Minggu-minggu berlalu bagaikan pusaran air. Hari pernikahan tiba. Andrian semakin tidak tentu arah.
Sementara Leon sibuk memastikan setiap detail hutan buatan dan sirkus angsa berjalan sempurna, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Andrian yang semakin tenggelam dalam kegelisahan.
Andrian berdiri di ujung lorong megah yang disulap menjadi gerbang hutan buatan, jantungnya berdebar bukan karena kegembiraan, melainkan campuran antara kecemasan dan ketidakpastian.
Dia mengenakan tuksedo hitam yang pas membalut tubuhnya, tampak sempurna di mata setiap tamu.
"Ya Tuhan, lihatlah ini! Kita seakan masuk ke dalam kisah dongeng!" desah seorang tamu.
"Ini bukan pernikahan, ini adalah mahakarya!" timpal yang lain.
Angsa-angsa jinak yang telah dilatih khusus, berenang anggun di kolam dangkal yang juga merupakan bagian dari instalasi hutan, menambah sentuhan magis. Efek asap ringan menari di udara, menciptakan ilusi kabut pagi hutan, sementara pencahayaan temaram menciptakan suasana romantis yang memukau.
Tak lama kemudian, tirai velvet terbuka.
Di sana, dihiasi cahaya lembut yang menembus dedaunan buatan, berdiri Kaluna.
Dia mengenakan gaun pengantin putih gading yang mengalir indah, dihiasi payet dan bordir yang sudah lama dia kerjakan dengan tangan sendiri.
“Wow, itu calon Nona Sugara,” seru seorang tamu yang menatap Kaluna dengan takjub.
Kaluna tampak begitu memukau.
“Luar biasa cantiknya, seperti peri hutan yang baru saja turun dari dongeng,” ujar tamu yang lainnya.
Kaluna melangkah maju. Matanya membelalak, terkesima dengan semua hal, setiap detail pernikahan di hadapannya.
Andrian juga melangkah maju, menawarkan lengannya. Kaluna menyambutnya, jemarinya sedikit dingin. Saat mereka melangkah perlahan di atas karpet berlumut palsu, melintasi rimbunan pohon buatan yang menjulang, dan di bawah gemerlap cahaya kunang-kunang artifisial, bisikan kekaguman kembali menyebar di antara para tamu.
Diana duduk di barisan depan bersama Alivia, Maulidah dan seluruh keluarga besar., menatap putranya dan Kaluna dengan senyum bangga dan mata berkaca-kaca. Hatinya dipenuhi kebahagiaan.
Beberapa orang di antara tamu-tamu sosialita yang lebih dekat dengan lingkungan Andrian saling berbisik, dengan nada penuh kekaguman.
"Kudengar konsep ini adalah impian masa kecil sang pengantin wanita," bisik seorang wanita bergaun mewah.
"Benar. Aku tidak menyangka Andrian Sugara, pria sedingin es itu, akan mewujudkan mimpi semanis ini."
"Ini membuktikan tentang cinta yang begitu besar dari seorang Andrian Sugara kepada calon istrinya. Sungguh romantis!"
Andrian mendengar bisikan-bisikan itu, dan setiap pujian yang ditujukan padanya terasa seperti tusukan. Cinta yang besar? Ini semua adalah topeng. Dia menggenggam tangan Kaluna erat.
Bagaimana bisa dia menjelaskan bahwa semua kemewahan dongeng ini, semua konsep cinta sejati yang dipuja tamu, hanyalah bagian dari sebuah kesepakatan? Sebuah ilusi yang akan hancur kapan saja.
Andrian menatap Kaluna. Gadis itu tersenyum kecil, memancarkan kebahagiaan murni, meskipun ada sedikit gugup di matanya.
"Tuan Sugara..." Kaluna berbisik pelan, suaranya dipenuhi rasa takjub dan sedikit haru.
Tepat saat mereka berhenti di altar pernikahan. Dia menatap mata Andrian dalam-dalam. "Bagaimana kau memikirkan semua ini? Konsep pernikahan ini, bahkan lebih baik dari yang kuimpikan," ujar Kaluna dengan mata yang berkaca-kaca.
Kaluna tidak tahu bahwa Andrian telah dengan sepenuh hati berusaha mewujudkan impian masa kecilnya, yang bahkan tak pernah berani dia ungkapkan secara terang-terangan.
Andrian akhirnya mengulurkan tangannya, menyentuh lembut pipi Kaluna.
"Kau... kau terlihat sangat cantik, Kaluna. Gaun ini, kau telah memenangkannya, ini begitu sempurna," katanya, suaranya sedikit serak.
Itu adalah satu-satunya kebenaran yang bisa dia ucapkan saat itu, kebenaran yang terpancar dari mata Kaluna dan keindahan gaunnya. Mata Andrian juga ikut berkaca-kaca.
Setiap pergerakan mereka disorot oleh cahaya temaram. Suasana magis ini menarik semua perhatian, mengukir senyum dan kecurigaan yang berbeda-beda di wajah para tamu.
Semua mata menyorot hubungan yang begitu manis itu.
Di barisan depan, Maulidah, matriark keluarga Sugara, membiarkan air mata kebahagiaan mengalir. Senyumnya begitu tulus dan kebahagiaannya tidak terbendung. Baginya, adegan ini adalah perwujudan takdir, melihat cucu kesayangannya menemukan kedamaian dalam sosok Kaluna.
“Kaluna, kuharap firasatku ini benar, kau akan mendamaikan dua keluarga yang sudah terbelah lama ini,” batin Maulidah.
Namun, di sudut pandang yang lebih gelap, Alivia dan Martin terlihat sangat gelisah. Wajah Alivia mengeras, sementara Martin sesekali memijat pelipisnya. Bagi mereka, pernikahan megah ini adalah benteng besar untuk Cassavanos, benteng yang hanya akan memperkuat posisi Andrian.
“Aku harus menyingkirkan gadis itu secepatnya, aku semakin tidak bisa mengendalikan putraku jika mereka terus bersama,” guman Alivia pelan.
Lebih buruk lagi, aura cinta yang dipamerkan oleh Andrian di depan umum adalah serangan langsung untuk rencana mereka. Sebuah ilusi yang terlalu meyakinkan dan mengancam untuk meruntuhkan semua yang telah mereka bangun.
“Sial! Anak bodoh ini telah menutup semua celah. Aku harus bertindak, sebelum semuanya terbongkar karena gadis ini telah masuk di salam keluarga Cassavanos!” seru Martin yang juga ikut membatin.
Di antara barisan, sosok Praka, yang selalu menjaga Kaluna, tidak bisa menahan emosinya. Melihat Kaluna berjalan anggun dan bahagia, Praka ikut berkaca-kaca, perasaannya dipenuhi kebahagiaan tulus melihat gadis kecilnya itu diratukan.
“Kaluna, akhirnya kebahagiaan itu terpancar tulus dari wajahmu. Aku tidak yakin, tapi melihat mata mereka, itu memancarkan cinta,” batin Praka.
Sementara itu, di barisan keluarga Kaluna, suasana sangat kontras. Marisa dan Kajayanti terlihat sangat marah di tempatnya. Ekspresi mereka dipenuhi dengan rasa iri yang menjalar.
Bagaimana mungkin Kaluna, yang selalu mereka anggap rendah, kini menjadi Nyonya Sugara dan dirayakan dalam pesta semewah ini? Mereka berbisik dengan nada penuh kebencian, tidak terima harus menyaksikan adegan tidak menyenangkan itu. Sebuah mimpi buruk yang menampilkan kemenangan Kaluna yang begitu gemilang.
“Awas saja kau, Kaluna. Aku akan mengambil kembali semuanya!” bisik Kajayanti.
Tidak jauh dari mereka, berdiri Ken Aji, ayah kandung Kaluna. Dia sangat senang menatap putrinya. Kaluna terlihat sangat cantik dan begitu diratukan oleh suaminya, sebuah kehormatan yang tak pernah dia sangka.
Namun, kebahagiaan itu tercampur dengan rasa getir dan takut yang menjalarinya. Pernikahan ini, hanya akan membuat Kaluna semakin jauh meninggalkannya, semakin jauh dari jangkauannya, dan terlepas sepenuhnya dari genggaman keluarga.
Di area stage manager tersembunyi, kontras terbesar terjadi. Leon, bersama kedua anak buahnya, Nakula dan Bobi tampak sangat bersemangat. Leon menyeringai lebar.
Dialah yang selama ini menyaksikan sendiri bagaimana hubungan Tuan Mudanya itu dengan Kaluna berkembang dari kontrak menjadi sesuatu yang ambigu.
Bobi tertawa kecil, sedangkan Nakula menepuk bahu Leon.
“Akhirnya, drama panjang ini menjadi film juga, Bos!” ujar Nakula.
Bagi Leon, ini adalah puncak dari perjuangannya, menjadi sutradara di balik film dongeng ini. Dia tahu ilusi ini berisiko, tapi hasilnya, keindahan yang terpampang di depan mata, membuatnya merasa bahwa semua kekacauan, pengeluaran miliaran, dan drama angsa, telah terbayar lunas.