Pintu terbuka dengan lembut, dan pemandangan di dalamnya membuat Diana terdiam, seketika melupakan segala niat interogasi atau keraguan.
Di tengah kamar yang rapi, duduklah Kaluna di depan meja rias yang penuh dengan kain-kain halus berwarna putih gading dan berkilauan. Mata Kaluna fokus, jemarinya cekatan bergerak, dengan serius dan hati-hati memasang payet-payet kecil pada gaun pengantin yang sedang dikerjakannya.
Gaun itu sendiri tampak belum sepenuhnya jadi, namun kemewahan dan detail yang sudah terbentuk menunjukkan bakat luar biasa. Ada benang-benang sutra yang berkilauan, manik-manik yang tertata rapi, dan pola bordir yang rumit, semua dikerjakan dengan tangan. Cahaya lampu kamar memantul pada payet, menciptakan kilauan lembut yang menyoroti keseriusan dan ketekunan Kaluna.
“Maaf mengganggu, boleh aku masuk?” sapa Diana dengan hati-hati.
Kaluna mengangkat kepala, terkejut dengan kehadiran Diana yang tiba-tiba. Tangannya terhenti, payet yang hendak dipasangnya terlepas dari jemarinya.
Dia berdiri dengan canggung, berusaha menyembunyikan gaun yang berserakan di depannya. Wajahnya memerah karena malu.
"Nyonya Diana," Kaluna tergagap, mencoba tersenyum sopan meskipun terkejut.
Diana terkesiap. Sebuah kejutan yang jauh lebih besar dari yang bisa dia bayangkan menghantamnya. Gadis yang akan dinikahi putranya, gadis yang dengan berani menjahit gaun pengantinnya sendiri ternyata adalah Kaluna. Gadis yang selama ini dia kagumi karena kesopanan, kecerdasan, dan keanggunannya yang alami.
"Ka-Kaluna?" Suara Diana tercekat, nyaris tak terdengar.
Matanya berkaca-kaca, dipenuhi keterkejutan, tak percaya, dan kekaguman yang semakin mendalam. Dia merasa seolah ditarik mundur oleh takdir.
Bagaimana mungkin dia tidak menyadari ini? Gadis lembut yang membuatnya berdecak kagum setiap kali bertemu, memiliki etika sempurna, yang selalu menghormati para seniornya, adalah calon menantunya.
”Nyonya Diana apa kabarmu?” tanya Kaluna.
Diana tidak menjawab. Dia hanya terus menatap Kaluna dan gaun di depannya. Ekspresi di wajahnya adalah campuran kebingungan, kekaguman, dan sedikit rasa bersalah karena semua prasangka buruknya tadi.
Hatinya berdesir dengan perasaan aneh, bangga, terharu.. Andrian tidak menghamburkan uang untuk mood swing sesaat, Andrian melakukan semua ini untuk Kaluna. Untuk gadis ini.
Sebuah senyum kecil, tulus, dan penuh haru akhirnya muncul di bibir Diana. Ini bukan lagi senyum dingin seorang ratu, melainkan senyum seorang ibu yang akhirnya menemukan permata tak terduga.
”Kaluna aku tidak bisa percaya ini, Kau… benarkah kau adalah gadis yang akan dinikahi putraku?” tanya Diana mendekap pipi Kaluna.
Wajah Kaluna yang lembut, yang selalu memancarkan ketenangan setiap kali Diana bertemu dengannya di acara-acara sosial, kini menunjukkan kebingungan.
“Tuan Sugara? Apa itu artinya…”
“Iya Kaluna, Andrian adalah putraku,” sahut Diana.
Kaluna mengangguk, tapi kebingungan tergambar di wajahnya.
“Tapi, Nyonya Alivia?”
Kerutan samar muncul di dahi Kaluna. Dia tahu betul siapa ibunya Andrian, Alivia, seorang wanita bangsawan yang terkenal dengan sikap dingin, angkuh, dan kesombongannya.
Kaluna pernah beberapa kali berpapasan dengan Alivia di acara-acara sosial dan selalu merasakan aura tidak menyenangkan darinya. Tapi wanita anggun di depannya ini, yang selalu menunjukkan keramahan dan kebaikan setiap kali mereka berinteraksi, mengatakan hal itu? Ini pasti salah paham.
Wajah Diana yang tadinya diliputi kekaguman seketika berubah. Senyum tulus di bibirnya memudar, digantikan oleh ekspresi terluka dan sedikit kemarahan yang tersinggung.
Kaluna tidak mengenalnya sebagai ibu Andrian. Ini adalah bukti nyata betapa jauhnya keluarga Cassavanos menjauhkannya dari putranya. Rasa sakit menusuk hatinya, namun dia berusaha keras menguasainya.
"Benar dugaanku," gumam Diana, suaranya kini kembali dingin, namun dengan nada getir yang jelas. "Mereka tidak pernah ingin melibatkanku dalam kehidupan putraku, bahkan sampai calon istrinya pun tidak tahu siapa aku."
Kilatan amarah sempat terpancar di matanya, namun dia menepisnya cepat. Ini bukan saatnya untuk meratapi masa lalu yang pahit. Ini adalah momen penting.
Diana mengambil napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, lalu memaksakan seulas senyum tipis. Kali ini, senyum itu lebih mengandung rasa lega dan kegembiraan, meskipun masih tersisa sedikit kepahitan.
"Tapi tak apa, Kaluna," katanya, suaranya melembut kembali, dengan nada membesarkan hati. "Untuk apa membahas masa lalu yang sudah berlalu. Yang penting sekarang adalah... kau akan menjadi menantuku."
Diana melangkah lebih dekat ke arah Kaluna, matanya berbinar dengan kehangatan yang tulus. Dia mengulurkan tangan, meraih tangan Kaluna yang masih sedikit gemetar. Sentuhannya lembut, penuh kasih sayang.
"Mulai sekarang, kau panggil aku ibu," lanjut Diana, "Aku merasa sangat beruntung bahwa, gadis luar biasa sepertimu akan menjadi bagian dari keluarga kami. Andrian sungguh beruntung."
Kaluna hanya bisa mengangguk, masih dalam kebingungan dan keterkejutan, namun merasakan kehangatan dari sentuhan tangan Diana. Dia masih mencoba mencerna informasi bahwa wanita yang selama ini ia kagumi dan hormati, yang selalu begitu ramah padanya, adalah ibu kandung Andrian, bukan Alivia yang angkuh.
Ini benar-benar di luar dugaannya. Dia menoleh sekilas ke pintu yang masih terbuka, berharap Andrian atau Leon bisa memberikan penjelasan, namun mereka berdua membeku di luar, sama terkejutnya dengan pergantian situasi ini.
Andrian menghela napas panjang. Beban ketegangan yang menindihnya seketika terangkat. Dia membalikkan badan, memberi isyarat kepada Leon untuk mundur dari pintu.
"Ayo, Leon," bisik Andrian, suaranya terdengar lelah namun lega. "Kita tinggalkan mereka. Tidak akan ada ketegangan yang terjadi. Kurasa, untuk kali ini, aku bisa bernapas lega."
Leon mengangguk pelan, meskipun dia sendiri masih agak linglung dengan pergantian suasana yang drastis itu. Mereka berdua melangkah menjauh dari kamar Kaluna, menjauh dari drama yang mereka kira akan pecah.
Andrian yakin. Dia bisa dengan tenang meninggalkan ibu dan calon istrinya. Diana kini dipenuhi kekaguman dan kebahagiaan karena akhirnya menemukan sosok menantu yang sempurna. Sosok yang selama ini dia kagumi di tengah lingkungan sosialita yang angkuh.
Namun, semakin jauh dia melangkah, semakin nyaring bisikan di benaknya yang mengatakan bahwa ini adalah sebuah kesalahan.
“Ini benar-benar sebuah kesalahan, Leon,” ujar Andrian pelan.
Dia berhenti di tengah ruang tamu yang sepi, menatap ke arah kamar Kaluna.
“Bagaimana aku bisa membiarkan ibu percaya tentang pernikahan ini? Pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak, sebuah pengaturan bisnis yang dingin dan tanpa emosi.”
“Tuan Muda…” Leon ingin berbicara, tapi menghentikannya. Dia bingung harus mengatakan apa.
“Bagaimana mungkin aku membiarkan ibu masuk ke dalam permainan ini dan membuatnya berharap dengan pernikahan ini?” Andrian mengepalkan tangannya yang tergeletak di sandaran mebel itu.
Mata Diana tadi, yang berkilat terluka saat menyadari putranya menyembunyikan rencana pernikahannya, kemudian berganti menjadi penuh harapan saat melihat Kaluna. Harapan akan keluarga, akan kebahagiaan putra tunggalnya. Harapan tulus yang akan hancur berkeping-keping begitu dia tahu bahwa ini semua adalah kebohongan.
Rasa bersalah menghantam Andrian. Dia telah menggunakan kebohongan kecil untuk menutupi kebohongan yang jauh lebih besar. Dan kini, kebohongan itu AKAN melukai hati ibunya, sekaligus menumbuhkan harapan yang mustahil.
"Ini sungguh suatu kesalahan, yang aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menebusnya," gumam Andrian, memejamkan mata, mengusap wajahnya frustrasi.
Dia terperangkap dalam jaring laba-laba yang dia buat sendiri. Menghancurkan harapan ibunya, atau mempermainkan perasaan Kaluna. Kedua pilihan itu terasa sama-sama kejam dan tak termaafkan.
Leon, yang berdiri di sampingnya, melihat kegelisahan Andrian. "Tuan Muda?" ujarnya dengan hati-hati.
Andrian hanya menggeleng, "Persiapkan semua yang Kaluna butuhkan, Leon. Pastikan dia tidak kekurangan apa pun,” sekali lagi Leon ingin berbicara tapi Andrian menghentikannya dengan sebuah perintah yang terucap sembarangan.
Leon mengangguk, menyadari bahwa meskipun suasana telah tenang, perang emosional baru saja dimulai. Andrian Sugara, master manipulasi bisnis, kini tersandung oleh perasaan tulus dua wanita dalam hidupnya.