Van hitam itu kembali melaju kencang, tidak lagi membawa angsa. Mereka telah meninggalkan warehouse hutan buatan, menuju penthouse pribadi Andrian.
Andrian diam, tampak gugup sekaligus tegang. Leon, yang duduk di kursi penumpang depan, dengan cepat menyelesaikan laporannya logistiknya.
"Semua vendor baru sudah diaktifkan, Tuan Muda. Hologram sudah diuji, efek asap, pencahayaan, semuanya sempurna. Dan angsa-angsa itu, sudah jinak. Mereka tidak akan membuat masalah," lapor Leon.
"Bagus, Leon," jawab Andrian singkat, tanpa menoleh.
Mereka tiba di penthouse mewah Andrian. Begitu pintu lift terbuka, Leon dan Andrian sama-sama tertegun, aura di ruangan itu langsung terasa dingin.
Mereka disambut oleh pemandangan yang tidak terduga. Di tengah ruang tamu yang elegan, duduklah Diana Misha Sugara, ibu kandung Andrian.
Diana mengenakan gaun sutra berwarna gelap yang elegan, rambutnya ditata sempurna, dan matanya memancarkan aura es. Dia sedang menyesap teh dengan sikap seorang ratu yang sedang menunggu pengkhianat.
"Akhirnya kau datang. Kenapa? Apa kalian baru saja melihat hantu?" sapa Diana.
Melihat ekspresi kaget keduanya, suaranya tenang, namun menusuk. Dia meletakkan cangkir tehnya dengan dentingan yang tajam.
Andrian melangkah maju. "Ibu. Kapan ibu datang?”
Andrian dengan cepat mendekati ibunya, membungkuk sedikit, dan mencium pipi Diana dengan tulus. Ini adalah reaksi yang sangat jarang dia tunjukkan.
Diana tersenyum kecil, senyum yang sedikit melembut. "Kau tahu Ibu tidak suka kejutan, Andrian. Tapi kau memberiku kejutan yang lebih besar. Aku harus mengetahuinya dari gosip socialite di Roma bahwa putraku akan menikah dalam beberapa hari."
Leon, yang berdiri beberapa langkah di belakang, merasa lega. Setidaknya suasana jauh lebih baik daripada skenario perang dingin yang biasa terjadi antara ibu dan anak ini.
"Maaf, Ibu. Semuanya terjadi begitu cepat," kata Andrian, memasang wajah sedikit menyesal.
Diana menghela napas, suaranya kini terdengar lebih lelah daripada marah. "Andrian, kau bahkan tidak pernah berpikir untuk melibatkanku sedikit pun dalam perencanaan yang paling penting dalam hidupmu.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Itu adalah tuduhan yang berat.
"Bukan begitu, Ibu. Tapi pernikahan ini…" jawab Andrian, nadanya melembut. "Hanya saja... saya tahu Ibu sangat sibuk, dan saya tidak mau membebani Ibu dengan detail-detail yang sepele."
Andrian berusaha menutupi semua rencananya dari Diana. Diana akan menghentikan semua ini jika dia sampai tahu bahwa, pernikahan ini diatur, bukan karena cinta.
Diana mendengus, kali ini dengan nada sinis yang khas. "Sepele? Kau menyebut menghamburkan puluhan miliar untuk kompensasi vendor sebagai detail sepele?"
Leon, yang berada beberapa langkah di belakang, tersentak. Dia tahu Diana memiliki jaringan intelijen yang luar biasa, tetapi secepat ini?
"Ibu tahu tentang kompensasi vendor?" tanya Andrian, sedikit terkejut.
Diana menatap Leon dengan tajam sebelum kembali ke putranya. "Tentu saja Ibu tahu, Andrian. Kau pikir mudah menyembunyikan transaksi sebesar itu? Aku menerima laporan dari bagian keuangan Sugara Foundation. Pembatalan kontrak event organizer elit di menit-menit terakhir, dengan klausa kerugian penuh, menghabiskan setidaknya dua puluh miliar. Itu setara dengan anggaran untuk mendanai salah satu proyek amal terbesarku!"
Diana menggelengkan kepalanya, nada kecewa kini bercampur dengan keprihatinan. "Aku tahu kemampuan putraku. Tapi membatalkan dan membayar kompensasi sebesar itu, dan menggantinya dengan... hutan buatan dan sirkus angsa? Kau membuat para direksi meragukan stabilitas mentalmu. Dan Ibu ingin tahu, apakah uang sebanyak itu terbuang untuk mood swing sesaat, atau ada alasan yang lebih besar."
Andrian menatap mata ibunya. Dia tahu, dia tidak bisa berbohong kepada Diana tentang uang.
"Alasannya sepadan dengan harganya, Bu. Konsep pernikahan yang berubah... Aku akan menjelaskan detailnya nanti. Ibu, lebih baik beristirahat dulu. Kau baru saja melakukan perjalanan jauh." Andrian berkelit.
Diana mengangguk, sorot matanya kini penuh pertimbangan. Dia tahu Andrian tidak pernah menghamburkan uang tanpa alasan strategis.
Dia memegang tangan Andrian dengan lembut. "Aku ingin melihat gadis yang membuat putraku bersedia mempertaruhkan reputasinya ini. Aku ingin memastikan dia layak mendapatkan semua kegilaan yang kau lakukan ini."
Leon tersenyum tipis. Kehadiran Diana, yang biasanya hanya datang untuk urusan voting dewan direksi, menunjukkan bahwa pernikahan ini, meski terkesan gegabah, benar-benar memiliki arti penting bagi Andrian.
Permintaan itu langsung membuat Andrian tegang. Dia tahu betul Kaluna sedang menghadapi tekanan besar menjelang pernikahan yang mendadak ini. Apalagi setelah semua keributan dengan Ayahnya. Sementara itu, Diana, dengan aura mengintimidasi dan pertanyaan-pertanyaan tajamnya, pasti akan membuat Kaluna merasa diinterogasi.
"Tidak, Ibu. Maksudku… nanti saja, baiknya ibu istirahat dulu," jawab Andrian, nadanya tegas, tetapi tetap hormat.
Diana mengerutkan kening.
Leon, yang mencermati situasi, tahu benar apa yang dipikirkan Andrian. Diana akan melontarkan serangkaian pertanyaan tentang latar belakang, pendidikan, bahkan niat Kaluna. Semuanya dikemas dalam nada perhatian yang dingin.
Andrian menatap ibunya dengan tatapan memohon yang tulus.
"Tolonglah, Ibu. Ibu bisa menemuinya nanti. Karena saat ini, dia sedang sangat sibuk," jawab Andrian, berusaha mencari alasan yang tidak akan memicu interogasi.
"Sibuk apa?" tanya Diana tak sabar.
"Dia sedang menjahit gaun pengantinnya, Bu. Itu sebabnya sebaiknya kita tidak mengganggunya dulu," jawab Andrian.
Diana terdiam sesaat, matanya yang tajam menyipit. Andrian bisa melihat kilatan keraguan di mata ibunya. Diana adalah seorang perfeksionis yang meyakini gaun pengantin haruslah mahakarya rancangan desainer ternama Eropa.
"Gaun pengantin?" ulang Diana, nadanya terdengar skeptis. "Andrian, apa yang kau katakan? Gaun pengantin, dia menjahitnya sendiri?”
"Iya Bu, Dia… dia bersikeras untuk menjahitnya sendiri, Bu.” Andrian, menghela napas pasrah.
Leon, yang mencermati dari belakang, yakin Andrian baru saja membuat alasan terburuk untuk menghalangi ibunya. Menyebut Kaluna menjahit gaunnya sendiri justru akan terdengar seperti aib bagi keluarga Sugara.
Namun, reaksi Diana sungguh tak terduga. Ekspresi jijik di wajahnya seketika berubah menjadi kekaguman murni. Matanya melebar, dan senyum tipis yang tulus, muncul di bibirnya.
"Menjahit sendiri?" gumam Diana, suaranya dipenuhi rasa takjub. "Astaga, seorang calon Nyonya Sugara yang cantik, berpendidikan, dan masih memiliki keterampilan kuno yang indah itu..."
Tanpa sempat dicegah, Diana langsung berbalik. Dia bahkan tidak menunggu respons Andrian. Dengan langkah yang anggun namun cepat, Diana berjalan menuju lorong yang mengarah ke kamar tamu yang ditempati Kaluna.
Andrian terperanjat. "Ibu! Tunggu!"
Diana mengabaikannya. Tepat di depan pintu kamar Kaluna, Diana berhenti. Dia membalikkan badan, menatap Andrian dengan tatapan penuh emosi.
"Ya Tuhan… amalan baik apa yang putraku ini sudah lakukan, hingga Kau menganugerahinya seorang wanita yang sangat luar biasa," kata Diana, suaranya terdengar lembut namun penuh rasa haru.
Andrian dan Leon membeku. Mereka tidak percaya Diana, yang biasanya penuh perhitungan, kini bertindak impulsif didorong oleh kekaguman pribadi.
Sebelum Andrian sempat berteriak, Diana langsung masuk ke kamar Kaluna tanpa mengetuk pintu.
“Leon, persipakan dirimu untuk sebuah drama baru!”
Andrian memejamkan mata, memegang pelipisnya. Leon tahu, ini adalah kekacauan yang jauh lebih besar daripada angsa-angsa yang menyerang lututnya.
Skenario terburuk telah terjadi, Diana yang penuh interogasi kini berada di kamar Kaluna, namun dengan alasan yang mustahil, kekaguman buta.
Apapun yang akan terjadi di dalam kamar itu, Leon harus bersiap. Jika Kaluna terganggu, pernikahan akan terancam. Jika Diana kecewa, perang keluarga akan dimulai.