Van hitam itu melaju kencang kembali menuju properti Sugara Group. Di bagian belakang, dari dalam kotak pengangkut, terdengar desisan protes dan kepakan sayap samar-samar. Leon duduk di kursi depan, tangannya memijat pelipisnya, masih merasakan sengatan paruh angsa di lututnya.
"Satu angsa berhasil menjatuhkan manajer operasional tertinggi Sugara Group. Ini akan menjadi kisah yang kubawa sampai mati," gumam Bobi dari kursi belakang, masih sedikit terengah-engah tapi puas.
Nakula tertawa pelan. "Bos, kamu harusnya merekam ekspresi wajah Pak Hadi saat kamu bertanya tentang angsa menari. Rasanya seperti baru saja menyaksikan momen sejarah."
"Tutup mulut kalian berdua," desis Leon, meskipun ada senyum kecil di sudut bibirnya.
Kegilaan misi ini setidaknya lebih menarik daripada urusan merger dan akuisisi. "Sekarang, fokus. Kita baru menyelesaikan 10% masalah. Angsa-angsa itu harus tenang, tidak buang kotoran sembarangan, dan entah bagaimana, harus terlihat seperti mereka sedang melakukan balet air saat Nona Kaluna menari."
Leon mengambil napas dalam-dalam. "Kita butuh ahli. Panggilan darurat untuk tim koreografi dan tim biologi."
"Tim biologi, Bos?" tanya Bobi, bingung.
"Ya, Bobi. Ahli yang tahu cara membuat burung air terlihat anggun tanpa memberontak. Kita akan memberikan mereka semacam penenang dosis rendah, atau mungkin hanya makanan yang tepat agar mereka kenyang dan malas," jelas Leon.
Saat mereka tiba di salah satu warehouse Sugara Group, tempat persiapan pernikahan sudah berjalan masif. Leon tertegun. Dalam beberapa jam saja, tim logistik dan visual FX telah mengubah warehouse yang tadinya kosong menjadi sebuah hutan buatan yang luar biasa.
Ratusan pohon hidup yang dikirim oleh truk-truk besar telah berdiri tegak, dilapisi rumput sintetis kualitas tinggi. Pencahayaan magical telah dipasang, meniru sinar rembulan di tengah hutan. Di tengah ruangan, jalur air buatan untuk sungai kecil sudah digali, dilapisi terpal biru tua.
Seorang wanita dari tim desain, dengan helm proyek di kepalanya, berlari mendekati Leon. "Tuan Leon! Pintu masuk padang rumput sudah selesai, tapi kami butuh persetujuan Anda untuk lokasi angsa-angsa. Apakah mereka diletakkan di sungai buatan ini, atau di sudut hutan buatan?"
Leon melompat dari van, rasa lelahnya hilang digantikan oleh adrenalin. Inilah keajaiban anggaran tak terbatas Sugara Group.
"Di sungai buatan! Di sana harus menjadi fokus utama saat grand entrance. Beri mereka area yang cukup untuk berenang, tapi pastikan ada batasan yang tidak terlihat, laser wire mungkin, agar mereka tidak kabur saat acara puncak," intuksi Leon.
"Dan tim IT? Bagaimana dengan ilusi tarian?" tanya Leon.
Kepala tim Visual FX muncul, seorang pria muda berkacamata tebal bernama Bram. "Selesai, Tuan Leon. Proyeksi holographic cahaya yang akan bergerak serentak dengan angsa, seolah-olah gerakan berenang mereka yang sederhana adalah bagian dari koreografi. Ditambah efek asap kering dan musik klasik yang diprogram secara presisi, penonton akan yakin mereka sedang menyaksikan Swan Lake versi hidup."
Leon merasa sedikit lega. Setidaknya ada solusi teknologi gila yang bisa menutupi permintaan bosnya yang gila.
"Sempurna. Sekarang, angsa-angsa itu harus dipindahkan ke kolam penampungan segera. Cari ahli unggas tercepat di kota ini! Kita harus memastikan mereka tidak stres dan terlihat high-class," intruksi Leon lagi.
Saat Leon melihat kembali ke area hutan buatan yang megah, dia menggelengkan kepala lagi. Semua ini, semua kemegahan abad ke-22 dan logistik gila-gilaan, hanya demi satu angsa yang menari di pernikahan yang dipercepat.
"Kita benar-benar dibuat gila," gumam Leon pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah mobil sport mewah berwarna gelap memasuki warehouse dengan kecepatan tinggi, berhenti mendadak hingga menimbulkan decitan ban yang tajam.
Andrian Sugara melompat keluar dari mobil, ekspresinya kembali mendidih. Dia mengenakan setelan jas tanpa dasi, auranya memancarkan kemarahan yang dingin dan berbahaya.
Andrian melangkah cepat melewati hamparan rumput sintetis dan pohon-pohon yang baru ditanam. Dia menatap Leon yang tengah sibuk mengamankan angsa-angsa dengan pandangan mata yang menusuk.
"LEON!" teriak Andrian, suaranya bergema di antara struktur besi warehouse.
Ini adalah teriakan kemarahan yang berbeda, bukan kemarahan karena merger yang gagal, melainkan kemarahan karena frustrasi pribadi.
Bobi dan Nakula, yang sedang mengangkut sisa kotak, langsung menciut. Leon, yang baru saja selesai memberi instruksi kepada si ahli veterinarian, menoleh, jantungnya langsung berdebar kencang. Dia baru menyadari, sudah berjam-jam ia tidak mengecek e-mail atau panggilan dari bosnya.
"Tuan Muda," sapa Leon, berusaha setenang mungkin sambil merapikan hoodie gelapnya yang kusut.
Andrian berjalan lurus menghampiri Leon. Dia mengabaikan pemandangan hutan buatan, rumput, dan bahkan tangisan angsa di kolam. Matanya hanya tertuju pada Leon.
"Apa yang kau lakukan di sini? Sudah hampir lima jam kau menghilang, aku mencarimu ke mana-mana dan kau… kau malah sedang bermain-main dengan unggas air!" bentak Andrian.
Leon menunjuk ke kolam penampungan di dekatnya. "Tuan Muda, ini bukan main-main. Saya melaksanakan permintaan Anda tentang angsa menari untuk pernikahan. Saya harus memastikan—"
"Angsa menari? Dasar b***oh!" potong Andrian tajam, nadanya penuh cemoohan. "Aku mengirimmu pesan satu jam setelah aku meninggalkanmu. Aku bahkan meneleponmu lima kali! Apa kau mematikan ponselmu?"
"Ponsel saya… saya lupa mengaktifkan suaranya karena... misi angsa itu harus senyap," jawab Leon gugup.
Andrian mendengus, rahangnya mengeras. "Angsa menari? Ya Tuhan, Leon! Aku tidak meminta angsa menari! Maksudku, angsa-angsa yang berenang dengan elegan saat Kaluna menari. Itu hanya dekorasi pendukung, kenapa kau harus menculik unggas dan meminta seorang veterinarian untuk mengawasi mereka?!"
Leon, Bobi, dan Nakula, bahkan si ahli veterinarian ungags terbisu. Jadi, semua kepanikan, semua risiko penculikan, semua anggaran kompensasi untuk vendor yang dibatalkan… hanya karena Leon menafsirkan lelucon visual Andrian secara harfiah?
"Tapi... Anda mengatakan angsa itu harus menari, Tuan Muda. Saya bahkan harus ke peternakan dan bertanya pada pemiliknya apakah angsa mereka punya bakat menari," ujar Leon, rasa frustrasi dan kesal yang tertahan kini mulai terasa.
Andrian menepuk dahinya. “Kau hanya perlu memanggil tim Visual FX dan menyuruh mereka membuat hologram beberapa angsa menari yang diproyeksikan ke air. Bukan pergi ke hutan dan bergumul dengan angsa liar!"
Andrian menoleh ke arah Nakula dan Bobi. "Kalian berdua, buang kotak angsa ini! Dan Leon, segera panggil Bram dari tim Visual FX. Suruh dia membuat ilusi hologram empat angsa balerina yang menari anggun di kolam itu. Angsa asli biarkan saja berenang diam."
"Maafkan saya, Tuan Muda," kata Leon, suaranya kembali datar dan profesional.
Andrian menghela napas, kemarahannya sedikit mereda. Dia menatap ke arah kolam yang sudah berisi angsa asli.
"Baiklah, karena angsa-angsa itu sudah ada di sini... biarkan saja mereka menjadi latar belakang yang otentik. Angsa asli. Tambahkan hologram menari di samping mereka. Gabungkan kegilaan alam dan teknologi. Anggap saja ini kesalahan yang mahal tapi indah." Andrian memberikan intruksi.
"Siap, Tuan Muda," jawab Leon.
Andrian berbalik menuju mobilnya, lalu berhenti sebentar. "Oh, dan Leon. Aku baru ingat."
Leon, yang sudah bersiap untuk permintaan konyol lainnya, menahan napas.