Berat.
Terlalu pusing untuk bergerak. Aurora mengerang pelan, merasakan denyut kepalanya yang mengencang. Aroma antiseptik menguar pekat, kabut tipis di pandangannya perlahan tersibak.
“Aku di mana?” Suara Aurora sedikit serak, tenggorokannya tercekat.
“Nyonya Vireaux, Anda bisa mendengarku?”
Aurora mengenyit, lalu mengangguk pelan. “Luther…”
Luther tak segera menjawab. Ia dengan cepat menekan tombol perawat beberapa kali. “Anda di rumah sakit saat ini. Tuan Vireaux yang membawa Anda kemari.”
Rumah sakit? Aurora mengerjap matanya beberapa kali. Ah, benar. Pertengkarannya dengan Kael pagi ini, Celeste yang menindihnya. Ah, sial. Rasanya sesak.
Tunggu.
Dua orang yang menerobos kamarnya. Aurora mengingat jelas ketika mereka tiba-tiba menyerangnya. Tangannya dengan cepat meraba leher. Tajamnya belati masih bisa ia rasakan, tapi syukurlah tak sampai menggoresnya. Lalu, benturan di kepalanya ketika terjatuh ke lantai. Ah, benar. Pasti dari situ ia kehilangan kesadaran.
Aurora mencoba bangun, tapi ada yang aneh di bagian bawahnya. Desiran hangat terasa mengalir, jelas sekali ia tidak sedang datang bulan. Pandangannya mengedar cepat, hanya ada Luther di sana.
“Di mana Kael?” tanyanya.
“Tuan Vireuax se—”
“Dia tidak ada di sini,” potong Aurora, nadanya terdengar suram.
Luther mengedikkan sedikit kepalanya ke kiri. Hanya dengan satu ucapan, ia bisa memahami bagaimana nyonya mudanya itu beranggapan. “Ada hal mendesak yang harus Tuan Vireaux urus untuk saat ini. Itu sebabnya aku yang berada di sini.”
Hal mendesak. Aurora menyipitkan mata. Apakah itu menyangkut dua orang yang menyusup tadi, atau justru… Celeste?
Ah… entahlah. Ia tak ingin peduli. Di mata Aurora, kini semuanya terlihat kabur. Bahkan jika Kael berusaha menjelaskan tidak ada hal yang terjadi tadi pagi, ia tak akan percaya begitu saja. Menindih tidak ada di dalam kamus “Tidak Terjadi Apa-Apa.”
“Apa yang terjadi padaku?” Aurora mulai merasakan nyeri di perut bawahnya. Samar, tapi terasa.
Tepat saat itu, dokter Warren masuk ke dalam ruangan. Kacamata persegi panjangnya sedikit melorot di ujung hidung. Uban di kedua sisi kepala, mengingatkan Aurora pada Doctor Stranger.
“Selamat malam, Nyonya Vireaux. Saya dokter Warren. Bagaimana perasaan Anda saat ini?”
Apa yang harus dijawab Aurora? Perasaan mana yang sedang ditanyakan padanya. Perasaan sakit pada fisik, atau mentalnya yang perlahan melebur karena pengkhianatan?
“Perut bawahku kram,” ucap Aurora, pada akhirnya. “Pagi tadi aku tidak merasakan apa-apa, tapi sekarang samar terasa. Apakah perutku membentur sesuatu?”
Dokter Warren menghela napas panjang. Kacamata yang melorot, didorong sampai posisinya tepat di batang hidung. “Perut bawah yang kram sangat wajar terjadi setelah proses kuretase. Saat ini, rahim Anda sedang membersihkan jaringan yang tersisa. Tapi karena kehamilan Anda masih sangat muda, prosesnya tidak akan lama.”
Wait… what?!
“Hamil?” bisik Aurora, menatap heran pada dokter Warren. “Apa yang Anda maksud? Aku tidak hamil.”
Dokter Warren menoleh cepat pada Luther, seolah meminta persetujuan. Saat anggukan kecil terlihat, sang dokter kembali menatap Aurora.
“Saat pemeriksaan tadi, diketahui bahwa Anda sedang hamil. Namun karena syok berat dan benturan yang mengakibatkan pendarahan parah, kehamilan Anda tidak dapat dipertahankan. Segera setelah Tuan Vireaux menandatangani persetujuan tindakan, kami melakukan tindakan kuretase.”
Hening.
Aurora seolah baru saja ditenggelamkan pada tengah danau gelap. Suara dokter Warren yang masih memberikan penjelasan dan memberitahu hasil pemeriksaan, hanya terdengar seperti gaung yang menggema di telinganya. Tak ada satu pun kata yang bisa ia cerna.
“Nyonya Vireaux?” panggil dokter Warren.
Auora masih terdiam, sorot matanya nanar menatap ujung selimut.
“Nyonya Vireaux?”
Hamil? Keguguran? Kenapa ini semua terjadi secara bersamaan? Aurora bahkan tak menyadari jika ia sedang mengandung.
“Nyonya Vireuax.”
Aurora menoleh pelan, tatapannya kosong. “Ya, Dokter Warren?”
“Jika ada keluhan lain, misalnya kram yang semakin parah atau pusing, mual, dan hal tidak nyaman lainnya, silakan segera menghubungi saya atau perawat jaga.” Suara dokter Warren kembali terdengar.
“Ya,” ucap Aurora sambil mengangguk kecil. “Baiklah. Aku akan melakukannya.”
Tatapan dokter Warren terlihat ragu. Ia memahami keterkejutan yang dirasakan oleh Aurora, tapi tugasnya hanya sampai menyampaikan kronologi tindakan, hasil diagnosis, dan merawat nyonya besar Vireaux itu sampai kondisinya stabil.
“Kalau begitu, saya permisi.”
Aurora mengangguk—tanpa berkata. Pandangannya hanya mengekor pada dokter Warren sampai keluar dari kamar rawatnya. Dan segera setelah itu, air matanya jatuh.
“Nyonya, apakah Anda membutuhkan sesuatu?” Luther mendekat, memberikan selembar tisu yang baru saja ia tarik dari atas nakas kecil.
Aurora menggeleng, tangannya meraih tisu itu dari tangan Luther. “Aku hanya membutuhkan Kael, sebenarnya… tapi dia tidak di sini.” Suaranya pecah. “Bisakah kau meninggalkanku sendirian, Luther?”
Pria itu tampak bimbang. Di satu sisi ia harus menuruti perintah Kael untuk terus berjaga di sisi Aurora, tapi di sisi lain, ia bisa memahami bagaimana situasi hati Aurora saat ini.
Setelah menghela napas panjang, Luther berkata, “Aku ada di balik pintu jika Anda membutuhkan.”
Aurora tak menjawab, hanya mengangguk kecil. Dadanya terasa dijejali dengan hal-hal menyesakkan yang menyeruak hingga ujung tenggorokan. Tangisnya tak bersuara, tapi dalam kepalan tangan yang membuat jari-jarinya memutih, bisa terlihat betapa hancur dirinya saat ini.
Nick dan Kira telah dibawah oleh kepolisian, segera setelah Kael berhasil ditenangkan oleh Ezra, ia menghubungi Rudolf untuk mengurus semuanya. Rudolf mendampingi, berdiri sebagai pengacara Kael Vireaux. Sementara Kael sendiri, terduduk lemah di sofa. Semua informasi yang dijejalkan tanpa aba-aba, membuatnya tak bisa berpikir lagi.
“Minumlah.” Ezra menyodorkan sebotol air dingin, baru saja diambilnya dari kulkas.
Celeste yang masih di sana—mengekor pada Ezra, memastikan jika Kael tidak akan melakukan hal buruk pada Ezra. Lebih dari itu, ia sebenarnya juga takut jika namanya diseret dalam kasus penipuan—jelas karena ia teleh menolong Ezra dengan tabrakan berencana itu.
“Terima kasih karena telah menahanku,” ucap Kael, pelan dan sedikit serak.
“Aku hanya tidak ingin kau terkena masalah. Rora masih membutuhkanmu.” Dada Ezra sakit saat mengatakannya, tapi itu adalah kenyataan pahit yang harus ia telan bulat-bulat.
“Kenapa kau melakukannya?” Kael kini mendongak, menatap Ezra. Tatapannya tak setajam biasanya, kini hanya terlihat… lelah.
“Nyawa adikku ada di tangan Bastien. Aku melakukan semuanya agar dia tidak membunuhnya.” Ezra mengetatkan rahangnya. “Cepat atau lambat, Bastien akan tahu jika Nick dan Kira gagal dalam misinya. Dan cepat atau lambat juga, dia akan tahu aku berkhianat padanya. Aku harus cepat menyelamatkan Elias.”
Kael tertegun. “Kalau aku tidak salah ingat, adikmu sakit leukimia, benar?”
Ezra mengangguk. “Aku memiliki utang pada Bastien, dan dia terus menaikkan bunga sesukanya. Dan misi yang diberikan padaku, adalah caranya untuk membuat semua utangku lunas. Tapi, dia memakai Elias sebagai jaminan. Dia tahu satu-satunya kelemahanku adalah adikku.”
Tangan Kael mengepal kencang. “Aku akan membantumu.”
Ezra menatap tak percaya. “Kau… apa?”
“Membantumu,” ulang Kael. “Aku tidak suka jika pria itu menggunakan anak kecil sebagai senjata. Kita akan mengambil adikmu dari tangannya.”
“Jadi,” sela Celeste, masih dengan nada takut. “Kau juga akan memaafkanku, kan?”
Kael mendengus. “Tergantung dari sikapmu. Aku harus menarik luther di rumah sakit, jadi kau harus berjaga di sana untuk menggantikannya.”
Celeste mengernyit tidak senang. “Istrimu tidak akan senang. Dan aku tidak suka.”
“Lakukan, atau kau tidak akan pernah kumaafkan!”
“Ok, fine!” Celeste hampir berteriak. Jelas sekali raut frustrasi pada kerutan di keningnya. “Aku akan ke rumah sakit sekarang juga. Tapi kalau itu justru membuat hubunganmu dan Aurora menjadi semakin buruk, jangan salahkan aku. Mengerti?”
Kael mengangguk tanpa ragu. “Aku hanya butuh dia baik-baik saja untuk saat ini. Urusan hubunganku dengannya, aku akan memikirkannya setelah Elias kembali pada Ezra. Dan kau, jangan menambah masalah!”
Celeste mengangguk, kali ini terlihat lebih lega. “Ok, deal. Aku akan melakukannya.”
Ezra yang masih tidak percaya dengan keputusan Kael, maju selangkah dengan tatapannya tajam mengarah. “Kau… serius akan melakukannya?”
Kael berdecak, sorot matanya terlihat kesal. “Aku berkuasa, tapi aku bukan orang jahat. Cepat, waktu kita sedikit. Kita harus masuk ke mansion-nya sebelum dia sadar rencananya gagal.”