Gila…
Ini benar-benar gila!
Aurora membeku, hampir tak mampu menggerakkan persendiannya. Matanya bergetar, ia yakin putihnya telah memerah. Sementara Kael menatapnya ragu, gerakan tangannya terlalu canggung untuk berusaha meraih lengan kecil Aurora.
“Berarti kau terlambat karena berusaha menyelamatkan nyawaku?”
Kael mengangkat sebelah alisnya. Sejujurnya, pertanyaan itu bukanlah kalimat yang ia bayangkan. Namun kepalanya mengangguk tipis—tanpa berani memberi penjelasan lagi. Ekspresi Aurora saat itu teramat sayang untuk dilewatkan. Wanita itu bahkan tertawa dan mengernyit dalam satu waktu.
“Dan aku marah padamu hanya karena perutku yang tak tahu malu?” gumam Aurora lagi, kali ini lebih ke dirinya sendiri.
“Well… perut lapar memang menyebalkan. Aku bisa memahaminya.” Kael memiringkan wajahnya, terkejut karena menyadari bahwa ia mulai memiliki selera humor.
Aurora kembali diam. Tangannya masih mengepal erat, lalu terduduk lemas di sofa. Kali ini Kael bertindak cepat. Ia berlutut di hadapan wanita itu, meraih tangannya tanpa ada rasa ragu dan canggung.
“Aku tahu ini cukup mengejutkan untukmu, tapi aku berjanji kau akan baik-baik saja selama aku ada.”
Tunggu…
Rasanya tidak benar. Seharusnya Kael Vireaux tidak akan pernah berlutut di hadapan seorang wanita. Terlebih wanita itu adalah putri dari seorang yang sangat dibencinya. Pandangannya sedikit goyah, dadanya memanas saat memori kelam masa lalunya kembali membayang.
Namun… ada satu hal yang tak dimengerti olehnya saat ini. Kenapa respon tubuhnya begitu lambat? Kenapa ia masih menggenggam tangan Aurora dan mengusapnya pelan untuk sekedar memberikan ketenangan? Bahkan setelah mencoba menyelami pemikirannya sendiri, tangannya tetap tertaut tanpa ada keinginan untuk melepas.
Sementara Aurora, merasa hangat dalam genggaman Kael. Seakan ada rasa nyaman yang samar—memeluknya tanpa mendekap. Meski begitu, ia menepisnya cepat tanpa menyuruh Kael menjaga jarak.
“Berapa orang yang telah kau bunuh?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Aurora.
Kael menyeringai, akhirnya ia mendapatkan respon yang seharusnya keluar dari mulut wanita itu.
“Katakan Kael, berapa nyawa yang telah kau renggut untuk memuaskan keserakahanmu dalam berbisnis??”
Air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Aurora kini menyerah pada ketakutannya. Menyadari tentang dunia gelap yang melebihi prasangkanya pada keluarga Vireaux, telah berhasil menanamkan tembok kasat mata yang menebal cepat. Sentuhan Kael, meskipun ia menginginkannya, membuat rasa takutnya menguat.
Sementara Kael kembali meraih tangan Aurora, dan kali ini wanita itu pasrah pada genggamannya. “Jika pria tadi kehilangan nyawanya, berarti aku telah membunuh satu orang.”
Aurora tak menjawab, dari sorot matanya telah menunjukkan ketidakpercayaan yang kentara. Gerakan matanya cepat saat menyadari rahang Kael mengetat. Seakan ingin mengunci perhatian Aurora, ia mendekatkan wajah dan menatapnya dalam.
“Aku memang terlahir dan tumbuh di keluarga yang menjijikkan, Rora. Tapi aku… bukan monster.”
Benarkah?
Rasanya kini Aurora berdiri di antara batas percaya dan prasangka. Ada satu sisi dari dirinya yang ingin memercayai ucapan Kael, tapi ada sisi lain yang menariknya—insting bertahan pada hal-hal menakutkan.
Apakah Kael menakutkan? Tapi kenapa kini kedua tangannya bergerak perlahan, merengkuh wajah pria itu lembut? Bukankah ini adalah tindakan yang salah?
Oh, shit!
Aurora mulai tak bisa mengontrol dirinya. Sementara Kael terlihat sedikit terkejut. Aurora bisa melihatnya dari sentakan halus matanya yang melebar. Sorot mata itu, terlihat tulus ketika pria itu mengatakan dirinya bukanlah monster. Dan wajah rupawan itu… terlihat penuh luka.
“Kau benar-benar akan melindungiku?” lirih, Aurora berusaha meyakinkan dirinya.
Sebelah tangan Kael menggenggam tangan Aurora yang masih merengkuh wajahnya. “Dengan apa pun yang bisa kulakukan, aku akan melindungimu.”
“Tapi kenapa?” Aurora kembali bertanya. Tangannya turun perlahan, kembali saling menggenggam. “Bukankah alasan utama kau menikahiku karena ingin membalas dendam? Lalu kenapa sekarang kau ingin melindungiku.”
Kael tahu jawabannya, tapi ia tak ingin mengatakannya. Tidak untuk sekarang—saat dirinya pun belum yakin dengan apa yang ia rasakan. “Lupakan balas dendam itu, ada hal yang lebih penting untuk kita urus selain itu. Dan kau sudah sepakat untuk membantuku, benar?”
Ya, benar. Aurora telah menyepakatinya.
“Aku hanya ingin memastikan perasaanmu saja padaku. Dengan begitu, aku bisa bersikap… profesional.”
Profesional? Wait… Apa yang dibicarakan Aurora? Kenapa justru membuat situasinya menjadi semakin canggung?
“Kurasa kau sudah cukup profesional.” Kael berdiri, membuat Aurora secara otomatis mendongak. “Aku memang tidak salah memilih seorang istri.”
Jantung Aurora berdebar kencang. Sial! Hanya karena ucapan kosong itu, ia bereaksi berlebihan?
Oh, come on, Rora. Kau bukan wanita yang gampang berdebar untuk hal-hal receh. Bagaimana bisa kau merasa sesak hanya karena Kael mengatakan tidak salah memilih istri?
Jelas-jelas hubungan mereka hanyalah sebuah perjanjian. Kael membayar lunas utangnya, dan kini saatnya ia melakukan peran sebagai istri di depan semua orang—dan memastikan tidak terlibat perasaan mendalam.
Bukan hal yang berat. Tentu saja.
“Apa yang harus kulakukan sekarang?” Aurora mulai bisa mengontrol pikirannya sendiri.
Kael menghentikan langkahnya menuju kamar. Setengah memutar badan, ia menyeringai perlahan. “Tetap di sisiku. Itu yang harus kau lakukan, Rora.”
Aurora memahami jika dirinya memang harus selalu berada di sisi Kael. Menunjukkan hubungan mesra mereka pada setiap orang. Namun bukan berarti 24 jam harus bersama dengan, benar? Dan sudah hampir sebulan ini Aurora kehilangan privasinya.
“Aku mau buang air besar, kau juga mau ikut?” geram Aurora, saat Kael mengikutinya ke restroom di sebuah hall besar hotel, tempat sebuah acara formal yang mereka hadiri.
“Ini fasilitas umum, dan aku harus memastikan kau aman… sesuai perjanjian.” Kael tak memiliki kompromi akan hal itu.
Aurora menggeram pelan. Ia menahan ekspresinya karena ada pria paruh baya yang lewat dan menyapa mereka berdua.
“Ok, fine! Terserah kau mau melakukan apa pun. Aku akan masuk ke toilet dulu.”
Tak ada gunanya mendebat Kael. Aurora sudah tak mampu menahannya lagi. Privasi atau apalah itu, kini ia tak mengenalnya lagi. Bahkan hal itu berlanjut sampai mereka sampai di penthouse.
“Tidak ada orang yang akan melompat ke kasurku malam-malam untuk menikamku kecuali orang itu adalah kau, Tuan Vireaux.” Aurora terdengar frustrasi. Setengah menit yang lalu, Kael memaksanya untuk tidur di tempatnya. “Di tempat ini hanya ada kita berdua, tidak ada orang lain lagi!”
“Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi, Rora. Selagi tempat yang kusiapkan untukmu selesai, kau harus selalu berada di sisiku.” Kael dengan nada tenang dan dalam, tetap berniat tidur bersama dengan Aurora malam ini.
“Tidak! Aku akan tetap tidur di tempatku, dan kau di tempatmu!”
Kael tak banyak bicara. Ia menarik tangan Aurora, membawanya masuk ke dalam kamarnya. “Kau tidur di ranjangku malam ini, tidak ada kompromi lagi.”
Aurora menyipitkan matanya. Ia merasakan ada gelagat aneh dari Kael. “Apa ada hal yang belum aku tahu?”
Kael menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya antisipasi. Perasaanku tidak enak.”
“Ada masalah apa?” tanya Aurora, sambil duduk di tepi ranjang pria itu.
Kael menghela napas. Sepertinya lebih baik jika ia tak menyembunyikan apa pun dari Aurora. “Pria yang ditugaskan untuk menyerangmu, dia terlihat lagi tadi siang di minimarket dekat gedung ini.”
“Dia tidak mungkin masuk ke sini, kan?” Aurora mencengkeram pinggiran kasur tanpa sadar.
“Kemungkinan besar tidak, tapi aku hanya merasa tidak tenang kalau kau tidak bersamaku malam ini. Aku bertanggung jawab atas keselamatanmu.” Nada bicara pria itu terdengar santai. Seakan berduaan dengan Aurora memang hanya sekadar sebuah tanggung jawab.
Namun masalahnya… Aurora mulai merasakan hal yang berbeda. Jantungnya terus berdebar kencang setiap pria itu mendekat. Dan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Jika malam ini ia harus berada di ranjang yang sama dengan Kael, bagaimana dirinya bisa tidur?
“Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu.” Kael menegaskan.
Justru karena itu… yang membuat Aurora resah!
Apakah kael memang tidak pernah berminat padanya sampai pria itu tak ingin menyentuhnya—meski tidur seranjang? Apakah ia kurang menarik sampai pria itu tidak ingin melakukan sesuatu yang mendebarkan bersamanya?
‘Stop, Aurora! Kau terdengar seperti jalang.’
Berkali-kali Aurora mengatakannya dalam hati, tapi ia terus memikirkannya lagi… dan lagi.
Kael kemudian mendekat, mendorong perlahan Aurora dengan lembut sampai wanita itu berbaring di bawahnya. Pandangan mereka bertemu cukup lama, bermain dalam hening yang semakin pekat. Dan ketika Kael menarik tubuhnya untuk tegak, Aurora menahannya cepat.
“Jangan pergi.”
Kael tersentak, tak menyangka dengan apa yang dilakukan Aurora. “Tadi kau bilang tidak ingin bersamaku di satu ranjang, kan?”
“Bodoh,” ucap Aurora.
“Pardon?”
“Kau memang tidak bisa membaca suasana, Kael.” Entah apa yang merasukinya, Aurora memutuskan untuk mengatakannya. “kalau aku tidur denganmu, aku takut tidak terkendali. Tapi karena kau terus memaksaku, sekarang aku mohon jangan pergi.”
Kael menahan napas, masih menatap Aurora dalam. “Kau menginginkanku?”
“Bukankah sudah jelas? Beberapa waktu terakhir kau terus di dekatku, membuat jantungku berdebar tidak karuan. Aku gugup di dekatmu, dan menginginkan hal yang lebih setiap menyentuh tanganmu.”
“Jangan salahkan kalau aku bertindak lebih dari biasanya, Rora. Kau yang mengatakannya sendiri.” Suara berat itu terdengar gelisah.
“Jangan pergi, tetaplah di sini.”
Kael tak lagi diam. Perlahan ia kembali mendekat, sangat dekat… sampai tak ada jarak.
“Rora….”