gumam Elang, dengan hati-hati dirinya pun turun dari ketinggian batu yang bertumpuk menuju rerumputan. Berjalan pelan memeriksa kalau situasi sudah aman. Perlahan Elang berjalan menuju tempat di mana lelaki tambun yang menjadi musuhnya tadi berlalu dan menghilang, semuanya masih tentang Shang Fu kakeknya. Nama besar itu masih terus melekat pada dirinya, karena membawa pedang ini.
Kwakkkkkkkk! Terdengar suara aneh lagi, Elang langsung kaget dan spontan tiarap, kali ini karena dirinya berada di tanah lapang, maka. Elang harus cepat-cepat cari tempat yang bisa untuk bersembunyi. Akhirnya dirinya bangkit dan berlari lalu bersembunyi di antara celah dua batu, saat sebuah benda besar mendekat di atas kepalanya, binatang mirip lipan itu melayang dan hinggap pada salah satu batu dan langsung merayap pergi. Apa itu lipan raksasa? Elang semakin bisa meraba tempat ini, yang katanya tanah keramat adalah sebagian dari Dinasty yang hilang. Elang kini paham di mana dirinya berada.
"Aku harus bersiap-siap dengan keadaan yang tiba-tiba datang dan mengancam hidupku," pikirnya lalu mata emasnya pun mulai bereaksi.
Di lain tempat, Sherlyn berjalan gontai bersama lelaki tua dan terlihat sangat mencurigakan.
"Masih tak percaya? Benar aku adalah Bho." Terus saja lelaki itu meyakinkan Sher atas kenyataan dirinya.
"Kau adalah lelaki yang licik, kau bilang tak bisa menjadi dirimu lagi, nyatanya kau saat ini bisa melepaskan diri dari kutukan." Sher berkata dengan sengit.
"Aku pun tak tahu, mengapa setiap aku berada di tanah keramat dan mendapati dimensi itu aku akan menjadi diriku sendiri, ketahuilah bila aku keluar dari tanah keramat ini aku terjebak lagi dalam tubuh anak kurus itu lagi,"
"Tunggu! Apa kah bila dalam keadaan seperti ini? Kau bisa celaka dong, beda saat kau menjadi Bho yang masih bocah."
"Betul," jawab Bho dengan cepat.
"Makanya jiwa dan nyawaku selalu terancam bila berada di sini," sambungnya lagi.
Sherlyn terdiam, mencoba memahami jejak sihir yang dialami Bho secara nyata.
"Tunggu! Bila kau bisa begini, pasti ada kehidupan di sini." Sher mulai curiga dengan tanah keramat dan Dinasty yang hilang.
Bho langsung memandang Sher yang memang diakui cukup cerdas.
"Nanti aku ceritakan semuanya, saat ini percayalah padaku, aku adalah Bho."
"Aku percaya padamu, ayo kita cari tempat agar kau bisa menceritakan. banyak tentang semua ini."
Mata emas Sherlyn kembali menyala, dan segera membawa Bho mencari tempat persembunyian.